January 2014


CIANJUR,[KC].- Bupati Cianjur H. Tjetjep Muchtar Soleh menjanjikan korban bencana alam tanah bergerak yang terjadi diwilayah Kecamatan Cikalong dan Kecamatan Cipanas akan ditempatkan pada lahan yang baru. Hal itu sebagai bentuk tindak lanjut akibat lokasi perkempungan yang sudah tidak layak lagi untuk ditinggali.

“Warga yang menjadi korban tahan bergerak itu akan kita relokasi ketempat yang lebih aman. Karena berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Geologi, perkampungan mereka sudah tidak layak lagi untuk dijadikan tempat hunian,” kata Tjetjep, Jum’at (31/1/2014).

Dijelaskan Tjetjep, untuk warga yang menjadi korban tanah bergerak di Kampung Cigedongan Desa Mekarmulya Kecamatan Cikalonmgkulon akan direlokasi disebuah lahan bekas Hak Guna Usaha (HGU) di daerah Cikancana. Ada sekitar 4 hektar lahan yang sudah disiapkan untuk relokasi.

“Kalau yang korban pergerakan tanah di Puncak Ciloto Kecamatan Cipanas, kita akan relokasi ditanah desa yang lokasinya tidak jauh dari lokasi tanah bergerak. Sehingga masyarakat yang sebelumnya memiliki aktivitas disekitar wilayah tanah bergerak tidak akan terganggu,” paparnya.

Selain akan direlokasi, warga yang menjadi korban tanah bergerak baik yang ada di Cipanas maupun Cikalongkulon akan mendapatkan bantuan stimulan masing-masing rumah besarnya mencapai Rp 15 juta. “Setelah kita relokasi, mereka juga akan kita berikan bantuan stimulan,” katanya [KC-02]***.
ilustrasi
CIANJUR, [KC].-  Alokasi kebutuhan beras untuk rakyat miskin (Raskin) di Kabupaten Cianjur pada tahun 2014 tidak mengalami perubahan. Jumlahnya dalam setiap bulan dialokasikan mencapai 3.165 ton. Jumlah tersebut disalurkan untuk 360 desa/kelurahan yang tersebar di 32 wilayah kecamatan.


Kepala Subdivre Bulog Cianjur Rizal Mulayawan mengatakan,  alokasi raskin tahun 2014 untuk wilayah Kabupaten Cianjur tidak mengalami perubahan  dari tahun sebelumnya. Semua itu diberikan berdasarkan data Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) yang diberikan oleh Pemkab Cianjur.
“Jumlahnya masih sama seperti dengan tahun sebelumnya yakni sekitar 3.165 ton setiap bulannya. Jumlah tersebut diperuntukkan bagi RTSM yang ada diwilayah 32 kecamatan di Kabupaten Cianjur,” kata Rizal Jum’at (31/1/2014).

Dikatakan Rizal, pada tahun 2013 alokasi raskin untuk Kabupaten Cianjur ternyata tidak terserap semua dengan berbagai alasan. Berdasarkan data yang ada dipihaknya serapan raskin pada tahun 2013 lalu tidak ada yang mencapai 100 persen.

“Raskin tahun 2013 itu ada yang reguler dan tambahan. Untuk yang reguler hanya terserap sekitar 90 persen yang raskin tambahan untuk raski ke 13 mencapai 100 persen, raskin 14 mencapai 81 persen dan raskin 15 mencapai 41 persen,” katanya.

Pihaknya juga mengaku penyaluran raskin pada tahun 2013 masih menyisakan sejumlah tunggakan. Namun pihaknya tidak mau menyebut jumlah pastinya tunggakan tersebut. “Memang ada tunggakan dari beberapa wilayah, nilainya puluhan juta rupiah. Bagi yang masih memiliki tunggakan pembayaran, terpaksa untuk alokasi raskin bulan Januari belum bisa diberikan,” tegasnya.

Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh mengharapkan,  penyaluran raskin pada tahun 2014 bisa tepat waktu dan tepat sasaran.  Masayarakat yang benar-benar membutuhkan harus bisa tercover untuk bantuan raskin tersebut.

“Kita harapkan alokasi raskin tahun 2014 ini semuanya bis aterserap sesuai dengan kebutuhan. Masyarakat yang benar-benar membutuhkan bis aterpenuhi. Untuk itu perlu pengawasan dari semua  pihak agar penyaluran raskin ini tepat waktu dan tepat sasaran,” tegasnya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Sekitar 1.200 peserta mengikuti sosialisasi Peraturan Bupati (Perbub) Nomor 27 Tahun 2011 tentang penerimaan dana Hibah Bansos tahun anggaran 2014 di gedung Assakinah jalan KH. Abdullah bin Nuh kemarin. Hadir pada kegiatan tersebut Bupati Cianjur H. Tjetjep Muchtar Soleh dan unsur pimpinan OPD lainya.

Ketua Panitia Penyelenggara Neneng Eri Garnasih yang juga selaku Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah (DPKAD) Kabupaten Cianjur menjelaskan maksud diadakannya kegiatan ini tidak lain agar peserta dapat memahami  tentang tata cara pelaksanaan dan penatausahaan belanja hibah bansos.

"Diharapkan peserta dapat mengelola keuangan secara efektif dan efisien serta dapat membuat dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan secara baik dan benar," kata Neneng.

Sementara Bupati Cianjur H. Tjetjep Muchtar Soleh pada kesempatan tersebut menyampaikan sosialisasi hibah bansos tersebut penting untuk dilaksanakan. Selain untuk meberikan pemahaman tentang mekanisme perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, akuntansi serta pertanggungjawaban dan pelaporan, juga untuk memberikan pemahaman  kepada semua pihak agar mengetahui dan memahami tentang dana hibah dan dana bansos yang bersumber dari APBD agar tidak salah pengertian, guna menjamin transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana hibah dan dana bansos.

"Hibah adalah pemberian uang/barang atau jasa dari Pemerintah Daerah kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus yang bertujuan untuk menunjang penyelenggaraan urusan pemerintah daerah," kata Tjetjep.

Sedangkan bansos kata Tjetjep, merupakan pemberian bantuan berupa uang/barang dari pemerintah daerah kepada individu, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial.

"Untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana hibah dan bansos, harus diatur mekanisme perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, akuntansi serta pertanggungjawaban dan pelaporan. Pemberian hibah dan bansos juga harus disertai adanya tanggungjawab yang melekat pada yang menerima agar lebih transparan, akuntabel dan efektif," katanya.

Untuk itulah, pihaknya meminta kepada para peserta untuk memperhatikan dengan seksama dan sungguh-sungguh, sehingga dapat memahaminya dengan benar. Dengan demikian dapat pula melaksanakannya dengan benar. "Selain itu, pemahaman terhadap peraturan bupati itu, harus senantiasa dapat disebarluaskan di seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten dan masyarakat, agar memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai maksud dan tujuannya," tegasnya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Cianjur menyiagakan sekitar 15 anggotanya dikawasan Puncak Cipanas untuk mengantisipasi tejadinya lonjakan arus lalu lintas pada libur Imlek atau tahun baru Cina. Petugas tersebut disiagakan dibeberapa titik untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas jika sewaktu-waktu terjadi.

Kasatlantas Polres Cianjur, AKP Zainal Abidin, mengatakan, sejumlah petugas saat ini sudah siaga disepanjang jalan dikawasan Puncak Cipanas. Mereka disiapkan untuk untuk menghadapi lonjakan jumlah kendaraan yang akan masuk ke Kabupaten Cianjur terutama dari arah Puncak Bogor. Jika sewaktu-waktu terjadi kepadatan, petugas siaga untuk mengurai.

"Sudah dari kemarin, kami sudah tempatkan petugas untuk memantau arus lalulintas menjelang libur panjang. Tapi sejauh ini, mulai dari pagi sampai sore ini tidak ada lonjakan jumlah kendaraan," ujar Zainal saat ditemui di POs Polisi 8 Cepu, Kamis (30/1/2014).

Diprediksikan Zaenal, kendaraan yang dari Bogor masuk ke kawasan Puncak Cipanas diprediksi tidak akan terjadi peningkatan yang signifikan. Hal itu didasarkan dari pengamatan dijalan, jumlah kendaraan yang masuk dari arah Bogor cenderung menurun.

"Tentu kondisi seperti ini tidak terlepas dari kondisi banjir yang terjadi di Jakarta. Sehingga mempengaruhi jumlah wisatawan domestik yang kebanyakan dari Jakarta untuk berkunjung ke Puncak Cipanas dan kecenderungannya menurun," katanya.

Demikian juga dampak daro amblesnya jalan Tol Cipularang km 72 terhadap arus lalulintas di Cianjur, Zainal mengaku tidak ada pengaruhnya. Menurutnya, Tol Cipularang tetap menjadi pilihan warga untuk pulang dan pergi menuju Jakarta-Bandung.

