CIANJUR [KC],- Kemarau panjang yang memicu penyusutan drastis permukaan air di Waduk Cirata selama dua bulan terakhir mulai membawa petaka bagi sektor perikanan darat di Kabupaten Cianjur. Fenomena alam ini memberikan pukulan telak bagi keberlangsungan usaha budidaya ikan air tawar yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian warga di pesisir waduk.
Kondisi perairan yang terus mendangkal ini tidak hanya mengganggu keseimbangan ekosistem dan produktivitas ikan di dalam jaring apung atau karamba. Situasi krisis tersebut secara perlahan memaksa para petani ikan untuk mengambil langkah penyelamatan yang berisiko dengan melakukan panen lebih awal guna menghindari kematian massal.
Dampak nyata dari krisis debit air ini sangat dirasakan oleh Wahyudin, salah seorang petani ikan karamba yang beroperasi di Kampung Ciputri, Desa Mande, Kecamatan Mande. Ia mengaku terus memantau pergerakan air waduk yang kian menyusut dari hari ke hari dengan penuh rasa waswas akan nasib ribuan benih ikannya.
Menurut Wahyudin, perubahan volume air yang tidak normal ini secara langsung merusak kualitas lingkungan tempat ikan dibudidayakan. Berkurangnya kedalaman air memicu penurunan drastis pada kadar oksigen terlarut yang sangat vital bagi kelangsungan hidup ikan-ikan tersebut.
Akibat minimnya pasokan oksigen, ikan-ikan di dalam karamba mulai menunjukkan tanda-tanda stres berat hingga mengalami kondisi mabuk. "Air yang tidak normal membuat ikan-ikan mabuk karena kadar oksigen berkurang. Ikan juga jadi tidak mau makan," jelas Wahyudin kepada wartawan pada hari Rabu, 30 September 2026.
Hilangnya nafsu makan secara masif ini otomatis membuat laju pertumbuhan ikan menjadi sangat lambat dan terhambat. Kondisi di lapangan semakin parah ketika Wahyudin mulai menemukan sejumlah ikannya mengambang tak bernyawa di permukaan karamba akibat tidak mampu beradaptasi dengan buruknya kualitas air.
Dihadapkan pada ancaman kematian ikan berskala besar, Wahyudin terpaksa mengambil keputusan sulit sebagai upaya mitigasi terakhir. Ia harus segera mengangkat dan memanen ikan-ikannya dari karamba meskipun usia dan ukuran ikan tersebut belumlah mencapai standar ideal untuk dipasarkan.
Langkah penyelamatan melalui panen dini tersebut sayangnya tidak mampu menyelamatkan target produksinya secara keseluruhan. Karena ukuran ikan yang masih kecil dan adanya kematian sebelumnya, hasil panen yang didapatkan jauh melenceng dari proyeksi awal yang telah ia hitung sejak masa tebar benih.
Wahyudin mengalkulasi bahwa total ikan yang berhasil diselamatkan dan dipanen hanya mencapai kisaran 50 persen jika dibandingkan dengan hasil panen pada kondisi debit air normal. Penurunan kuantitas panen ini secara otomatis memicu kerugian finansial yang cukup parah dan memukul kondisi keuangan usahanya.
Beban modal untuk pembelian pakan dan biaya pemeliharaan yang telah dikeluarkan selama berbulan-bulan kini tidak berbanding lurus dengan pendapatan yang diraih dari tengkulak. "Target panen ikan paling hanya 50 persen dari biasanya. Kemarin saya mengalami kerugian sampai Rp60 juta," keluh Wahyudin merinci kerugian usahanya.
Situasi krisis yang menimpa para petani ikan di kawasan Mande ini sebenarnya tidak disembunyikan. Wahyudin dan rekan-rekan sesama pembudidaya mengaku telah melaporkan kondisi darurat yang mengancam mata pencaharian mereka ini kepada instansi terkait di lingkungan pemerintahan daerah.
Namun, hingga saat ini jeritan para petani ikan tersebut seolah belum mendapatkan respons penanganan yang berarti. Belum ada langkah konkret maupun solusi taktis dari instansi terkait, membuat nasib dan keberlangsungan usaha para pembudidaya ikan di Waduk Cirata kian terancam jika penyusutan air ini terus berlanjut.[KC.101/R]


Komentar0
Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.