September 2013
CIANJUR, [KC].- Sistem Resi Gudang (SRG) Kabupaten Cianjur mendapatkan penghargaan dari Kementrian Perdagangan RI sebagai kota/kabupaten terbaik se-Indonesia dalam Sistem Resi Gudang (SRG). Cianjur dinilai berhasil dalam program SRG selama kurun tiga tahun terakhir.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kab. Cianjur, Himam Haris melalui Kabid Perdagangan, Yudi Adi Nugroho mengatakan, prestasi tersebut tidak terlepas dari progres serapan gabah ke SRG yang terus meningkat setiap tahunnya.

Kenyataan itu, dikatakan Yudi menunjukkan para petani di Cianjur, baik secara perseorangan maupun kelompok memberikan kepercayaan penuh kepada pengelola SRG untuk menyimpan gabahnya. Tahun ini saja, sebut dia, hingga September serapan gabah petani ke SRG yang berlokasi di Kp. Cijoho, Desa Jambudipa, Kec. Warungkondang, Kab. Cianjur itu sudah mencapai 767.025 kg.

"Sedangkan tahun lalu serapannya mencapai 1.573.205 kg. Kita optimis tahun ini akan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya," tutur Yudi.

Kehadiran gudang SRG di Kab. Cianjur sendiri, diakui Yudi telah dirasakan manfaatnya oleh para petani. Petani tidak lagi kelimpungan menjual hasil panennya atau gabahnya saat harga jatuh. Petani, ujar dia, bisa menyimpan gabahnya ke gudang SRG.

"Nanti mereka akan mendapatkan surat resi atas gabahnya. Surat ini bisa dijadikan jaminan untuk mendapatkan kucuran dana dari bank. Selain memberikan keuntungan kepada petani secara finansial, keberadaan SRG ini diyakini bisa menjamin ketahanan pangan," tandasnya [KC-02/ft]***.
Beberapa imigran yang pernah diamankan oleh Polres Cianjur/dok
CIANJUR, [KC].-  Memasuki hari ketiga, Minggu (29/9) tenggelamnya kapal yang mengangkut para imigran diperairan Pantai Cikole Desa Sinarlaut Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur, Tim gabungan Search And Rescue (SAR) kembali  berhasil menemukan 7 jenazah imigran. Dengan demikian sudah 28 jenazah yang ditemukan atas karamnya kapal yang mengangkut para imigran.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, penemuan jenazah para imigran tersebut tidak sekaligus bersamaan. Jenazah pertama ditemukan sebanyak dua orang pada Sabtu (28/9) sekitar pukul 23.00 WIB berjenis kelamin laki-laki. Seorang masih anak-anak dan satunya lagi laki-laki dewasa. Penemuan selanjutnya pada Minggu (29/9) pagi, jenazah imigran berjenis kelamin perempuan dewasa.

Sementara empat jenazah lagi ditemukan oleh tim SAR gabungan secara berturut-turut. Empat jenazah itu berhasil ditemukan di perairan Cisalatri dan Cisokan. Lokasinya sekitar 10 kilometer arah timur lokasi pertama ditemukan korban di perairan Pantai Cikole. Jenazah-jenazah tersebut selanjutnya di evakuasi ke Puskesmas Agrabinta dan selanjutnya dibawa ke RSUD Cianjur sebelum dikirim ke RS Polri Kramat Jati Jakarta.

Danramil Agrabinta Kapten Inf Wisnu mengatakan, dua jenzah berjenis kelamin laki-laki imigran itu ditemukan di sekitar Muara Cisokan atau sekitar 2 kilometer dari lokasi pesisir Pantai Cikole. Demikian juga jenazah perempuan yang ditemukan pada Minggu pagi tidak jauh dari lokasi ditemukan kedua jenazah laki-laki yang ditemukan sebelumnya.

"Jenazah para imigran yang ditemukan itu kami evakuasi ke Puskesmas Agrabinta selanjutnya dibawa ke RSUD Cianjur sebelum dibawa ke RS Polri Jakarta. Kondisinya sudah mulai membengkak," kata Wisnu.

