August 2012


CIANJUR, (KC).- Puluhan warga dilingkungan perkebunan teh Maleber di Kampung Maleber, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jumat (31/8) siang, menggelar shalat Istisqa untuk memeinta turunya hujan. Upaya warga dilingkungan perkebunan teh Maleber tersebut mengingat terjadinya musim kemarau berkepanjangan hampir lima bulan dan tidak juga kunjung hujan.

Pelaksanaan shalat Istisqa tersebut dilaksanakan setelah melaksanakan shalat Jum'at mengambil tempat di halaman belakang Perekebunan Teh Maleber PT. Tenggara. Tidak kurang dari 60 orang mengikuti shalat untuk meminta turunya hujan itu yang dipimpin oleh imam Ustad Abdulah Kamal.

Administratur PT Tenggara Hendri Adrianto mengatakan, musim kemarau yang terjadi hampir lima bulan terkahir dampaknya sangat dirasakan bagi warga. Tidak hanya sulitnya untuk mendapatkan air, tapi juga berdampak pada tanaman pertanian tida terkecuali pada tanaman teh perkebunan.

"Ini merupakan salah satu ikhtiar yang kami lakukan bersama warga untuk meminta turunya hujan. Kondisi cuaca saat ini sangat berimbas pada berbagai sektor termasuk berbagai jenis tanaman, baik palawija, sayuran dan juga tanaman teh yang ada diperkebunan. Mudah-mudahan bisa segera turun hujan," harapnya.

Pihaknya merasa prihatin melihat kondisi cuaca yang belakangan terjadi. Apalagi kalau melihat dibeberapa wilayah telah terjadi kerusakan lingkung yang berdampak luas terhadap kondisi cuaca.

"Ini juga bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Karena yang kena dampak bukan hanya sektor pertanian saja, tapi perkebunan juga terkena dampaknya akibat kemarau yang berkepanjangan," tegasnya.

Seorang warga berharap dengan adanya shlat Istisqa' bisa terjawab dengan turunnya hujan. Sehingga para petani, khususnya petani sayuran di Cipanas bisa kembali bercocok tanam. "Muda-mudahan segera turun hujan, kalau kemarau berkepanjangan pasti banyak tanaman sayuran yang akan kekurangan air," hara Benny seorang warga (KC-02)**.



CIANJUR, (KC).- Membludaknya pengunjung ke situs Megalitikum Gunung Padang di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur ternyata menimbulkan kekawatiran tersendiri bagi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Betapa tidak semakin banyaknya pengunjung dipastikan juga mempengaruhi peningkatan volume sampah. Jika hal itu tidak ditangani dengan baik akan berdampak luas.

Koordinator Simpul Bodebekpunjur (Bogor, Depok, Bekasi, Puncak, Cianjur) Walhi Jabar, Eko Wiwid mengatakan, tidak hanya masalah sampah yang dikawatirkan, masalah keutuhan batu situs juga menjadi perhatian. Semakin banyak pengunjung, semakin rawan keutuhan batu situs bisa terjaga.

"Salah satu yang dikhawatirkan ini terkait pengelolaan sampah yang tidak teratur. Hal ini yang sangat kami kawatirkan sejak awal sebelum ramai seperti sekarang ini. Bisa dibayangkan jika misalnya setiap pengunjung yang datang membawa sampah setengah ons, dikali jumlah pengunjung sebanyak 5.000 orang selama liburan, hal tersebut sudah berapa. Tentu akan terjadi akumulasi sampah ke Gunung Padang," kata Eko.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya meminta Pemerintah Pusat khusnya Bidang Kepariwisataan dan Kebudayaan, untuk segera melakukan tindakan atas terjadinya pencemaran sampah yang terjadi di Gunung Padang.

"Tidak hanya masalah sampah yang harus segera ditangani, tapi masalah proteksi terhadap keberadaan Gunung Padang dengan membuat zonasi situs untuk kepentingan penyelamatan situs dan ekologi sekitar situs, harus segera dilakukan. Jangan sampai seluruh pengunjung dibiarkan masuk keareal situs hingga tidak terkontrol," paparnya.

Secara terpisah Wakil Bupati Cianjur, H. Suranto mengatakan, untuk  memelihara, merenovasi dan memperbaiki fasilitas di kawasan Situs Gunung Padang bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, namun juga harus bekerja sama dengan masyarakat setempat. Selain itu masyarakat setempat juga harus diperhatikan kesejahteraannya dari lingkungan kawasan situs Gunung padang dengan tanpa menghilangkan keaslian seni dan budaya yang ada.

"Kita harus terus menjaga dan melestarikan keberadaan situs megalit Gunung Padang ini dan mendukung aktifitas para peneliti agar mampu mengungkap misteri yang terkandung didalamnnya sebagai kekayaan budaya Indonesia. Oleh karena itu saya menghimbau agar masyarakat yang ingin melihat situs ini agar menjaga kebersihan dan tidak diperkenankan melakukan pengrusakan," kata Wabub (KC-02)**.




ilustrasi
CIANJUR, (KC).- Seorang pengamen yang belum diketahui identitasnya tewas mengenaskan di taman kota Cianjur, Kelurahan Muka, Kecamatan/Kabupaten Cianjur, Kamis (30/8). Diduga korban tewas akibat overdosis lem yang dihirup bersama rekannya. Sementara rekanya sendiri dalam kondisi sekarat dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis.

Menurut saksi mata, Iwan Wahyudin (35), seorang petugas kebersihan taman mengatakan, keduanya ditemukan sekitar pukul 10.30 WIB. Saat ditemukan kondisi keduanya terkapar ditanah. Pihakny ameyakini satu diantaranya sudah dalam kondisi tewas. Temuanya tersebut selanjutnya dilaporkan ke petugas kepolisian yang ada di Pos Cepu 9 Ramayana.

"Menurut keterangan warga, keduanya merupakan pengamen yang sering terlihat disekitar taman. Saat pertama saya temukan keduanya sudah tergeletak ditanah, satu orang sekarat dan satu orang lagi meninggal. Saat saya temukan, disamping keduanya ada bungkus obat sakit kepala dan tutup lem, kemungkinan mabok," katanya.

Petugas yang mendapatkan laporan langsung menuju lokasi kejadian. Keduanya oleh petugas dilarikan ke RSUD Cianjur. Korban meninggal langsung dibawa ke kamar jenazah, sementara seorang korban yang sekarat langsung mendapatkan penanganan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Cianjur.

Kepala Instalasi Ruang Pemulasaraan Jenazah RSUD Cianjur Udin Wahyudin mengatakan, kondisi jenazah berjenis kelamin laki-laki ini, tidak tampak ciri-ciri korban penganiayaan. Akan tetapi, korban berdasarkan ciri yang ada, diduga mengalami keracunan.

"Saat dibawa korban tidak ada identitas. Kami kesulitan untuk menghubungi keluarganyanya. Informasinya petugas lagi mencari informasi ke warga mengenai keluarganya," kata Udin.

Melihat kondisi korban yang mengenaskan, dugaan kuat meninggal karena keracunan, apalagi keterangan dari petugas, ditemukan obat sakit kepala dan tutup lem. "Kemungkinan keracunan kalau melihat kondisi fisik luarnya," tegasnya (KC-02)**.



Bupati Cianjur H. Tejtejep Muchtar Soleh panen padi organik
CIANJUR, (KC).- Kabupaten Cianjur  merupakan salah satu sentra produksi beras di Provinsi Jawa Barat. Setiap tahun dari potensi lahan sawah seluas 65.736 hektar dengan penanaman seluas kurang lebih 150.000 hektar padi sawah dan padi ladang yang rata-rata produktivitas sebesar 58 kwintal per hektar gabah kering giling menjadikan Kabupaten Cianjur surplus.

Demikian dikatakan Bupati Cianjur, H. Tjetjep Muchtar Soleh dalam acara temu lapang Gabungan Petani Organik  di Kelurahan Bojong Herang, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Kamis (30/8). Acara tersebut dihadiri oleh Prof. Karim Makarim dari International Rice Research Institution (Lembaga Penelitian Tanaman Padi Internasional), Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Kabupaten Cianjur, Sudrajat Laksana dan lainya.

Menurut Bupati, kebijakan pemerintah Kabupaten Cianjur yang telah dikeluarkan dengan terbitnya keputusan Bupati Cianjur Nomor 521.05/kep.143-Pe/2010 tentang Pembentukan Tim Pengembangan, Pelestarian dan Perlindungan Padi Pandanwangi Cianjur, sebagai bukti keseriusan Pemkab Cianjur untuk melestarikan pertanian.

Bupati Cianjur berharap seyogyanya daerah Cianjur yang merupakan lahan sawah andalan Jawa Barat bahkan Indonesia  harus senantiasa di pertahankan  jangan sampai berkurang bahkan kalau bisa di tambah keberadaannya.

