CIANJUR, (KC).- Sekitar 800 dari 839 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cianjur sudah mampu membaca Al-qur’an. Hal itu tentu tidak terlepas dengan adanya pesantren didalam Lapas tersebut sejak satu tahun terakhir. Bahkan ada diantaranya yang sudah khatam membaca alqur'an beberapa kali.

Hal itu diakui oleh Kepala Lapas Kelas II B Cianjur, Tri Saptono. Menurut Yri, sejak adanya pesantren terpadu Attaubah yang ada dilingkungan lapas, perubahan drastis dialami oleh warga binaanya. Tidak hanya pengetahuan agamanya yang semakin bertambah, para warga binaan terlihat lebih santun berperilaku dan bertutur kata. Mereka juga sekarang sudah pandai mengaji dengan fasih.

"Ada juga yang sudah hafal beberapa juz Alqur'an. Padahal sebelum ada pesantren hampir 80 persen penghuni lapas tidak bisa baca dan tulis Alqur'an, saat ini kondisinya terbalik. Mereka sudah pandai membaca dan menulis Alqur'an," kata Tri Saptono, Minggu (28/04/2013).

Dikatakan Tri, tujuan adanya pesantren didalam Lapas tidak hanya mengajarkan napi agar bisa baca tulis Slqur'an saja, namun lebih dari itu tidak lain untuk membentuk kepribadian mereka agar menjadi pribadi yang lebih baik dan berakhlak mulia.

"Jelas didalam pesantren ini para napi tidak hanya diajari membaca dan menulis Alquran saja, namun juga mendapatkan pengajaran mengenai akhlakulkarimah, aqidah, fiqih, bahkan mempelajari kitab kuning," katanya.

Heri Susanto (40) seorang santri napi mengaku senang bisa mengikuti kegiatan di pesantren. Karenanya, sejak pesantren resmi dibuka, ia langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti seluruh kegiatan di pesantren.

"Saya ikut pesantren ini karena saya ingin berubah, saya ingin tobat setobat tobatnya, saya ingin menjadi orang baik. Saya tidak mau terjurumus lagi pada lubang yang sama. Cukup kali ini saja seumur hidup saya," kata
Heri yang di vonis 6 tahun atas kasus narkoba itu.

Ikuti Ujian
Sebelumnya, ratusan napi Lapas Cianjur yang menjadi santri Pesantren Terpadu Attaubah di lingkungan Lapas Kelas IIB Jalan Ariacikondang, Cianjur mengikuti ujian evaluasi tahunan, Kamis (25/4/2013).

Berdasarkan data jumlah napi yang menjadi santri dan mengikuti ujian mencapai 839 orang. Mereka terlihat sangat serius mengikuti ujian meski harus dalam pengawasan ketat.

Sebagaimana diketahui, sejak setahun terakhir para penghuni Lapas Cianjur aktif mengikuti kegiatan pendidikan agama di Pesantren Attaubah yang sengaja didirikan khusus untuk para warga binaan tersebut. Mereka mendapatkan pendidikan agama layaknya di pesantren umum, seperti tauhid, baca tulis Alquran, tarikh Islam, fiqih, pelajaran kitab kuning dan ilmu agama lainnya.

Menurut Kepala Lapas Kelas IIB Arciko Cianjur, Tri Saptono Sambudji didampingi Kasubsi Bina Pendidikan, Mastur mengatakan, ujian dilaksanakan semata untuk melihat hasil pendidikan pesantren yang telah berjalan selama setahun itu. Nantinya, hasil ujian tersebut akan menjadi bahan evaluasi ke depan.

"Sebenarnya tanpa ada ujian pun kita sudah melihat ada perubahan drastis dalam diri mereka (napi, red). Mereka kini lebih positif dalam memandang hidup dan lebih terarah serta lebih memahami nilai dan ajaran agama," katanya.

Salahsatu bukti konkritnya, sebut Tri, terjadinya peningkatan kemampuan membaca Al-quran. "Dulu sebelum ada pesantren, sekitar 76 persen penghuni lapas ini tidak bisa membaca Al-quran. Namun sekarang alhamdulilah, hampir semuanya bisa," ungkap Tri diamini Mastur (KC-02)**.
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.