Oleh. Ispan Diar Fauzi

Sebagai negara yang menganut sistem kedaulatan rakyat sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, maka rakyat memegang peranan penting bagi berlangsungnya kehidupan berbangsa dan bernegara. Rakyat sebagai pemegang kedaulatan, berhak menentukan pilihannya tanpa adanya intimidasi, paksaan, atau bahkan ancaman dari siapapun.

  Gelaran pesta demokrasi di Cianjur tidak lama lagi akan digelar, inilah langkah awal bagi masyarakat Cianjur untuk menentukan nasibnya lima tahun kedepan. Terlepas dari siapapun pilihan masyarakat nanti, yang diperlukan adalah sosok pemimpin yang benar-benar membawa perubahan yang fundamental, adil, pro rakyat, dan yang lebih penting lagi dapat mensejahterakan rakyatnya tanpa mengorbankan kebebasan dan ketenangan rakyatnya.

Seorang diktator dan penguasa pun mungkin dapat mensejahterakan rakyatnya, namun penekannya ada pada kalimat “tanpa mengorbankan kebebasan dan ketenangan rakyatnya”, penguasa mensejahterakan rakyatnya dengan cara mengorbankan prinsip dasar negara demokrasi dan hak asasi manusia.

Untuk mencapai tujuan, penguasa hanya akan memerintah dengan keras, tapi pemimpin menunjukannya dengan tindakan nyata. Seorang penguasa hanya beretorika, tapi pemimpin bertindak nyata. Seorang penguasa mengetahui bagaimana cara mencapai tujuan, tapi pemimpin akan menunjukan dan membuktikan cara mencapai tujuan. Penguasa akan memanfaatkan rakyatnya untuk kepentingan dirinya, tapi pemimpin akan memanfaatkan dirinya untuk kepentingan rakyatnya. Penguasa bertindak sesuai kemauan, tapi pemimpin bertindak sesuai aturan.

Lord Acton mengatakan: “power tends to corrupt and absolutely power corrupt abslolutely” (kekuasaan itu cenderung korup, dan disalahgunakan secara mutlak). Ketika memandang individu sebagai subjek kekuasaan, pandangan Lord Acton tersebut dapat dibenarkan, karena pada dasarnya sifat manusia itu ambisius, tamak dan haus akan kekuasaan. Sehingga orang-orang berpandangan bahwa kekuasaan lebih penting dan esensial daripada manfaat dari kekuasaan itu sendiri bagi masyarakat. 

Seorang penguasa mendapat kekuasaan dengan cara-cara yang tidak elegan, dan bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, tapi pemimpin mendapatkan kepemimpinannya melalui kepercayaan rakyat, dan tidak akan mungkin mengkhianati rakyatnya.

Ibnu Taimiyah dalam bukunya as-Siyasah asy-Syar’iyyah mengatakn karena kepemimpinan merupakan amanah, maka untuk meraihnya harus dengan cara yang benar, jujur, dan baik. Tugas yang diamanatkan harus dilaksanakan dengan baik dan bijaksana, oleh karena itu ketika memilih pemimpin masyarakat tidak memilihnya berdasarkan golongan dan kekerabatan semata. Seorang pemimpin harus dipilih berdasarkan keahlian, profesionalisme dan keaktifan.

Rasulullah SAW bersabda: Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu. (Bukhari-6015). Apakah kita akan menyerhakan kepemimipinan Cianjur kepada yang bukan ahlinya?, ketika hal itu terjadi maka Rasul telah menjawabnya.

Momentum pilkada kali ini harus benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat Cianjur untuk memilih pemimpin yang akan mendatangkan kesejahteraan, pemimpin yang berani pasang badan ketika rakyatnya tertindas,  bukan penguasa yang dengan kekuasaanya menindas rakyat, dan hanya bisa angkat tangan ketika rakyatnya tertindas.

Sudah saatnya kita menentukan pilihan, jadilah pemilih yang cerdas, karena satu suara sangat berharga untuk kemajuan Cianjur di masa yang akan datang. Akankah pilkada desember nanti menghasilkan pemimpin, atau penguasa? Menarik untuk ditunggu.

Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.