CIANJUR,-[KC],- Ditengah kewaspadaan terhadap Covid-19, baru-baru ini kita dikejutkan dengan adanya bencana longsor di Desa Sukanagara, Kecamatan Sukanagara, Cianjur,. Meski tidak menelan korban jiwa, bencana yang diberitakan terjadi Kamis (9/4) pukul 16.00 WIB ini menimbulkan kerugian yang tidak kecil karena merusak infrastruktur sehingga jalan tidak bisa dilewati.

Mencermati kejadian tersebut, Ir. Beny Harjadi., M.Si., pakar longsor dari Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) tidak heran. Beny menyatakan bahwa tipe longsor yang terjadi adalah tipe longsor rotasi, tipe yang sering terjadi di Jawa Barat. Menurutnya tipe ini membahayakan karena material bisa loncat ke tepi jalan, seperti halnya di Cianjur, material menumpuk di jalan sepanjang 50 m dan lebar 40 m.

"Longsor di Cianjur tidak bisa terhindari. Jenis tanahnya adalah ordo ultisols yang dicirikan dengan warna merah menyala. Selain itu, tanah ini, umumnya ada di Jawa Barat dan mempunyai tektur utama liat tinggi SIC, silty clay atau liat berdebu yaitu debunya licin dan liatnya terasa lengket. Tanah ultisols yang memiliki horizon argilik atau pengendapan liat di sub soil sangat berpotensi longsor," kata Beny saat diwawancarai.

"Kondisi tersebut diperparah dengan kemiringan lereng yang curam akibat pemotongan tegak atau vertikal pada tebing di jalan. Adanya regulit lebih dari 3 meter dan juga adanya retakan di atas mahkota longsor tanah," lanjut Beny.

Beny menyatakan ciri tersebut merupakan faktor mayor yang formulasinya telah ditemukan oleh Peneliti Balitek DAS. Faktor mayor tersebut adalah tekstur tanah liat yang tinggi, kemiringan lereng lebih dari 45%, regulitnya lebih dalam 3 meter dan adanya sesar atau retakan. Apabila ada pemicu seperti curah hujan yang tinggi atau gempa bumi, maka longsor tidak akan terhindari.

"Kejadian di Cianjur, faktor pemicunya adalah curah hujan yang tinggi atau lebih dari 200 mm selama 3 hari. Selain itu, beban tanahnya juga tinggi yang dicirikan dengan adanya tanaman kayu-kayuan di atasnya. Tanah ultisols memegang air yang banyak, drainase yang lambat dan beban tanah yang berat, serta gerakan tanah makin cepat karena gravitasi tinggi akibat kelerengan yang curam," jelas Beny.

Untuk menghindari longsor seperti kasus Cianjur tersebut, Beny merekomendasikan, sebaiknya tidak dilakukan pemotongan tegak lereng di tepi jalan. Sedangkan pencegahannya dapat dilakukan dengan membuat bronjong kawat dan batu sehingga airnya bisa lolos, sedangkan material tanahnya tertahan di batu.

"Tanah ultisols, tanah merah yang berpotensi longsor, karena liatnya tinggi menyebabkan agregasinya sangat kuat, permeabilitasinya dan drainasenya lambat, sehingga perlu diadakan pemasangan sulingan untuk mempercepat drainase dan mengalirkan air sehingga beban tanah tidak berat," pungkas Beny. [KC.10/Net]**
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin | Sekretaris Redaksi : Iman Sulaiman, M.Si | Redaktur Pelaksana : Mustofa | Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, M Fikri, Eris Risdianto, Muhammad Nasrul, Arsy, Intan Permatasari | Produksi TV : Nurholis Mahmud, Winda. | Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Cianjur 089698682683. | CV. MEDIA INFORMA : Direktur utama : Sari Yulianti | Komisaris : Imam Misbah | YAYASAN KABAR CIANJUR | Dewan Pembina : Sari Yulianti | Ketua Umum : Asep Moh. Muhsin, Sekretaris : B Mustofa, Bendahara : Siti Solihah Nurhalimah

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.