Secara terpisah Ketua Gabungan Petani Organik Kabupaten Cianjur, H. Usman Suparman, menjelaskan varietas yang dibagikan benihnya dalam temu lapangan itu merupakan beras merah  yang mempunyai kadar gula rendah. Namun demikian mempunyai rasa yang tidak berbeda sama beras pada umumnya.

"Tinggi tanamannya sekitar 1 meter, potensi anakan atau tunas hingga 40 batang perrumpun, penampakan butir lonjong kemerahan, jumlah butir per malai 220 – 230 butir, berat per 1.000 butir 27,8 Gram dan umurnya 105 HST, karakter tanaman aromatis, dan ketahanan penyakitnya rentan tungro," katanya.

Menurut H. Usman, varietas tersebut berasal dari  Kecamatan Bojong Picung, Cikalongkulon dan Jonggol yang dahulu  terkenal dengan beras cere ener atau cere beteung lengit. "Benih padi yang dibagikan itu merupakan hasil seleksi selama 2 tahun semula 4 macam menjadi 1. Padi ini rata-rata menghasilkan 8,8 ton/hektar," jelasnya (KC-02)**.


Kasat Intel Polres Cianjur AKP H. Lanjar Guntoro (kiri) terlibat adu argumentasi
CIANJUR, (KC).- Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh Forum Pemantau Penyelenggara Pemilu Cianjur (FP3C) ke Kantor Sekretariat Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kabupaten Cianjur di Jalan Dr. Muwardi urung dilakukan. Pasalnya surat pemberitahuan mengenai waktu unjukrasa yang mereka sampaikan ke Polres Cianjur menyalahi ketentuan.

Meski urung dilakukan, beberapa orang dari FP3C sempat mendatangi Kantor Sekretariat. Kedatangan mereka sempat berhadapan dengan beberapa petugas kepolisian. Bahkan sempat terlibat adu argumentasi dengan Kasat Intel Polres Cianjur AKP H. Lanjar Guntoro.

Kasat Intel menjelaskan kepada FP3C bahwa surat pemberitahuan unjukrasa yang disampaikan ke Polres Cianjur kurang dari tiga hari dari pelaksanaan aksi. Sementara dalam ketentuan mengenai aksi unjukrasa, minimal saat melakukan aksi tiga hari sebelumnya harus menyampaikan pemberitahuan.

Setelah terjadi argumentasi, akhirnya beberapa orang dari FP3C memilih mundur dan kembali. Mereka akan kembali melakukan aksi setelah kembai menyampaikan pemberitahuan ke Polres Cianjur. "Mohon maaf kepada teman-teman, tadinya kita akan melakukan aksi hari ini, tapi kita salah persepsi. Kami melayangkan surat pemberitahuan kepada Polres baru dua hari, kata polisi aturanya tiga hari sebelum melakukan aksi," kata Marcel Ridwan dari FP3C.

Pihaknya lebih memilih membatalkan aksi dan akan kembai melaukan aksi setela menyampaikan surat pemberitahuan kembai. "Hari ini kami akan melayangkan surat pemberitahuan kembai ke Polisi, kami akan kembali datang untuk melakukan aksi," katanya.

Secara terpisah Devisi Pengawasan Panwaslu Kabupaten Cianjur, Saepul Anwar mengatakan, Panwaslu Kabupaten intinya siap dikoreksi. "Intinya kami siap dikoreksi, kalau langkah kami ada yang menyimpang, itu sangat patut dikoreksi. Tapi ini yang dihadapi adalah lembaga, dan itu patut juga dihargai," katanya (KC-02)**.


Ilustrasi
CIANJUR, (KC).- Sebanyak 77 orang calon jemaah haji asal Kabupaten Cianjur terancam gagal berangkat pada musim haji tahun 2012 sekarang. Pasalnya ke 77 orang calon jemaah haji tersebut sampai, Kamis (30/8) belum melunasi sisa pembayaran ongkos naik haji (ONH). Mereka masih diberi kesempatan hingga Jum'at (31/8) untuk melunasi ONH.

Kepala Seksi (Kasi) Urusan Haji Kementeria Agama Cianjur, H. Hipni mengatakan, jika ke 77 orang calon jemaah haji tersebut hingga akhir bulan Agustus belum juga melunasi ONH maka, secara otomatis mereka tidak akan berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun 2012. Mereka diberi kesempatan untuk melaksanakan pada tahun berikutnya.

"Ketentuanya memang demikian, kalau sampai waktu yang ditelah ditentukan belum juga melunasi ONH maka calon jemaah haji yang bersangkutan keberangkatannya di cancel. Sebagai penggantinya akan naik nomor urutan dibawahnya. Tapi calon jemaah haji yang gagal berangkat masuk daftar tunggu (waiting list) pada tahun berikutnya," kata Hipni, Kamis (30/8).

Menurut Hipni, calon jemaah haji yang merupakan nomor urut pengganti dari yang cancel berangkat diberi kesempatan untuk melunasi ONH mulai 3-7 September 2012. "Aturan ini yang membuat adalah pusat, bukan daerah, apalagi semua data berlaku online. Daerah hanya sekedar melaksanakan saja," papar Hipni.

Jumlah calon jemaah haji asal Kabupaten Cianjur yang diperkirakan akan berangkat pada tahun ini sebanyak 1.323 orang. Para calon jemaah haji tersebut diperkirakan akan berangkat pada akhir September 2012 mendatang.

Dari jumlah 1.323 orang calon jemaah, baru satu orang yang menyatakan mundur untuk tidak berangkat pada tahun ini. Seorang calon jemaah haji yang mundur berangkat tersebut merupakan jemaah perempuan. "Jemaah itu mundur lantaran hamil, dan memilih berangkat pada tahun berikutnya," katanya.

Belum Ada Kepastian
Sementara itu, untuk biaya pemberangkatan dan pemulangan calon jemaah haji dari Cianjur ke embarkasi yang sedianya akan ditanggung Pemkab Cianjur, hingga saat ini belum ada kepastian anggarannya. Pemkab Cianjur baru menjanjikan pemberangkatannya untuk tahun ini ditanggung.

"Kalau beberapa daerah lain di Jawa Barat memang sudah ditanggung Pemkab untuk biaya pemberangkatan dan pemulangan dari tempat berangkat sampai ke embarkasi. Mudah-mudahan saja Cianjur untuk tahun ini bisa terealisasi," katanya.

Namun demikian pihaknya tidak berani berspikulasi, untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, pihaknya menyerahkan persoalan biaya transportasi ke embarkasi dan pemulangannya melalui BPIH. "Ini hanya untuk jaga-jaga saja, kalau nanti sudah ada anggarannya akan dikasihkan langsung kepada jamaah," katanya (KC-02)**.



CIANJUR, (KC).- Wakil Bupati Cianjur, H. Suranto berikan santunan kepada korban kebakaran yang terjadi di Kampung Lengkobsari RT 02/RW 02, Desa Margaluyu, Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur. Pemberian bantuan tersebut disampaikan Wabub secara simbolis melalui Ketua RT 02/RW 02, Dodi B di ruang kerja Wabub.

Wakil Bupati Cianjur, H. Suranto megatakan, pemberian bantuan  tersebut merupakan wujud rasa kepeduliannya terhadap para korban kebakaran. "Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian, karena pada saat kejadian tidak dapat meninjau langsung ke lokasi kejadian. Melalui Ketua RT saya menitipkan bantuan berupa sembako, lauk – pauk, sedikit pakaian juga uang untuk para korban kebakaran," kata SUranto.

Pihaknya berharap dari kejadian tersebut semestinya para pihak-pihak terkait baik dari pihak desa, kecamatan sampai ke lembaga dinas terkait dapat bersama-sama dengan pihak PLN untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya arus pendek listrik dan memberikan pemahaman pada warga untuk tidak menggunakan terlalu banyak colokan kabel pada satu tempat sumber listrik.

"Setiap pemakaian kabel mempunyai daya listrik yang berbeda sebagai antisipasi serta keamanan dan kenyamanan lingkungan tempat tinggal. Pemkab juga sudah merencanakan program penambahan fasilitas mobil Damkar terutama untuk daerah selatan dan PLN diharapkan terus memelihara instalasi listrik yang ada di Kabupaten Cianjur," kata Wabub.

Sementara itu, peristiwa kebakaran yang terjadi di wulayah Kecamatan Tanggeung tersebut terjadi pada Sabtu (25/8/2012) tepatnya di Kampung Lengkobsari RT 02/RW 02, Desa Margaluyu, Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur. Menurut keterangan ketua RT, Dodi, peristiwa kebakaran diduga disebabkan oleh tegangan arus pendek listrik (konsleting) yang berasal dari salah satu rumah warga milik Yani.

Kemudian api menjalar melalap dua rumah semi permanen yang berdampingan di sekitarnya sehingga jumlah rumah yang terbakar menjadi tiga rumah dengan dihuni 11 orang. Kerugian materi atas peristiwa kebakaran itu ditaksir mencapai kurang lebih Rp 100 juta. Keseluruhan korban masih ada keterikatan keluarga dan beruntung dalam peristiwa tersebut para korban dapat selamat dan tidak ada korban meninggal (KC-02)**.