Wakil Ketua Bidang Kebencanaan dan Relawan PMI Kabupaten Cianjur, Rudi Syachdiar Hidajath mengatakan, pencarian terhadap para korban tenggelamnya kapal yang mengangkut para imigran tersebut terkendala cuaca laut yang kurang bersahabat. Tingginya gelombang laut yang mencapai hingga 3-4 meter membuat tim SAR melakukan pencarian dengan menyisir bibir pantai.

"Kondisi cuaca sangat berpengaruh dalam proses pencarian korban yang kami duga masih ada. Gelombang lautnya cukup tinggi, mencapai 3-4 meter. Sangat berisiko jika dipaksakan melakukan pencarian ditengah laut, sehingga pencarian dilakukan dengan menyisir bibir pantai," katanya.

Untuk mendukung pelaksanaan evakuasi terhadap korban tenggelamnya kapal yang mengangkut para imigran tersebut, PMI Cianjur menerjunakan sedikitnya 15 relawan yang sudah terlatih. Mereka telah dibekali kemampuan terutama dalam melakukan evakuasi korban meski dalam cuaca yang kurang bersahabat.

Pihaknya juga belum bisa memastikan sampai kapan pencarian terhadap para korban tenggelamnya kapal itu dilakukan. "Kita maksimalkan saja pencarian terhadap para korban yang mungkin masih ada, sampai kapan, kita menunggu intruksi. Intinya kita siagakan relawan jika sewaktu-waktu dibutuhkan," tegasnya [KC-02]***.
Beberapa imigran yang pernah diamankan oleh Polres Cianjur
CIANJUR, [KC].-  Lagi, Polres Cianjur berhasil mengamankan sedikitnya 30 imigran yang tengah melintas menuju daerah Garut di seputaran jalan Dr. Muwardi, Kecamatan/Kabupaten Cianjur, Sabtu (28/9) malam. Para imigran yang diantaranya berasal dari Myanmar itu selanjutnya dibawa ke Mapolres Cianjur di Jalan KH. Abdullan bin Nuh untuk dilakukan pendataan sebelum diserahkan ke pihak imigrasi.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, puluhan imigran tersebut tertangkap saat mereka menumpang empat unit kendaraan mini bus. Mereka direncanakan akan dibawa ke daerah Garut. Namun ditengah perjalanan, petugas yang curiga menghentikan kendaraan yang ternyata mengangkut para imigran.

Seperti diungkapkan imigran asal Myanmar, Salim (31), dia mengaku berangkat dari penampungan pengungsi yang diketahui berada di Patulayan, Cisarua, Bogor. Pihaknya sebelum akan dibawa ke Garut terlebih dahulu ke Jakarta untuk mengurus surat-surat.

"Bersama beberapa teman satu negara dan keluarga datang hanya untuk meminta bantuan makan dan minum. Setelah dari Jakarta saya juga heran kenapa tidak dibawa lagi ke tempat penampungan," kata Salim, Sabtu (28/9).

Suami dari Sarah (24) dan ayah Amirah (2) ini mengaku tidak berniat untuk menyeberang ke Australia. Menurutnya, ditempat yang menjadi tujuan banyak imigran itu dinilai juga tidak aman. "Saya hanya pingin di Indonesia untuk mencari perlindungan karena kami pengusi resmi dan memiliki surat-surat dari UNHCR," jelasnya.

Salim mengaku kedatangannya ke Indonesia tidak lain untuk mencari tempat tinggal yang layak dan aman. Sebab dinegaranya dirasakan sudah tidak aman lagi. "Rumah saya hancur, keluarga saya dibunuh, saya ingin cari tempat aman untuk Amirah anak saya," kata imigran yang mengaku hampir empat bulan lamanya tinggal di Indonesia.

Kapolres Cianjur, AKBP Dedy Kusuma Bakti, melalui Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Gito, mengatakan, pihaknya berhasil mengamankan empat mobil pengangkut imigran tersebut setelah mendapatkan informasi akan adanya imigran yang melintas Cianjur. Ternyata informasi tersebut benar adanya dan akhirnya berhasil mengamankan empat mobil yang didalamnya terdapat para imigran saat melintas.