"Sejauh ini di Tol Cipularang dengan sistem contra flow masih bisa menampung jumlah kendaraan yang melintas dari kedua arah. Karena itu selama aksesnya bisa ditampung tidak akan dialihkan ke Kabupaten Cianjur via Jalan Raya Bogor-Cianjur," kata Zainal.

Kendati arus kendaraan masih relatif lancar, pihaknya menghimbau kepada pengguna jalan yang melintas diwilayah Cianjur terutama mereka yang akan menikmati liburan dikawasan Puncak Cipanas untuk selalu menjaga kondisi fisik dan kendaraan serta berhati-hati. Mengingat jalan menuju daerah wisata yang ada di Kabupaten Cianjur berkelok dan menurun serta dibeberapa titik terdapat jalan yang tidak rata atau berlubang.

"Warga juga harus berhati-hati ketika melintas terutama menghadapi alam dan cuaca. Pengguna jalan harus mematuhi rambu lalu lintas, tidak perlu memacu kecepatan kendaraan dengan kecepatan tinggi, dan berhati-hati ketika melintasi jalur yang berkabut dan licin," ujarnya [KC-02]**.
CIANJUR, [KC].- Para pengusaha yang dimenangkan dalam gugatan wanprestasi atau ingkar janji dalam pengerjaan proyek bencana alam dilingkungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Cianjur mengancam akan menyegel pekerjaan fisiknya jika Pemkab Cianjur tidak segera membayar sebagaimana yang diperintahkan oleh Pengadilan. Langkah tersebut terpaksa akan diambil, karena sampai saat ini pasca terjadinya pandading (perdamaian) antara Pemkab Cianjur dengan pengusaha belum ada realisasinya.

"Para pengusaha yang belum dibayar oleh Pemkab Cianjur akan melakukan aksi segel hasil pekerjaanya seperti ada bangunan sekolah dan madrasah. Mereka sudah kesal, karena tidak juga dibayarkan," kata Kuasa Hukum para pengusaha, Saladudin saat ditemui di halaman Pemkab Cianjur, Rabu (29/1).

Diakui Saladudin, benar Pemkab Cianjur telah membayar sebagian dari yang diperintahkan oleh pengadilan. Baru tiga pengusaha yang telah menerima pembayaran, itupun jumlahnya ada yang tidak sesuai dengan nilai awal pekerjaan. "Baru tiga pengusaha, Pemkab Cianjur telah mengalokasikan anggaran dalam APBD 2013 senilai Rp 2 milyar. Tapi yang dibayarkan ke pengusaha baru sekitar Rp 1,3 milyar untuk tiga pengusaha. Pertanyaannya, sisanya kemana," katanya.

Untuk itulah pihaknya mempertanyakan kejelasan masalah tersebut ke Pemkab Cianjur. Karena seluruh pekerjaan yang dilaksanakan rekanan sudah selesai dikerjakan. "Memang dalam amar putusan pengadilan itu bisa dibayar dua kali anggaran yakni tahun 2013-2014.
Sekarang para pengusaha yang belum dibayarkan seperti ada 2 sekolah SD di Gekbrong, kalau tidak dibayarkan tahun ini merekan akan segel," tegasnya.

Secara terpisah Sekretaris Daerah (Sekda) Cianjur Oting Zaenal Mutaqin mengatakan, pembayaran terhadap pengusaha tersebut dilakukan atas dasar hasil dari pemeriksaan pekerjaan dilapangan yang dilakukan oleh konsultan. Selain itu pekerjaan yang dilaksanakan oleh ppara pengusaha juga dilihat masa waktunya.

"Pemkab membayarkan itu semua ada dasarnya, yang kita bayar itu berdasarkan hasil dari pemeriksaan yang dilakukan konsultan, karena mereka yang tahu pekerjaanya. Betul pada tahun 2013 ada anggaran Rp 2 milyar, tapi kenapa yang digunakan tidak semua, karena pekerjaanya yang sesuai hanya yang dilaksanakan oleh tiga pengusaha itu setelah dilakukan pemeriksaan. Kalau anggarannya yang tidak terserap yang dikembalikan lagi ke APBD berikutnya," kata Oting.

Pihaknya juga mempersilahkan kepada pengusaha untuk melakukan gugatan secara hukum, jika langkah yang diambil Pemkab Cianjur hanya membayarkan kepada tiga pengusaha. "Itu hak para pengusaha untuk menuntut, silahkan mengajukan gugatan secara hukum jika merasa tidak terima. Pemkab hanya membayarkan kepada tiga pengusaha," tegasnya.

Sebelumnya, Pemkab Cianjur harus membayar kepada para rekanan senilai Rp 4,5 miliar lebih setelah Pengadilan Negeri (PN) Cianjur memenangkan gugatan 51 pengusaha kepada Pemkab yang telah melakukan wanprestasi atau ingkar janji terhadap para rekanan.

Sidang kasus perdata yang digelar dengan agenda pembacaan putusan di PN Cianjur, Jum'at (21/12/2012) itu, Hakim Ketua, Singgih menyampaikan bahwa pihak tergugat, yakni H Sukarya (Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cianjur), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, dan Bupati Cianjur, agar segera mengabulkan dan memenuhi kewajibannya membayar hasil pekerjaan dari 43 pengusaha dengan nilai anggaran sebesar Rp4,5 miliar lebih.

"Pengadilan menghukum pihak tergugat untuk membayar kewajiban para penggugat sesuai dengan nilai SPK (Surat Perintah Kerja) yang dikeluarkan terhadap para rekanan masing-masing. Sebanyak 43 rekanan tersebut telah menyelesaikan pengerjaan sesuai dengan SPK yang dikeluarkan pemerintah. Sedangkan penggugat lainnya atau sebanyak delapan orang pengusaha tidak mendapatkan hak, karena belum menyelesaikan pekerjaan," kata Singgih.

Selain memerintahkan untuk membayar kepada pihak rekanan, Majlis hakim juga memerintahkan kepada tergugat harus membayar biaya perkara secara tanggung renteng sebesar Rp 3 juta, dan pengadilan menolak gugatan pihak tergugat. Atas dikabulkannya sebagian dari penggugat, pihak majlis juga memberikan kesempatan kepada tergugat selama 14 hari untuk banding atau menerima putusan  [KC-02]**
CIANJUR, [KC].- Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Cianjur mempertanyakan keseriusan Pemkab Cianjur dalam mendorong produktifitas petani kedelai. Pasalnya hingga saat ini kedelai yang digunakan oleh seluruh anggota Kopti masih kedelai impor bukan kedelai lokal.

"Mau menggunakan kedelai lokal bagaimana, barangnya saja tidak ada. Bulan karena kualitasnya, kata siapa kualitas lokal jelek dibandingkan kedelai impor. Kami tidak menggunakan kedelai lokal karena barangnya tidak ada," kata Sekretaris Kopti Kabupaten Cianjur, Hugo Siswaya, saat ditemui seusai menggelar  rapat anggota tahunan (RAT) Kopti ke-33, Rabu (29/1).

Dikatakan Hugo, jika melihat data yang dilansir Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Cianjur bahwa luas areal lahan yang bisa ditanami kedelai di Kab. Cianjur mencapai 28 ribu hektar. Jumlah tersebut sangat mencukupi kebutuhan di Cianjur jika direalisasikan untuk ditanami kedelai.

"Kalau satu hektar saja menghasilkan 1 ton kedelai saja, berarti ada sekitar 28 ribu ton kedelai setiap panen atau sekitar 100 hari. Jangan 28 ribu hektar, 7 ribu hektar saja sudah mencukupi, karena kebutuhan kedelai di Cianjur itu hanya sekitar 400 ton setiap bulannya. Pertanyaanya kenapa itu tidak bisa dipenuhi?. Kalu itu diwujudkan Cianjur tidak perlu menggunakan kedelai impor dan akan terjadi swasembada kedelai," katanya.

Menurutnya, kebutuhan kedelai di Cianjur sebesar 400 ton per bulan atau 4800 ton per tahun itu bisa diwujudkan jika pemerintah serius membudidayakan petani untuk menanam kedelai. Berdasarkan perkiraan Dinas Pertanian, dalam satu hektare lahan bisa menghasilkan sebanyak 1,8 ton kedelai.

"Sebenarnya Kabupaten Cianjur juga bisa menyuplai kedelai ke daerah lain jika menyukseskan penanaman kedelai dengan mengoptimalkan luas lahan yang ada. Tapi sekali lagi pada kenyataannya hingga kini kami masih menggunakan kedelai impor yang kami jual Rp 8.525 per kilo. Sedangkan kedelai lokal masih dibawahnya," ujar Hugo.

Keberadaan kedelai lokal juga sangat diharapkan oleh pemerintah. Badan urusan logistik (Bulog) siap menampung kedelai dari Kabupaten Cianjur sebanyak mungkin jika memang ada hasilnya. Apalagi Bulog akan membeli kedelai dari petani lokal sebesar Rp7.000 per kilogram sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor: 37/M-DAG/PER/7/2013 tentang penetapan harga pembelian kedelai petani.