Kabid Bina Ketenagakerjaan Dinsosnakertrans Kab. Cianjur R. Finy Hikmat Fatkhudin Bastari tengah memeriksa berkas
CIANJUR, (KC).- Pasca libur Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriyah, terjadi lonjakan pembuatan Kartu Tanda Pencari Kerja atau Kartu Kuning (AK1) di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Cianjur. Bahkan lonjakannya mencapai 300 persen.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Cianjur, H. Sumitra melalui Kepala Bidang Bina Ketenagakerjaan R. Finy Hikmat Fatkhudin Bastari mengatakan, dalam kondisi normal pemohon Kartu Kuning hanya mencapai sekitar 50 orang per hari. Sehingga pelayanan bisa dilakukan lebih cepat.

"Setelah libur lebaran ini terjadi lonjakan pemohon yang sangat signifikan hingga mencapai 300 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi adanya beberapa perusahaan yang membuka kesempatan untuk penerimaan karyawan. Ada diantaranya pada awal bulan September yang membutuhkan karyawan hingga 2.000 orang," kata Finy, Rabu (29/8).

Akibat banyaknya pemohon Kartu Kuning, pihaknya terpaksa mengalihkan tempat pelayanan ke ruang aula Dinsosnakertrans. Tidak hanya itu, jumlah pegawai yang menangani pembuatan Kartu Kuning juga lebih diintensifkan, terutama dengan memberdayakan anak-anak sekolah yang tengah melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

"Kalau dalam hari-hari biasa masih bisa dibuka pendaftaran sampai pukul 14.00 WIB, semenjak membludak pemohon waktu pendaftaran dimajukan penutupanya menjadi pukul 12.00 WIB. Pertimbangannya dengan pendaftaran ditutup pukul 14.00 WIB saja, penyelesaian pembuatan Kartu Kuning bisa selesai sampai pukul 16.00 WIB, apalagi kalau pendaftarnya membludak," katanya.

Membludaknya pemohon Kartu Kuning dirasakan sejak Senin (27/8). Hingga saat ini terus mengalami lonjakan. Namun demikian Finy mengaku tidak bisa memprediksikan sampai kapan lonjakan terjadi. "Kami tidak bisa memprediksi, karena setiap saat ada caker (calon tenaga kerja). Selain itu banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan seperti SMK dan Perguruan Tinggi, otomatis mencari pekerjaan," katanya (KC-02)**.


Seorang pegawai menunjukkan e-KTP
CIANJUR, (KC).- Sejumlah warga di perumahan BTN Bumi Mas, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur mengeluhkan adanya pungutan sejumlah uang saat akan melakukan perekaman data elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP). Mereka mengaku dipungut biaya antara Rp 5.000,- hingga Rp 10.000,-.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, perekaman data e-KTP di 6 ke RTan dengan jumlah sekitar 1.000 Kepala Keluarga (KK) tersebut, berlangsung pada Minggu (26/9) lalu. Hanya saja saat akan melakukan perekaman, sejumlah warga diminta oleh oknum Ketua RW dan dengan alasan untuk transportasi. Pungutannyapun bervariasi antara Rp 5.000,- hingga 10.000,-.

"Kalau yang bayarnya lebih dari yang diminta, perekamanya bisa dipercepat. Tapi kalau biasa saja harus sabar menunggu giliran untuk perekaman datanya," kata salah seorang warga perumahan BTN Bumi Mas yang minta tidak disebut namanya.

Dikatakan warga, rencananya perekaman data e-KTP tersebut akan kembali berlangsung tahap dua minggu depan dengan mengambil tempat di  Aula BTN Bumi Mas. "Informasinya masih ada perekaman data kembali, tempatnya diaula," kata warga.

Seorang warga di RT 6, Yayan (38) mengaku heran dengan adanya perekaman data e-KTP  harus di bayar. Padahal, kata dia, perekaman data e-KTP itu tanpa dipungut biaya atau geratis. "Katanya gratis, tapi malah di pungut, apalgi pungutanya di bandrol, sebesar Rp5.000 per orang. Ini aturan dari mana, kami sebagai warga jelas heran," kata Yayan.

Berdasarkan keterangan yang didapatnya, pungutan tersebut dilakukan untuk biaya transportasi atau untuk membayar ongkos membayar alat-alat e-KTP dari kantor kecamatan ke lokasi BTN Bumi Mas."Sebenarnya kalau untuk ongkos tidak harus dibandrol, tapi seikhlasnya saja," katanya.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Cianjur, H. Hilman Kurnia tidak menampik adanya pungutan yang terjadi di perumahan BTN Bumi Mas terkait perekaman data e-KTP. Namun pihaknya menampik kalau pungutan tersebut merupakan intruksi dari pihaknya, melainkan inisiatif masyarakat.

"Intinya bahwa perekaman data e-KTP itu geratis. Memang sempat terjadi ada pungutan di BTN Bumi Mas, itu ini siatif warga. Saya sudah intruksikan untuk tidak melakukan pungutan. Bahkan saya juga sempat ditelpon pak bupati menanyakan masalah yang ada di BTN Bumi Mas," katanya (KC-02)**.


CIANJUR, (KC).- Selain dinyatakan sebagai salah satu kecamatan yang melakukan perekaman data elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Cianjur, ternyata Kecamatan Cugenang merupakan satu dari 32 Kecamatan di Kabupaten Cianjur yang pertama menerima pencetakan e-KTP tersebut dari pemerintah pusat.

Setidaknya sudah 17.499 data perekaman e-KTP sudah di cetak dan didistribusikan oleh pemerintah ke Kecamatan Cugenang. "Betul kita sudah menerima e-KTP melalui paket pos. Pertama kita terima 3 dus atau sekitar 1.500 e-KTP," kata pelaksana e-KTP Kecamatan Cugenang, Bambang Bayu, Rabu (29/8/2012).

Dikatakan Bambang, hari berikutnya berturut-turut datang kiriman e-KTP melalui paket pos hingga ditotal jumlahnya sudah mencapai17.499 e-KTP. "Memang belum semuanya, hanya beberapa desa saja yang di sudah di cetak oleh pemerintah pusat, itupun baru sebagian," katanya.

Pihaknya tidak mengetahui persis pertimbangan kenapa sebagian data perekaman e-KTP diwilayah Kecamatan Cugenang sudah di cetak. "Itu urusan pemerintah pusat, kami disini hanya melakukan perekaman data penduduk yang sudah wajib memiliki KTP. Kami juga tidak tahu apakah data perekeman di wilayah Kecamatan Cugenang sudah dicetak seluruhnya atau belum," katanya.

Hingga saat ini setidaknya sudah 43.029 warga wajib KTP yang sudah melakukan perekaman data e-KTP diwilayah Kecamatan Cugenang. Ditargetkan pada minggu kedua Oktober perekaman data sudah mencapai minimal 90 persen. "Mudah-mudahan sesuai dengan target, saat ini sudah mencapai 60 persen lebih," katanya (KC-02)**.




H. Sumitra
CIANJUR, (KC).- Banyaknya warga Cianjur yang melakukan mutasi keluar daerah bukan berarti di wilayah Cianjur minim lapangan pekerjaan. Hanya saja lapangan pekerjaan yang ada, tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja yang ada.

Penegasan tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), H. Sumitra menanggapi banyaknya warga Cianjur yang mutasi kedaerah lain khususnya kedaerah industri atau dengan alasan pekerjaan.

"Sebetulnya peluang lapangan pekerjaan di Cianjur terbuka lebar, hanya tidak sebanding dengan jumlah pencaker. Setiap harinya, jumlah pencaker di Kabupaten Cianjur mencapai kisaran 50-100 orang," kata Sumitra.

Dengan demikian lanjut Sumitra, lapangan pekerjaan di Cianjur itu ada. Apalagi saat ini banyak pabrik-pabrik yang beroperasi. Hanya saja memang setiap tahun angkatan kerja sangat tinggi, tidak sebanding dengan peluang kerja yang ada. Artinya, kesempatan kerja di luar daerah memang terbuka lebar.

Menurut Sumitra, awal September 2012 mendatang, pihaknya bekerjasama dengan salah satu perusahaan sepatu di Sukabumi, membuka penerimaan 2.000 tenaga kerja. Hal itu tentunya menjadi peluang kerja bagi para pencari kerja di Cianjur.   

"Hingga saat ini sudah terserap sebanyak 76.000 tenaga kerja. Berarti ada peningkatan penyerapan tenaga kerja cukup banyak. Apalagi nanti tanggal 3 September 20012 ada penerimaan pekerja lagi sekitar 2.000 orang," katanya (KC-02)**.