"Jumlahnya sekitar 30 orang. Setelah dilakukan pendataan, kami langsung serahkan ke imigrasi. Karena yang mempunyai kewenangan untuk menangani para imigran adalah  bagian Imigrasi," kata Gito singkat [KC-02]***.


Pasar Induk Cianjur yang beberapa waktu lalu terbakar
CIANJUR, [KC].-  Ratusan pedagang Pasar Induk Cianjur (PIC) yang menjadi korban kebakaran mengaku kecewa atas sistem pembagian kios darurat yang mereka tempati tidak sesuai dengan rencana semula yakni dengan sistem pengundian. Kenyataanya penempatan kios tersebut telah ditetapkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kab. Cianjur.

"Rencana awal penempatan kios itu akan dilakukan dengan cara diundi, tapi kenyataanya Disperindag mengambil keputusan dengan ditetapkan. Tentu sebagai pedagang kami merasa kecewa, karena kami diundang berfikir untuk pengundian penempatan kios," protes Yukri (53) seorang pedagang, Minggu (29/9).

Pihaknya berharap, Disperindag bisa bertindak lebih bijak. Jangan sampai keputusan yang diambil dengan sistem penempatan yang ditetapkan berakibat kurang baik kepada para pedagang. Bisa menimbulkan kecemburuan satu sama lainya. "Jangan sampai sistem ini menimbulkan masalah baru," kata pedagang hasil bumi itu.

Secara terpisah Disperindag Kabupaten Cianjur membantah merubah mekanisme pembagian kios secara sepihak. Perubahan tersebut merupakan keinginan para pedagang itu sendiri. "Perubahan sistem penempatan kios itu berdasarkan keinginan pedagang. Awalnya memang mau di undi, namun ada permintaan dari pedagang melalui perwakilan, pembagiannya dilakukan secara zooning. Jadi kita sepakati cara itu bersama," kata Kepala Disperindag Kabupaten Cianjur Himam Haris melalui Kasie Bina Perdagangan, Sukri.

Menurut Sukri, jika belakangan muncul keberatan dari pedagang terkait cara penempatan kios darurat ini, maka hal itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. "Kalau keberatan kenapa waktu di pertemuan tidak disampaikan, karena sekarang sudah menjadi kesepakatan semua," pungkasnya [KC-02]***.
imigran/dok
CIANJUR, [KC].- Korban tewas tenggelamnya kapal yang mengangkut para imigran di pantai Agrabinta menjadi 21 orang setelah tim gabungan pada Sabtu (27/9) kembali berhasil menemukan para korban. Sementara korban selamat yang berhasil dievakuasi sebanyak 28 orang. Dengan demikian seluruh korban kapal tenggelam yang berhasil dievakuasi menjadi 49 orang.

Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti mengatakan, pada pencarian hari kedua pasca tenggelamnya kapal yang mengangkut para imigran, tim gabungan dari Kepolisian, TNI, BPBD dan unsur terkait menyisir sekitar pantai Agrabinta yang dimungkinkan para korban terbawa arus.

"Kita berhasil menemukan para korban, ada yang selamat ada juga yang sudah dalam kondisi meninggal dunia. Yang selamat langsung mendapat penanganan medis. Seluruh korban yang berhasil dievakuasi menjadi 49 orang, 28 orang selamat dan 21 orang meninggal dunia," kata Dedy saat dihubungi, Sabtu (28/9).

Para korban yang selamat mendapatkan penanganan medis dari Puskesmas Agrabinta. Sedangkan korban yang meninggal langsung dikirim ke RS Polri di Kramat Jati Jakarta. "Korban yang selamat setelah mendapatkan penanganan medis, kita serahkan ke petugas imigrasi Sukabumi. Karena ini menyangkut warga negara asing, pihak imigrasi yang memiliki kewenangan," katanya.

Sementara itu disaat para petugas gabungan tengah melakukan proses evakuasi tersiar kabar adanya cukong yang memberangkatkan para imigran tersebut terlihat disekitar pesisir Agrabinta. Cukong tersebut kabur kearah hutan Perum Perhutani Agrabinta. Beberapa warga berupaya melakukan pencarian.

"Iya tadi sempat tersiar kabar seperti itu, makanya warga dan aparat berupaya mengejar. Tapi benar atau tidaknya belum bisa dipastikan, karena kondisinya sudah gelap," kata Muchtar (33) seorang warga yang turut membantu evakuasi para korban kapal tenggelam.

