MENINGGALNYA Rani Andriani alias Melisa Aprilia dengan cara di eksekusi mati oleh Kejaksaan RI setelah upaya grasi yang diajukan di tolak oleh presiden membuat duka mendalam bagi keluarga. Mereka meyakini bahwa Rani selama ini tidak bersalah atas kasus yang disangkakannya.

Hukuman mati yang dijatuhkan terhadap Rani sungguh dinilai tidak adil. Soalnya dalam kasus penyelundupan heroin sebanyak 3,5 kilogram pada Januari tahun 2000 lalu itu ia hanya korban dan bukan otaknya.S

Seperti yang diungkapkan Yuki Milawati (35) sepupu Rani, yang juga juru bicara keluarga, sejak awal Rani hanya kurir dalam jaringan yang dikendalikan oleh Meiriska Franola atau Ola, yang juga masih sepupu dari Rani dan Yuki. Ola sebenarnya yang semestinya menjalani hukuman mati bukan malah Rani.

Pihak keluarga Rani, merasa heran mengapa grasi yang diajukan di tolak oleh presiden Joko Widodo. Sedangkan, grasi Ola yang menjadi pengendali jaringan malah diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2012 dan merubah hukuman Ola yang awalnya dihukum mati menjadi seumur hidup.

"Seharusnya yang menjalani hukuman berat itu Ola, bukan malah Rani, ia hanya korban. Kami juga ingin grasi Ola ditinjau kembali dan kabarnya memang seperti itu," kata Yuki ditemui sebelum prosesi pemakaman, Minggu (18/1/2015).

Pihak keluarga juga menyayangkan ketidak hadiran keluarga Ola pada proses pemakaman Rani. Yuki juga mengakui sejak kasus bergulir pada tahun 2000 silam, hubungan persaudaraan antara keluarga Ola dan Rani agak renggang. Bahkan Ola dan Rani juga sempat tidak tegur sapa saat bersama di penjara.

"Sepertinya tidak ada yang datang dari keluarga Ola," kata Yuki seraya menambahkan sempat mendengarkan curahan hati Rani soal tingkah Ola di penjara yang membuat Rani kesal pada sepupunya itu seperti misalnya kalau ke rumah sakit, Ola harus di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, tidak mau berobat di lapas.

Hal tidak jauh berbeda juga diungkapkan, Obar Sobari, yang merupakan paman Rani. Ia mengaku sungguh tidak adil jika yang dihukum mati itu hanya Rani. Sebab sepengetahuannya Rani itu hanya merupakan korban dari Ola yang telah menjerumuskannya.

"Rani itu hanya korban, dia itu keluar negeri juga diajak Ola, ditawari kerjaan. Itu yang ketiga kalinya, sebelum ditangkap. Dia tidak tahu koper yang dibawanya itu berisikan narkoba," kata Obar ditemui terpisah.

Pihaknya justru merasa heran, kenapa grasi yang diajukan Rani malah ditolak presiden. Sedangkan grasi Ola malah diterima dan mengubah hukumannya menjadi seumur hidup dari hukuman mati yang dijatuhkan pengadilan.

"Kalau dibilang heran jelas heran, semestinya Ola yang harus ditolak grasinya, Rani itu hanya korban dari Ola. Kenyataanya berbeda, semuanya sudah terjadi. Kami hanya berdoa, semoga Rani bisa tenang di dunia barunya," harapnya [KC-02]**.
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

1 comments:

  1. Sangat di sayangkan sekali atas kisah almh rani ,,, sepertinya ada sebuah permainan disini
    Jika di gali lebih dalam lagi sepertinya rani tak harus di eksekusi mati
    Lebih baik semua narapidana di berikan hukuman mati , agar setiap orang berfikir kembali untuk melakukan kriminal , kejahatan , pembunuhan & korupsi
    Eksekusi saja semuanya
    Jangan hanya korban seperti rani yang di eksekusi

    BalasHapus

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.