Program Karimah tidak sekadar kajian biasa. Kegiatan ini memberikan materi penguatan tauhid, akidah, ibadah, hingga syariah. Pemateri yang dihadirkan merupakan narasumber dari Pola Pertolongan Allah (PPA) serta Pembina Yabna—pasangan suami istri yang istikamah mengajak umat untuk membekali diri di sisa usia.
Penyampaian materi yang sangat menyentuh hati membuat para peserta larut dalam tangis muhasabah, terutama saat sesi merenungi dosa terhadap orang tua, pasangan, dan anak-anak. Hal ini memberikan kesan mendalam bagi peserta yang hadir.
Salah seorang Peserta Karimah, mengungkapkan rasa syukurnya bisa mengikuti kegiatan ini."Kami merasa rugi seandainya tidak bisa mengikuti pelatihan ini karena materinya di luar dugaan kami, demikian berbobot. Kalau istilah anak-anak muda mah 'daging semua' dan di luar ekspektasi kami. Mudah-mudahan materi yang didapatkan bermanfaat dan membawa keberkahan," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini sangat relevan sebagai bekal bagi kalangan lansia. "Saya melihat ini adalah apa yang kita butuhkan, terutama bagi para lansia. Kalau di perusahaan dulu ada training persiapan pensiun, nah ini semacam itu. Ini adalah bekal yang betul-betul kita perlukan untuk menyiapkan diri nanti pulang ke haribaan Allah Subhanahu wa Ta'ala," tambahnya.
Daya tarik program Karimah rupanya menembus batas wilayah. Nurlina Patangai, Peserta asal Makassar, Sulawesi Selatan, menceritakan perjuangannya datang jauh-jauh ke Cianjur demi mendapatkan ilmu di Yabna."Alhamdulillah, ini kesekian kalinya datang ke Yabna. Ada energi luar biasa yang belum bisa kami dapatkan di tempat lain, termasuk di Makassar, makanya kami berburu ke Yabna. Ilmu yang luar biasa ini pastinya bisa lebih mendekatkan kita ke Sang Pencipta," tuturnya.
Nurlina juga mengajak masyarakat sekitar Cianjur yang jaraknya lebih dekat untuk ikut serta. "Kami yang dari Makassar saja rela mengeluarkan biaya dan waktu yang tidak sedikit untuk datang ke sini. Harusnya bagi yang tidak perlu mengeluarkan biaya besar dan membuang waktu banyak, bisa lebih tertarik hadir di majelis Yabna ini," ungkapnya.
Manfaat program ini tak hanya untuk persiapan akhirat, tetapi juga berdampak positif pada keharmonisan rumah tangga. Seorang Peserta asal Tasikmalaya yang menjalani hubungan jarak jauh (LDR) menceritakan perubahannya."Saya datang jauh-jauh dari Tasik karena ini salah satu kebutuhan saya. Saya statusnya masih LDR-an sudah 4 tahun. Alhamdulillah, dengan binaan Yabna, rumah tangga kami bisa harmonis dan komunikasi berjalan baik karena ilmu-ilmu dari bimbingan guru kita, Abi dan Bunda," jelasnya.
Bagi pasangan suami istri yang telah puluhan tahun membina rumah tangga, program ini memberikan warna baru. Salah satu perwakilan Pasangan Suami Istri peserta Karimah, menyebut program ini sebagai penyegar keimanan."Sebagai pasangan suami istri yang berumah tangga 31 tahun, baru kali ini kami mendapat pendidikan parenting untuk keluarga. Tujuan kami ke sini untuk menambah wawasan dan mengecas kembali ilmu agar selalu ingin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala," katanya.
Seorang Peserta Mabit Yabna lainnya juga memuji konsep kegiatan di yayasan ini. Ia menyebut Yabna sebagai tempat healing yang unik."Saya sudah keliling ikut mabit di berbagai tempat, tapi di Yabna ini mantap banget dan relate dengan kondisi kehidupan kita. Fasilitas masjidnya sangat nyaman, bukan hanya untuk anak muda, tapi juga untuk lansia yang mau healing. Ini beda loh, healing-nya ini kita diajak bareng-bareng ke surga," pungkasnya penuh semangat.
Serangkaian aktivitas penuh makna ini memberikan energi baru bagi para jamaah, sekaligus mengukuhkan Yayasan Baitun Nasri Almuyasar sebagai salah satu magnet spiritual yang dirindukan umat, sesuai dengan namanya: Keluarga Rindu Husnul Khatimah. [KC.04/Iman Sulaiman]**

Komentar0
Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.