Saat dikonfirmasikan kepada Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti, pihaknya juga belum bisa memastikan tenggelamnya kapal yang mengangkut para imigran itu ada keterlibatan warga yang berperan sebagai cukong. "Intinya informasi sekecil apapun terkait masalah orang asing ini kami selalu menindak lanjutinya," katanya.

Proses evakuasi terhadap para korban tenggelamnya kapal yang mengangkut para imigran itu sedikit menemui kendala. Tingginya gelombang laut diperairan Agrabinta membuat tim gabungan kesulitan untuk mencari para korban. Bahkan mobil patroli milik Polsek Agrabinta sempat terserat gelombang.

"Gelombangnya memang cukup tinggi, makanya kita memperhitungkan itu. Kita tidak ingin niat kita ingin menolong para korban yang tenggelam, kita malah menjadi korban. Mobil Polsek saja sampai terseret gelombang dan harus didorong beramai-ramai," kata Dedy.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Asep A Suhara mengakui, tingginya gelombang pasang di peraira Agrabinta menjadi kendala untuk melakukan proses evakuasi terhadap para korban imigran yang tenggelam. Gelombang pasang membuat tim evakuasi terpaksa menghentikan upaya pencarian.

"Sekitar pukul 13.00 WIB pencarian dihentikan sementara waktu karena gelombangnya tinggi. Dijadwalkan proses evakuasi akan dilakukan pada keesokan harinya jika cuaca atau gelombang laut lebih bersahabat," tegas Asep.

Untuk membantu proses evakuasi, selain menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) yang beranggotakan sekitar 12 personel, pihak BPBD Cianjur juga menyiapkan beberapa perlengkapan seperti kantong mayat. "Kami sifatnya hanya membantu saja, pihak kepolisian yang mempunyai kewenangan sampai kapan proses evakuasi ini akan dilakukan. Apalagi dalam proses evakuasi ini juga melibatkan Basarnas," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Sebanyak 20 orang imigran gelap tewas dan 25 orang lainnya selamat, akibat kapal tongkang yang akan membawa mereka ke Pulau Chrismas, Australia tenggelam di perairan Tegalbuleud, Kab. Sukabumi, Jumat (27/9). Sebagian korban yang diduga berasal dari Timur Tengah ini, terbawa arus hingga sampai di wilayah perairan Agrabinta, Kab. Cianjur.

Masyarakat di pesisir Pantai Agrabinta di Kampung Pasircikalapa, Desa Sinarlaut, Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur dikejutkan oleh banyaknya warga asing berwajah Timur Tengah yang terdampar di pesisir pantai. Diduga kuat, mereka adalah imigran yang menjadi korban kapal tenggelam di perairan Tegalbuleud, Kab. Sukabumi.

"Beberapa dari mereka ada yang mengaku dari Lebanon, Yaman, dan Pakistan. Kami belum bisa meminta keterangan lebih lanjut karena kami juga sedang mencari orang atau warga yang bisa berbahasa Arab untuk berkomunikasi," katanya.

Keterangan yang berhasil dihimpun, informasi tenggelamnya kapal yang mengangkut para imigran gelap tersebut, diketahui pada Jumat siang sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu dari tengah laut terlihat beberapa orang mengapung dan terbawa arus hingga ke bibir pantai. Ada di antara korban yang berupaya menyelamatkan diri dengan berenang.

"Kemungkinan mereka terbawa arus setelah kapal mereka tenggelam di perairan Tegalbuleud. Beberapa dari mereka yang selamat karena mampu berenang hingga ke tepian Pantai Sirnalaut," ujar Camat Agrabinta, Rus Ruskandar kepada wartawan [KC-02]**.




Saepul Anwar
CIANJUR, [KC].- Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kabupaten Cianjur menemukan persoalan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR, DPD dan DPRD) di Kabupaten Cianjur bermasalah. Setidaknya terdapat 10 Kecamatan yang jumlah DPTnya berbeda dengan DPT yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 23 September 2013 silam.

