Oleh. Abdussalam, Mahasiswa Ekonomi Islam Pascasarjana
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Sebagaimana kita ketauhi Bersama bahwa hari ini kita sedang di hadapi dengan pandemik virus corona (Covid-19) yang sungguh menyulitkan aktivitas masyarakat. hal ini tentunya seiring dengan laju aktivitas masyarakat mengalami penurunan juga terhadap ekonomi baik secara makro maupun mikro.

Secara makro Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa  “pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mengalami kontraksi 0,4 persen di akhir tahun. Sementara untuk skenario berat, bahwa perekonomian Republik Indonesia hanya akan tumbuh di kisaran 2,3 persen”. Tentunya angka tersebut jauh dari target yang di tetapkan Menteri Keuangan RI untuk APBN 2020 yang menetapkan bahwa APBN Republik Indonesia akan naik sebesar 5 persen.

Kemudia dengan wabah virus corona ini tentunya ini akan juga kian meluas kepada sektor keuangan, yang menyebabkan bahwa risiko gagal bayar atau macet akan mengalami peningkatan. Karena masyarakat pada umumnya secara aktivitas ekonomi mereka terhenti, Disamping itu, banyak juga perusahaan yang menghentikan produksinya, sehingga secara pendapatan (income) perusahaan akan menurun dan terjadi kontraksi terhadap pembayaran utang yang melambat kepada sektor jasa keuangan.

Potensi prediksi penurunan sampai pada 2,3 itu melihat dari prilaku konsumsi masyarakat yang juga mengalami ancaman berat, Menkeu mengatakan  bahwa penurunan ini akan anjlok pada kisaran 5 persen menjadi 3,2 persen dan sampai pada 1,6 persen. Bahkan bukan hanya soal konsumsi saja, pada sektor investasi dan ekspor-inpor juga kan mengalami ancana yang serius.

Hal inilah yang menjadi indikator makro terhadap melesunya perekonomian tanah air. Kemudia akan juga berpengaruh terhadap Produk Domestrik Bruto (PDB), kenapa ukurannya PDB? Karena PDB menjadi ukuran kondisi ekonomi yang merepresentasikan kondisi suatu negara. Jika Konsumsi rumah tangga, Investadi, ekspor-inpor naik maka ekonomi akan baik-baik saja (stabil), tapi sebaliknya jika indikator tersebut menurun maka akan menjadi ancaman terhadap kondisi perekonomian suatu negara.

Kemudia jika di lihat dari sisi Mikro, saat ini juga para UMKM mengalami kondisi atau ancaman yang juga sama, karena aktivitas masyarakat semua terhenti sehingga tidak ada aktivitas ekonomi yang di lakukan. Padahal jika dilihat dari sejarah bahwa UMKM ini menjadi tahan banting terhadap serangan krisis pada tahun 1997-1998, karena laju aktivits masyarakat tetap berjalan dan tidak ada hambatan kontak antar sesama. Tapi hari ini semua sektor mengalami penurunan dan merugi akibat wabah yang sangat serius bahkan mematikan ini yang mengakibatkan pemerintah baik pusat maupun daerah menghimbau kepada masyarakat agar tetap dirumah saja untuk menjaga rantai penyebaran virus corona ini.

Bukan hanya Indonesia, bahkan ini sudah menjadi keresahan global bahwa penyebaran virus corona ini belum bisa di prediksi dan masih ada dalam ketidak pastian, menurunkan kinerja keuangan global dan menjatuhkan mata uang negara-negara termasuk Indonseia yang saat ini perhari ini kamis tanggal 02 April 2020 Dolar AS mencapai 16.887,70 Rupiah Indonesia.

Namun Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa akan memastikan stabilitas ekonomi akan baik-baik saja, dan proyeksi ekonomi tidak akan jatuh dan kurang dari 2,3 persen pada tahun 2020. Kemudia untuk prediksi dolar yang akan mencapai 20.000/USD Amerika Serikat pada tahun 2020 akan di jaga penguata nilai rupiah pada level 15.000/USD Amerika Serikat di akhir tahun 2020. [***]

Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin | Sekretaris Redaksi : Iman Sulaiman, M.Si | Redaktur Pelaksana : Mustofa | Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, M Fikri, Eris Risdianto, Muhammad Nasrul, Arsy, Intan Permatasari | Produksi TV : Nurholis Mahmud, Winda. | Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Cianjur 089698682683. | CV. MEDIA INFORMA : Direktur utama : Sari Yulianti | Komisaris : Imam Misbah | YAYASAN KABAR CIANJUR | Dewan Pembina : Sari Yulianti | Ketua Umum : Asep Moh. Muhsin, Sekretaris : B Mustofa, Bendahara : Siti Solihah Nurhalimah

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.