CIANJUR, (KC).- Sedikitnya 400 Kepala Keluarga (KK) di Kampung Nelayan Cikakap, Desa Tanjung Sari, Kecamatan Agrabinta terisolir, menyusul rusaknya jalan utama yang menghubungkan ke perkempungan mereka sepanjang 7 KM.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Saep Lukman membenarkan kondisi perkampungan nelayan di sudut pantai Cianjur selatan itu kondisinya rusak parah. Padahal kalau melihat dari potensi hasil tangkapan ikan dari blok Cikakap ini sangat melimpah. "Setelah mendapat laporan warga saya langsung melakukan pengecekan ke lokasi. Ternya informasi itu benar adanya. Kondisi infrastruktur ke kampung nelayan itu memang sangat sangat memprihatinkan," kata Saep saat dihubungi melalui telepon selulernya, Jum'at (8/2/2013).

Saep mendesak Pemkab Cianjur dan Pemerintah Provinsi Jabar segera membenahi infrastruktur ke Kampung Nelayan Cikakap. Selain itu juga mendesak agar Pemkab Cianjur tidak sembarangan mengeluarkan ijin penambangan pasir besi. Karena kerusakan jalan yang terjadi disinyalir erat kaitanya dengan adanya aktivitas kendaraan yang mengangkut pasir besi melebihi tonase.

"Yang saya tahu di lapangan kerusakan jalan di wilayah selatan selain karena kualitas jalannya yang buruk, juga memang karena sering dilalui truk-truk pengangkut pasir besi secara tidak terkontrol. Muatan truk tersebut tidak sebanding dengan beban jalan yang ada. Bisa dipastikan jalan akan cepat mengalami kerusakan," katanya.

Belum Ada Listrik
Kampung Nelayan Cikakap berada di sekitar 140 KM ke arah selatan dari Kota Kabupaten Cianjur  tepatnya  berada diwilayah Desa Tanjungsari, Kecamatan Agrabinta berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi. Wilayah nelayan tersebut ternyata juga belum terjangkau aliran listrik PLN. Warga yg lebih mapan alasan ekonomi, sebagian menggunakan panel tenaga surya dan mesin generator agar rumah mereka tidak kegelapan.

Untuk masuk ke kampung tersebut dari kota kecamatan Agrabinta, harus memasuki jalan rusak parah sepanjang 7 KM. Jika musim hujan tiba jangan harap kendaraan bisa masuk ke perkampungan. Salah satu alternatifnya hanya menggunakan jasa ojeg. Itupun harus menempuh perjalan sekitar 1,5 jam terhitung dari Balai Desa Tanjungsari.

Parahnya kondisi infrstruktur sepanjang perjalanan ke Kampung Nelayan Cikakap ini, warga  sering  berseloroh, kampungnya saat ini memang belum merdeka.  ​Eeng (33) salah seorang tokoh nelayan Cikakap mengaku tak bisa berharap lebih banyak kepada pemerintah. "Selama ini kami memang tidak diperdulikan, jalan ke daerah kami tidak pernah dibangun," ujarnya diamini nelayan lainnya.

Menurut Eeng hasil tangkapan ikan dari Cikakap ini sangat melimpah. Semua jenis ikan ada di Cikakap. Hanya saja nelayan lebih memilih menangkap udang lobster, karena harganya sangat tinggi. "Rata-rata kami bisa menangkap 150 Kg lobster perhari, bahkan jika panen melimpah bisa mencapai 300 Kg  per hari," ujarnya.

Hasil tangkapan lobster ini kemudian dijual ke tengkulak dengan harga rata-rata Rp. 150 ribu hingga Rp. 300 ribu/Kg. "Kami ingin keberadaan kami ini diperhatikan oleh Pemkab Cianjur. Kami ini ada tapi dibiarkan terisolir. Tidak ada listrik, jalan rusak dan tidak ada tempat atau pasar untuk menampung hasil tangkapan ikan," harapnya (KC-02)**.










Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.