CIANJUR [KC],- Di tengah tingginya ketergantungan program pengentasan kemiskinan pada kucuran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sebuah anomali kepedulian sosial justru tumbuh subur di akar rumput Kabupaten Cianjur. Tanpa campur tangan birokrasi, sekelompok relawan berhasil membuktikan bahwa modal sosial berupa kepercayaan publik dan semangat gotong royong jauh lebih ampuh untuk menyentuh warga yang berada di titik nadir kemiskinan.
Gerakan filantropi mandiri ini bergerak di bawah panji bernama Komunitas Sosial Bagong Mogok. Bagi masyarakat awam di tatar Pasundan, pemilihan nama ini kerap memicu tanda tanya dan dahi berkerut, mengingat kata "bagong" merujuk pada babi hutan yang sering dianggap hama perusak dan memiliki konotasi najis. Namun, di balik penamaan yang terdengar kasar tersebut, tersimpan kerja-kerja kemanusiaan yang sangat lembut, tulus, dan berdampak masif.
Lahirnya perlawanan sosial terhadap kemiskinan ini dipantik pada tahun 2015 oleh seorang perwira kepolisian yang saat itu menjabat sebagai Kapolres Cianjur, yakni AKBP Asep Guntur Rahayu. Alih-alih berlindung di balik kenyamanan meja jabatannya, nurani Asep terketuk saat blusukan dan menyaksikan langsung realitas pahit di pelosok desa. Ia menemukan banyak keluarga papa yang hidup di rumah bilik nyaris ambruk serta warga terisolasi yang seolah tak tersentuh oleh uluran tangan negara.
Melihat keputusasaan warga tersebut, Asep secara cerdas meminjam filosofi satwa babi hutan saat terdesak untuk mendefinisikan pergerakannya. Seekor babi hutan yang terpojok pantang untuk lari terbirit-birit, melainkan akan memutar badan dan melawan balik hingga titik darah penghabisan. Karakter pantang menyerah itulah yang kemudian disuntikkan menjadi roh gerakan kerelawanan untuk melawan garis kemiskinan ekstrem di Cianjur.
Spirit perlawanan tersebut kemudian dibingkai dalam sebuah moto lokal berbahasa Sunda yang berbunyi 'Satekah Polah Ngabela nu Susah'. Melalui semboyan yang berarti berjuang maksimal membela mereka yang kesusahan ini, masyarakat diajak untuk berhenti menggantungkan nasib sepenuhnya pada program pemerintah dan mulai membangkitkan kesadaran nurani sebagai makhluk sosial yang wajib saling menolong.
Seiring berjalannya waktu, institusi nirlaba ini semakin mapan secara manajerial. Meski sang inisiator kini telah menyandang pangkat jenderal bintang dua (Irjen Pol) dan bertugas di kancah nasional, Asep Guntur tetap menempatkan dirinya murni sebagai pendiri tanpa menduduki jabatan struktural. Roda operasional kemanusiaan sehari-hari kini dinakhodai dengan tangguh oleh AKBP (Purn) Hilman Muslim yang bertindak sebagai Ketua Umum.
Di bawah komando pria yang akrab disapa Abah Hilman tersebut, Bagong Mogok memegang prinsip mutlak: haram menyentuh sepeser pun uang APBD. Seluruh urat nadi pergerakan murni disokong oleh donasi swadaya para dermawan dengan modal utama berupa integritas. Jika dana yang terkumpul ditargetkan untuk membedah satu rumah, para relawan akan memutar otak dan memeras keringat agar dana tersebut bisa dimaksimalkan untuk membangun dua rumah sekaligus, sebuah strategi yang sukses mengunci kepercayaan donatur.
Dalam mengeksekusi bantuan di lapangan, komunitas ini tidak sembarangan menyebar dana tanpa analisis mendalam. Sistem verifikasi dilakukan secara ketat melalui jejaring relawan untuk memastikan bantuan benar-benar jatuh ke tangan kaum papa yang paling membutuhkan. Prioritas mutlak diberikan kepada warga yang sudah kehabisan asa setelah meminta bantuan ke sana-kemari namun tak kunjung mendapatkan respons dari pihak mana pun.
Lebih dari sekadar menyalurkan material bangunan gratis, target tak kasatmata dari Bagong Mogok adalah merevitalisasi empati komunal yang mulai luntur. Abah Hilman mewajibkan adanya keterlibatan aktif dari warga sekitar saat sebuah proyek fasilitas umum atau bedah rumah dilakukan. Bantuan tidak selalu harus berupa uang; sumbangsih tenaga memikul semen, memberikan pikiran, hingga sekadar melempar kata-kata dukungan dinilai sama berharganya dalam menumbuhkan kembali akar gotong royong.
Hasil dari keteguhan memegang prinsip tersebut terbukti sangat nyata. Selama lebih dari satu dekade eksis, ratusan rumah tidak layak huni (rutilahu), jembatan desa, hingga gedung sekolah telah berhasil dibangun ulang. Berkat solidnya kolaborasi antara relawan dan warga setempat, sebuah proyek perbaikan rumah sederhana rata-rata dapat diselesaikan dengan kualitas baik dalam tempo yang sangat singkat, yakni sekitar dua pekan saja.
Namun, di balik rentetan pencapaian fisik tersebut, terdapat pergulatan batin dan ujian empati yang luar biasa dari para relawan. Tidak jarang mereka harus menekan ego saat berhadapan dengan dilema keterbatasan logistik pribadi. Ada kalanya seorang relawan harus rela membagi dua jatah beras satu kilogram yang dimilikinya; separuh untuk mengganjal perut keluarganya di rumah, dan separuhnya lagi diberikan secara ikhlas untuk menyambung nyawa warga yang lebih kelaparan di jalan.
Kini, benih kebaikan yang ditebar dari tanah Cianjur sejak 2015 tersebut telah tumbuh lebat dan mengepakkan sayapnya menembus wilayah Sukabumi hingga ke berbagai pelosok Tanah Air. Komunitas Sosial Bagong Mogok membuktikan bahwa sebuah nama yang memantik dahi berkerut sekalipun bisa bermetamorfosis menjadi simbol kemanusiaan paling murni, dengan satu visi jangka panjang: melipatgandakan kepanjangan "tangan" kerelawanan untuk terus merangkul mereka yang tersisih.[KC.104/Pebri]


Komentar0
Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.