CIANJUR, [KC].- Dampak kekeringan yang terjadi diwilayah Jawa Barat setidaknya mengakibatkan sekitar 7.000 hektar tanaman padi di Jawa Barat mengalami puso atau gagal panen.

Kondisi tersebut diprediksikan akan menggaanggu produktivitas padi sekitar 9 persen dari yang ditargetkan jika tidak segera turun hujan.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Diden Trisnandi mengatakan, luas areal lahan sawah yang terdampak kekeringan di Jawa Barat mencapai 67.000 hektare. Sekitar 26.000 di antaranya berkategori ringan, 20.000 hektare kategori sedang, 13.000 hektare kategori berat, dan 7.000 hektare puso.

Dikatakan Deden, luas areal pesawahan yang paling banyk terdampak akibat kemarau berada diwilayah Kabupaten Indramayu, Majalengka, serta Pangandaran. Sedangkan di wilayah barat berada di Kabupaten Sukabumi. "Kalau yang ringan dan sedang masih bisa diselamatkan kalau hujan turun. Tapi kalau yang puso sudah kering sampai ke akar-akarnya jelas gagal panen," kata Diden seusai menghadiri acara panen raya di Desa Hegarmanah, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Kamis (13/8/2015).

Diktakan Diden, jika kemaru masih terus berkepanjangan akan berdampak luas terhadap produktivitas padi di Jawa Barat. Tahun 2015 ini target produksi padi mencapai 12,1 juta ton. "Kalau melihat capaian target produksi, hingga Januari-April 2015, terget sudah mencapai 4,8 juta ton. Terjadinya musim kemarau pada Mei-Agustus cukup mengganggu tingkat produktivitas. Dari hasil hitung-hitungan, dampak kekeringan bisa mengganggu target sekitar 9% atau target bisa tercapai sekitar 11,6 ton," papar Diden.

Berbagai upaya lanjut Diden, tengah dilakukan untuk menangani kekeringan yang berimbas pada produktivitas padi. Salah satunya dengan menyalurkan bantuan pompa air, seperti yang dilakukan di Kabupaten Indramayu. "Kita juga tengah mengajukan dilakukannya hujan buatan. Suratnya sudah ditembuskan ke pemerintah pusat. Mudah-mudahan hujan buatan ini segera bisa dilakukan, sehingga tanaman padi yang terancam bisa diselamatkan," tegasnya.

Upayaa lainnya yang perlu dilakukan diantaranya dengan melakukan perbaikan jaringan-jaringan irigasi tersier. Sebab, berdasarkan hasil laporan, masih banyak jaringan irigasi yang mengalami kerusakan dan pendangkalan. "Solusi permanen agar jaringan irigasi lancar, ya dengan cara perbaikan, itu harus dilakukan segera," katanya.

Terpisah, Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Dedi Kusnadi Thamim mengatakan tidak semua wilayah di Jawa Barat terkena dampak kekeringan dari musim kemarau. Terbukti kegiatan panen raya yang dilakukan di Kecamatan Bojongpicung Kabupaten Cianjur bisa dilakukan dengan hasil produksi dari 1 hektare lahan sawah di wilayah itu bisa mencapai 7,2 ton.

Ditegaskan Pangdam, upaya mengatasi kekeringan tengah dilakukan diantaranya membagikan pompa air, membuat sodetan, membuat hujan buatan, maupun membuat sumur bor. Untuk hujan buatan, rencananya akan dilakukan terhadap daerah-daerah yang betul-betul sudah mengalami kekeringan. "Dinas Pertanian Jawa Barat sudah membagikan sebanyak 285 unit pompa air, ini salah satu upaya mengatasi kekeringan," tegas Dedi.

Keterlibatan TNI dalam sektor pertanian kata Dedi tidak lain untuk membantu pemerintah dan masyarakat. Utamanyaa membantu daalam mewujudkan swasembada pangan dua tahun ke depan. "Saat ini kitaa berupaya memaksimalkan pendampingan kepada masyarakat dalam sektor pertanian, perkebunan, dan lainnya sebagai upaya pencapaian swasembada pangaan," pungkasnya [KC-02]**





Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.