CIANJUR [KC],- Cuaca ekstrem kembali mengancam perairan pesisir selatan Kabupaten Cianjur. Merespons kondisi alam yang tidak bersahabat tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh masyarakat, khususnya para nelayan, untuk menghentikan sementara aktivitas melaut mereka.
Langkah preventif yang diambil oleh pemerintah daerah ini bukan tanpa alasan. Imbauan larangan melaut sementara tersebut menyusul adanya potensi gelombang laut yang sangat tinggi dan cuaca buruk yang diprediksi akan melanda perairan selatan Cianjur dalam beberapa hari ke depan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama, menjelaskan bahwa peringatan ini didasarkan pada data dan analisis cuaca resmi. Pihaknya merujuk langsung pada rilis peringatan dini gelombang tinggi yang baru saja dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"Dalam surat peringatan dini gelombang tinggi, BMKG menyatakan berdasarkan pemantauan kondisi sinoptik terkini, kecepatan angin tertinggi terpantau di sejumlah wilayah perairan," ujar Samudra saat memberikan keterangan resminya pada Senin (14/9/2026).
Lebih rinci, Samudra memaparkan bahwa kecepatan angin yang berpotensi memicu gelombang tinggi tersebut terpantau di beberapa titik strategis perairan Indonesia. Titik-titik tersebut meliputi Samudra Hindia barat Bengkulu, Laut Jawa, Selat Makassar bagian selatan, Laut Maluku bagian utara, hingga Laut Arafuru.
Berdasarkan informasi dari otoritas cuaca nasional tersebut, masa kritis dari peringatan dini gelombang tinggi ini akan berlangsung selama empat hari ke depan. Peringatan ini dinyatakan berlaku mulai Senin, 14 September 2026, hingga Kamis, 17 September 2026.
Dalam periode waktu tersebut, BMKG memprakirakan akan terjadi peningkatan tinggi gelombang laut yang tergolong ekstrem. Di sejumlah wilayah perairan yang terdampak, ketinggian ombak diprediksi dapat melonjak tajam mulai dari 2,5 meter hingga mencapai 4 meter.
Kondisi gelombang laut yang ganas ini dinilai sangat berisiko dan membahayakan keselamatan jiwa, terutama bagi nelayan tradisional yang umumnya menggunakan perahu berukuran relatif kecil.
"Dalam peringatan dini tersebut, BMKG memperkirakan ketinggian gelombang bisa mencapai 2,5 hingga 4 meter. Gelombang setinggi itu tentu membahayakan kapal nelayan, termasuk nelayan di Cianjur selatan," kata Samudra menegaskan bahaya yang mengintai.
Oleh karena itu, Samudra meminta kesadaran penuh dari masyarakat pesisir Pantai Cianjur selatan agar menahan diri dan tidak melaut untuk sementara waktu. Aktivitas penangkapan ikan baru boleh dilanjutkan kembali setelah kondisi cuaca benar-benar normal dan dipastikan aman oleh pihak berwenang.
"Demi keselamatan, kami berharap nelayan tidak memaksakan diri untuk melaut. Tak hanya imbauan, kita juga berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti pemerintah desa, kecamatan, hingga kepolisian setempat supaya nelayan dapat memahaminya," tuturnya.
Keterlibatan aparat kepolisian dan jajaran pemerintah di tingkat lokal diharapkan dapat memperkuat pengawasan di pesisir, sehingga tidak ada nelayan yang nekat menerobos imbauan cuaca ekstrem ini.
Sebagai garda terdepan di lapangan, Samudra menambahkan bahwa pihaknya telah menggerakkan relawan kebencanaan. Ia memerintahkan jajaran Relawan Tangguh Bencana (Retana) untuk terus melakukan pemantauan intensif dan turun langsung ke kantong-kantong permukiman nelayan guna memberikan edukasi terkait peringatan dini dari BMKG tersebut.[KC.101/R]


Komentar0
Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.