Pihaknya juga mempertanyakan bantuan dari pemerintah yang diterima Kab. Cianjur untuk penanaman kedelai seluas 4 ribu hektar pada tahun 2013 lalu. "Itu bantuan realisasinya kemana, sampai saat ini kami masih kesulitan untuk mencari kedelai lokal. Kami minta pada 2014 ini pemerintah Kabupaten Cianjur bisa lebih serius lagi baik membina petaninya agar menanam kedelai maupun melakukan pemetaan daerah yang suka menanam kedelai," ujar Hugo [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Asep Achmad Suhara, melansir data jumlah rumah yang terdampak akibat terjadinya pergerakan tanah di Kampung Cigedongan Desa Mekarmulya Kec. Cikalongkulon, Kab. Cianjur terus bertambah. Hingga Selasa (28/1/2014) jumlah rumah rusak untuk sementara terdata sebanyak 91 rumah. Jumlah itu terdiri dari 76 rumah rusak berat, lima rumah rusak sedang, 10 rumah rusak ringan. Adapun rumah yang terancam terkena dampak pergerakan tanah sebanyak 248 rumah.

"Akibat pergerakan tanah yang kian meluas itu, sampai saat ini setidaknya sebanyak 355 kepala keluarga (KK) sudah mengungsi ketempat yang lebih aman. Kalau ditotal jiwanya mencapai 1.215 yang terbagi 618 laki-laki dan 598 perempuan. Jumlah ini terus bertambah," kata Asep Achmad Suhara.

Lokasi pergerakan tanah tersebut kata Asep sudah tidak layak lagi untu menjadi tempat hunian. Masyarakat yang menempatinya harus direlokasi ketempat yang lebih aman. "Berdasarkan hasil kajian dari Badan Geologi, pergerakan tanah di Kampung Cigedogan terus meluas dan terjadi setiap jam. Untuk itulah warga harus direlokasi agar tidak timbul korban jika terjadi pergerakan tanah yang cukup signifikan," tegasnya.

Mengenai rencana relokasi, pihaknya belum bisa memutuskan, karena semua itu harus dibahas. Hanya saja direncanakan akan mencoba memanfaatkan tanah HGU yang ada di Desa Sukawarna. Karena hingga saat ini persoalan relokasi terkendala lahan. Apalagi kalau melihat jumlah warga yang mencapai ribuan.

Dalam menangani masalah pergerakan tanah di Cikalongkulon, pihaknya juga akan koordinasi dengan pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) sesuai dengan instruksi Wakil Gubernur Jabar, Dedy Mizwar. Menurut Asep, Pemprov Jabar akan membantu menangani masalah bencana khususnya pergerakan tanah yang terjadi di Cikalongkulon.

"Kami menerima kabar dari pak Wakil Gubernur bahwa beliau telah menekankan dan telah mengintruksikan intansi pemerintah Provinsi Jabar untuk membantu kami baik hal pendanaan dan penghitungan. Yang terpenting masyarakat harus segera direlokasi agar tidak timbul korban jiwa, mengingat pergerakan tanah yang masih terus berlangsung," ujar Asep [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Para warga yang tempat tinggalnya terkena dampak dari pergerakan tanah di Kampung Cigedongan Desa Mekarmulya Kec. Cikalongkulon, Kab. Cianjur saat sangat membutuhkan bantuan. Meski mereka sudah mengungsi ditempat yang lebih aman, kebutuhan hidup mereka harus terpenuhi.

Menurut Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti, yang langsung terjun kelokasi bencana mengatakan, dari penuturan warga, saat ini warga sangat membutuhkan bantuan sembako dan obat-obatan. Beberapa warga yang mengungsi disanak saudaranya itu sudah mulai terserang penyakit flu dan batuk.

"Mereka juga mengeluhkan penerangan, pelayanan kesehatan. Mereka saya tanya kebutuhanya apa, dijawab sembako, dan kesehatan. Saat ini mereka ada diantaranya yang mengalami sakit. Penyakitnya batuk dan demam," kata Dedy.

Mengenai keluhan penerangan, pihaknya telah koordinasi dengan pihak PLN setempat agar diupayakan penerangan. "Kita sudah koordinasikan, disana juga sudah ada genset untuk penerangan para warga yang harus mengungsi," katanya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Untuk mencegah terjadinya korban jiwa bila terjadi pergerakan tanah susulan, pihak kepolisian dengan sigap langsung memasang police line (garis polisi) disekitar lokasi pergerakan tanah. Dengan demikian diharapkan warga yang tempat tinggalnya terkena dampak pergerakan tanah tidak nekad masuk ke areal yang membahayakan.

"Kita bertindak cepat, saat melihat masih banyak warga yang berada dilokasi pergerakan tanah, kita menghimbau mereka untuk menjauh. Kita juga sudah pasangi garis polisi ditempat atau jalan yang bisa dilalui warga dilokasi pergerakan tanah. Ada sekitar 7 titik yang kita pasang police line," kata Kapolres Cianjur AKBP Dedi Kusuma Bakti, Selasa (28/1/2014).

Pemasangan garis polisi tersebut sebagai bentuk penegasan bahwa dengan alasan apapun warga tidak boleh masuk keareal yang rawan pergerakan tanah itu. Untuk mengawai lokasi pergerakan tanah, Kapolres cuga menyiagakan anggotanya selama 24 jam untuk bertugas. Hal itu sebagai antisipasi terjadinya kemungkinan buruk agar bisa cepat tertangani.

"Kita siagakan dua rayon Cikalong dan Mande. Kita intruksikan agar mereka melarang warga masuk kelokasi apapun alasannya, karena lokasinya rawan terjadi bencana. Tidak menutup kemungkinan pergerakan tanah itu akan terjadi lebih besar," tegasnya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Cigedongan Desa Mekarmulya Kec. Cikalongkulon, Kab. Cianjur kian meluas. Setiap hari tanah dikampung tersebut bergeser hingga mengakibatkan 76 rumah hancur, dan 180 rumah lain terancam hancur. Setidaknya sudah 10 ke RTan dari dua RW yang terdampak pergerakan tanah yang terjadi dalam satu pekan terakhir.

Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti yang meninjau lokasi sangat terkejut saat menyaksikan dahsatnya pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Cigedongan. Betapa tidak lokasi perkampung yang berada diantara bukit itu, kondisi tanahnya seperti hidup bisa bergerak. Hingga mengakibat bangunan dan infrastruktur jalan hancur.

"Sulit digambarkan, kalau saya boleh bilang seperti halnya film kiamat 2012. Tanahnya amblas, rumah bergeser, jalan menjadi kolam," kata Dedy saat ditemui, Selasa (28/1/2014).

Meski kondisinya sudah hancur berantakan dan mengancam keselamatan jiwa, masih banyak warga yang berlalu lalang. Seperti mereka mengabaikan keselamatan jiwanya. "Ada beberapa warga yang masih nekat memunguti material bekas rumahnya yang hancur. Padahal kondisi itu sangat membahayakan keselamatan jiwanya," katanya [KC-02]***.
Ilustrasi
CIANJUR, [KC].- Untuk mengungkap penyebab terjadinya kebakaran dirumah Ade Ali (58), di Kampung Bolang RT 02/RW 04 Desa Cimanggu Kecamatan Cibeber Kab. Cianjur terbakar, Senin (27/1/2014) hingga mengakibatkan tujuh orang menderita luka bakar serius, Polres Cianjur tengah memeriksa empat orang saksi.

Para saksi yang dimintai keterangan tersebut merupakan orang terdekat atau tetangga korban. Mereka diharapkan bisa memberikan keterangan sebagai petunjuk untuk mengungkap terjadinya kebakaran dirumah yang dijadikan gudang atau pangkalan gas LPG itu.

"Para saksi itu saat ini masih kita mintai keterangan. Ada diantaranya mereka yang membantu menolong para korban saat terjadinya kebakaran. Sayang saksi yang saat ini terluka belum bisa kita mintai keterangan. Kita terus mendalami sekecil informasi apapun yang terkait dengan masalah kebakaran ini," kata Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (28/1/2014).

Diberitakan, Dari tujuh korban yang mengalami luka bakar, seorang korban balita bernama Abay (3) yang merupakan cucu dari pemilik ruma Ade Ali (58) akhirnya meninggal dunia. Korban meninggal setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan medis di RSHS Bandung akibat luka bakar yang mencapai 100 persen.

"Benar, ada seorang balita yang menjadi korban kebakaran itu akhirnya meninggal setelah dirujuk ke RSHS Bandung. Korban meninggal di rumah sakit, sesetelah beberapa saat mendapatkan penanganan medis dari pihak rumah sakit. Jasadnya juga sudah langsung dikuburkan tidak jauh dari rumahnya," kata Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti.

Dikatakan Dedy, ada dua korban yang sebelumnya dirawat di RSUD Cianjur harus dirujuk ke RSHS Bandung. Kedua korban itu adalah Ayi Ipun (47) Abay (3) yang akhirnya meninggal dunia. "Kondisi korban Ayi Ipun masih kritis dan masih  dalam penangan medis rumah sakit," katanya [KC-02]***.
Ilustrasi
CIANJUR, [KC].- Dari tujuh korban yang mengalami luka bakar, seorang korban balita bernama Abay (3) yang merupakan cucu dari pemilik ruma Ade Ali (58) akhirnya meninggal dunia. Korban meninggal setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan medis di RSHS Bandung akibat luka bakar yang mencapai 100 persen.

