CIANJUR [KC],-Sistem pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Cianjur tengah berada dalam bayang-bayang krisis tenaga pengajar. Menjelang puncak gelombang pensiun pada tahun 2026 hingga 2027, para pendidik yang masih berstatus aktif kini terpaksa memikul beban kerja yang sangat berat demi menjaga agar roda pendidikan tetap berputar.
Meski rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) terus diupayakan, langkah tersebut nyatanya belum mampu sepenuhnya menambal kebocoran jumlah tenaga pendidik.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur, Ipan Sopandi, membeberkan realita memprihatinkan yang kini dialami para pahlawan tanpa tanda jasa di wilayahnya. Berdasarkan laporan para kepala sekolah, banyak guru yang harus bekerja jauh melampaui batas standar,Lonjakan Jam Mengajar: Standar kewajiban mengajar minimal adalah 24 jam per minggu. Namun, saat ini banyak guru yang harus berdiri di depan kelas hingga 38 jam sepekan,Faktor Penyebab: Kelebihan beban ini murni terjadi karena sekolah kehabisan opsi untuk menggantikan guru-guru yang telah memasuki masa purnatugas (pensiun).
"Pemenuhan jam belajar ataupun beban mengajar guru di setiap sekolah itu sudah melebihi 24 jam, bahkan ada yang sampai 38 jam lebih dalam setiap minggunya. Itu karena di sekolah tersebut keterbatasan guru akibat pensiun dan lain sebagainya," ungkap Ipan, Rabu (26/8/2026).
Defisit tenaga pengajar ini tidak terjadi secara merata, melainkan memukul telak pada mata pelajaran-mata pelajaran yang membutuhkan fokus akademik tinggi. Ipan merinci bahwa kekurangan terbesar terjadi pada guru mata pelajaran,Matematika,Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),Bahasa Indonesia
Skala Ancaman bagi Cianjur: Kondisi di satu satuan pendidikan saja bisa mengalami kekurangan hingga lima orang guru. Jika krisis ini dibiarkan tanpa intervensi besar-besaran, dampaknya akan sangat masif mengingat Kabupaten Cianjur memiliki total 155 SMP negeri. Rata-rata kekurangan lima guru per sekolah berarti Cianjur membutuhkan ratusan tenaga pendidik baru dalam waktu dekat.
Ipan mengakui bahwa penempatan guru PPPK, baik penuh waktu maupun paruh waktu, sempat memberikan napas segar bagi sekolah-sekolah yang kekurangan personel. Namun, proyeksi ke depan menunjukkan bahwa laju pensiun guru jauh lebih cepat dibandingkan laju pemenuhan tenaga baru.
"Kalau kita proyeksikan antara kebutuhan guru tahun sekarang dan tahun depan, banyak sekali guru yang pensiun. Jadi untuk jenjang SMP di tahun 2026 dan 2027 terkait kebutuhan guru memang sangat banyak," pungkas Ipan memperingatkan.[r]


Komentar0
Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.