CIANJUR, [KC].- SDN Buniwangi Cianjur menggandeng Akasum Cikini Optikal Cabang Cianjur sebagai salah satu upaya untuk mengecek kondisi mata para murid disekolah tersebut. Hal itu dilakukan untuk mengetahui salah satu penyebab lambatnya belajar terhadap sejumlah murid yang ada di sekolah inkulisif itu.

Kepala Sekolah SDN Buniwangi Cianjur, Puspa Delima mengungkapkan, saat ini disekolah yang dipimpinya terdapat 26 murid yang lambat belajar. Mereka itu mengalami hyperaktif, tunagraha, tuna grahita dan down sindrom. Sehingga ketika mengikuti kegiatan belajar selalu saja lambat dalam menyerap pelajaran.

"Melihat kondisi atau keadaan yang ada di sejumlah murid, kami berinisiatif ingin mengetahui apa yang menjadi salah satu penyebabnya. Dengan adanya pemeriksaan mata ini murid atau orang tua dapat mengetahui kelemahan anaknya. Mata itu sangat penting untuk pembelajaran sekolah, orang tua harus memahami demikian juga dengan guru," kata Puspa saat ditemui, Rabu (8/4/2015).

Dikatakan Puspa, dengan adanya pemeriksaan mata terhadap para muridnya, bisa dikethui sejauh mana kondisinya. Sebab tidak menutup kemungkinan dari hasil pemeriksaan ditemukan kondisi mata para murid mengalami gangguan. Sehingga bisa dengan segera dilakukan penanganan.

"Kita ingin tahu lambat belajar itu akibat apa, apakah karena mata dan atau penyebab lain. Kenapa anak itu semakin kurang belajarnya, dari belakang duduknya kedepan. Padahal anak bisa saja pintar," kata Puspa yang mengaku sekolahnya merupakan sekolah inklusif yang mengayomi anak berkebutuha khusus (ABK).

Pimpinan Akasum Cikini Optikal Cabang Cianjur, Suherni mengatakan, selama ini optik kebanyakan tidak ada yang fokus kemata anak-anak. Yang sering kali dilakukan optik itu melakukan pelayanan chek mata lalu dapat ukuran dan diminta beli kacamata. Jarang optik yang mau melakukan edukasi terutama terhadap anak.

"Anak itu sangt tergantung orang tua. Kita ingin mengajak orang tua peduli terhadap penglihatan mata anak. Ditambah lagi anak itu biasanya kalau untuk melihat biasanya kerena usia muda, akomodasi mata masih bagus. Mereka sering memaksakan objek jauh atau dekat," kata Suherni.

Pemeriksaan mata terhadap para murid SD tersebut diakuinya untuk pertama kali dilakukan. Hal itu sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap kondisi kesehatan mata anak yang lebih mudah penanganan jika terjadi gangguan.

"Kalau untuk anak kita akan lakukan skrening awal, untuk mendeteksi ketajaman mata anak seperti apa, kalau optik ada penglihatan 6/6 atau visis normal. Biasanya suka ada ganggunan visisnya dipenglihatan secara ojektifnya," katanya.

Sejauh ini kata Suherni, belum ada optik yang peduli untuk penyuluhan ketjaman penglihatan mata anak. Sasarannya anak usis 4-8 tahun atau anak SD. "Usia segitu ketajaman penglihatan bisa diterapi, kalau sudah lewat diatas 12 tahun agak sulit. Makanya perlu penanganan dini, sebab jika tidak ditanggulangi akan menjadi mata malas tidak sensisitif terhadap respon, akan terjadi perbedaan pandangan kiri dan dan kanan," paparnya.

Pemeriksaan mata yang dilakukan terhadap sejumlah murid SD itu dilaksanakan dengan skrining awal melalui pemeriksaan khusus. "Kalau dari khususnya tidak normal diperkirakan ada gangguan baru akan pemeriksaan sesungguhnya dengan pemeriksaan lebih lengkap dengan alat yang lebih lengkap," tegasnya  [KC-02]**.
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.