CIANJUR, [KC].- Penyebaran faham Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) cenderung mengarah kepada pesantren-pesantren. Hal itu lantaran simbol yang mereka gunakan adalah agama Islam. Sehingga santri yang masih dangkal dalam pemahamannya akan mudah terpengaruh. Terlebih, ketika pengajian yang sudah semakin jauh dari kawasan pemukiman warga.

Demikian ditegaskan Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Prof. Dr. Muhammad Bahrun disela kegiatan Sosialisasi Menangkal Penyebaran Aliran Sesar di Gedung Dakwah Jalan Raya Bandung Sadewata Kecamatan Karangtengah, Rabu (15/4/2015). Dikatakan Muhammad, dalam prakteknya ISIS kerap kali mengajak santri atau remaja dengan dalih Islam yang menjadi agama tauhid hingga kini masih tertindas dan belum memiliki negara sendiri.

"Akibatnnya para remaja yang kosong dan dangkal dari pemahaman agama terobsesi untuk bergabung, karena dalam kawasan tersebut lebih menggairahkan untuk diikuti," katanya.

ISIS menjadi ancaman yang sangat besar, selain merusak akidah juga merusak bangsa. Hal itu karena faham radikal ektrimis membuat pemuda (santri, red) yang masih dangkal dalam pemahaman agama, terobsesi bergabung untuk mendirikan negara islam dengan cara yang salah.

Dikatakan Muhammad, faktor ekonomi menjadi penyebab lainnya yang membuat warga Indonesia rela untuk bergabung dengan ISIS. "Dengan iming-iming akan diberi upah untuk menghidupi keluarga mereka bersedia berangkat dan ikut berperang dengan dalih berjihad. Padahal jihad yang sesungguhnya membangun, tidak merusak. Kami pun telah membaut fatwa dalam berjihad tersebut," tuturnya.

Kabupaten Cianjur menurut Muhammad, sangat tepat untuk bertindak dan mencegah ajaran ekstream yang keluar dari ajaran Islam tersebut menyebar. Apabila dibiarkan maka akan merusak tatanan umat Islam Indonesia yang mayoritasnya penganut ahlul sunah wah jamaah.

"Rakyat Indonesia mayoritasnya beragama Islam, dan sebagian besar dari umat tersebut ialah ahlul sunah. Jika sampai terpecah belah oleh faham radikal ekstrimis tersebut, tidak mustahil akan merusak keberlangsungan hidup NKRI," ungkapnya.

Sekertaris MUI Kabupaten Cianjur, Ahmad Yani, mengungkapkan, di Cianjur sendiri hingga saat ini belum ada penyebaran paham radikal tersebut. Adapun yang mengaku menjadi anggota atau bahkan Presiden ISIS di Cianjur merupakan mereka yang mencari sensasi.

"Cianjur masih aman dari ancaman paham ISIS. Kami senantiasa melakukan sosialisasi ke setiap wilayah di Cianjur. Sehingga penyebarannya bisa ditekan agar tidak masuk. Ini sebagai langkah antisipasi yang kita lakukan," jelas Yani.

Kekawatiran kata Yani tetap saja terjadi, terutama diwilayah pesisir Cianjur bagi yang pemahaman agamanya memang masih minim, serta perekonomiannya yang kurang. Dengan sedikit janji dan ucapan yang dapat mempengaruhi mereka, maka bisa saja warga tersebut tercuci pemikirannya.

"Kami akan memfokuskan sosialisasi dan menanamkan ilmu agama di daeraha pesisir seperti Cianjur selatan dan utara. Dengan bekal yang kuat, sebesar apapun itu godaan untuk bergabung dengan ISIS akan bisa dihalau," tuturnya  [KC-02/im]**.
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.