CIANJUR, [KC].- Para pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur terancam gulung tikar menyusul terus merangkaknya harga kedelai yang menjadi bahan baku seiring dengan melemahnya rupiah atas dolar amerika serikat. Untuk menyiasatinya, banyak pengusaha tahu tempe di Cianjur yang terpaksa mengurangi jumlah produksinya.

Warjani seorang pengusaha tahu tempe menyebutkan, melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat berdampak pada harga kedelai impor yang menjadi bahan baku pembuatan tahu dan tempe. "Harga kedelai terus merangkak naik, hingga Senin (26/8) sudah tembus diangka Rp 9.500,-/kilogram," kata Warjani saat dihubungi, Senin (26/8).

Pihaknya memprediksikan, jika pemerintah tidak segera mengambil langkah kebijakan untuk mengendalikan harga kedelai, dipastikan para pengusaha akan gilung tikar. Harga yang saat ini saja, sudah berdampak luas, terutama berpengaruh dalam produksi.

"Saya yakin harga akan terus merangkak, hari ini Rp 9.500,-/kilogram, ini untuk DO hari ini, besuk sudah berubah lagi. Kondisi seperti ini sangat merugikan bagi para pengusaha tahu tempe. Kalau tidak ada pengendalian harga, dipastikan pengusaha akan gulung tikar," katanya.

Kenaikan harga kedelai itu terjadi pasca lebaran Idul Fitri 1434 Hijriah. Harganya terus merangkak naik. "Kalau sebelum Idul Fitri harga kedelai masih dikisaran Rp 7.500,-/kilogram. Harga itu masih stabil, pengusaha masih bisa bernafas artinya masih ada keuntungan. Kalau saat ini banyak pengusaha yang bingung, mau jual berapa?," kata Bendahara Kopti Cianjur itu.

Salah satu cara untuk menyiasati melambungnya harga kedelai, para pengusaha banyak yang mengurangi produksi. Bahkan jumlahnya tidak tanggung-tanggung mencapai 50 persen dari produksi normal. "Sekarang susah ngejualnya, mau dijual normal sesuai dengan harga kedelai pasti tidak akan laku, solusinya hanya mengurangi ukuran saja. Makanya banyak pengusaha yang juga mengurangi produksi," tegasnya.

Para pengusaha tempe tahu di Cianjur mendesak agar pemerintah mengendalikan harga kedelai. Mereka mengancam akan melakukan aksi turun ke jalan bila pemerintah tidak cepat mengendalikan harga. "Sebelumnya pemerintah mematok harga Rp 7.450,-/kilogram, itu idialnya. Sekarang sudah melambung, kalau tidak segera ditekan, pengusaha akan gulung tikar dan akan terjadi krisis gizi karena konsumsi tahu tempe itu sangat tinggi dan tidak mengenal kelas," katanya [KC-02]***.
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.

Back To Top