Ketua Panwaslu Kabupaten Cianjur Saepul Anwar mengatakan, temuan adanya perbedaan jumlah DPT yang ditetapkan oleh KPU Cianjur dengan Berita Acara (BA) yang disampaikan oleh pihak Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) itu setelah pihaknya menerima laporan dari Panwaslu Kecamatan. Dari hasil laporan dari masing-masing Panwaslu Kecamatan kemudian diakurkan dengan BA KPU dalam penetapan DPT.

"Ternyata hasil dari pengecekan itu terdapat selisih. Berdasarkan DPT yang ditetapkan KPU Cianjur jumlah hak pilih dalam pemilu legislatif ini mencapai 1.659.140. Sedangkan berdasarkan rekap dari seluruh PPK ditingkat kecamatan terjadi selisih 75 hak pilih menjadi bertambah," kata Saepul saat ditemui diruang kerjanya, Jum'at (27/9).

Dari 10 kecamatan yang terjadi perbedaan jumlah DPT ada diantaranya yang jumlahnya berkurang dan ada juga yang jumlahnya menurun. Seperti yang terjadi di Kecamatan Haurwangi yang jumlahnya membengkak hingga 101 hak pilih. "Ada yang jumlah bertambah ada juga yang berkurang. Secara umum jumlah DPT di tingkat PPK menjadi berkurang dengan DPT dari KPU," katanya.

Atas temuan tersebut pihaknya mengaku tengah menindak lanjuti dengan memanggil pihak terkait, diantaranya dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, KPU Kabupaten Cianjur, Panwaslu Kecamatan dan PPK. "Kami tengah menindak lanjuti temuan tersebut, kami sudah memanggil beberapa pihak untuk diklarifikasi termasuk dari KPU juga sudah kami lakukan. Hasil sementara KPU menyatakan telah terjadi kesalahan pada sistem, tapi kami tetap akan melakukan klarifikasi kepada pihak lainya termasuk PPK," kata Saepul.

Hasil dari klarifikasi tersebut nantinya diharapkan bisa menjadi dasar apakah ketidak cocokan BA PPK dan KPU dalam menentukan DPT itu ada unsur kesengajaan atau unsur kelalaian sehingga bisa disimpulkan jenis pelanggaran apa yang telah dilakukan dan oleh siapa. "Hasil klarifikasi itu nantinya akan bisa kita simpulkan untuk memberikan rekomendasi atas pelanggaran jenis apa yang telah dilakukan. Semuanya masih dalam proses, mudah-mudahan bisa segera tuntas," tegasnya [KC-02]***.

no image
CIANJUR, [KC].- Masyarakat di peseisir pantai Agrabinta di Kampung Pasircikelapa, Desa Sinarlaut, Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur, tiba-tiba dikejutkan oleh banyaknya warga asing berwajah timur tengah yang terdampar dipesisir pantai. Dugaan kuat warga negara asing tersebut merupakan korban kapal tenggelam diperairan Tegal Buleud Kabupaten Sukabumi yang terbawa arus hingga sampai diwilayah perairan Agrabinta, Jum'at (27/9).

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, informasi tenggelamnya kapal yang mengangkut para imigran tersebut diketahui sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu tiba-tiba dari tengah laut terlihat beberapa orang yang mengapung terbawa arus kebibir pantai. Ada diantaranya yang berupaya berenang dengan kelelahan.

"Informasi sementara ada sekitar 80 orang yang tenggelam. Mereka merupakan warga timur tengah. Mereka terbawa arus setelah kapalnya tenggelam, karena terlihat beberapa bangkai kapal yang porak poranda," kata Muchtar (33) warga Sinarlaut yang turut membantu mengevakuasi korban.

Menurut Muchtar, hingga pukul 17.30 WIB warga bersama kepolisian, TNI dan pemerintah setempat tengah berupaya menyelamatkan para korban. Untuk sementara korban yang berhasil ditemukan sebanyak 25 orang dalam kondisi selamat dan 20 orang sudah meninggal dunia.

"Untuk korban selamat untuk sementara ditampung di mushola di Kampung Bakorsari, Desa Sinarlaut tidak jauh dari lokasi. Mereka sudah mendapatkan penanganan medis dari puskesmas setempat. Sedangkan yang meninggal masih berada dipinggir pantai," kata Muchtar.

