Oleh: Abdussalam
Mahasiswa Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Bandung
Jika kita lihat kebelakang berdasarkan wacana yang di bangun oleh pemerintah, merger perbankan syariah ini sebelumnya pernah di kaji pada tahun 2016, namun hasil kajian tersebut dan dengan masukan dari berbagai kalangan sehingga perbankan syariah dirasa masih belum siap untuk melakukan merger. Namun Pada tahun 2019 dengan di bentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang merupakan Lembaga non-struktural di bentuk berdasarkan Peraturan Presiden No 91 Tahun 2016 tentang Komite Nasional Keuangan Syariah yang sekarang menjadi Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) ini mempunyai mandat untuk mempercepat, memperluas dan memajukan perkembangan ekonomi syariah dalam rangka membantu pertumbuhan ekonomi nasional.  

Dari kajian atau skenarion yang di lakukan oleh KNEKS yaitu pemerintah harus ikut andil melakukan intervensi terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekonomi syariah ini, sehingga melahirkan sebuah kebijakan yang disebut dengan zero intervention yang di asumsikan perbankan syariah akan tumbuh diangka Rp. 1.000 Triliun, kemudian full intervention ini di asumsikan perbankan syariah akan tumbuh di angkat moderat 27% atau agresif 36% sehingga asset perbankan syariah bisa tumbuh sebesar Rp. 2.000 Triliun atau Rp. 3.000 Triliun. Sehingga kemudian KNEKS melihat dirasa perlu untuk mempunyai Bank Syariah yang berskala besar, dan di rancanglah skemanya yaitu Konversi bank milik BUMN, Merger Bank Syariah milik BUMN, Holding Bank Syariah milik BUMN atau Membentuk Bank BUMN Syariah baru. 

Sehingga hari ini Menteri BUMN Erik Tohir merespon hal tersebut untuk melakukan Merger Bank BUMN Syariah yang akan di resmikan pada tahun 2021. Kemudian kita lihat ada berapa Bank BUMN Syariah yang di maksud yaitu ada BRI Syariah, BNI Syariah dan Mandiri Syariah, sedangkan Unit Usaha Syariah nya ada BTN Syariah. Namun secara umum berdasarkan data statistik OJK ada 14 Bank Umum Syariah di idonesia baik itu BUMN maupun swasta dengan total asset kurang lebih sekitar 350 Triliun.  Sedangkan menurut data statistik OJK tersebut masih ada 20 yang merupakan Unit Usaha syariah yang belum memisahkan diri. 

Namun demikian, meskipun Indonesia mempunyai cukup banyak perbankan syariah tapi secara nilainya tidak sebesar seperti perbankan syariah yang ada di negara tetangga kita. Seperti halnya Malaysia ada 16 Bank Syariah tetapi asetnya sudah mencapai Rp. 2.789 Triliun, kemudia Brunei Drussalam ada 4 Bank Syariah dengan aaset mencapai Rp. 114 Triliun dan Filipina hanya ada 1 Bank Syariah yaitu Al Amanah Islamic Invesment Bank dengan asset Rp. 205 Miliar. Mungkin untuk Brunei dan Filipina masih di bawah Indonesia tapi Malaysia ini sangat jauh di atas Indonesia. Meskipun memang jika dilihat dari tahun pendirian Malaysia lebih awal yaitu tahun 1983 sedangkan Indonesia 1991 artinya Indonesia lebih muda dari Malaysia perbankan syariahnya. Tapi jika kita lihat dari populasinya menurut World Popilation Review Indonesia mempunyai 229 juta penduduk muslim, sedangkan Malaysia hanya 16 juta penduduk muslim ini tentu sangat jauh sekali dibanding dengan populasi muslim Indonesia.

Kemudian kita lihat berdasarkan aset Bank Syariah yang akan di lebur tersebut. Mandiri Syariah ini memiliki aset sebesar Rp. 114 Triliun, BNI Syariah aset Rp. 51 Triliun, BRI Syariah aset Rp. 42 Triliun. Jika kita total keseluruhan aset sebesar Rp. 207 Triliun hal ini akan menjadi kekuatan yang cukup matang dari segi permodalan, karena berdasarkan hasil FGD permasalahan utama bank syariah yaitu Keterbatasan modal, Tingginya cost of fund, Kelebihan likuiditas. Sehingga dengan kebijakan merger ini tentunya perbankan syariah akan kuat secara permodalan dan akan lebih mudah untuk ekspansi bisnis kesektor korporasi, Institusi atau pembiayaan proyek pemerintah dengan dana skala besar. 

