CIANJUR, [KC].- Sejumlah irigasi di Kab. Cianjur terpaksa menerapkan pola bergiliran sebagai antisipasi ancaman kekeringan yang diprediksikan akan masih terus berlanjut. Sistim bergiliran juga dianggap sebagai solusi atas terjadinya konflik antar pengguna air.
Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDAP) Kabupaten Cianjur, Dodi Permadi melalui Sekretaris Dinas PSDAP Kabupaten Cianjur, M Rifai mengatakan, sistem pengairan bergilir saat ini tengah dilakukan disejumlah irigasi. "Ini sebagai salah satu upaya mengantisipasi kekeringan yang mungkin saja masih terus berlangsung," kata Rifai digedung DPRD Cianjur, Senin (22/9).
SEjumlah wilayah di Kabupaten Cianjur saat ini ditengarai rentan terjadi kekeringan. Salah satunya wilayah yang berada di Cianjur selatan, Cianjur tangah. Wilayah tersebut merupakan kawasan tadah hujan .
"Seperti Campaka, itu sangat rentan. Untuk membantu pengairan sawah dan kebutuhan air masyarakat, selain mengandalkan pengairan, kita juga manfaatkan embung-embung, meskipun itu kewenangan pemerintah pusat," katanya.
Untuk sektor pertanian, musim kemarau semestinya tidak menjadi hal yang harus dikawatirkan. Hal itu jika para petani mengikuti pola tanam. Artinya jika pada musim kemarau seharusnya menanam palawija, bukan tanaman padi.
"Kalau melihat pola tanam, seharusnya petanii itu menanam padi-padi dan palawija dalam waktu setahun. Memang beberapa daerah sudah paham hal itu, jadi tidak terlalu dipersoalkan saat tiba musim kemarau. Seperti saat ini, karena menanam palawija itu tak terlalu memerlukan air yang banyak," tuturnya.
Ditegaskan Rifai, untuk ancaman kekeringan yang terjadi, penanganannya dilakukan lintas sektoral antar dinas seperti keterlibatan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). "Koordinasi lintas dinas harus dilakukan dalam penanganan ancaman kekringan," katanya.
Secara terisah Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Cianjur, Yanto Hartono mengaku saat ini tengah melakukan pendataan areal persawahan yang terancam kekeringan bersamaan musim kemarau yang terjadi saat ini. Pendataan tersebut dilakukan berdasar wilayah kecamatan.
Dikatakan Yanto, daerah yang perlu diwaspadai terdampak akibat musim kemarau adalah wilayah pewrsawahan di Cianjur selatan. Alasannya, karena wilayah tersebut tidak terdapat irigasi tekhnis. "Diwilayah Cianjur selatan ini banyak sawah tadah hujan, jadi sangat terdampak, kalau wilayah tengah dan utara itu relatif terairi," tegasnya.

Diakui Yanto, dampak kekeringan akan berdampak pada produktivitas padi. Saat ini luas sawah di Kabupaten Cianjur sekitar 6.500 hektare dengan tingkat produktivitas sekitar 6,28 ton per hektare. "Bersamaan ancaman kekeringan, tentunya akan berdampak terhadap tingkat produktivitas," katanya. [KC-02/b]** 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!








Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.