Sunardi
CIANJUR, (KC).- Rata-rata 300-400 orang setiap bulanya warga Cianjur pindah atau mutasi ke beberapa kota/Kabupaten. Mereka yang melakukan mutanya kebanyakan lebih memilih lantaran alasan pekerjaan didaerah industri.

Kepala Bidang Pencatatan Sipil Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Cianjur Sunardi mengatakan, berdasarkan rekapitulasi data mutasi warga, sedikitnya setiap hari pihaknya melayani sedikitnya 10-20 orang yang memohon perpindahan. Mereka yang memohon pindah ini mayoritas berusia produktif kisaran 25-40 tahun.

"Sebagian besar warga yang pindah ini karena alasan pekerjaan. Dari data yang ada, daerah yang dituju merupakan kawasan industri, seperti Bogor, Tangerang, Bekasi, serta sebagian wilayah di luar Pulau Jawa," kata Sunardi, Selasa (28/8/2012).

Dia tidak berani berspekulasi apakah kepindahan warga Cianjur ke sejumlah daerah industri ini lantaran minimnya peluang kerja di Cianjur. Pasalnya, berkaitan peluang kerja yang lebih mengetahuinya adalah Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans). "Kita hanya mengurusi masalah administrasi kepindahannya. Bukan tupoksi kita mengetahui kesempatan atau peluang kerja," sebutnya.

Dia pun menuturkan, banyaknya warga Cianjur yang pindah ke wilayah lain, tidak dibarengi banyaknya warga daerah lain yang pindah ke Cianjur. "Bisa dikatakan jumlahnya sedikit atau bahkan jarang ada warga daerah lain yang pindah ke Cianjur. Kita bisa mengetahui hal ini karena perpindahan penduduk sudah lebih tersistematis. Seorang warga Cianjur yang akan pindah ke Bogor, misalnya, harus mengantongi surat pindah dari dinas. Jadi, mereka tidak bisa pindah tanpa memiliki surat pindah," katanya (KC-02)**.
Tagana Cianjur saat mengirimkan bantuan  logistik

CIANJUR,(KC),- Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Cianjur binaan Dinas Sosial Tenaga kerja dan transmigrasi Kabupaten Cianjur, besok akan mengirimkan bantuan logistik bagi korban bencana alam pergeseran tanah di Kampung Gunung Putri Desa Sukasirna Kecamatan Campaka Mulya Kabupaten Cianjur.
"Bantuan ini diberikan dari hasil Assesment Tim kami beserta Tim Lainya dari BPBD kabupaten Cianjur dan PMI Cianjur pada Tanggal 23 Agustus 2012" kata Kordinator TAGANA Kab. Cianjur, Ceceng Suryana, Selasa (28/8/2012).
Selain itu kata ceceng, Tim Tagana terus mendampingi masyarakat selama beberapa hari ini untuk memberikan pemahaman dan pencerahan kepada korban yang terkena dampak bencana, hal ini dilakukan agar suatu saat masyarakat bisa lebih siaga dalam menghadapi bencana, karena bencana kedatangannya tidak dapat diprediksi dan tiba-tiba. 
" Kami berharap pendampingan kami dan bantuan yang kami berikan bisa dimanfaatkan sebaik mungkin dengan selalu tetap waspada akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, dan perlu diingat bahwa Kabupaten Cianjur sangat rentan dengan pergerkan tanah termasuk daerah kecamatan campaka mulya" pungkas ceceng
Seperti diberitakan terjadi pergerakan tanah di Desa Sukasirna Kecamatan Campaka Mulya pada hari Rabu tanggal 22 Agustus 2012 pada waktu dini hari mengancam keselamatan 15 rumah atau 16 kepala keluarga, walaupun tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Pergeseran tanah ini menimbulkan  rekahan-rekahan yang besar 20 – 40 cm  hingga hari ini tercatat  masyarakat yang mengungsi sekitar 41 orang dari 16 kepala keluarga. Setelah diadakan penelitian setiap bangunan yang berpotensi terkena bahaya. (KC-04)***




CIANJUR, (KC).- Banyaknya perusahaan yang membuka usahanya di Cianjur ternyata juga menjadi daya tarik tersendiri bagi tenaga kerja asing. Berdasarkan data yang ada di Dinsosnakertrans Kabupaten Cianjur, jumlah tenaga kerja asing di Cianjur saat ini mencapai 22 orang. Mereka bekerja bekerja di berbagai sektor usaha seperti sektor industri pengolahan dan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.

"Berdasarkan data yang ada pada kami, hingga saat ini tercatat ada 22 Warga Negara Asing (WNA) yang bekerja di Cianjur. Mereka bekerja pada sektor industri pengolahan sebanyak 13 orang, dan pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kelautan sebanyak 9 orang," kata Sumitra (KC-02)**.


H. Sumitra
CIANJUR, (KC).- Jumlah tenaga kerja yang terserap di Kabupaten Cianjur selama tahun 2012 mencapai 51.634 orang. Para tenaga kerja tersebut bekerja di 774 perusahaan skala besar dan kecil di berbagai sektor. Mereka ada yang berkerja mulai dari tenaga kasar hingga bagian perkantoran.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Cianjur, H. Sumitra mengatakan, jumlah 51.634 orang serapan tenaga kerja tersebut hanya untuk yang bekerja diwilayah Cianjur saja belum termasuk yang bekerja diluar daerah maupun yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri.
"Kalau diakumulasikan jumlah serapan tenaga kerja yang bekerja di luar negeri dan di luar daerah, hingga Juli 2012, mencapai angka 76.000 orang," kata Sumitra saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (28/9).

Dikatan Sumitra dari jumlah 51.634 orang tenaga kerja di Cianjur, paling banyak bekerja di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Jumlahnya mencapai 21.670 orang. Mereka bekerja di 101 perusahaan besar dan kecil.

Sementara dari 774 perusahaan yang ada di Cianjur, 305 perusahaan bergerak di sektor perdagangan besar dan kecil, hotel, dan rumah makan. Diperusahaan tersebut berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 7.609 orang tenaga kerja. "Sisanya ada yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan galian C, industri pengolahan, listrik, gas, air, bangunan konstruksi, jasa, dan lainya," tegasnya.(KC-02)**.


Ketua PPK Cugenang, Firman Muhsin melantik anggota PPS di Gedung PGRI Cugenang, Selasa (28/8/2012)
CIANJUR, (KC).- Sebanyak 1.080 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) se Kabupaten Cianjur secara serentak dilantik oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) melalui Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Selasa (28/8/2012). Sebelum pelantikan PPS, KPU Cianjur juga sempat menggelar rapat kerja tekhnis PPK.

Ketua KPU Kabupaten Cianjur, Unang Margana melalui Devisi Hukum dan Perundag-undangan Asep Rudiana mengatakan, hari ini secara serentak seluruh calon anggota PPS di Jawa Barat di lantik menjadi anggota PPS. Para anggota PPS tersebut merupakan hasil dari seleksi masing-masing yang dilakukan oleh KPU Kabupaten melalui PPK.

"Pelantikan PPS ini merupakan pelimpahan dari KPU ke PPK. Diwilayah Kabupaten Cianjur ada sekitar 1.080 PPS yang hari ini dilantik secara serentak oleh PPK diwilayahnya masing-masing atas nama KPU," kata Asep Rudiana saat menghadiri pelantikan PPS se wilayah Kecamatan Cugenang di Gedung PGRI Cugenang, Selasa (28/8/2012).

Dikatakan Asep, setelah PPS dilantik bagaimana menciptkan PPS itu keberadaanya bisa dirasakan secara langsung manfaatnya oleh masyarakat. "Banyak tugas yang harus kita laksanakan, tanggungjawabnya berat, karena kita menjadi fasilitator masyarakat untuk memilih pemimpinya," tegasnya.

Hal ini lanjut Asep, merupakan beban moral yang harus dijaga dan dipertahankan,seperti bagaimana menjadikan memilih itu sebagai suatu kewajiban. "Kita harus berupaya bisa menjaga hak kokstitusi warga, jangan sampai ada warga yang punya hak pilih tapi tidak terdaftar dalam DPT," tegasnya.

Secara terpisah Ketua PPK Kecamatan Cugenang, Firmah Muhsin mengatakan, mengharapkan para anggota PPS diwilayahnya yang baru saja dilantik bisa bekerja secara sungguh-sungguh sesuai dengan amanat undang-undang.

"Kita berharap seluruh anggota PPS bisa bekerja secara sungguh-sungguh, karena kalau tidak bisa dilakukan PAW. PPS harus bisa menjaga kondusifitas, integritas serta netralitas," kata Firman (KC-02)**. 


ilustrasi
CIANJUR, (KC).- Dana ALokasi Khusu (DAK) yang diterima Pemkab Cianjur pada tahun 2012 terancam hangus. Pasalnya hingga tersisa waktu 3,5 bulan, serapan DAK yang diterima oleh beberapa oraganisasi perangkat daerah (OPD) masih sangat minim. Jika DAK benar-benar hangus, dipastikan Cianjur akan kebanjirah hutang dan tidak akan menerima DAK pada tahun berikutnya dari pemerintah pusat.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun menyebutkan, Kabupaten Cianjur mendapatkan alokasi DAK tahun 2012 sebesar Rp 148.185.720.000,-. Dana tersebut seharusnya sudah harus diserap minimalnya 30 persen atau sekitar Rp 44,6 milyar oleh sejumlah OPD yang mendapatkan DAK. Kenyataanya dana tersebut penyerapannya masih sangat minim.