Dikatakan Muchtar, kalau melihat dari bukti puing-puing kapal, kemungkinan imigran yang tenggelam itu diwilayah pantai Cianjur. Karena puing-puing kapal yang ditumpangi para imigran terlihat sangat jelas. "Kemungkinan tenggelammnya diwilayah laut Agrabinta Cianjur, bukan di Tegalbuleud Kabupaten Sukabumi. Puing-puing kapalnya juga ada terlihat," katanya.

Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti mengatakan, pihaknya menduga para korban imigran yang terdampar di pesisir pantai Agrabinta merupakan korban kapal tenggelam yang Tempat Kejadian Perkara (TKP)nya diwilayah Kabupaten Sukabumi. Namun karena ada sebagian korbannya yang ikut terbawa ke perairan Sinarlaut di Kecamatan Agrabinta, pihaknya juga ikut membantu proses evakuasi.

"Karena korbannya ada yang terdampar diwilayah pesisir Agrabinta Cianjur, makanya kita ikut membantu proses evakuasi. Tapi kejadiannya berada diwilayah Sukabumi," katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencan Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur Asep A Suhara mengaku menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) yang beranggotakan sekitar 12 orang untuk membantu proses evakuasi terhadap korban kapal tenggelam yang mengangkut para imigran asal Timur Tengah itu. Namun pihaknya mengaku belum mengetahui pasti berapa jumlah korban yang tenggelam.

"Jumlah pastinya kita belum dapatkan, hanya informasi sementara yang kita peroleh jumlahnya mencapai 80 orang. Tim kami sedang berupaya membantu melakukan evakuasi dan melakukan pendataan terhadap para korban," kata Asep yang mengaku masih dalam perjalanan ke Agrabinta [KC-02]***.



CIANJUR, [KC].- Mempertanyakan kejelasan pembuatan Peraturan Daerah (Perda) Minuman Keras (Miras), puluhan massa yang mengatasnamakan diri Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Muslim Penyelamat Aqidah (Gempa) Cianjur menggeruduk Gedung DPRD Kabupaten Cianjur, Rabu (25/9/2013).

Kedatangan para anggota ormas islam tersebut tidak lain ingin mempertanyakan ke pihak legislatif sejauh mana keseriusan nya dalam membuat Perda miras karena hingga kini tidak jelas juntrungannya.

Berdasarkan pantauan, massa yang datang dengan menggunakan seragam kebesaraanya itu tiba di halaman gedung DPRD Cianjur di Jalan KH. Abdullah bin Nuh sekitar pukul 10.30 WIB. Mereka langsung menggelar orasi mempertanyakan kejelasan tentang pembuatan Perda Miras. Hanya sekitar 30 menit berorasi, perwakilan massa akhirnya diterima oleh Ketua DPRD Cianjur, Gatot Subroto dan anggotanya Yadi Mulyadi di Ruang Rapat Gabungan II.

Saat pertemuan berlangsung, massa lainya diluar gedung tak henti-hentinya meneriakan yel-yel tentang desakan agar segera dibuat Perda Miras. Sesekali ditengah yel-yelnya, masa juga mengumandangkan takbir hingga terdengar dari dalam gedung.

Ketua FPI Cianjur, Ustaz Awaludin mengaku, usulan dan desakan agar DPRD Cianjur membuat Perda tentang Miras sudah disampaikan cukup lama. Namun hingga saat ini desakan tersebut belum juga ada kejelasannya. "Ini sudah cukup lama, kami ingin usulan Perda Miras ini bisa segera terwujud," kata Ustad Awal yang akrab disapa disela aksi.

Kondisi peredaran miras di Cianjur saat ini kata Awal sudah sangat kronis. Peredarannya tidak hanya diseputaran kotas saja, tapi sudah merambah kepelosok desa. Kondisi inilah yang harus disikapi dengan adanya Perda Miras. "Kita ingin Perda Miras yang didalamnya melarang peredaran miras segera disahkan," katanya.

