CIANJUR, (KC).- Pemahaman dan pengamalan tiga pilar budaya Cianjur Ngaos, Mamaos dan Maenpo secara mendalam akan menentukan sikap moral bangsa yang lebih mencintai budaya sendiri yang juga dapat diwujudkan dengan adanya niat yang ikhlas, kebersamaan serta dukungan semua pihak dengan cara mengemas suatu kegiatan positif yang inovatif dan penuh dengan kreatifitas.

Hal itu untuk meraih minat anak-anak juga remaja agar lebih mengenal bangsa ini dengan terus menggali budaya asli daerah maupun budaya ketimuran yang semakin hari semakin terkikis oleh dekadensi moral budaya barat. Demikian ditegaskan Wakil Bupati Cianjur, H. Suranto, disela kegiata Pasanggiri Ngaos, Mamaos dan Maenpo yang berlangsung di Gedung Dewan Kesenian Cianjur (DKC) Jalan Suroso Cianjur, Jum’at (26/04/2013).

"Degradasi moral dikalangan anak muda seperti pergaulan bebas, narkoba, seks bebas dan perilaku buruk lainnya telah menjadi permasalahan yang sangat serius yang perlu dipecahkan bersama-sama. Di Cianjur sendiri perubahan gaya hidup ini sangat memprihatinkan. Mungkinkah karena sudah lunturnya budaya Cianjur yang semakin lama dilupakan ?," tanya Suranto.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua DKC Cianjur terpilih Jaenudin, Ketua LKC Deni Natamihardja, Ketua Paguyudan Pasundan Cianjur Abah Ruskawan, sejumlah tokoh seniman, budayawan Cianjur, para pelajar juga tamu undangan lainnya.

Menurut Suranto, kebudayaan adalah kendaraan nilai. Begitulah makna yang harus dipetik, sehingga apapun seni dan budaya hasil dari pemikiran manusia merupakan upaya mulia untuk mempertahankan nilai - nilai luhur dan adat istiadat masyarakat kita yang kental dengan istilah Ngaos, Mamaos dan Maenpo. Cianjur dikenal sebagai kota santri karena sejak dulu sudah terbiasa dengan Ngaos atau mengaji Al - Quran, Ngaos juga bermakna mentafakuri alam semesta atau menggali wawasan ilmu pengetahuan melalui riset - riset ilmiah.

"Mamaos sebagai seni tembang Cianjuran dapat melatih ketajaman rasa dan kepedulian sosial dan Maenpo sebagai seni mengolah tubuh menjadi bagian terpenting dalam pengamalan Tiga Pilar Budaya Cianjur yang mana kesehatan fisik juga akan menunjang kesehatan jiwanya," katanya.

Kegiatan Pasanggiri tiga pilar budaya Cianjur yaitu Ngaos, Mamaos dan Maenpo kata Suranto, harus terus diselenggarakan secara konsisten dan dilaksanakan dengan bahu membahu untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik dalam membangun karakter generasi muda kita agar menjadi generasi yang berbudi pekerti luhur yang mampu membentengi diri dari berbagai pengaruh negatif globalisasi.

"Kita sebagai warga Cianjur memiliki tiga pilar budaya yang wajib diaplikasikan dalam kehidupan sehari - hari semoga melalui kegiatan seperti ini anak muda kita akan terangsang dan mengenal budayanya sendiri yang memiliki nilai-nilai luhur untuk membentuk karakter, moral yang baik dan kepribadian yang berakhlakulkarimah," katanya.

Para peserta yang kebanyakan kalangan pelajar tersebut terlihat antusias mengikuti pasanggiri lomba Ngaos, Mamaos dan Manpo. Mereka mengikuti ajang ini untuk mengasah keterampilan dan kemampuan yang selama ini sudah menjadi pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Ngaos sendiri diartikan sebagai mengaji Al - Quran, Mamaos adalah tembang Cianjuran dan Maenpo adalah seni bela diri yang ketiganya merupakan tiga pilar budaya Cianjur yang sarat dengan nilai-nilai luhur (KC-02)**.
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.