Kepala Dinas Pengelolan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kabupaten Cianjur, Budi Rahayu Toyib mengatakan, sampai dengan saat ini dari total dana DAK untuk termin pertama sebesar Rp 44,6 milyar baru terserap sebesar 10 persen atau senilai Rp 4 milyar.

Dikatakan Budi, pada tahun 2012 ini ada sepuluh OPD yang menerima DAK diantaranya yaitu Dinas Pendidikan  Rp.97,9 milyar, Dinas Kesehatan Rp.17 milyar, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Rp.1,2 milyar, Dinas Pertanian dan Holtikultura Rp.5,7 milyar, BKBPP Rp.1,4 milyar, dan untuk infrastruktur sebesar Rp 20 milyar yakni Dinas Binamarga, Dinas Tata Ruang dan Permukiman serta Dinas PSDAP.

Dari total dana termin pertama sebesar Rp. 44,6 milyar, ada beberapa dinas yang hingga saat ini sama sekali belum menyerap dana tersebut, diantaranya Dinas Pendidikan, Dinas Tata Permukiman dan Dinas PSDAP. Sedangkan untuk yang lainnya seperti Dinkes sudah menyerap sebesar 33,4 persen, Dinas Binamarga sebesar 40,75 persen, Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan sebesar 61 persen, Dinas Pertanian sebesar 2,75 persen, BKBPP sebesar 98,60 persen, dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan sebesar 41,34 persen.

"Melihat kondisi saat ini jelas kami sangat khawatir akibat masih minimnya penyerapan dana DAK ini. Apabila penyerapan dana tersebut tidak bisa mencapai sebesar 90 persen maka besar kemungkinan dana DAK untuk termen kedua dan ketiga tidak bisa diluncurkan atau terancam hangus," kata Budi saat di temui di ruang kerjanya, Senin (28/8/2012).

Budi mengungkapkan, mekanisme DAK disalurkan oleh pihak pemerintah pusat melalui 3 tahapan yaitu untuk termin pertama sebesar 30 persen, kedua 45 persen dan ketiga 25 persen, tetapi mekanisme tersebut bisa di tempuh atau berjalan dengan lancar dengan syarat dana termin pertama sebesar 30 persen harus terserap sebanyak 90 persen.

"Kalau untuk dana termin pertama sebesar Rp. 44,6 milyar sudah masuk ke kas daerah pada bulan Mei tahun 2012 lalu. Kami sudah berulangkali menyampaikan kepada OPD yang menerima DAK untuk segera menyerap dana itu. Pak bupati juga sering menyampaikan saat brifing staf mengenai masalah ini," katanya.

Pihaknya berharap dengan sisa waktu yang ada, dana termin pertama sebesar Rp. 44,6 milyar bisa terserap oleh masing-masing OPD sampai 90 persen. "Dengan demikian kalau bisa sesuai dengan target 90 persen, dana kedua dan ketiga sebesar 45 persen dan 25 persen bisa diluncurkan oleh pihak pemerintah pusat ke kas daerah," tegasnya (KC-02)**.


CIANJUR, (KC).- DIBALIK ditangkapnya puluhan imigran gelap dari Irak dan Iran di pesisir pantai Jayanti Cisela, Kecamatan Cidaun, Cianjur selatan, ada salah satu sikap nasionaisme yang kuat ditunjukkan oleh salah seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa) diwilayah pesisir Pantai Jayanti Cisele. Betapa tidak kalau jiwa nasionalisme tidak kuat seorang Babinsa anggota Kodim 0608 Cianjur itu akan menerima uang dolar satu tas yang diberikan oleh salah seorang imigran gelap.

"Ada anggota Babinsa yang sempat ditawari uang dolar satu tas oleh imigran gelap, tapi tidak tahu asli atau palsu. Tapi karena jiwa nasionalismenya yang kuat uang itu ditolak dan akhirnya imigran gelap itu bisa ditangkap," kata Dandim 0608 Cianjur, Letkol Inf. Jala Argananto.

Pihaknya tidak bisa membayangkan, jika anggotanya tadi menerima uang dolar yang diberikan oleh imigran gelap itu, sudah barang tentu para imigran itu akan kabur dan berhasil melarikan diri. "Ini perlu diapresiasi, sikap nasionalismenya yang masih terpelihara dan terjaga dengan kuat," kata Dandim tanpa menyebut nama anggota Babinsanya.

Didasari kegigihan itulah akhirnya puluhan imigran gelap itu berhasil diamankan. Apalagi kalau melihat situasi saat penangkapan dilakukan pada malam takbir Idul Fitri 1433 Hijriyah. "Kalau dibandingkan dengan jumlah kami yang tidak sebanding dengan jumlah imigran gelap, tapi berkat kegigihan dan bantuan dari aparat kepolisian dan masyarakat berhasil mengamankan imigran gelap," katanya.

Pihaknya juga tidak bisa memprediksikan, berapa jumlah imigran yang berhasil kabur saat dilakukan penyergapan. "Saat itu hanya perkiraan, jumlah pastinya tida diketahui persis berapa berapa, tapi sekitar 80 orang," katanya (KC-02)**.



Dandim 0608 Cianjur Letkol Inf Jala Argananto
CIANJUR, (KC).- Komando Distrik Militer (Dandim) 0608 Cianjur, Letkol Inf. Jala Argananto memerintakan kepada seluruh anggotanya diwilayah Cianjur selatan bila ada mobil minibus yang melintas dengan membawa orang asing untuk dilakukan pemeriksaan. Tindakan tersebut sebagai salah satu langkah antisipasi untuk menghindari terjadinya penyelundupan imigran gelap.

"Ini merupakan tindakan orang yang sangat tipis wawasan kebangsaanya dan merupakan perbuatan sindikat. Makanya saya sudah intruksikan kepada anggota untuk menghentikan kendaraan yang membawa orang asing dan memeriksa identitasnya. Kita tidak ingin kasus yang pernah terjadi kembai terulang di Cianjur," kata Jala saat ditemui di pendopo Pemkab Cianjur, Senin (27/8/2012).

Selain itu, pihaknya juga mengintensifkan kerjasama mitra babinsa untuk melakukan pengawasan terhadap pesisir pantai untuk mengantisipasi dugaan penyelundupan imigran gelap.Adanya mitra babinsa sendiri, kata Jala, sangat membantu dalam hal pengawasan di kawasan pesisir pantai selatan, terutama di wilayah jarang penduduk.

"Penyergapan terhadap imigran gelap ini tidak terlepas dari laporan mitra babinsa. Setelah ada informasi itu, kami langsung koordinasi dengan piha kepolisian untuk melaukan penyergapan," katanya.

Pihaknya juga mengaku, saat melakukan penyergapan tida ditemukan otak pelakunya. Bersama aparat polisi hanya mendapati puluhan imigran gelap. "Saat penyergapan ada 10 perahu yang siap membawa imigran gelap menyebrang laut. Sebanyak empat perahu sudah merapat ke bibir pantai, dan enam perahu lagi masih berada jauh yang siap menjemput. Kita tida mendapati otak pelakunya," tegasnya.

Jala juga memprediksikan, bentangan pesisir pantai Cianjur sepanjang 76 kilometer sangat rentan terjadinya aksi penyelundupan imigran gelap. Belum lagi ditambah beberapa lokasi diantaranya masih jarang penduduk.

"Untuk itulah kita mengoptimakan mitra babinsa untuk mengawasi wilayah perairan di pesisir pantai Cianjur selatan. Kita terus jalin sinergitas antara TNI dengan masyarakat sebagai mitra Babinsa dan itu terbukti banyak membantu," paparnya.

Pihaknya mengaku juga belum bisa memastikan apakah kondisi yang ada saat ini perlu adanya penempatan personel pos angkatan laut (Posal) atau marinir di pesisir pantai selatan Cianjur. Karena kebijakan itu bukan kewenangannya. "Perlu atau tidaknya itu kebijakan pimpinan. Tapi yang jelas untuk pengamanan saat ini masih bisa kita cover berkat sinergitas antara TNI, Polri, dan masyarakat," tegasnya (KC02)**.
no image


Untuk Download Klik Disini
Langkahnya : Setelah masuk ke dokumen Klik File Klik Download
Ket : Untuk Memperbesar Tampilan Klik Tanda (+) di atas sebelah kanan.