Dengan data tersebut dirasa keputusan Menteri BUMN Erik Tohir ini cukup tepat untuk melakukan merger Bank BUMN Syariah, karena Indonesia punya market share besar sekali untuk menjadi Bank Syariah terbesar di Asia bahkan Dunia sehingga ini akan menambah kekuatan ekonomi domestik dengan menjadikan Indonesia sebagai kiblat ekonomi syariah dunia.

CIANJUR,[KC],-  Kantor SAR Bandung menerima informasi dari anggota Retana Cianjur bahwa telah terjadi peristiwa orang tenggelam di Waduk Cirata Cianjur. 

Kepala Kantor SAR Bandung, Deden Ridwansah S.Sos menyebutkan, laporan diterima pada pukul 13.00 WIB, saat itu korban sedang memancing menggunakan rakit dan diduga tenggelam di Waduk Cirata, karena rakit yang digunakan korban ditemukan kosong oleh rekan korban bernama Ade dan menyisakan jaket serta KTP korban. 

Menanggapi laporan ter sebut, pihak Kantor SAR Bandung melakukan koordinasi dan asesmen dengan pihak Satpolair Polres Cianjur, BPBD Cianjur, LLASD Cirata dan Retana Cianjur. 

Sementara itu Satpolair membenarkan kejadian tersebut setelah koordinasi dengan saksi pada waktu kejadian. 

Korban bernama Engkus (63) merupakan warga Kp. Babakan Rt/Rw 02 Ds Ciburuy Kec Padalarang Kab Bandung. 

Tim rescue Kantor SAR Bandung langsung sigap menuju lokasi kejadian pada pukul 16.20 WIB dengan menggunakan 1 Unit Rescue Car dan membawa 1 Unit LCR, 1 Set Palsar air, 1 Set Peralatan Alkom, 1 Set Peralatan Medis dan APD Personal. [KC.04/Iman]**

CIANJUR,[KC],-
Ratusan warga terdampak banjir di Kecamatan leles dan Agrabinta mengungsi,  Intensitas hujan yang tinggi, menyebabkan aliran Sungai Cisokan meluap sehingga berdampak cukup parah menerjang lima desa, ketinggian air mencapai 2 meter atau setinggi atap rumah warga.

Koordinator Tagana Kecamatan Leles, Abdul Azis melalui sambungan telepon menjelaskan banjir bandang terjadi pada Jumat (2/10) malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Luapan air Sungai Cisokan akibat hujan deras yang mengguyur selama beberapa jam menjadi penyebab banjir tersebut.

"Iya ada lima desa di tiga kecamatan di wilayah selatan yang terendam banjir. Ini diakibatkan hujan deras yang mengguyur sejak pukul 16.00 WIB hingga tengah malam, warga kini sudah diungsikan ke tempat yang lebih aman" ujar Azis

Ada lima desa yang terkena banjir bandang di tiga kecamatan, di antaranya Desa Muara Cikadu Kecamatan Sindangbarang dan Desa Karangsari Agrabinta. Azis mengungkapkan wilayah yang terdampak paling besar ada di Kampung Cibolang, Desa Pusakasari, Kecamatan Leles.

Ketinggian air di Kampung Cibolang mencapai 2 meter hingga atap rumah warga terendam. Sementara, ketinggian banjir di desa lain rata-rata mencapai 80 cm.

"Yang paling parah di Kampung Cibolang (ketinggian banjir 2 meter). Selebihnya ketinggian air rata-rata 80 centimeter atau setinggi pinggang orang dewasa," ucap dia.

Menurut Azis, saat ini dirinya dan rekan rekan relawan TAGANA Leles dan Agrabinta masih sedang melakukan assesment korban dan kerugian, diperkirakan ada ratusan rumah di tiga kecamatan yang terdampak banjir bandang. 

"Kami masih terus melakukan pendataan untuk mendapatkan data jumlah pasti rumah yang terdampak.juga sedang mencari informasi apakah ada korban hanyut atau tidak dari kejadian ini," ungkap Azis

Seorang warga Kampung Cibolang Desa Pusakasari, Nur (38), mengatakan banjir ini menjadi yang pertama kali terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Namun, menurut nur, dampak banjir kali ini lebih parah. Ia pun berencana mengungsi.