"Benar, ada seorang balita yang menjadi korban kebakaran itu akhirnya meninggal setelah dirujuk ke RSHS Bandung. Korban meninggal di rumah sakit, sesetelah beberapa saat mendapatkan penanganan medis dari pihak rumah sakit. Jasadnya juga sudah langsung dikuburkan tidak jauh dari rumahnya," kata Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti.

Dikatakan Dedy, ada dua korban yang sebelumnya dirawat di RSUD Cianjur harus dirujuk ke RSHS Bandung. Kedua korban itu adalah Ayi Ipun (47) Abay (3) yang akhirnya meninggal dunia. "Kondisi korban Ayi Ipun masih kritis dan masih  dalam penangan medis rumah sakit," katanya.

Diberitakan, Tujuh orang menderita luka bakar serius, setelah rumah milik Ade Ali (58) di Kampung Bolang RT 02/RW 04 Desa Cimanggu Kecamatan Cibeber Kab. Cianjur terbakar, Senin (27/1/2014). Belum diketahui persis penyebab terjadinya kebakaran, hanya saja didalam rumah tersebut digunakan oleh pemiliknya sebagai gudang penjualan gas LPG.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, peristiwa kebakaran yang meluluhlantakan perbotan rumah seperti kasur, sofa dan lainya itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB. Tidak diketahui persis bagaimana awal terjadinya kebakaran. Tiba-tiba dari dalam rumah keluar asap dan penghuni rumah berteriak-teriak.

"Saat saya datang dan masuk kedalam rumah, sofa yang posisinya didepan pintu utama sudah terbakar. Saya sempat melihat dua kamar juga sudah terbakar. Saya sempat ragu saat akan masuk, karena tidak jauh dari kobaran apai banyak tabung gas, tapi setelah saya perhatikan tidak ada tabung gas yang terbakar saya masuk kedalam," kata Iwan Awong (40) seorang saksi mata yang juga menolong para korban.

Dikatakan Iwan, setelah yakin tidak ada gas yang terbakar, ia kemudian mengambil air dan berupaya memadamkan api. Setelah itu datang beberapa warga lainya yang juga turut membantu memadamkan api. "Saya saja bisa masuk setelah mendobrak pintu, kemudian setelah yakin tidak ada gas yang terbakar saya mengambil air dan berupaya memadamkan api," katanya.

Penghuni rumah satu persatu berhasil keluar dari kobaran api. Hanya saja semuanya menderita luka bakar. Mereka langsung dibawa ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis. Ketujuh korban yang menderita luka bakar tersebut adalah Ade Ali (58) pemilik rumah, Ayi Ipun (47), Aril (18), Ai Susan (20), Abay (3), Jakia (10 bulan) dan Didin (30) [KC-02]***.
Ilustrasi
CIANJUR, [KC].- Polres Cianjur harus mendatangkan tim labfor Mabes Polri untuk melakukan penyilidikan penyebab terjadinya kebakaran yang terjadi dirumah yang juga digunakan untuk tempat penampungan gas LPG di Kampung Kampung Bolang RT 02/RW 04 Desa Cimanggu Kecamatan Cibeber Kab. Cianjur terbakar, Senin (27/1/2014). Tim Labfor dari Mabes Polri tersebut diharapkan bisa mengungkap penyebab kebakaran yang mengakibatkan 7 orang penghuni rumah mengalami luka bakar. Bahkan seorang diantaranya meninggal dunia saat di RSHS Bandung.

Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum bisa memastikan penyebab terjadinya kebakaran yang mengakibatkan korban jiwa itu. Saat ini pihaknya mengaku masih terus mendalami untuk melakukan penyelidikan.

"Kita sampai dua kali melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Semua itu kita lakukan untuk mengungkap terjadinya kebakaran. Kita tidak bisa memastikan begitu saja dari apa, tanpa ada bukti yang kuat," kata Kapolres saat ditemui diruang kerjanya Selasa (28/1/2014).

Pihaknya juga membantah, kalau dalam peristiwa kebakaran itu ada ledakan yang berasal dari tabung gas. Meski didalamnya banyak terdapat tabung gas, tidak ada yang sampai meledak. "Kalau ada ledakan tabung gas pasti bangunan didalamnya hancur, ini yang terbakar hanya perabotan rumah tangga seperti sofa dan kasur," tegasnya.

Untuk membantuk pengungkapan penyebab terjadinya kebakaran Tim Puslabfor Mabes Polri sedianya juga di datangkan. "Kita minta puslabfor turun, masalahnya sampai saat ini saksi yang kita harapkan mengetahui saat kejadian belum bisa dimintai keterangan akibat mengalami luka bakar yang serius. Makanya kita minta Puslabfor, karena pemeriksaanya juga dilakukan secara ilmiah," tegasnya [KC-02]***.
Deden Supriyadi
CIANJUR, [KC].- Tidak ada pensiun pada tahun 2014 bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkungan Pemkab Cianjur. Hal itu didasarkan setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Para PNS yang akan memasuki pensiun bisa bernafas lega atas lahirnya undang-undang tersebut apalagi buat PNS eselon II.

Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kab. Cianjur, Cecep Sobandi melalui Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Disiplin dan Penghargaan, Deden Supriyadi, mengungkapkan, jika mengacu dari pemberlakuak Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara bahwa masa pensiun bagi PNS diperpanjang. Kalau sebelumnya usia pensiun 56 tahun dengan diberlakukan undang-undang tersebut menjadi 58 tahun.

"Ada beberapa hal yang istimewa dalam UU ASN itu, selain masa pensiun diperpanjang juga ada istilah PPPK (Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja), yang berarti ada tenaga kerja lainya yang bisa direkrut sesuai dengan kebutuhan," kata Deden saat ditemui diruang kerjanya Senin (27/1/2014).

Dalam UU ASN juga ditegaskan bahwa ada tiga jabatan dalam lingkungan PNS. Ketiga jabatan tersebut adalah administrasi, fungsional dan pimpinan tinggi. Untuk pimpinan tinggi terdiri dari utama, madya dan pratama.

"Didalam pasal 90 UU ASN secara jelas ditegaskan bahwa batas usia pensiun untuk pejabat administrasi berusia 58 tahun dan untuk pejabat pejabat tinggi berusia 60 tahun. Kalau melihat aturan ini jelas bahwa untuk eselon II yang sebelumnya pensiun diusia 56 tahun menjadi 60 tahun," jelasnya.

Pengecualian
Dalam ketentuan UU ASN juga dijelaskan bahwa bagi PNS yang memasuki masa pensiun per 1 Februari 2014 ada dua pilihan untuk menentukan sikap, apakah mau diperpanjang atau tidak. Kalau memilih untuk diperpanjang harus membuat surat pernyataan kesiapan menjalankan tugas.

"Kalau pensiuan diberikan kesempatan untuk memilih pensiun atau perpanjang. Kalau perpanjangan harus membuat pernyataan kesiapan tugas. Itu merupakan sebuah pilihan yang harus diputuskan. Mau pensiun masih diberi kesempatan mau diperpanjang juga diberi kesempatan," katanya.

Dengan diberlakukan UU ASN tersebut dipastikan akan ada revisi sekitar 21 Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur gaji, cuti, disiplin pegawai, kinerja dan lainya. "Peraturan yang ada saat ini masih tetap diberlakukan selagi tidak bertentangan dengan UU ASN. Karena semuanya masih menunggu revisi," katanya [KC-02]***.
Bangunan villa milik Atut Chosiyah di Blok M2/20 Kota Bunga
CIANJUR, [KC].- Atut Chosiyah Hikmat pemilik villa di Blok M2 Nomor 20 Kota Bunga Cipanas ternyata menunggak biaya maintanance selama dua tahun. Kewajiban membayar maintanance bagi seluruh pemilik villa di Kota Bunga Cipanas yang seharusnya dibayarkan setiap bulan itu hingga kini belum dilaksanakan.

Estate Manager Kota Bunga Cipanas Franky K, membenarkan kalau pemilik villa di Blok M2 Nomor 20 atas nama Atut Chosiyah Hikmat belum membayar biaya maintanance selama dua tahun terakhir. Atut yang tercatat beralamatkan di jalan Suralaya Tengah 9 RT 007/04 Bandung itu belum ada konfirmasi lebih jauh untuk memenuhi kewajibannya selaku pemilik villa di Kota Bunga.

"Pembayaran maintanance itu kewajiban seluruh pemilik villa. Untuk biaya perawatan villa dan lainnya. Biasanya dibayarkan setiap bulan, bisa secara langsung atau melalui deposit," kata Franky.