CIANJUR, (KC).- Setelah sempat tertunda akhirnya, Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kabupaten Cianjur menetapkan tiga besar calon anggota Panwaslu Kecamatan se Kabupaten Cianjur, Senin (27/8/2012). Sebelumnya Panwaslu Kabupaten menjadwalkan pengumuman tiga besar akan dilaksanakan pada Jum'at (24/8/2012), lantaran terjadi perdebatan yang cukup alot pengumuman ditunda.

"Bila dilihat dari hasil nilai test tertulis, ke enam besar peserta yang telah berhasil melaksanakan fit and propertest, memiliki kemampuan yang hampir berimbang. Namun tentunya selain dari nilai kemampuan yang menjadi bahan penilaian, juga termasuk kategori lain yang tidak luput dari penilaian, yaitu integritas dan netralitas peserta, artinya, tidak menjamin seseorang lolos hanya karena terbatas pada masalah kemampuan penalaran keilmuan politiknya saja, tentu ada hal penting lainnya yang patut diuji, yaitu netralitas dan integritas yang bersangkutan," kata Ketua Panwaslu Kabupaten Cianjur, Yuyun Yunardi.

Pihaknya ingin, tiga calon anggota Panwaslu Kecamatan yang lolos tiga besar merupakan yang paling layak. "Sementara tiga calon lain masuk pada daftar tunggu jika terjadi pergantian antar waktu (PAW), yang apabila dalam perjalanan waktu, tiga calon yang telah ditetapkan terdapat masalah hukum, atau berhalangan tetap, sehingga masih dimungkinkan tiga calon tunggu, untuk naik di tiga besar," tegasnya.

Sementara itu Devisi Pengawasan Panwaslu Kabupaten Cianjur, Saepul Anwar mengatakan, dari 96 orang calon anggota Panwaslu Kecamatan, hanya kisaran 35% saja yang ditempati oleh muka-muka lama, selebihnya adalah pendatang baru. Pendatang baru umumnya berasal dari Pengawas Pemilu Lapangan (PPL), Staf kesekretariatan, dan dari unsur tokoh masyarakat di daerah masing-masing kecamatan.

"Setelah penetapan tiga besar, agenda selanjutnya adalah proses pelantikan yang dijadwalkan pada awal September mendatang," kata Saepul saat dihubungi terpisah.

Saepul berharap, calon anggota Panwaslu Kecamatan yang masuk tiga besar, agar mampu menjaga nama baik dan senantiasa melaksanakan amanat undang-undang, termasuk harus bisa menjalin kerja sama yang baik dengan Panwaslu Kabupaten.

"Kerjasama harus tetap dijalin, kami mohon maaf kepada para calon peserta yang belum memiliki kesempatan, kami sampaikan ucapan terima kasih atas partisipasinya, dan harus tetap semangat," harapnya (KC-02)**.


CIANJUR, (KC).- Pihak Kepolisian Resort (Polres) Cianjur hingga kini masih memburu otak utama dibalik kasus penyelundupan imigran gelap asal Iran dn Irak yang sebagian berhasil diamankan di Pantai Jayanti Cisela, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur beberapa waktu lalu. Upaya pihak kepolisian tersebut membantahkan rumor yang berkembang kalau pihak kepolisian diskriminasi dalam menangani masalah imigran gelap.

"Kami pihak kepolisian bersama TNI terus mencari otak utama dalang dibalik penyelundupan imigran gelap itu. Karena saat dilakukan penyergapan, kami hanya mendapati imigran gelapnya, siapa yang mengirim imigran gelap, dengan kendaraan apa dan siapa orangnya sudah tidak ada dilokasi. Kami terus melakukan penyelidikan lebih lanjut," kata Kapolres Cianjur AKBP Agustri Heriyanto saat ditemui di pendopo Pemkab Cianjur, Senin (27/8/2012).

Pihanya juga tidak bisa menyebutkan apakah dalam praktek penyelundupan imigran gelap itu ada keterlibatan oknum aparat, nelayan atau masyarakat sekitar. Semuanya masih dalam pengembangan. Bakan pihanya bersama aparat dari TNI berupaya mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak melibatkan diri dalam penyelundupan imigran gelap.

"Kami terus sosiaisasikan kepada masyarakat, kalau ternyata ada masyarakat atau siapapun termasuk oknum aparat yang terlibat, kita akan tindak. Bisa saja kita jerat dengan pasal 55 dan 56 KUH Pidana karena telah turut serta," katanya (KC-02)**.


Endang Suhendar
CIANJUR, (KC).- Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur Endang Suhendar menegaskan, masalah SMP Satu Atap yang pelaksanaan pembangunannya tidak kunjung selesai sudah menemukan titik terang. Pihak sekolah penerima bantuan provinsi (Banprov) sudah menyanggupi akan menyelesaikan bangunan yang belum kelar.

"Pihak sekolah sudah membuat pernyataan akan menyelesaikan bangunan tanpa ada bantuan anggaran lagi dari Pemkab Cianjur. Semua biaya untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum rampung ditanggung oleh pihak sekolah, pihak sekolah harus bertanggungjawab," kata Endang saat ditemui di komplek Pemkab Cianjur, Senin (27/8/2012).

Meski kejadian bukan saat dirinya menjabat, namun selaku pimpinan dia mengaku tetap akan bertanggungjawab atas yang terjadi di SMP Satu Atap. "Kejadiannya memang bukan kepemimpinan saya, tapi sebagai pimpinan saya tetap bertanggungjawab menuntaskan persoalan SMP Satu Atap ini. Karena saya menjadi Kadis Pendidikan baru pada Agustus 2011, sedangkan kejadianya tahun 2009," katanya.

Seperti diketahui, empat SMP Satu Atap yang ada diwilayah Kabupaten Cianjur yakni SMP Satu Atap di Neglasari Cipanas, SMP Satu Atap Talaga Kecamatan Takokak, SMP Satu Atap Pasir Kuda dan SMP Satu Atap Cikaratok Kecamatan Sukaresmi mendapatkan bantuan provinsi (Banprov) senilai Rp 2,4 milyar.

Masing-masing SMP Satu Atap mendapatkan bantuan senilai Rp 615 juta. Bantuan tersebut masuk ke kas daerah pada Desember 2009, hanya saja diluncurkan pada tahun 2010. Namun dalam pelaksanaanya, pembangunan SMP Terbuka tersebut tidak kunjung selesai meski anggaran sudah dicairkan (KC-02)**.


Cecep S Alamsyah
CIANJUR, (KC).- Inspektorat Daerah (Irda) Kabupaten Cianjur membentuk tim khusus untuk menindak lanjuti dugaan penyimpangan dalam pembangunan SMP Satu Atap yang ada di empat kecamatan di Kabupaten Cianjur. Tim khusus yang dibentuk Irda tersebut beranggotakan sebanyak tiga orang.

"Tim sudah turun ke lokasi untuk mengecek kebenaran informasi adanya pembangunan satu atap yang tidak kunjung selesai. Padahal pencairan anggaranya sudah dilaksanakan 100 persen," kata Inspektur Irda Kabupaten Cianjur, Cecep S Alamsyah saat ditemui di komplek Pemkab Cianjur, Senin (27/8/2012).

Menurut Cecep, tim yang dibentuknya dalam waktu dekat ini akan memanggil pihak sekolah untuk dimintai klarifikasi mengenai tidak terselesaikannya pembangunan SMP Satu Atap. "Tidak hanya pihak sekolah yang akan kami mintai keterangan, tapi pihak-pihak terkait termasuk pemborongnya juga akan kami minta keterangan," katanya.

Pihaknya belum bisa memastikan kapan waktu akan meminta klarifikasi terhadap SMP Satu atap yang menerima bantuan. "Pokoknya secepatnya kita akan melakukan klarifikasi atau meminta keterangan terhadap pihak-pihak terkait. Yang pasti tim sudah terjun ke lokasi pembangunan," tegasnya.

Seperti diketahui, empat SMP Satu Atap yang ada diwilayah Kabupaten Cianjur yakni SMP Satu Atap di Neglasari Cipanas, SMP Satu Atap Talaga Kecamatan Takokak, SMP Satu Atap Pasir Kuda dan SMP Satu Atap Cikaratok Kecamatan Sukaresmi mendapatkan bantuan provinsi (Banprov) senilai Rp 2,4 milyar.

Masing-masing SMP Satu Atap mendapatkan bantuan senilai Rp 615 juta. Bantuan tersebut masuk ke kas daerah pada Desember 2009, hanya saja diluncurkan pada tahun 2010. Namun dalam pelaksanaanya, pembangunan SMP Terbuka tersebut tidak kunjung selesai meski anggaran sudah dicairkan (KC-02)**.


Bupati Cianjur, H. Tjetjep Muchtar Soleh halal bil halal dengan pegawai
CIANJUR, (KC).- Ratusan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkungan Pemkab Cianjur, mendatangi pendopo Kabupaten di Jalan Siti Jenab. Kedatangan ratusan PNS tersebut bukan bermaksud untuk melakukan aksi demo, melainkan untuk menghadiri acara halal bil halal yang dipimpin Bupati Cianjur, H. Tjetjep Muchtar Soleh.

