CIANJUR [KC],- Rapat Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cianjur dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-349 Kabupaten Cianjur berlangsung khidmat pada Minggu (12/7). Sidang yang dihadiri oleh jajaran pejabat daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta tokoh masyarakat ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang "Tatar Santri" dengan sarat pesan kebudayaan, pembangunan spiritual, hingga pelestarian lingkungan.
Suasana khidmat mulai terasa saat peserta sidang diajak menelusuri jejak sejarah dan kepemimpinan Cianjur. Estafet bupati dari masa ke masa dibacakan satu per satu, bermuara pada kepemimpinan saat ini di bawah Bupati dr. Muhammad Wahyu Perdian dan Wakil Bupati Ramzi.
Melalui pemaparan berkonsep "Cianjur Bihari, Cianjur Kamari, Cianjur Kiwari" (Cianjur Dahulu, Cianjur Kemarin, Cianjur Kini), narasi sejarah menegaskan kembali tonggak berdirinya Cianjur pada 12 Juli 1677. Kilas balik ini menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus paheuyeuk-heuyeuk leungeun (bergotong royong) mengejar kesejahteraan agar daerah senantiasa gemah ripah loh jinawi.
Dalam sambutannya, Bupati Cianjur, dr. Muhammad Wahyu Perdian, menyoroti tema peringatan tahun ini, yakni "Rahayat Raksa Raharja". Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk selalu hadir menjaga, melindungi, dan melayani warganya secara adil. "Raharja menggambarkan cita-cita agar sakumna warga Cianjur tiasa hirup aman, makmur, dan bahagia lahir batin," ungkap Bupati Wahyu.
Beliau juga menyerukan kepada seluruh instansi dan lapisan masyarakat untuk menyatukan visi demi mewujudkan "Cianjur Era Baru" yang lebih mandiri, bermartabat, dan berjaya.
Sorotan utama pada penghujung paripurna tertuju pada pidato Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Gubernur memberikan apresiasi atas kemajuan infrastruktur fisik, seperti masifnya pembangunan jalan beton di Cianjur yang memperlancar akses warga. Namun, ia juga memberikan pesan tajam mengenai pentingnya keseimbangan dengan "pembangunan imateriel" yang mencakup nilai, budaya, dan kedalaman spiritual.
Dalam pidatonya Gubernur Dedi memberikan penekanan khusus pada beberapa isu krusial diantaranya berkaitan dengan Stop Eksploitasi Alam menurutnya pemimpin yang baik tidak boleh merusak alam demi pertumbuhan ekonomi semata. Ia secara tegas melarang bentuk eksploitasi lingkungan yang berlebihan, khususnya di kawasan pesisir pantai selatan dan hutan konservasi seperti Gunung Pangrango.
"Merawat Identitas Sejarah, Alam adalah rahim kejayaan Cianjur. Gubernur mengingatkan kembali masa kejayaan Kopi Cianjur yang masyhur di Eropa pada masa lampau, hingga kebanggaan agraris saat ini, yaitu beras unggulan Pandanwangi" Ucap Dedi.
Ia menyoroti urgensi revolusi pendidikan dan ketertiban sosial, salah satunya dengan memberantas penggunaan knalpot brong di jalanan yang dinilai mencerminkan hilangnya nilai keadaban masyarakat.
Selain itu menurut Gubernur Dedi Pentingnya keadilan akses bagi warga kelas menengah ke bawah agar mereka tidak menjadi generasi yang kalah bersaing di masa depan.
Rapat Paripurna Istimewa ini kemudian ditutup secara resmi oleh Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Hj. Meti Triantika, M.T. Pengetukan palu sidang penutup menjadi penanda lahirnya harapan dan semangat baru bagi laju pembangunan Kabupaten Cianjur di usianya yang ke-349. [KC.01]***


Comments0
Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.