Untuk villa milik Atut Chosiyah tersebut lanjut Franky, sudah dua tahun belum membayar biaya maintanance atau menunggak pembayaran. "Tunggakan maintanance terhitung dari bulan Januari 2012 hingga Januari 2014 besarnya mencapai Rp 14.300.000,_. Hingga saat ini belum ada konfirmasi pembayarannya baik secara langsung maupun melalui suruhannya," kata Franky [KC-02]***.
ilustrasi


CIANJUR, [KC].- Rumah milik Ade Ali (58) di Kampung Bolang RT 02/RW 04 Desa Cimanggu Kecamatan Cibeber Kab. Cianjur yang terbakar tersebut yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penjualan gas LPG 3 kilogram dan 12 kilogram ternyata bukan pangkalan resmi. Keberadaanya bisa dikatakan ilegal atau tanpa ijin.

"Setelah kami cek datanya, baik yang ada di Hiswana Migas atau Pertamina, tidak ada datanya. Bisa kami pastikan kalau itu merupakan pangkalan liar atau ilegal," kata Sekretaris DPC Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) H. Dudu Badujaman, saat dihubungi Senin (27/1/2014).

Dikatakan Dudu, pemilik rumah yang yang terbakar,juga penjual gas LPG dipastikan juga mendapatkan gas LPG dari sebuah pangkalan. "Kalau itu benar dari pangkalan resmi, tentu akan ada sanksi jika diberikan kepada mereka yang bukan wilayah penjualannya. Karena semua penjualan gas LPG itu sudah diatur termasuk berapa pangkalan dan agen serta wilayah penjualannya," tegasnya.

Untuk mengetahui dari mana gas LPG itu didapat, tidaklah sulit. Tinggal melihat tutup segel dari tabung gas. Ditutup tersebut tertera nama perusahaannya. "Itu merupakan kewenanangan pihak kepolisian untuk memastikannya, karena kami hanya berdasarkan data. Dari 280 pangkalan dan 21 agen resmi, tidak ada yang atas nama pemilik rumah yang terbakar," tegasnya.

Pihaknya juga menduga bahwa telah terjadi pengoplosan gas didalam rumah yang terbakar. Hal itu didasarkan dari dokumentasi yang ada. "Kalau melihat dokumentasi foto yang saya lihat memang ada es batu diatas gas ukuran 12 kilogram, itu biasa dipakai untuk pendingin. Kami menduga memang ada praktek ilegal, tapi itu ranah kepolisian yang akan membuktikannya," paparnya [KC-02]***.
LOKASI umah yang terbakar dipasangai garis polisi
CIANJUR, [KC].- Pihak Kepolisian belum bisa memastikan penyebab terjadinya kebakaran yang menghancurkan seluruh perabotan rumah milik Ade Ali (58) di Kampung Bolang RT 02/RW 04 Desa Cimanggu Kecamatan Cibeber Kab. Cianjur, Senin (27/1/2014) hingga mengakibatkan tujuh orang mengalami luka bakar serius.

"Belum, kita belum bisa memastikan penyebabnya dari apa? apakah dari gas atau penyebab lain. Karena sampai saat ini belum ada saksi yang bisa kami mintai keterangan," kata Kapolsek Cibeber Kompol Pardianto saat ditemui dilokasi kejadian.

Pardianto tidak mau berspikulasi mengenai penyebab terjadinya kebakaran, meski didalam rumah yang terbakar tersebut terdapat puluhan tabung gas LPG. Bahkan diantara tabung gas ukuran 12 kilogram diatasnya terdapat es batu yang biasa digunakan sebagai alat pendingin.

"Saya belum bisa memastikan, karena saksi-saksinya belum bisa dimintai keterangan. Kalau kita menyimpulkan akibat terjadi pengoplosan, harus ada yang melihat. Kita tidak mau menduga-duga, semuanya masih dalam proses," katanya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Rumah milik Ade Ali (58) di Kampung Bolang RT 02/RW 04 Desa Cimanggu Kecamatan Cibeber Kab. Cianjur yang terbakar tersebut sudah lama digunakan untuk tempat penampungan dan penjualan gas LPG. Pemilik rumah kesehariannya dikenal sebagai juragan LPG dan menjual barang dagangannya ke warung-warung sekitar.

"Memang sudah lama berjualan LPG. Tidak hanya yang 3 kg, tapi juga 12 kg. Biasanya dijual kewarung-warung yang berjualan LPG. Mereka antar barang-barangnya," kata H. Achmad Bukori (42) yang rumahnya persis berseberangan dengan rumah korban.

Namun dia tidak mengetahui persis apakah korban Ade Hadeli merupakan agen LPG atau bukan. "Setahu saya korban itu hanya berjualan LPG, tapi statusnya sebagai agen atau pangkalan saya tidak tahu," katanya.

Hal senada juga diungkapkan Idim Supriyatna (54) Ketua RW 04 Kampung Bolang. Keberadaan korban Ade Ali dikenal sudah lama sebagai penjual gas LPG. Setali tiga uang, Idim juga mengaku tidak tahu statusnya sebagai agaen atau pangkalan.

"Warga disini tahunya kalau pemilik rumah yang terbakar itu sebagai penjual gas LPG terutama yang 3 kilogram. Itu dilakukan semenjak ada program pengalihan minyak tanah ke gas saja, jadi sudah cukup lama," katanya.

Pihaknya juga mengaku tidak tahu lebih jauh aktivitas didalam rumah. "Saya tidak tahu lebih jauh, kalau kegiatan didalam rumahnya. Setahu saya dan warga sebagai tempat gudang dan penjualan gas LPG," katanya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Tujuh orang menderita luka bakar serius, setelah rumah milik Ade Ali (58) di Kampung Bolang RT 02/RW 04 Desa Cimanggu Kecamatan Cibeber Kab. Cianjur terbakar, Senin (27/1). Belum diketahui persis penyebab terjadinya kebakaran, hanya saja didalam rumah tersebut digunakan oleh pemiliknya sebagai gudang penjualan gas LPG.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, peristiwa kebakaran yang meluluhlantakan perbotan rumah seperti kasur, sofa dan lainya itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB. Tidak diketahui persis bagaimana awal terjadinya kebakaran. Tiba-tiba dari dalam rumah keluar asap dan penghuni rumah berteriak-teriak.

"Saat saya datang dan masuk kedalam rumah, sofa yang posisinya didepan pintu utama sudah terbakar. Saya sempat melihat dua kamar juga sudah terbakar. Saya sempat ragu saat akan masuk, karena tidak jauh dari kobaran apai banyak tabung gas, tapi setelah saya perhatikan tidak ada tabung gas yang terbakar saya masuk kedalam," kata Iwan Awong (40) seorang saksi mata yang juga menolong para korban.

Dikatakan Iwan, setelah yakin tidak ada gas yang terbakar, ia kemudian mengambil air dan berupaya memadamkan api. Setelah itu datang beberapa warga lainya yang juga turut membantu memadamkan api. "Saya saja bisa masuk setelah mendobrak pintu, kemudian setelah yakin tidak ada gas yang terbakar saya mengambil air dan berupaya memadamkan api," katanya.

Penghuni rumah satu persatu berhasil keluar dari kobaran api. Hanya saja semuanya menderita luka bakar. Mereka langsung dibawa ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis. Ketujuh korban yang menderita luka bakar tersebut adalah Ade Ali (58) pemilik rumah, Ayi Ipun (47), Aril (18), Ai Susan (20), Abay (3), Jakia (10 bulan) dan Didin (30).

Kedua korban Ayi dan Abay langsung dirujuk ke RSHS Bandung lantaran luka bakar yang dideritanya cukup parah. Sementara korbann lainya menjalani perawatan di RSUD Cianjur [KC-02]***.
Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh berikan bantuan bagi korban longsor
CIANJUR, [KC].- Pengunsi korban dampak pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Puncak yang kini masih mengungsi di SDN Puncak 1 tidak jauh dari lokasi pergerakan tanah direncanakan akan dipindahkan ke sebuah villa. Kepastian tersebut diungkapkan Bupati Cianjur H. Tjetjep Muchtar Soleh saat meninjau lokasi pengungsian, Minggu (26/1/2014).

Dalam kunjungannya tersebut bupati yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah umroh tersebut juga memberikan bantuan sembako dan obat-obatan secara simbolis kepada para pengungsi dihalaman SDN Puncak 1 Jalan raya puncak No. 43 Kampung Puncak RT 03/RW 01 Desa Ciloto Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur.

Menurut bupati, pemindahan para pengungsi ke sebuah villa yang lokasinya tidak jauh dari tempat pengungsian saat ini merupakan keinginan dari para pengungsi itu sendiri. "Pemda akan menyewa villa itu nantinya sampai relokasi akan dilaksanakan pada tahun ini, serta para pengungsi sudah sepakat untuk direlokasi ke tempat yang akan di sediakan," kata bupati.

Selain itu Pemkab Cianjur juga akan memberikan bantuan stimulan kepada para pengungsi sebesar Rp 15 juta rupiah per rumah yang terdampak. "mudah-mudahan bantuan yang nantinya diberikan bisa bermanfaat dan dipergunakan sebagaimana mestinya," papar bupati.