Sejak pagi, para PNS yang datang dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) datang berduyun-duyun ke pendopo Pemkab Cianjur. Bahkan mereka rela mengantri hingga beberapa saat sebelum mendapat giliran bersalaman dengan Bupati beserta istri, Wakil Bupati, H. Suranto bersama istri, serta anggota muspida lainya.

Acara halal bil halal tersebut sengaja digelar untuk memberikan kesempatan kepada PNS dilingkungan Pemkab Cianjur untuk bersilaturahmi dengan dan saling memaafkan satu sama lainya. Sebelumnya pada hari pertama masuk kerja Kamis (23/8/2012) banyak PNS yang sengaja datang ke pendopo dikira dilaksanakan acara halal bil halal.

"Ini kan hanya satu tahun sekali, sayang kalau kita tidak hadir. Makanya saya rela datang dari jauh-jauh hanya untuk sekedar bersalaman degan bupati," kata seorang PNS yang minta tidak disebutkan namanya.

Sebelumnya Wakil Bupati Cianjur dalam apel pagi didahadapan ratusan PNS mengatakan, makna puasa dan idul fitri wajib di implementasikan dalam peningkatan kinerja sebagai pelayan publik di lingkungan pemkab Cianjur dengan memberikan pelayanan yang lebih baik lagi serta mengedepankan profesionalitas kerja dengan selalu bersahaja penuh rasa tanggungjawab serta tulus ihklas dalam mengemban tugas.

"Setiap orang dituntut untuk tidak melakukan sesuatu apa pun kecuali yang baik dan menyenangkan. Lebih luas lagi, berhalal-bilhalal, semestinya tidak semata-mata dengan memaafkan yang biasanya hanya melalui lisan atau kartu ucapan selamat, tetapi harus diikuti perbuatan yang baik dan menyenangkan bagi orang lain," katanya.

Budaya saling memaafkan ini lanjut Wabub,lebih populer disebut halal bilhalal. Fenomena ini adalah fenomena yang terjadi di tanah air, dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. "Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang khususnya jajaran para PNS Kabupaten Cianjur," tegasnya (KC-02)**.







CIANJUR, (KC).- Gara-gara pengadaan perelngkapan peralatan untuk perekaman electronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) dari pihak konsorsium tidak lengkap, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Cianjur terpaksa meminjam peralatan ke Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Hal itu terpaksa dilakukan untuk mengejar target capaian perekaman data di Kabupaten Cianjur.

Kepala Disdukcapil Kabupaten Cianjur, H. Hilman Kurnia membenarkan kalau pihaknya terpaksa mengajukan permohonan pinjaman alat untuk perekaman data e-KTP ke Cirebon. Semua itu dilakukan lantaran pengadaan peralatan daro konsorsium yang ditunjuk pemerintah pusat belum lengkap.

"Kalau kita mengandalkan peralatan yang ada saat ini, sangat berat untuk mengejar target perekaman data e-KTP harus sudah selesai pada minggu kedua bulan Oktober 2012.Sebenarnya kalau semua peralatan perekaman data untuk e-KTP ini lengkap, saya yakin target yang ditentukan oleh pemerintah pusat ini akan tercapai. Masalahnya sampai sekarang, perelngkapan itu belum semuanya didistribusikan," kata Hilman Kurnia, Minggu (26/8/2012).

Menurut H. Hilman, semestinya Kabupaten Cianjur mendapatkan100 alat perekaman e-KTP. Namun kenyataanya baru 64 alat perekaman yang diberikan oleh pemerintah. "Sempat ditanyakan ke pemerintah pusat, tapi hanya mendapatkan jawaban peralatanya belum ada. Pada hal kalau peralatanya lengkap sesuai dengan kebutuhan, perekaman data e-KTP akan semakin cepat dilakukan," tegasnya.

Atas dasar itulah akhirnya diputuskan untuk meminjam peralatan ke Cirebon. Dari usulan peminjaman sebanyak 20 set alat perekaman, yang disetujui Pemkab Cirebon hanya 10 set. "Kita masih bersyukur meski permohonan kita tidak semua dikabulkan, hanya 10 peralatan yang dipinjamkan ke kita, ini cukup membantu. Kita memang berinisiatif meminjam karena tidak jelas kapan pemerintah pusat sendiri men-droping sisa alat sebanyak 36 set lagi," terang Hilman.

Kendala memang kerap dialami alat perekam e-KTP. Ironisnya, proses perbaikan harus dilakukan dengan menyerahkannya kembali ke pemerintah pusat. "Seperti rusaknya alat perekam di Kecamatan Sindangbarang. Kita perbaiki dengan menyerahkannya ke pusat karena di Cianjur tidak ada ahli yang bisa memperbaikinya. Tapi hingga saat ini masih belum juga selesai perbaikannya," tuturnya.

Dengan kondisi yang ada pihaknya juga pesimistis capaian target perekaman data e-KTP ditetapkan pemerintah bisa terealisasi sebesar 90% pada pekan ke dua Oktober 2012. Hingga saat atau kurang dua bulan sebelum masa target, perekaman e-KTP baru mencapai lebih kurang 45%.
"Memang kalau secara umum kita sepertinya sulit mencapai terget, tapi kita akan upayakan semaksimal mungkin, peluang itu masih ada, apalagi kita ada tambahab peralatan meskipun hasil dari meminjam," harapnya (KC-02)**.


Ribuan pengunjung antri masuk Kawasan Wisata Cibodas
CIANJUR, (KC).- Data pengunjung yang masuk ke Kawasan Wisata Cibodas (KWC) di Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur sepanjang Sabtu (25/8/2012) hanya 6.800 orang dengan jumlah kendaraan bus 40, sedan 370 kendaraan serta sepeda motor 500 motor. Data tersebut dipastikan tidak valid lantaran sebelumnya terjadi aksi demo sehingga beberapa pengunjung yang masuk sempat digeratiskan.

Sementara itu pada hari yang sama Kebun Raya Cibodas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (KRC LIPI) melansir, jumlah pengunjung yang masuk ke kawasan tersebut mencapai 14.225 orang dengan jumlah kendaraan mencapai 727 mobil, jauh lebih banyak dari data yang dilansir tiket masuk KWC yang dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cianjur.

"Masalah data pengunjung inilah yang menjadi salah satu persoalan kenapa masyarakat mempertanyakan. Idialnya kalau yang namanya masuk KWC jumlahnya lebih banyak, karena di dalam kawasan itu ada beberapa objek wisata seperti Kebun Raya Cibodas, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Mandalawangi Perhutani," kata seorang warga yang turut melakukan aksi demo.

Warga hanya berharap, pengelolaan retribusi wisata ini bisa dilakukan dengan sebaik mungkin. Karena akan berdampak pada kunjungan wisata yang masuk ke Cibodas. "Coba kalau dilakukan satu atap, atau satu pungutan retribusi atau tiket masuk, saya rasa akan jauh lebih baik. Tidak hanya pelayanan, tapi ketertiban pengunjung juga akan lebih terjaga," tegasnya.

Banyak diantara para pengunjung yang kadang heran atau tidak tahu, saat sudah membayar retribusi di pintu masuk kawasan, ternyata saat akan masuk ke objek wisata harus membayar lagi. "Ia sih tadi rombongan, saya tidak tahu kalau ternyata saat mau masuk ke KRC harus bayar lagi, tadi kami sudah bayar saat akan masuk kawasan," kata Dandi pengunjung dari Bogor yang merasa keheranan (KC-02)**.


CIANJUR, (KC).- Hingga Sabtu (25/8/2012) petang, jumlah pengunjung yang memadati Kebun Raya Cibodas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (KRC-LIPI) di wilayah Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur menembus angka 69.964 orang. Jumlah tersebut terhitung sejak Hari H Lebaran Idul Fitri 1433 Hijriyah, Minggu (19/8/2012) hingga Sabtu (25/8/2012) petang.

Para pengunjung yang memadati KRC LIPI tidak hanya wisatawan lokal, banyak diantaranya datang dari luar Cianjur seperti Bogor, Jakarta, Depok dan daerah lainya di wilayah Jawa Barat. Mereka sengaja datang untuk menikmati libur lebaran dengan berdarmawisata bersama anggota keluarga masing-masing.

Staf Bagian Jasa dan Informasi KRC-LIPI Kabupaten Cianjur Bunyamin mengatakan, berdasarkan hasil penjualan tiket masuk pada Minggu (19/8/2012) bersamaan dengan tibanya hari Lebaran Idul Fitri 1433 Hijriyah, jumlah pengunjung yang yang masuk ke KRC LIPI mencapai 2006 orang. Jumlah tersebut semakin bertambah pada hari kedua lebaran yang mencapai 6.337 orang.

