CIANJUR [KC],- Ancaman gempa bumi dari zona Megathrust kembali menjadi perbincangan hangat di tanah air. Indonesia yang berada di kawasan cincin api (Ring of Fire) dihadapkan pada potensi gempa besar yang nyata, meskipun tidak ada satupun ahli maupun teknologi yang bisa memprediksi dengan pasti kapan bencana tersebut akan terjadi.
Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Dwikorita Karnawati, dalam program televisi One On One, menegaskan bahwa potensi bencana tersebut tidak seharusnya disikapi dengan kepanikan, melainkan harus dijawab dengan kesiapsiagaan dan mitigasi yang matang.
Menurut Dwi Korita Karnawati, secara ilmiah potensi gempa Megathrust adalah suatu keniscayaan dan sangat nyata. "Data-data menunjukkan fenomena ini diakibatkan adanya tumbukan lempeng Samudra Indo-Australia di dasar laut Hindia yang menumbuk masuk di bawah Lempeng Sunda atau lempeng benua Eurasia," jelasnya.
Bukti pergerakan lempeng ini sangat terukur secara pengukuran geodetik, dengan kecepatan tumbukan rata-rata sekitar 8 cm per tahun. Di dasar laut pun secara batimetri terlihat bentukan palung laut dengan kedalaman ribuan meter yang menjadi zona tumbukan.
Dari belasan segmen patahan megathrust yang membentang, Dwikorita menyoroti dua zona kritis yang tumbukannya masih terkunci rapat dan energinya belum terlepas. Kedua zona tersebut berada di selatan Selat Sunda dan barat Pulau Siberut di Sumatera Barat.
Pelepasan energi di kawasan Selat Sunda diprediksi dapat memicu guncangan gempa hingga magnitudo delapan koma tujuh atau sembilan yang tsunaminya akan berdampak pada pesisir selatan Jawa Barat, Banten, hingga berpotensi menjangkau wilayah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Sementara itu, jika pelepasan energi terjadi di barat Pulau Siberut, dampaknya akan sangat terasa di wilayah Padang, meluas hingga ke Sumatera Selatan dan Bengkulu.
Perambatan gelombang gempa berskala besar ini bahkan berpotensi menjangkau kawasan ibu kota Jakarta meskipun berjarak ratusan kilometer dari titik pusat gempa. Dwikorita memberikan peringatan khusus terkait hal ini karena kondisi daratan Jakarta yang berbentuk cekungan dan didominasi oleh tanah lunak.
Ia mengibaratkan daratan Jakarta seperti mangkok yang berisi agar-agar, di mana saat mangkok diguncang dan guncangannya telah berhenti, agar-agar di dalamnya masih akan terus bergoyang. Efek amplifikasi gelombang seismik inilah yang menimbulkan kekhawatiran besar terhadap daya tahan struktur gedung-gedung tinggi di ibu kota.
Sebagai pengingat akan bahaya dari sebuah ketidaksiapan, Dwikorita menyinggung tragedi memilukan gempa bumi dan tsunami Aceh pada akhir tahun dua ribu empat silam yang juga merupakan wujud nyata dari pelepasan energi megathrust.
Pada masa itu, infrastruktur mitigasi Indonesia sama sekali belum siap karena keterbatasan jumlah sensor pendeteksi dan ketiadaan sistem peringatan dini tsunami, sehingga bencana tersebut menelan korban jiwa yang sangat besar. Berkaca dari pengalaman masa lalu tersebut, kesiapan infrastruktur bangunan dan kewaspadaan masyarakat kini menjadi kunci keselamatan utama yang tidak bisa ditawar lagi.
Pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat didesak untuk segera mengambil langkah mitigasi konkret alih-alih hanya berlarut dalam kecemasan. Langkah krusial yang wajib dilakukan meliputi inspeksi ketat terhadap bangunan tinggi untuk memastikan terpenuhinya standar tahan gempa, serta penyediaan tempat evakuasi vertikal di area pesisir pantai.
Mengingat gelombang tsunami bisa tiba di daratan hanya dalam hitungan tiga puluh menit hingga satu jam setelah gempa, masyarakat diimbau untuk membiasakan diri melintasi dan mengenali jalur evakuasi saat beraktivitas sehari-hari dan terus menghidupkan kelompok sadar bencana di tingkat desa. Selain itu, setiap rumah tangga wajib menyiapkan tas siaga bencana yang siap jinjing kapan saja sebagai bekal bertahan hidup awal untuk menghadapi segala jenis potensi bencana alam yang ada di kawasan cincin api. [KC.05]**

.jpeg)
Komentar0
Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.