Bupati juga menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap waspada dan senantiasa meningkatkan pengetahuan tentang ciri-ciri alam setempat yang memberikan indikasi akan adanya ancaman bencana terutama dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu saat ini.

Selain itu bupati juga meyarankan terutama kepada para perusahaan atau hotel yang berada di wilayah tanah atau lahan yang kritis harus ditanami pohon-pohon penyangga yang dapat menahan agar tidak terjadi bencana tanah longsor [KC-02]***.
BANGUNAN villa di Kota Bunga diduga milik Gubernur Banten Ratu Atut
CIANJUR, [KC].- Sebuah bangunan villa di Blok M2/20 Komplek Real Estate Kota Bunga Cipanas Kab. Cianjur ditengarai milik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah yang kini ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus dugaan suap Bupati Lebak Banten dan kasus pengadaan alat kesehatan (Alkes). Villa tersebut berdiri megah diantara ribuan villa-villa lainya yang ada dikomplek elite di Cipanas.

Berdasarkan pantauan, vila yang terletak persis didepan Arena Fantasi Kota Bunga itu keberadaanya kurang terawat. Beberapa rumput dihalaman villa terlihat sudah meninggi terkesan dibiarkan pemiliknya. Beberapa bungkus sisa makanan terlihat berserakan didepan pintu masuk villa. Bahkan kaca jendela bagian samping villa dibiarkan pecah.

"Saya tidak tahu ini villa milik siapa, setahu saya orang Jakarta saja. Mereka juga datang sangat jarang sekali. Terakhir setahu saya datang pada tahun baru kemarin dengan jumlah yang cukup banyak. Itupun saya tidak tahu apakah pemiliknya atau bukan," kata Devi (19) teman penjaga villa yang suka menginap divilla tersebut saat ditemui, Minggu (26/1).

Devi mengaku tidak tahu kalau pemilik villa tersebut merupakan seorang pejabat terkenal yang kini menjadi tahanan KPK. "Wah benar villa ini milik Gubernur Banten? Saya baru tahu, karena saya tidak pernah melihat wajah pemiliknya seperti yang ada di televisi. Tahu saya milik orang kaya di Jakarta saja," kata Devi yang terlihat kaget.

Bendahara Desa Sukanagalih Kecamatan Pacet Kab. Cianjur Eueu membenarkan kalau villa di Blok M2/20 Kota Bunga milik Ratu Atut Chosiyah. Hal tersebut didasarkan pada Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT PBB). Dalam SPPT PPB 32.05.190.017.036.0026 tertera atas nama Atut Chosiyah Hikmat yang beralamat di  jalan SuryalayaTengah 9 RT 007/04 Bandung dengan luas tanah luas tanah 557 meter bangunan 98 meter.

"Selama ini kamipun belum pernah ketemu sama pemiliknya. Setiap kali penyamppaian SPPT PBB selalu ada orang utusannya mengambil di kantor. Setelah itu kami tidak tahu lagi, apakah PBBnya dibayar atau tidak, karena tidak pernah ada laporan ke desa," kata Eueu saat dihubungi terpisah.

Hanya saja untuk SPPT PBB tahun 2013 kata Eueu sampai saat ini belum diambil dan masih tersimpan. "Sampai saat ini belum ada yang mengambil, masih ada di desa SPPTnya. Kami tidak tahu apakah PBBnya sudah dibayar atau belum, yang jelas SPPTnya masih ada," tegasnya.

Estate Manager Kota Bunga Cipanas Franky K membenarkan kalau villa di Blok M2/20 Kota Bunga tersebut milik Atut Chosiyah. Berdasarkan data yang ada dipihaknya, villa tersebut dibeli Atut pada 15 Mei 1998. Pembeliannya sendiri langsung ke kantor tidak melalui perantara.

"Memang benar berdasarkan data yang ada pada kami ‎​Villa Blok M2 No.20 tercatat atasnama Atut Chosiyah Hikmat. Vila itu dibeli secara langsung tanpa melalui jasa perantara maupun dari tangan kedua. Dia beli langsung melalui kantor," kata Franky saat dihubungi terpisah.

Pihaknya mengaku villa tersebut jarang dikunjungi pemiliknya. Kalaupun ada yang datang pihaknya menduga merupakan sanak saudaranya. "Terakhir pemiliknya datang pada tahun 2011 silam," tandasnya [KC-02]***.
Ilustrasi
CIANJUR, [KC].- Polres Cianjur baru akan memeriksakan kejiwaan tersangka K bin Sutisna (37) Pelaku penganiayaan yang mengakibatkan delapan orang warga Kampung Kopeng RT 03/RW 04 Desa Kemang Kec.Bojongpicung Kab. Cianjur bersimbah darah itu pada Senin (27/1). Hal itu dilakukan karena pada hari sebelumnya merupakan hari libur, sehingga dokter kejiwaan di Bandung tidak ada ditempat.

"Kita baru akan bawa yang bersangkutan (tersangka) ke dokter kejiwaan pada Senin besuk. Ini kita lakukan untuk memastikan dugaan kalau tersangka menderita gangguan jiwa saat melakukan tindakan penganiayaan terhadap delapan orang warga," kata Kapolres Cianjur saat ditemui disela kegiatan Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas Satlantas Polres Cianjur, di jalan KH. Abdullah bin Nuh, Minggu (26/1).

Dikatakan Kapolres, meski tersangka diduga mengalami gangguan jiwa, pihaknya saat ini tetap menahan tersangka di Mapolres Cianjur. "Itu kan baru dugaan kalau tersangka mengalami gangguan jiwa, makanya untuk membuktika kita akan bawa ke dokter spesialis kejiwaan," katanya.

Pihaknya mengaku belum bisa memastikan apa motif tersangka dalam melakukan penganiayaan. Sebab saat kejadian pelaku tiba-tiba datang dan secara membabi buta melakukan pembacokan terhadap warga yang tengah duduk-duduk diwarung. "Motifnya secara tiba-tiba tanpa sebab jelas langsung melakukan pembacokan kepada warga yang saat itu ada diwarung," katanya.

Diberitakan sebelumnya, diduga mengalami gangguan jiwa, K bin Sutisna (37) warga Kampung Kopeng RT 03/RW 04 Desa Kemang Kec. Bojongpicung Kab. Cianjur mengamuk dengan membabibuta dengan menggunakan sebilah golok hingga menciderai 8 orang warga. Para korban terpaksa harus dilarikan ke RSUD Cianjur akibat luka bacok yang dideritanya.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, peristiwa penganiayaan tersebut terjadi sekitar pukul 19.30 WIB, Kamis (23/1). Saat itu pelaku yang menenteng sebilah golok tiba-tiba mendatangi sebuah warung milik Sopiah yang kebetulan sedang ada beberapa warga yang sedang nongkrong. Saat melihat kedatangan pelaku awlanya warga tidak menaruh curiga.

Hanya saja tiba-tiba pelaku tanpa basa basi langsung mengayunkan sebilah golok yang dibawanya ke beberapa warga yang ada didekatnya. Akibatnya 6 orang warga yang ada diwarung tersebut bersimbah darah terkena bacokan golok yang dibawa pelaku.

Setelah berhasil melukai 6 orang warga yang ada diwarung, pelaku bergegas pergi dan masuk kedalam rumah Epon yang letaknya berdekatan. Kembali pelaku dengan goloknya tanpa ampun membacok Epon bersema cucunya Seli yang masih balita. Setelah itu pelaku pergi meninggalkan para korbanya.

"Begitu kami mendapatkan informasi ada penganiayaan yang menyebabkan 8 orang warga terluka, petugas kami langsung bergerak cepat dan mengejar pelakunya. Dalam waktu singkat pelaku berhasil kami tangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya," kata Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti didampingi Kasubag Humas AKP Achmad Suprijatna, Jum'at (24/1).

Dikatakan Kapolres, aksi pelaku penganiayaan tersebut melukai 8 orang warga. Semuanya mengalami luka bacok dibeberapa bagian tubuhnya. Para korban diantaranya Ayi bin Badri  (40), mengalami  luka berat, robek dipipi sampai ke telinga sebalah kiri hampir putus. Epon binti Nurahman, (50), luka robek di sikut tangan kiri, Seli binti Edi, (2) mengalami luka robek di pundak sebelah kanan.

Korban lainya, Sopiah binti Suhara, (41), mengalami luka robek dilengan tangan sebelah kanan, Hilman Haikal bin Dadan (13), mengalami luka robek dipundak sebelah kiri dan di jari tangan kanan. Dian herdian bin Wawan (17), menderita luka robek di dagu Cecep Sudrajat bin Dudung (30), mengalami luka robek dipipi sebelah kanan dan Aan (51), luka robek di pipi sebelah kiri, luka robek di pundak dan luka robek di jari kanan   [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Pertumbuhan penggunaan kendaraa bermotor di Indonesia khususnya di Cianjur dari tahun ke tahun trendnya terus mengalami peningkatan. Sehingga telah berdampak pada pelanggaran, kemacetan dan kecelakaan lalu lintas.

