SALAH satu jajanan yang mudah ditemukan pada bulan Ramadhan adalah Cincau. Jenis makanan yang sudah tidak asing lagi ditemukan pada campuran pembuatan es campur, tersebut merupakan salah satu jenis jajanan yang tergolong musiman dan banyak disukai.
Pada bulan Ramadhan atau puasa seperti sekarang, jenis makanan yang terbuat dari pohon dan dedaunan itu mengalami peningkatan konsumsi. Jika melihat bentuknya yang sederhana, ternyata tidak sesederhana dalam pembuatannya.
Butuh kesabaran, kejelian dan kerja keras untuk membuatnya. Proses pembuatannya tidak hany sekali, tapi berkali-kali. Belum lagi resiko kegagalan selalu mengancam bila dalam proses pengadukan tidak merata atau tidak sesuai dengan aturan.
Seperti yang diungkapkan Utoh (45), salah seorang produsen cincau di Kampung Kedung Hilir RT 01/RW 03 Desa Sukamanah Kec. Cugenang Kab. Cianjur. Dalam pembuatan cincau butuh kesabaran, ketekunan. Cara memproduksinya menurut Utoh tidaklah sesederhana bentuknya kalau sudah jadi.
Utoh mengungkapkan, pengetahuanya memproduksi cincau berdasar pengalaman. Awalnya dia mengaku ikut bekerja di Abah Aban (almarhum) salah satu pemilik produksi cincau di daerah Bogor selama 15 tahun. Selama menjadi karyawan itulah dia banyak belajar mulai dari proses produksi hingga pembuatan atau pencetakannya.
"Awalnya memang sempat ragu saat mau mandiri. Apalagi dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Belum lagi sulitnya mendapatkan bahan baku juga menjadi kendala tersendiri. Tapi setelah kita beranikan diri, akhirnya kebablasan sampai sekarang," kata Utoh saat ditemui, Senin (30/6).
Sedikit berbgai pengalaman, Utoh menjelaskan, dalam pembuatan cincau dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk menghasilkan cincau yang berkualitas. Selain harus pandai memilih bahan bakunya berupa pohon cincau, cara memasaknya juga harus tepat dan cermat kalau tidak ingin gagal.
"Setelah kita memilah dan milih bahannya itu bagus, kita harus cuci terlebih dahulu dengan air bersih yang mengalir, baru setelah itu kita masukkan kedalam tungku besar dengan dicampur air secukupnya dan direbus hingga benar-benar mendidih selama empat jam lebih," ucapnya.
Setelah dipastikan sudah benar-benar masak, kemudian air dan bekas pohon cincau itu dipisahkan. Airnya disaring untuk menyingkirkan daun dan pohon cincau yang terbawa. Setelah sudah terpisah, air cincau tersebut direbus kembali hingga benar-benar mendidih. Setelah itu kembali disaring untuk memastikan air cincau itu benar-benar sudah bersih.
Setelah itu, kembali air cincau tersebut direbus kembali dengan dicampur aci (tapioka) secukupnya. Tepung itu fungsinya untuk melengketkan air cincau. Kemudian dalam kondisi direbus, campuran air cincau itu terus diaduk-aduk tanpa berhenti sampai benar-benar sudah bercampur. Pengadukan ini sangat menentukan kualitas cincau.
"Kalau ngaduknya tidak benar dan tidak stabil, bisa saja cincaunya gagal untuk dicetak. Baru setelah benar-benar campur, cincau bisa dicetak dengan terlebih dahulu harus melalui saringan terakhir hingga sampai mengental setelah dingin," jelasnya.
Utoh mengaku sejauh ini ia kesulitan mendapatkan barang bakunya. Satu-satunya ia dapatkan dari daerah Bogor. "Kalau penjualannya tidak sulit, kita sudah punya langganan tetap. Kita jualnya per blek ukuran 18 kg, pada bulan puasa ini dihargai Rp 40 ribu," tegasnya [KC-02]**.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.