"Pada hari lebaran jumlah pengunjung tercatat sebanyak 2.006 orang dengan jumlah mobil sebanyak 320 unit. Sedangkan pada hari lebaran kedua jumlah pengunjung melonjak menjadi 6.337 orang dengan jumlah mobil sebanyak 746 unit. Jumlah pengunjung terus mengalami lonjakan yang cukup signifikan," kata Bunyamin.

Berdasarkan data yang ada, pada lebaran ketiga, jumlah pengunjung yang masuk KRC LIPI mencapai 11.648 orang dengan jumlah kendaraan 580 mobil. Hari berikutnya terus mengalami lonjakan. Pada lebaran ke empat atau H+3 jumlah mengunjung yang masuk mencapai 15.257 orang dengan jumlah kendaraan 576 mobil. Hari berikutnya H+4 lebaran mengalami penurunan jumlah pengunjung menjadi 14.387 orang dengan jumlah kendaraan mencapai 678 mobil. Demikian juga pada H+4, jumlah pengunjung yang masuk KRC LIPI mengalami penurunan menjadi 4.983 orang dengan jumlah kendaraan mencapai 447 mobil.

"Pada hari ini Sabtu (25/8/2012) jumlah pengunjung yang masuk ke KRC LIPI mencapai 14.225 orang kembali mengalami lonjakan dengan jumlah kendaraan mencapai 727 mobil. Dengan demikian kalau dijumlahkan terhitung sejak tanggal 19 hingga 25 Agustus 2012, jumlah pengunjung yang masuk mencapai 69.964 orang, dengan jumlah kendaraan 4.309 mobil," kata Bunyamin.

Pihaknya memprediksikan, puncak kunjungan akan terjadi pada Sabtu dan Minggu (19-20/8/2012). "Kelihatanya puncak kunjungan wisatawan masih akan terjadi pada Minggu, bersamaan dengan hari terakhir anak masuk sekolah," tegasnya (KC-02)**.



Arus kendaraan yang melintas Cipanas terpantau padat namun lancar
CIANJUR, (KC).- Puncak arus balik yang melewati wilayah Cianjur diprediksi akan terjadi puncaknya pada hari ini, Sabtu (25/8/2012) dan besuk, Minggu (26/8/2012). Perkiraan tersebut didasarkan dengan telah berakhirnya masa liburan baik bagi anak sekolah maupun perkantoran dan pabrik.

Kapolres Cianjur AKBP Agustri Heryanto mengatakan, hingga saat ini arus kendaraan baik roda dua dan roda empat yang digunakan para pemudik atau masyarakat yang berliburan di kawasan wisata Cipanas PUncak Kabupaten Cianjur sudah mengalami penurunan. Sebelumnya sempat kawasan wisata Cipanas Puncak di padati dengan ribuan kendaraan sehingga harus dilakukan rekayasa arus lalu lintas untuk mengurai kemacetan.

"Pada H-3 sempat angka kendaraan yang masuk dan melintas Cianjur khususnya di kawasan wisata Cipanas Puncak mencapai 56 ribu. Dengan demikian telah terjadi kepadatan kendaraan maupun orang yang sedang berlibur atau mudik," kata Kapolres, Sabtu (25/8/2012).

Pihaknya memprediksikan, bahwa puncak dari arus balik akan terjadi pada hari ini dan besuk, mengingat sudah berakhirnya libur sekolah. Saat ini saja lanjut Kapolres, antrian kendaraan yang memadati beberapa objek wisata sangat terlihat cukup panjang. Hal ini menunjukkan bahwa hari ini merupakan puncak dari liburan Idul Fitri 1433 Hijriyah.

"Sepertinya hari ini dan besuk, kawasan wisata akan tetap diserbu para pengunjung. Sudah bisa dipastikan arus kendaraan akan terjadi kepadatan disepanjang jalur utama yang juga digunakan untuk arus mudik dan balik," katanya.

Pihaknya juga memprediksikan tidak akan jauh berbeda jumlah kendaraan yang masuk ke kawasan wisata Cipanas Puncak pada saat arus mudik dan arus balik. "Memang saat ini kecenderungannya sudah meulai menurun, volume kendaraan yang melintas di kawasan wisata Cipanas Puncak. Beberapa villa seperti Kota Bunga dan Green Aple sebagian penghuninya sudah berangsur-angsur meninggalkan vilanya kembali ke Jakarta," tegasnya (KC-02)**.


Kasatlantas Polres Cianjur AKP Sudewo
CIANJUR, (KC).- Memasuki H+6 arus balik lebaran Idul Fitri 1433 Hijriyah, angka kecelakaan lalu lintas yang terjadi diwilayah Cianjur mengalami penurunan drastis. Dibandingkan dengan kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada lebaran tahun sebelumnya, selama arus mudik dan balik yang melintas di Cianjur tahun ini perbedaanya sangat jauh.

Kapolres Cianjur AKBP Agustri Heryanto melalui Kasatlantas AKP Sudewo mengatakan, selama arus mudik dan balik lebaran Idul Fitri 1433 Hijriyah setidaknya telah terjadi 8 kecelakaan lalu lintas di sepanjang jalur yang dilewati para pemudik. Jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan dengan angka kecelakaan lalu lintas pada tahun sebelumnya.

Dari 8 kejadian kecelakaan lalu lintas mengakibatkan 4 orang meninggal dunia, 2 luka berat dan 11 luka ringan. Sedangkan untuk kerugian materi akibat kecelakaan lalu lintas tersebut ditaksir mencapat 14,1 juta.

"Dari delapan kejadian kecelakaan lalu lintas, tidak ada satupun yang menimpa pemudik. Mereka warga masyarakat biasa. Berarti sampai hari ini tidak ada satupun pemudik yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas," kata Sudewo, Sabtu (25/8/2012).

Meski angka kecelakaan lalu lintas menurun dan tidak ada yang menimpa para pemudik, pihaknya tetap menghimbau kepada para pengguna jalan khususnya para pemudik baik yang menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat agar selalu berhati-hati dalam berkendara dan selalu mentaati aturan lalu lintas.

"Sikap hati-hati tetap harus dipelihara, kalau misalnya para pemudik yang sedang dalam perjalanan kembali merasakan lelah, sebaiknya beristirahat pada tempat-tempat yang dirasakan nyaman. Kami juga menyipakn tempat dibeberapa pos pam, itu bisa dimanfaatkan bagi para pemudik," katanya (KC-02)**.


CIANJUR, (KC).- Pertemuan perwakilan warga pengunjukrasa di mes Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudbar) diareal Kawasan Wisata Cibodas (KWC) berlangsung alot. Terjadi beberapa kali perdebatan mengenai tuntutan para pengunjukrasa yang menginginkan retribusi masuk KWC dihapuskan karena terindikasi adanya berbagai kepentingan.

Warga menginkan adanya formula lain yang tidak merugikan masyarakat pedagang dan sekitar serta tidak berdampak buruk pada iklim pariwisata di Cibodas. Warga juga sempat mempertanyakan aturan pemungutan retribusi masuk KWC yang selama ini mereka nilai hanya menguntungkan kepentingan pribadi. Bahkan cenderung rtribusi tersebut sarat dengan tindakan korupsi.

"Kita ingin adanya formulasi baru, kenapa tidak dilakukan dengan pelayanan satu atap saja, Pemda dengan Lipi Cibodas. Sehingga tidak carut marut seperti ini. Kita juga ingin bahwa masyarakat setempat dan pemerintahan desa Cimacan bisa merasakan adanya retribusi pariwisata ini," kata Yanto Hidayat koordinator aksi.

Setelah terjadi perdebatan yang cukup alot, warga perwakilan pendemo meminta agar tuntutanya bisa direalisasikan. Disaat situasi semakin memanas Kapolsek Pacet Haji Setiawan berupaya memberikan arahan bahwa kalau terus dilakukan perdebatan tidak akan selesai. Kapolsek meminta agar tuntutan warga disampaikan secara tertulis kepada Pemda melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Setelah itu akhirnya para perwakilan warga memahami dan membuatkan tuntutan yang disampaikan langsung kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cianjur, Asep Sopyan. Setelah itu beberapa saat kemudian pertemuan dengan perwakilan warga selesai dengan tertib. Warga menunggu tindak lanjut dari apa yang disampaikan dalam kurun waktu seminggu kedepan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Asep Sopyan mengatakan, tuntutan atau aspirasi warga akan ditampung semuanya. Namun pihaknya belum bisa memastikan, apakah tuntutan tersebut akan direalisasikan seluruhnya atau tidak. Pihaknya akan menyampaikan kepada pimpinan dalam hal ini Bupati Cianjur, H. Tjetjep Muchtar Soleh.

"Yang jelas apa yang disampaikan warga akan kami tindak lanjuti. Makanya tadi kami minta perwakilan warga untuk mengawal tuntutanya. Kita minta waktu seminggu kedepan untuk membahas persoalan KWC ini," tegas Asep (KC-02)**.