TIDAK pernah terbayangkan dalam fikirannya kalau bakal menjadi pendakwah selama menjadi warga binaan di Lapas Cianjur. Pria yang terjerat kasus perempuan dan diganjar 12 tahun 6 bulan itu masuk di Lapas Cianjur pada bulan Mei 2009 silam.
Awalnya ia mengaku sangat asing dan merasa tersiksa setelah menjadi bagian warga binaan. Kondisi tersebut berubah setelah adanya program pontren di dalam Lapas. Keikutsertaanya menjadi santri membawa perubahan yang sangat drastis. Yang tadinya hanya mengurung dikamar (sel tahanan) ia menjadi aktif dalam kegiatan di pontren.
"Selama disini (pontren Lapas), pagi-pagi ngaji terus tiap senin, selasa istigosah, rabu ngaji lagi namun khusus tafsir yasin. Kelas A iqro, B kitab kuning, malam tarawih biasa digilir setiap kamar setelah itu tadarus alquran," kata Acep.
Selama bulan ramadhan ini, Acep mengaku memiliki target dalam membaca Alquran. Ia ingin selesai ramadhan sudah hatam membaca alquran. "Saya setiap hari harus ngaji dua juz. Selepas dari masjid dikamar ngaji lagi. Perasaan sekarang lebih tenang, dulu takut dan putus asa sejak ada pontren jadi tenang karena dihargai, sekarang bisa belajar dakwah," katanya.
Kesungguhanya belajar agama di pontren, terutama dakwah menghantarkanya meraih juara 3 pada lomba dakwah dalam rangka milad pesantren yang kedua. Bahkan kini ia acap kali menjadi ustad pengganti bagi santri lainya, mana kala ustad utamanya berhalangan mengajar. "Kalau ustad tidak ada saya suka jadi pengganti," tegasnya.
Padahal awalnya Acep mengaku masih belajar. Selama 2 tahun perkembangannya dirasakan bagus. "Seperti kayak rumah sendiri sama teman juga tidak canggung, kayak dipesantren saja, masuk kamar salam. Harapan saya, kalau ada umur dan tambah ilmu akan terus menerus mengajar anak di kampung, jadi mubalig," kata Acep warga Kampung Cikawung RT 01/02 Desa Rawagede Kec. Tanggeung.
Hal yang tidak jauh berbeda juga dirasakan Entis Teja Sukmana (27). Narapidana yang tersangkut kasus trafficking dan divonis 5 tahun 6 bulan itu masuk Lapas Cianjur pada Januari 2011 lalu itu merasakan keuntungan setelah ikut menjadi santri didalam Lapas.
"Kegiatan yang kita laksnakan, taraweh dan tadarus bersama, belajar khutbah,kiroat dan tajwid. Pengajaian pontren setiap hari. Setiap hari jumat santri dituntut bisa ceramah," kata Entis.
Entis mengaku, saat pertama masuk menjadi penghuni Lapas perasaan takut terus menghantuinya. Dia merasa tidak menerima. "Sampai sekarang juga saya belum bisa mengakui, karena kita ditahan. Setelah ada pontren hati saya bisa menerima. Mungkin ini jadi yg terbaik," katanya.
Selama bulan ramadhan, Entis menargetkan mengaji dalam satu hari bisa mencapai 3 juz. "Saya target khatam alquran tiga kali. Karena pingin meningkatkan raihan dalam membaca alquran, tahun lalu hanya khatam satu kali," katanya.
Dia berharap jika sudah keluar dari Lapas Cianjur, ingin membangun agam islam bisa lebih maju dan berakhlakul karimah. "Apalagi di kampung banyak majlis taklim, saya pingin gabung. Insya Alloh mereka menerima, agar pulang kerumah bisa biasa," kata Entis warga Kampung Babakan Empang RT 01/01 Desa Giri Mulya Kec. Cibeber yang mengaku tidak terima bersalah sampai sekarang karena kasusnya dianggap simpag siur [KC-02]**.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Axact

Kabar Cianjur

Pemimpin Redaksi : Asep Moh. Muhsin, Redaktur Pelaksana : Mustofa, Wartawan/Reporter : Asep M, Iman Sulaiman, Yedi Mulyadi, Ahmad Jaelani, Muhammad Fikri, Produksi TV : Aves Marley.Kantor Redaksi Kabar Cianjur : Jl. Siliwangi Kp. Kebonmanggu Sawahgede Cianjur 085724070444

Post A Comment:

0 comments:

Terima Kasih atas saran, masukan, dan komentar anda.