Demikian ditegaskan Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti disela kegiatan pencanangan Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalulintas di areal Car Free Day Jalan KH. Abdullah bin Nuh, Minggu (26/1). Menurut Kapolres, berdasarkan data kecelakaan lalu lintas yang ada di Satlantas Polres Cianjur angka kecelakaan lalu lintas masih cukup tinggi.

"Kalau melihat data yang ada memang masih cukup tinggi angka kecelakaan lalu lintas di Cianjur. Selama kurun waktu tahun 2013 saja telah terjadi 276 kejadian kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia sebanyak 156 orang, luka berat 158 orang dan luka ringan sebanyak 284 orang," kata Dedy disela kegiatan.

Untuk itulah kata Kapolres, dalam upaya memberikan pembinaan kepada masyarakat, khususnya dalam mengurang resiko kecelakaan lalu lintas yang berdampak pada korban luka dan meninggal, perlu kesadaran dan komitmen bersama dalam gerakan keselamatan berlalu lintas. Di awali dengan pelanggaran lalu lintas, serta kurangnya kepedulian dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

"Dilaksanakannya Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas secara serentak se Indonesia kami pandang sebagai kegiatan yang cukup strategis. Minimalnya bahwa keselamatan merupakan milik kita bersama dan menjadi tanggungjawab bersama untuk mewujudkannya. Diperlukan kesadaran dan kemauan serta kepdulian bersama," tegasnya.

Ditegaskan Dedy, keselamatan tercipta karena didahului oleh kepatuhan ketika berlalu lintas di jalan raya. "Kenayataanya masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa terdapat peraturan yang harus dipatuhi, berprilaku tidak disiplin, menerabas dan mau menang sendiri, sehingga pelaku tersebut telah menjadi potret keseharian masyarakat di jalan raya," katanya.

Menurut Kapolres, dari pelanggar lalu lintas yang ditindak ternyata banyak dari mereka yang belum tahu cara berlalu lintas yang baik dan benar. Kondisi ini memerlukan upaya bersama untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang keselamatan berlalu lintas baik melalui kampanye maupun melalui pemberian materi pada pendidikan formal.

"Kebutuhan mobilitas dengan model transportasi seperti ini tentunya akan terus meningkat, sehingga penyebaran informasi keselamatan berlalu lintas perlu dilakukan secara terus menerus dalam mewujudkan budaya keselamatan berlalu lintas sebagai kebutuhan," harapnya   [KC-02]***.
Bupati Cianjur H. Tjetjep Muchtar Soleh berikan vitamin A kepada balita
CIANJUR, [KC].- Untuk membantu masyarakat khususnya bayi dibawah lima tahun (balita), Forum Pengurus Karang Taruna (FPKT), Kabupaten Cianjur bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur memberi bantuan pemberian suplemensi vitamin A. Pemberian suplemensi tersebut diberikan kepada bayi usia 6-12 bulan dan anak balita 12-59 bulan.

Ketua FPKT Irvan Rivano Muchtar mengatakan, pemberian vitamin A kepada balita tersebut tidak lain bertujuan untuk mencegah kebutaan dan kekurangan vitamin A. “Pemberian vitamin A juga sangat bermanfaat bagi ibu nipas (0-42 hari setelah bersalin),” kata Irvan yang juga Calon Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat daerah pemilihan Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor nomor urut 7  dari Partai Demokrat.

Menurutnya, pemberian vitamin A bagi ibu nipas, selain untuk mencegah kebutaan juga akan meningkatkan kualitas ASI (Air Susu Ibu), sehingga meningkatkan daya tahan tubuh anak dan kesehatan ibu lebih cepat pulih setelah bersalin. “Karena itu, mari kita sukseskan gerakan vitamin A bagi bayi, balita dan ibu nipas,” paparnya.

Sementara itu, Bupati Cianjur, H Tjetjep Muchtar Soleh memaparkan, pihaknya bangga atas inovasi dari FPKT untuk pemberian vitamin A kepada bayi, balita, dan ibu nipas. Sedangkan pemberian vitamin A tentunya sangat penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Cianjur. “Kalau masyarakat Cianjur sehat, tentu akan berdampak kepada peningkatan tarap hidup dan masyarakat Cianjur akan sejahtera,” imbuhnya.

Bupati yang juga Ketua DPC Demokrat ini berharap, FPKT harus terus berinovasi kembali. Tidak hanya kerjasama di bidang kesehatan saja, malainkan kerjasama di bidang yang lain. “Tentunya kami sebagai kepala daerah sangat terbantu dengan adanya program FPKT. Semoga program berikutnya lebih giat lagi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Cianjur,” pungkasnya [KC-02]***.
ilustrasi
CIANJUR, [KC].-  Diduga mengalami gangguan jiwa, K bin Sutisna (37) warga Kampung Kopeng RT 03/RW 04 Desa Kemang Kec.Bojongpicung Kab. Cianjur mengamuk dengan membabibuta dengan menggunakan sebilah golok hingga menciderai 8 orang warga. Para korban terpaksa harus dilarikan ke RSUD Cianjur akibat luka bacok yang dideritanya.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, peristiwa penganiayaan tersebut terjadi sekitar pukul 19.30 WIB, Kamis (23/1). Saat itu pelaku yang menenteng sebilah golok tiba-tiba mendatangi sebuah warung milik Sopiah yang kebetulan sedang ada beberapa warga yang sedang nongkrong. Saat melihat kedatangan pelaku awlanya warga tidak menaruh curiga.

Hanya saja tiba-tiba pelaku tanpa basa basi langsung mengayunkan sebilah golok yang dibawanya ke beberapa warga yang ada didekatnya. Akibatnya 6 orang warga yang ada diwarung tersebut bersimbah darah terkena bacokan golok yang dibawa pelaku.

Setelah berhasil melukai 6 orang warga yang ada diwarung, pelaku bergegas pergi dan masuk kedalam rumah Epon yang letaknya berdekatan. Kembali pelaku dengan goloknya tanpa ampun membacok Epon bersema cucunya Seli yang masih balita. Setelah itu pelaku pergi meninggalkan para korbanya.

"Begitu kami mendapatkan informasi ada penganiayaan yang menyebabkan 8 orang warga terluka, petugas kami langsung bergerak cepat dan mengejar pelakunya. Dalam waktu singkat pelaku berhasil kami tangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya," kata Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti didampingi Kasubag Humas AKP Achmad Suprijatna, Jum'at (24/1).

Dikatakan Kapolres, aksi pelaku penganiayaan tersebut melukai 8 orang warga. Semuanya mengalami luka bacok dibeberapa bagian tubuhnya. Para korban diantaranya Ayi bin Badri  (40), mengalami  luka berat, robek dipipi sampai ke telinga sebalah kiri hampir putus. Epon binti Nurahman, (50), luka robek di sikut tangan kiri, Seli binti Edi, (2) mengalami luka robek di pundak sebelah kanan.

Korban lainya, Sopiah binti Suhara, (41), mengalami luka robek dilengan tangan sebelah kanan, Hilman Haikal bin Dadan (13), mengalami luka robek dipundak sebelah kiri dan di jari tangan kanan. Dian herdian bin Wawan (17), menderita luka robek di dagu Cecep Sudrajat bin Dudung (30), mengalami luka robek dipipi sebelah kanan dan Aan (51), luka robek di pipi sebelah kiri, luka robek di pundak
dan luka robek di jari kanan.

"Semua korban kita bawa ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis. Sebanyak 4 orang korban sudah diperbolehkan pulang, ada seorang korban bernama Ayi bin Badri yang kondisinya kritis dan harus menjalani perawatan intensif," kata Kapolres.

Dikatakan Kapolres, motif penganiayaan yang menyebabkan 8 orang warga menderita luka bacok tersebut diduga pelaku mengalami gangguan jiwa. "Itu baru dugaan, untuk memastikan pelaku benar ada gangguan jiwa atau tidak, kami akan menindak lanjuti dan berkoordinasi  dengan dokter Polri Polda Jabar untuk melakukan pengecekan di phsykiater," tegasnya  [KC-02]***.
Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti berikan bantuan
CIANJUR, [KC].-  Warga Kampung Puncak yang mengungsi di wisma Depsos tidak jauh dari lokasi pergerakan tanah terpaksa harus dievakuasi kembali ke ruang kelas 3 dan perpustakaan SDN Puncak 1 Desa Ciloto Kec. Cipanas Kab. Cianjur. Tempat pengungsian sebelumnya dianggap tidak menampung sejumlah warga.

Erni (40) salah seorang pengungsi menuturkan, lokasi barunya untuk mengunsi kondisinya tidak lebih baik dari tempat sebelumnya. Ia bersama 29 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 100 jiwa lainya harus rela tidur di lantai  SDN Puncak 1 dengan alas alakadarnya. "Kondisinya memang seperti ini, kami hanya bisa pasrah, dan mengharapkan bantuan pemerintah," kata Erni, Jum'at (24/1/2014).

