CIANJUR [KC],- Chaeronsyah, jurnalis televisi dari stasiun tvOne, resmi didaulat menakhodai Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Koordinator Daerah (Korda) Cianjur untuk masa bakti 2026-2029. Pemilihan pucuk pimpinan ini berlangsung mulus melalui mekanisme aklamasi dalam perhelatan Musyawarah Koordinator Daerah (Muskorda) III yang diselenggarakan di Hotel Grand Bydiel, Kabupaten Cianjur, pada Selasa, 8 September 2026.
Prosesi suksesi kepemimpinan tersebut langsung disahkan pada hari yang sama. Chaeronsyah beserta seluruh jajaran pengurus baru secara resmi dilantik oleh Wakil Ketua Umum IJTI, Wahyu Triyogo, menandai dimulainya babak baru organisasi profesi jurnalis televisi di wilayah tersebut.
Usai prosesi pelantikan, Chaeronsyah langsung memaparkan cetak biru kepemimpinannya. Langkah pertama yang akan ia tempuh adalah memastikan keberlanjutan program-program dari kepengurusan demisioner yang sempat tertunda. Baginya, pembenahan dan penguatan fondasi internal organisasi merupakan syarat mutlak untuk membangun tim yang solid.
"Yang kurang, insyaallah akan kita lengkapi. Program-program yang belum berjalan akan kita jalankan," ungkapnya merespons target awal kepengurusan.
Lebih dari sekadar membenahi urusan administratif, peningkatan kapasitas individu setiap pewarta menjadi agenda prioritas. Kepengurusan baru ini berkomitmen penuh untuk memfasilitasi dan mendorong para anggotanya agar segera mengikuti Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ). Standardisasi ini dinilai sangat krusial agar setiap insan pers memiliki bekal profesionalisme yang terukur dalam menghadapi dinamika industri.
Visi Chaeronsyah tidak hanya mengakar pada internal profesi. Merespons fenomena banjirnya arus informasi, IJTI Korda Cianjur merancang program pelatihan jurnalistik yang bersifat inklusif. Sasaran pesertanya diperluas, mencakup kalangan pelajar, elemen masyarakat sipil, hingga institusi pertahanan dan keamanan seperti TNI serta Polri.
Materi yang akan disuguhkan mencakup teknik dasar pengambilan gambar (videografi), tata cara penyusunan naskah pemberitaan, hingga pendalaman esensi prinsip Kode Etik Jurnalistik. "Kita akan menjalankan program-program dari sekolah ke sekolah, kemudian pelatihan internal, pengambilan gambar, naskah dan lainnya, serta pemantapan internal di tingkat kepengurusan," paparnya.
Keputusan untuk melebarkan sayap edukasi ini lahir dari sebuah keprihatinan. Chaeronsyah mengamati menjamurnya fenomena pembuat konten di era digital yang acap kali berbenturan dengan ranah hukum. Banyak pihak yang secara sporadis menyebarkan informasi tanpa dibekali landasan etika yang memadai.
Kondisi tersebut sering kali berujung pada delik aduan dan secara tidak langsung ikut mencoreng muruah profesi kewartawanan. Pelatihan ini dirancang sebagai langkah mitigasi agar publik memahami batas-batas tanggung jawab moral saat memproduksi sebuah informasi.
Pada akhir arahannya, Chaeronsyah merefleksikan posisi jurnalis di pusaran disrupsi teknologi. Ia tak menampik bahwa mesin algoritma telah menjadi penantang baru di meja redaksi. Kendati demikian, ia mengingatkan agar para jurnalis tidak pernah mengesampingkan identitas dan muruah profesinya.
Kreativitas dan profesionalisme diyakini sebagai senjata utama untuk menjaga eksistensi. Bagaimanapun canggihnya teknologi hari ini, ruh sebuah karya jurnalistik tetap berada pada ketajaman insting dan keberimbangan sang pencari berita.
"Jangan pernah berhenti berkarya. Terus berkarya. Inilah profesi kita, hidup dan mati, pasang surut, inilah jurnalistik," pesan Chaeronsyah.[KC.101/R]


Komentar0
Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.