PADA AWALNYA Ibadah qurban merupakan ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah (hablum minallah), baik dalam kisah qur’ban Habil dan Qabil kedua putra Nabi Adam a.s, maupun dalam kisah qurbannya Nabi Ibrahim a.s yang diperintahkan untuk berqurban, sebagaib wujud penegasan  dan ujian tauhid yang sangat luar biasa, seorang ayah yang diperintahkan Allah SWT melalui mimpinya, untuk mengorbankan putranya sendiri  sebagai konsekwensi  dari janji yang pernah diucapkannya.

Pengabdian manusia terhadap Allah SWT secara personal yang sering disebut ibadah mahdhah, hal tersebut dilakukan dalam upaya lebih mendekatkan diri terhadap sang pencipta, dan untuk menanamkan kesadaran diri setiap individu akan fungsinya sebagai hamba, supaya pada gilirannya setiap individu tersebut mampu merefleksikan dan mengaktualisasikan fungsinya sebagai manusia ke dalam kehidupan sehari-hari dengan melakukan ibadah sosial.

Ibadah qur’ban, selain berfungsi sebagai ibadah mahdhah, dalam pengimplementasiannya qurban juga mempunyai pungsi lain yaitu sebagai ibadah ghair mahdhah atau ibadah sosial (hablumminanas), Perubahan tersebut tentunya tidak bisa dipisahkan dari kisah perjalanan tauhid nabi Ibrahim dan putranya Ismail, yang menunjukan totalitas kepasrahan dan pengabdian mereka terhadap Allah SWT.

Makna yang tersirat dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail, diantaranya bentuk kepatuhan mereka terhadap perintah Allah SWT dan keteguhan iman mereka yang tidak tergoyahkan oleh godaan setan. Kisah tersebut memberikan contoh sekaligus teladan bagi kita,  bahwa perintah apapun yang datangnya dari Allah SWT, sudah sepatutnya dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran, karena memang manusia diciptakan untuk beribadah dan mengabdi kepada sang khaliq, seperti yang tercantum  dalam Al-Quran Surat Adz-Dzaariyaat ayat  56 “Wamaa khalaqtu aljinna waal-insa illaa liya’buduuni” yang artinya dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah ku ayat tersebut sudah sangat jelas bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Maka dari itu, kalau ada manusia yang hidup didunia ini tetapi tidak melakukan pengabdian terhadap Tuhan dan tidak melaksanakan yang diperintahkannya, berarti manusia tersebut sudah melenceng dari kodratnya sebagai manusia.

Ibadah Qurban yang disyariatkan pada masa kenabian Ibrahim a.s, disyariatkan pula kepada Nabi Muhamad SAW, sebagaimana  Allah SWT berfirman, dalam Al-Qur’an Surat  Al-Kautsar  ayat 1-2 “Innaa a’thaynaaka alkawtsaaa, Fashalli lirabbika wainhar”. yang artinya “sesungguhnya kami telah memberikan karunia sangat banyak kepadamu, maka sholatlah untuk tuhanmu dan sembelihlah Qurban” .

Perintah Allah dalam ayat tersebut di atas sangat jelas bahwa kita selaku manusia diperintahkan untuk bersyukur dengan melakukan sholat dan berqurban, perintah ini mempunyai dua dimensi makna, yang satu perintah sholat yang merupakan dimensi Ruhaniah (hablummanallah).Kedua diperintahkan untuk berqurban yang merupakan dimensi spiritual sosial (hablumminanas), manusia sebagai mahluk Tuhan sekaligus mahluk sosial dituntut untuk bisa menyeimbangkan kedua dimensi tersebut. Makna lain yang bisa kita ambil dari peristiwa ibadah Qurban yang di pelopori Nabi Ibrahim, ialah ketika Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor kambing, disitu tersirat makna yang sangat dalam tentang pembebasan Manusia, bahwa tidak selayaknya manusia dijadikan korban atas dasar apapun oleh manusia lainnya.

Founding father bangsa ini menyadari akan pentingnya nilai-nilai kemanusia bahwa tidak selayaknya individu yang satu mengorbankan individu yang lain atau bangsa yang satu menjajah bangsa yang lain sehingga hal tersebut dituangkan ke dalam pembukaan Undang-undang 1945 yang berbunya “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai denga prikemanusiaan dan prikeadilan”.

Ibadah qurban bukan Cuma bermakna bagaimana cara manusia untuk mendekatkan diri kepada tuhannya, akan tetapi lebih dari pada itu, ibadah qurban kita jadikan ajang silaturahim mendekatkan diri kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan, sehingga mencerminkan dengan tegas pesan solidaritas sosial islam, sebab  Kita diwajibkan untuk saling menolong dan saling menghargai antara satu dengan yang lainnya, hal tersebut bisa diwujudkan dalam ibadah Qurban yang merupakan manifestasi dalam wujud kepedulian sosial, berbagi kebahagiaan dengan sesama terutama dengan mereka yang membutuhkan.

Qur’ban Merupakan wujud penghambaan diri seorang makhluk terhadap sang khaliq Rabbul’Alamin sekaligus sebagai wujud kecintaan terhadap sesama hal tersebut menunjukan bawa Islam adalah agama yangsangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan, maka tidak heran jika banyak ditemukan dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang berkaitan dengan ibadah sosial bahkan perintah ibadah mahdhan  hampir selalu di ikuti perintah ibadah ghaer mahdhah contohnya seperti ayat diatas, perintah sholat yang diikuti perintah berqurban dan dalam ayat yang lain perintah mendirikan sholat yang diikuti perintah menunaikan zakat atau ibadah puasa ramadhan yang di akhiri dengan kewajiban menunaikan zakat fitrah.

Begitu tingginya penghargaan Islam terhadap nilai-nilai kemanusiaan, bahkan dalam Ajaran Agama Islam kalau ada orang yang sakit sehingga dia tidak mampu menjalankan ibadah mahdhah seperti puasa, sebagai gantinya adalah ibadah ghaer mahdhah dengan memberikan fidyah atau memberi makan orang yang membutuhkan seperti fakir miskin.

Hari raya Qurban seharusnya tidak  hanya dijadikan atau dimaknai sebatas proses ritual belaka, tetapi juga harus dijadikan momentum peneguhan  nilai-nilai kemanusiaan diri kita, sejauh mana kita peduli terhadap orang lain, bukankah manusia yang baik itu adalah manusia yang bisa membawa manfaat bagi orang lain, sebagaimana sabda Rasulillah SAW dalam haditsnya nabi  “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” yang artinya Sebaik-baiknya manusia adalam yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Memberikan manfaat bagi orang lain tentunya bisa dilakukan dengan berbagai cara sekemampuan kita, sesuai dengan peran dan pungsinya masing-masing. salah satu contohnya  seperti peran Ulama dan Umara.  Ulama memberikan manfaat dengan mengajarkan Ilmunya dan membimbing umat. uamra memberikan manfaat dengan menjalankan pemerintahan dengan baik untuk kesejahtraan rakyat sesuai dengan aturan yang berlaku. 
  
momentum qurban ini kita jadikan renungan untuk mengevaluasi diri menuju perbaikan ke arah yang lebih agamis supaya kehidupan kita semua kedepannya lebih maju lagi. Semoga di hari-hari berikutnyapun  kita masih bisa berbagi dengan sesama menjalin silaturahim sebagai upaya taqorrub kepada Allah SWT  [penulis Irvan Rivano Muchtar, calon bupati Cianjur]**
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.