Oleh Ai Hikmawati, S.Pd.Si
Guru SMPN 1 Cipanas

Persaingan di era globalisasi dapat terlihat dalam bidang teknologi, manajemen, dan sumber daya manusia (SDM). Keunggulan SDM pada era global ditandai dengan kemampuan berpikir dalam pemecahan masalah. Namun komparasi internasional pada siswa Indonesia menunjukkan kebertolak belakangan.

Hasil Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2012 menunjukkan bahwa peserta didik Indonesia usia 15 tahun (kelas VIII) jejang SMP berada pada peringkat 64 dari 65 negara survey (OECD, PISA 2012).  Sedangkan hasil Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2012 pada kelas VIII jenjang SMP menunjukkan peserta didik Indonesia ada pada peringkat 40 untuk mata pelajaran IPA.

Kondisi ini juga diperparah dengan kenyataan bahwa prestasi belajar peserta didik dalam mata pelajaran IPA di sekolah masih dikatakan belum memuaskan. Belajar dari kondisi ini, sudah semestinya kita perlu melakukan tindakan reflektif dalam upaya  meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik. Strategi komunikasi antara guru dan peserta didik dapat dibangun melalui berbagai pertanyaan kontekstual dan aplikatif. Bahkan  pengembangan soal-soal berpikir tingkat tinggi dalam proses evaluasi dapat diterapkan.

Bila mempelajari berbagai tipe soal IPA yang diajukan dalam even  komparasi sains internasional seperti PISA dan TIMSS, terdapat berbagai hal yang nampaknya dapat kita adopsi. Salah satunya adalah bagaimana sebuah soal memuat permasalahan yang kontekstual namun terintegrasi pada konsep materi yang sedang dipelajari. Sehingga jawaban dari permasalahan yang diajukan tidak sekedar mengingat, merujuk dan menyatakan kembali apa yang telah dipelajari. Konsep mengungkap persoalan ini dikenal dengan Higher Order Thinking Skill (HOTS).

Pertanyaan HOTS itu sendiri mengacu pada kriteria tingkat berpikir yang dikembangkan oleh Bloom pada edisi revisinya. Taksonomi Bloom ranah kognitif yang telah direvisi Anderson dan Krathwohl (2001) yakni: mengingat (remember), memahami/mengerti (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan menciptakan (create). Selain tingkatan Taksonomi Bloom revisi, proses kemampuan berpikir dapat dikaji berdasarkan dimensi pengetahuan. Menurut Kartwoll, dimensi pengetahuan terbagi menjadi pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural dan pengetahuan metakognitif.

 “Higher Order Thinking Skill” (HOTS) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu pemecahan masalah, membuat keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif (Brookhart : 2010). Dalam pembentukan sistem konseptual IPA proses berpikir tingkat tinggi yang biasa digunakan adalah berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan pada zaman perkembangan IPTEK sekarang ini, sebab saat ini selain hasil-hasil IPTEK yang dapat dinikmati, ternyata timbul beberapa dampak yang membuat masalah bagi manusia dan lingkungannya.

Para peneliti pendidikan menjelaskan bahwa belajar berpikir kritis tidak langsung seperti belajar tentang materi, tetapi belajar bagaimana cara mengkaitkan berpikir kritis secara efektif dalam dirinya (Brookhart : 2010). Maksudnya masing-masing keterampilan berpikir kritis dalam penggunaanya untuk memecahkan masalah saling berkaitan satu sama lain.

Untuk menguji keterampilan berpikir peserta didik, soal-soal untuk menilai hasil belajar IPA dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik menjawab soal melalui proses berpikir yang sesuai dengan kata kerja operasional dalam taksonomi Bloom, baik pada soal kognitif, afektif maupun psikomotorik. Di dalam pembelajaran IPA dinyatakan bahwa IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Jumadi, 2006), berarti peserta didik harus selalu diajak untuk belajar IPA menggunakan proses berpikir untuk menemukan konsep-konsep IPA.

Pada standar kompetensi mata pelajaran IPA dinyatakan pula bahwa Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Berdasarkan hal itu, maka sebaiknya soal-soal IPA selain untuk menguji daya ingat dan pemahaman dan penerapan harus juga dapat menguji peserta didik sampai tingkat HOTS atau menguji proses analisis, sintesis dan evaluasi. Soal-soal ini dapat dirancang dengan melihat kata kerja operasional yang sesuai dengan masing-masing ranah kognitif. Misalnya untuk menguji ranah analisis peserta didik pada pembelajaran IPA, guru dapat membuat soal dengan menggunakan kata kerja operasional yang termasuk ranah analisis seperti menganalisis, menditeksi, mengukur dan menominasikan. Ranah evaluasi contohnya membandingkan, menilai, memprediksi, dan menafsirkan.

Pengembangan soal HOTS memerlukan berbagai kriteria baik dari segi bentuk soalnya maupun konten materi subyeknya. Teknik penulisan soal-soal HOTS baik yang berbentuk pilihan ganda atau uraian secara umum sama dengan penulisan soal tingkat rendah, tetapi ada beberapa ciri yang membedakannya.

Ada beberapa cara yang dapat dijadikan pedoman oleh para penulis soal untuk menulis butir soal yang menuntut berpikir tingkat tinggi, yakni materi yang akan ditanyakan diukur dengan perilaku sesuai dengan ranah kognitif Bloom pada level analisis, sintesis dan evaluasi, setiap pertanyaan diberikan dasar pertanyaan (stimulus) dan soal mengukur kemampuan berpikir kritis.
Agar butir soal yang ditulis dapat menuntut berpikir tingkat tinggi, maka setiap butir soal selalu diberikan dasar pertanyaan (stimulus) yang berbentuk sumber/bahan bacaan seperti: teks bacaan, paragrap, teks drama, penggalan novel/cerita/dongeng, puisi, kasus, gambar, grafik, foto, rumus, tabel, daftar kata/symbol, contoh, peta, film, atau suara yang direkam. Beberapa keterampilan berpikir kritis dan contoh indikator soalnya adalah sebagai berikut : 1) menfokuskan pada pertanyaan, 2) menganalisis argumen, 3) mempertimbangkan yang dapat dipercaya, 4) mempertimbangkan laporan observasi, 5) membandingkan kesimpulan, 6) menentukan kesimpulan, 7) mempertimbangkan kemampuan induksi, 8) menilai, 9) mendefinisikan konsep,  10) mendefinisikan asumsi, 11) Mendeskripsikan

Penyajian sosl-soal HOTS ini sebaiknya dilakukan dahulu pada saat siswa latihan soal atau digabungkan pada Lembar Kegiatan Siswa untuk eksperimen maupun kegiatan diskusi. Sehingga siswa terbiasa mengerjakan soal-soal HOTS. Guru sebaiknya mencoba mengembangkan sendiri soal-soal HOTS atau dengan sesama guru di MGMP sehingga kualitas soal termasuk ke dalam kategori soal HOTS untuk pembelajaran IPA SMP/MTs. [KC]**

Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.