Pihaknya berharap, apa yang menimpa dirinya bersama ratusan warga lainya yang mengungsi akibat adanya pergerakan tanah yang mengancam tempat tinggalnya tersebut bisa menjadi perhatian serius Pemkab Cianjur. Pemkab Cianjur diharapkan bisa mencarikan solusinya.

"Kami mengungsi seperti ini akibat adanya pergerakan tanah bukan yang pertama kali. Ini sudah yang ke empat kalinya kami alami. Kami berharap Pemkab Cianjur bisa memberikan solusi. Kalau memang harus relokasi kami siap, asalkan tempatnya jelas dan tidak mematikan mata pencaharian kami,"ujarnya.

Diakuinya, sejak diungsikan di SDN Puncak I, sejumlah warga sudah ada yang mulai terserang penyakit. Cuaca dingin menjadi salah satu penyebabnya. "Kami harus tidur diemperan seperti ini, ada beberapa balita yang sakit demam, flu dan typus. Kami perlu perhatian pemerintah, kalau selama tanggap darurat seminggu ini harus seperti ini kayaknya sangat berat. Mau kembali kerumah, kami takut karena sudah banyak yang amblas," katanya.

Staf Kepegawaian Pusbindik Kecamatan Cipanas Medi mengaku, sejak ada pengungsi yang menempati perpustakaan, dan ruang kelas 3, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) sedikit terganggu. Pihaknya terpaksa harus mengatur posisi siswa belajar, karena kelas 3 dipakai warga mengungsi dan perpustakaan pun digunakan warga.

"Kami masih memakluminya, kami sangat mengerti kondisi yang menimpa warga yang mengungsi ini. Apa yang kita berikan merupakan salah satu bentuk kepedulian kami terhadap warga," tegasnya.

Hanya saja pihaknya menyayangkan, kenapa di wisama Depsos warga yang mengungsi tidak tertampung semua. Padahal di wisama Depsos banyak kamarnya. "Saya heran kenapa tidak tertampung semuanya, kan banyak kamarnya. Kasian kan warga tidur dibawah lantai seperti ini. Malahan ada warga disini yang sakit akibat kedinginan,"ujarnya.

Namun, meskipun demikian pihak Pusbindik Kecamatan Cipanas pun pro aktif dengan memberikan bantuan sembako kepada mereka. "Kami juga berharap, pemerintah bisa segera mencarikan solusinya. Apalagi kalau melihat pergerakan tanah yang mengancam kampung warga itu sulit untuk ditangani," katanya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Tingginya curah hujan yang belakangan terjadi diwilayah Cianjur mengancam terjadinya banjir bandang dan bencana alam tanah longsor. Masyarakat diminta untuk selalu waspada akan terjadinya bencana alam setiap saat.

Demikian ditegaskan Wakil Bupati Cianjur H. Suranto, saat meninjau lokasi longsor di sekaligus memberikan bantuan untuk masyarakat di Kampung Gedogan, Desa Mekarmulya, Kecamatan Cikalongkulon Kab. Cianjur, Kamis, (23/1). "Waspadai gejala alam dimusim penghujan. Curah hujannya cukup tinggi dan berisiko terjadi longsor kapan saja terutama di wilayah rawan longsor," kata H. Suranto.

Untuk itulah pihaknya menghimbau kepada masyarakat, untuk selalu waspada, jangan membuang sampah ke selokan dan tidak boleh menebang pohon tanpa ijin. Karena hal tersebut bisa mengakibatkan berkurangnya wilayah resapan air dan akhirnya debit air tersebut mengakibatkan perubahan pergerakan tanah dan terjadilah longsor.

Seperti diberitakan sebelumnya, musibah pergerakan tanah dan longsor yang terjadi dalam sepekan terakhir di Kampung Gedogan, Desa Mekarmulya, Kecamatan Cikalongkulon mengakibatkan 40 rumah warga rusak berat dan ringan akibat pergerakan tanah dan longsor.  Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun sebanyak 30 Kepala Keluarga (KK) terpaksa diungsikan ke tempat aman, khawatir kembali terjadi pergerakan tanah.

Dari data sementara yang dikumpulkan, bencana alam di desa tersebut mengakibatkan 2 rumah rusak berat, 1 rumah terseret banjir, 26 rumah terancam tertimbun longsor, 4 jembatan putus, 3 saluran irigasi rusak berat, dan jalan menuju ke perkampungan warga terputus. Selain itu beberapa hektar areal persawahan tertimbun material longsoran tanah bercampur lumpur sehingga dipastikan gagal panen.

Dalam kunjungannya kelokasi pergerakan tanah dan longsor, Suranto juga memberikan  bantuan berupa peralatan dapur, obat-obatan, bahan makanan dan pakaian untuk para korban longsor. Suranto juga meninjau posko kesehatan dari puskesmas DTP Cikalongkulon. "Pelayanan kesehatan untuk warga setempat telah disiapkan dokter untuk memberikan layanan kesehatan yang maksimal. Untuk keamanan lingkungan , pihak koramil, polsek setempat ditambah Satuan Pol PP kabupaten Cianjur dan tim dari BPBD selalu siaga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti antisipasi penjarahan harta benda warga yang ditinggal," katanya.

Dikatakan Suranto,  sejauh ini bantuan dari pihak pemerintah Kabupaten Cianjur terus diupayakan. "Kami sangat prihatin atas terjadinya peristiwa ini. Apa yang dibutuhkan oleh para korban baik itu bantuan moril maupun materil  harus tepat sasaran serta diharapkan dapat mengurangi penderitaan para korban, terutama bantuan kesehatan dan obat-obatan serta kebutuhan lainnya sebisa mungkin diupayakan tepat waktu,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Relawan dan Kebencanaan PMI Kabupaten Cianjur Rudy Syahdiar Hidajat, mengatakan, pihaknya bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Cianjur masih melakukan pemetaan dan pendataan terhadap kebutuhan pengungsi yang diperkirakan akan bertahan selama beberapa hari di lokasi. Bahkan pihaknya hingga saat ini masih melakukan pendataan terhadap kemungkinan terjadinya banjir dan longsor susulan di wilayah tersebut karena bisa terjadi kapanpun menyusul masih tingginya intensitas curah hujan.

"Berbagai kemungkinan masih saja terjadi jika melihat cuaca yang seperti ini. Intensitas hujan yang masih cukup tinggi membuat semuanya harus selalu waspada akan terjadinya bencana susulan. Inilah yang kami selalu koordinasikan jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan," katanya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Buntut dari naiknya Upah Minimum Kabupaten (UMK) Kab. Cianjur yang signifikan, sebanyak 9 pengusaha yang semula bermaksud mau investasi ke Cianjur memilih hengkang. Investor tersebut dikabarkan memilih daerah lain yang UMKnya relatif masih dibawah dan sarana transportasi yang lebih mendukung.

Kabar hengkangnya para investor tersebut diakui Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kab. Cianjur H. Sumitra. Pihaknya mengaku mendengar informasi hengkangnya para investor tersebut setelah mengetahui kenaikan UMK Cianjur mencapai Rp 1,5 juta dari sebelumnya Rp 970 ribu.

"Memang ada kabar itu, tapi saya tidak tahu persis kebenarannya. Karena tidak tahu investor yang bermaksud berinvestasi itu siapa siapa. Yang pasti saya mendengar kabar seperti itu setelah mengetahui UMK Cianjur naik," kata Sumitra, Selasa (21/1).

Kalaupun informasi itu benar, lanjut Sumitra, cukup beralasan. Salah satu faktornya kemungkinan lantaran biaya transportasinya yang mahal. "Kami tidak tahu apakah karena biaya transportasinya yang mahal atau pertimvangan lain. Tapi untuk kepastianya sepertinya Badan Pelayanan Perijinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPPTPM) yang lebih tahu," katanya.

Secara terpisah Kepala Kepala BPPTPM Kab. Cianjur Endang Suhendar, membantah adanya investor yang hengkang dari Cianjur setelah mengetahui kenaikan UMK yang cukup tinggi. Endang berkilah para investor tersebut menangguhkan untuk sementara investasinya bukan hengkang dari Cianjur.

"Bukan hengkang, tapi menangguhkan sementara waktu. Mereka masih membereskan investasinya diluar Cianjur. Tidak membatalkan tapi dipending sementara, karena mereka masih menyelesaikan pekerjaanya diluar Cianjur," kata Endang saat ditemui terpisah.

Dikatakan Endang, ada 9 pengusaha yang terpaksa mempending atau menangguhkan investasinya. Salah satu penyebabnya tidak terlepas akibat kenaikan UMK Cianjur. "Mereka belum memutuskan kapan akan berinvestasi kembali. Yang pasti para pengusaha tersebut sudah menyampaikan proposal dan sampai saat ini belum ditindak lanjuti kembali," kata Endang.

Pihaknya berharap, dampak dari kenaikan UMK tidak mempengaruhi iklim investasi di Cianjur. Karena saat ini investasi di Cianjur sangat mendorong untuk mengurangi pengangguran. "Kita tentu berharap investasi di Cianjur semakin meningkat meski UMK mengalami kenaikan," harapnya [KC-02]***.