CIANJUR,[KC],- Pengakuan mengejutkan disampaikan Ketua Umum Gerakan Reformis Islam (Garis), H. Chep Hernawan. Ia mengaku telah dilantik menjadi Presiden Islamic State of Iraq and Syria (ISIS)untuk Indonesia pada 12 Maret 2014 lalu di sebuah hotel di Jakarta. Pengukuhanya sebagai Presiden ISIS untuk Indonesia itu konon dihadiri sejumlah perwakilan ISIS dari berbagai negara.

"Jadi saya dilantik pada bulan Maret 2014 kenapa diramaikan sekarang," kata H. Chep Hernawan ketika dihubungi, Kamis (7/8/14).

Dikatakan H. Chep proses penunjukkanya sebagai Presiden Regional Indonesia ISIS tidak serta merta begitu saja. Setidaknya berdasarkan penilaian dari beberapa kriteria. Salah satunya harus memiliki militansi ilmu tinggi, amanah dan miliader.

"Miliader juga kalau tidak istiqomah dan pengecut ya tidak bisa. Yang pertama ia harus militan, istiqomah, miliader dan intelktual. Dengan alasan itulah mereka tertuju ke saya, Saya juga tidak tahu, tiba-tiba saya diangkat dan dilantik oleh mereka," katanya.

Pihaknya menganggap ISIS yang ada di Indonesia tidak berbeda jauh dengan organisasi Islam lainya. Seperti halnya dengan organisasi Garis yang selama ini dibesarkannya. Pihaknya juga membantah kalau IsIS di Indonesia ini sebagai bagian dari teroris.

"Kalau ditanya apa bedanya ISIS dengan Garis, sama saja kok, hanya saja kalau ISIS ini ada kaitanya dengan luar negeri, kalau Garis tidak. Kalau ISIS ini ada struktur di luar negeri," tegasnya.

Pihaknya juga menegaskan, selaku Presiden Regional Indonesia ISIS, tidak membuat negara dalam negara, tidak ada kabinet-kabinet dalam ISIS di Indonesia. "Agenda kami adalah memperjuangkan tegaknya syariat Islam tapi dengan cara-cara type power bukan dengan cara radikal atau pengebom begitu. Indonesia bukan daerah perang, Indonesia bukan daerah radikal dan oleh karena itu kami berangkatkanlah mereka-mereka yang memiliki jihad ingin perang. Kami berangkatkan ke Afgan, Iraq, Palestina," katanya.

H. Chep Hernawan berkomitmen akan fokus pada perjuangan untuk penegakan syariat Islam. Kalau hal itu malah dilarang, pihaknya balik bertanya, kenapa yang jelas sudah ada aturannya malah dibiarkan tidak ada tindakan sama sekali.

"Intinya dua poin saja. Tetap berjuang untuk penegakan syariat Islam, yang keduanya hentikan perjuangan-perjuangan dengan bom di NKRI," tandasnya

Ketua Gerakan Muslim Penyelamat Akidah (Gempa), Ustaz Ujang Majudien, tidak membantah kalau di Cianjur ada pimpinan ISIS dan pengikutnya. Bahkan ia mengaku sempat mendapatkan undangan untuk mengikuti deklarasi ISIS di Jakarta.

"Kami sempat mendapatkan undangan untuk deklarasi ISIS di Jakarta waktu itu, Tapi kami menolak dengan alasan itu (ISIS. Red) adalah daulah." Kata Ustaz Ujang ketika dihubungi terpisah.

Menurutnya, daulah itu sebuah kekhalifahan atau kepemimpinan secara Islam sehingga tidak ada aturan apapun selain aturan dari Allah. "Kalau ada deklarasi seperti itu jelas berarti tidak mengakui negara dan yang ada khilafah. Kita ini bernegara dan hidup di Indonesia, jelas kalau ikut ISIS ini sudah siap tidak mengakui adanya negara," katanya.

Pihaknya melihat, meski di Cianjur ada pimpinan dan pengikut ISIS, namun sepertinya tidak dilakukan sepenuh hati. Buktinya, lanjutnya, para pengikut ISIS ini tidak melepas kewarganegaraannya. "Sepertinya ISIS ini merupakan pengalihan isu karena mencuatnya akhir-akhir ini. Karena waktu deklarasi, pemerintah mengetahuinya dan seharusnya sejak ada deklarasi daulah ini pemerintah harusnya bergerak," kata Ustaz Ujang.[KC.02]***
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.