CIANJUR,[KC],- Badan Geologi Kementrian ESDM melalui halaman websitenya melaporkan hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

Pemeriksaan dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur, Nomor : 362/54/DL/BPBD/2020, tanggal 07 Januari 2020, perihal Permohonan Penelitian/ Kajian Cepat. Pemeriksaan dilaksanakan bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur dan pihak aparat desa setempat.

Gerakan Tanah terjadi di Kp. Cibadak RT 02/ RW 08, Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Gerakan tanah terletak pada Koordinat 107° 08’ 16,09” dan 06° 41’ 06,30”. Gerakan Tanah ini terjadi pada awal tanggal 4 Januari 2020 pukul 10.00 wib, gerakan tanah ini pernah terjadi puluhan tahun yang lalu.

Sementara itu Gerakan Tanah yang terjadi di Kp. Cibuntu RT 01/ RW 01, Desa Cibanteng, Kec. Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Terletak pada Koordinat 107° 05’ 46,48” dan 06° 41’ 55,70”. Gerakan Tanah ini terjadi pada tanggal 1 Januari 2020 setelah hujan deras selama sehari semalam dan gerakan tanah ini masih berlangsung hingga saat pemeriksaan.

Jenis gerakan tanah yang terjadi di Kp. Cibadak Desa Sukamahi dan Kp. Cibuntu RT 01/ RW 01, Desa Cibanteng berupa rayapan pada areal persawahan akibatnya lahan pertanian (sawah) hancur.

Berdasarkan kajian  Badan geologi ada beberapa faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain kemiringan lereng yang terjal sampai curam, mengakibatkan tanah mudah bergerak.
Tata guna lahan berupa pertanian lahan basah yang tidak kedap air menyebabkan tanah jenuh air dan mudah bergerak.

Selain itu adanya batulempung serpihan yang berada dilokasi bencana merupakan zona lemah yang bisa menyebabkan gerakan tanah lambat. Curah hujan yang tinggi dan selama sehari semalam sebelum terjadi gerakan tanah menambah faktor terjadinya gerakan tanah dan kurangnya tanaman berakar kuat dan dalam dibagian lereng atas sehingga masa tanah tidak terikat dengan kuat oleh akar pepohonan dan mudah bergerak.

Sehubungan dengan hal tersebut seperti ditulis dalam laman websitenya,  Badan geologi  memberikan beberapa rekomendasi antara lain


  • Segera menutup retakan dan memadatkannya dengan tanah untuk menghindari peresapan air secara cepat ke dalam tanah.
  • Masyarakat diharapkan terus memantau intensitas perkembangan retakan yang terjadi, apabila retakan terus berkembang diharapkan segera mengungsi ketempat yang lebih aman.
  • Apabila pertanian lahan basah dipertahankan sebaiknya dibuat perselingan dengan tanaman akar kuat dan dalam, untuk memperkuat lereng dan tanah tidak mudah bergerak. Terutama pada bagian yang dekat dengan lereng yang terjal/ bagian atas sungai.
  • Pemukiman yang berada dilereng bagian atas masih layak huni, tetapi masyarakat harus selalu waspada terutama pada saat dan setelah hujan lebat berlangsung lama.
  • Tipe rumah panggung/ bangunan konstruksi cocok di daerah ini,  jika daerah tersebut dibangun dengan konstruksi tembok/permanen dan lantai keramik, maka jika terjadi gerakan tanah jenis rayapan akan terjadi retakan pada dinding dan lantai, beresiko roboh.
  • Mengatur aliran air permukaan/drainase agar air tidak meresap ke bawah permukaan yang dapat mempercepat terjadi gerakan tanah. Mengarahkan aliran air permukaan menjauh dari retakan pada permukaan tanah.
  • Mengeringkan kolam ikan dan penampungan air, atau jika dipertahankan maka pembuatan kolam ikan atau penampungan air harus kedap air (disemen).
  • Saluran pada lereng bagian atas (perkampungan) perlu dibuat kedap air (disemen)


Sementara itu untuk Kp. Cipeuteuy, Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi yang pergerakan tanahnya berdampak pada Badan jalan penghubung Kp. Cipari, Desa Sukawangi dengan Kp. Cipeuteuy, Desa Rawabelut terputus sepanjang 400 meter, badan Geologi memberikan rekomendasi sebagai berikut;


  • Jalan desa ini sudah tidak layak untuk digunakan, dan untuk menghindari terjadi gerakan tanah susulan jalan desa ini sebaiknya dipindahkan jalurnya agar lebih aman.
  • Agar masyarakat yang melintas daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
  • Membangun tembok penahan tebing (Retaining Wall) yang dilengkapi dengan lubang-lubang air pada bagian bawah lereng jalan yang longsor/ atau bagian atas sungai, dengan pondasi harus sampai batuan dasar agar stabil, agar tanah tidak terus bergerak.
  • Pembangunan tembok penahan sebaiknya dibuat secara berjenjang (terrasering)
  • Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan.
  • Menata air permukaan dengan baik dan kedap air (disemen), karena karakteristik batulempung serpih mudah bergerak jika terkena air.
  • Meningkatkan Sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat. [KC.09]**




Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin | Sekretaris Redaksi : Iman Sulaiman, M.Si | Redaktur Pelaksana : Mustofa | Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, M Fikri, Eris Risdianto, Muhammad Nasrul, Arsy, Intan Permatasari | Produksi TV : Nurholis Mahmud, Winda. | Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Cianjur 089698682683. | PT. MITRA SINERGI INFORMA : Direktur : Asep Moh. Muhsin | Komisaris : Iman Sulaiman, Sari Yulianti

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.