"Di rumah itu saja sampai masuk rumah setinggi paha. Kalau yang di kampung sebelah itu tinggi air sampai atap. Rencananya Ibu mau mengungsi, takut ada banjir susulan," ujar Nur. 

Azis menambahkan kondisi saat ini air mulai surut namun tetap waspada terjadinya banjir susulan karena di utara leles hujan sudah turun dari subuh sampai sekarang belum reda, korban sudah diungsikan ke rumah warga yang aman, namun membutuhkan bantuan secepatnya untuk konsumsi dan pakaian pengganti. [KC.10]**

CIANJUR,[KC],- Komisioner yang tergabung dalam wadah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID ) Cianjur, Jumat (25/9) bertempat di ruang Garuda Pendopo Pemkab Cianjur resmi dilantik Plt Bupati Cianjur, berdarkan surat keputusan Bupati Cianjur Nomor 463/Kep.326-Kesra/2020 tentang Pembentukan Komisi Perlindungan Anak Daerah periode 2020-2025.

Agenda tunggal pelantikan ini dihadiri Komisioner KPAI dan Komisioner dari Jawa Barat,  unsur Forkopimda, para kepala OPD terkait, pejabat kantor Kementerian Agama Cianjur dan Kepala bagian kesejahteraan rakyat, sementara dari unsur masyarakat diwakili Ketua umum MUI Kabupaten Cianjur.

Plt Bupati Cianjur menilai keberadaan lembaga KPAI ini sangat diperlukan, terutama dalam hal pengawasan serta perlindungan terhadap anak khususnya di Kabupaten Cianjur. “Saya titip kepada para komisioner yang baru dilantik agar aktif melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan amanat Undang-undang, mari bersama-sama kita dukung Kabupaten Cianjur yang ramah anak” tegasnya.

Sementara itu Ketua KPAI Susanto sangat mengapresiasi Bupati Cianjur sebagai Kepala Daerah, yang memiliki kepedulian dan keberpihakan terhadap perlindungan dan hak-hak anak,  hal tersebut dibuktikan dengan respon yang baik dan cepat dalam pembentukan KPAID Cianjur, dalam amanatnya meminta para komisioner agar lebih jeli dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan dan pemenuhan hak anak, memberikan masukan dan usulan dalam perumusan kebijakan tentang penyelenggaraan perlindungan anak.

Dadang Misbah Fuad Fauzi Ketua KPAID Kabupaten Cianjur pasca dilantik, pihaknya bersama komisioner lainnya  akan segera melakukan konsolidasi internal dan mendengar aspirasi maupun temuan temuan di masyarakat, serta mengikuti tahapan berikutnya yang telah ditetapkan sesuai SOP dari KPAI pusat. “Kami mohon do’a dan dukungannya dari semua pihak dalam menjalankan amanah ini, semoga kami istiqomah. [KC.04/iman)]**      

CIANJUR,[KC],- Rapat pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Cianjur secara terbuka pengundian nomor urut dan penetapan nomor urut pasangan calon Bupati dan calon Wakil Bupati Kabupaten Cianjur digelar hari ini di Hotel Yasmin Cianjur, Kamis (24/9).

Pantauan kabarcianjur.com pengundian diawali dengan pengambilan nomor urut untuk mengambil nomor pasangan calon oleh para calon Wakil Bupati Kabupaten Cianjur yang telah disiapkan oleh KPU Cianjur.

Kemudian dilanjutkan dengan pengambilan nomor pasangan calon sesuai nomor urut yang diambil langsung oleh para calon Bupati.

Hasilnya, pasangan Muhamad Toha - Ade Sobari (HADE) mendapat nomot urut 1, dari jalur perseorangan.

Pasangan Oting Zaenal Mutaqin - Wawan Setiawan (OTW) mendapat nomor urut 2, diusung Partai Gerindera dan Partai Demokrat.

Pasangan Herman Suherman dan TB Mulyana Syahrudin (BHS-M) mendapat nomor urut 3, diusung PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Nasdem, Partai Amanat Nasional, dan Partai Persatuan Pembangunan.

Pasangan Lepi Ali Firmansyah - Gilar Budi Raharja  (PILAR) mendapat nomor urut 4, diusung Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Keadilan Sejahtera.

Pengambilan nomor urut dilakukan di hadapan Ketua dan Komisioner KPU Kabupaten Cianjur, Bawaslu dan FKPD Kabupaten Cianjur [KC.03]**