Hal tidak jauh beda diungkapkan Ketua DPD Gempa Cianjur Yana Sunaryana. Pihaknya menilai peredaran miras di Cianjur sudah sangat marak. Perlu adanya pelarangan melalui Perda tentang miras. "Miras itu musuh kami dan musuh kita semua umat muslim. Perlu Perda tentang miras agar peredarannya tidak merajalela," katanya.

Sementara pertemuan berupa dialog antara perwakilan massa dengan pihak legislatif berlangsung cukup alot. Masa menyampaikan masukannya dengan berapi-api. Mereka mendesak agar segera disyahkannya Perda miras.

Ketua DPRD, Gatot Subroto menjelaskan, masalah Perda miras, pihak legislatif sudah melangkah. Bahkan draft kajian raperda sudah rampung, tinggal menunggu pembahasan di Badan Legislasi (Banleg). Setelah di Banleg sesuai mekasime, akan digelar Panitia Khusus (Pansus).

"Kami juga akan mendorong dan menanyakan untuk segera disampaikan kajiannya. Draft raperda itu intinya harus ditindak lanjuti dan harus segera dipansuskan," tegasnya [KC-02]***.
Kecelakaan lalu lintas di jalan raya Puncak Ciloto beberapa waktu lalu
CIANJUR, [KC].- Tingkat kecelakaan lalulintas di wilayah hukum Polres Cianjur sepanjang 2013 diprediksi turun dibandingkan pada tahun sebelumnya. Hal itu terungkap berdasarkan data yang dilansir oleh Polres Cianjur Rabu (25/9).

Berdasarkan data yang ada, sepanjang tahun 2012 setidaknya terjadi 266 kali kasus kecelakaan lalulintas. Kecelakaan tersebut mengakibatkan 116 orang meninggal dunia , 134 luka berat dan 283 orang luka ringan. Adapun kerigian materi yang ditimbulkan mencapai Rp. 1.124.550.000,-.

"Kalau kita lihat dari kejadian kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun 2012 memang cukup tinggi. Kita harapkan pada sampai akhir tahun 2013 angka kecelakaan lalulintas bisa terus turun. Makanya kita selalu sosialisasikan bagaimana cara berkendaraan yang aman secara terus menerus," kata Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti melalui Kasubag Humas AKP Achmad Prijatna, Rabu (25/9).

Menurut kecenderungan turunnya angka kecelakaan lalulintas terlihat berdasarkan data kejadian sepanjang tahun 2013. Setidaknya telah terjadi 168 kasus kecelakaan lalulintas yang mengakibatkan 122 orang meninggal dunia , 113 orang luka berat dan 189 orang menderita luka ringan. Sedangkan kerugian materi ditaksir mencapai  Rp. 1.910.200.000,- .

"Dari hasil evaluasi data kecelakaan lalulintas bisa disimpulkan kejadiannya turun hingga 37 persen. Hanya saja kalau dilihat dari korban korban meninggal naik 5 persen, luka berat turun 16 persen dan luka ringan turun 60 persen. Sedangkan kerugian materi naik 41 persen," tegasnya.

Untuk menekan terjadinya kecelakaan lalu lintas, pihaknya menghimbau kepada para pengemudi angkutan umum dan pribadi agar selalu waspada dan selalu berhati-hati pada saat mengemudikan kendaraan. Cek laik jalan setiap saat kendaraan setiap saat  maupun secara berkala dan lengkapi kelengkapan surat-surat kendaraan.

"Untuk para pelajar yang belum memenuhi syarat usia memiliki SIM (Surat Ijin Mengemudi) agar tidak mengendarai kendaraan. Patuhi peraturan undang-undang lalulintas dan angkutan jalan. Jadi kanlah pelopor keselamatan berlalulintas dari sejak dini berawal dari diri masing-masing dan berdoa sebelum berangkat," katanya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Kasus dugaan korupsi remunerasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur terus didalami oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur. Kasus tersebut terjadi pada tahun 2008 saat Direktur RSUD Cianjur dijabat Suranto yang kini menjabat Wakil Bupati Cianjur.

"Kami masih melakukan penelitian terkait kasus tersebut. Semuanya masih berjalan, masih dalam proses,” kata Kasi Pidsud Kejari Cianjur, Haerdin kepada wartawan, Rabu  (25/9).

Menurutnya, pihaknya menerima berkas pelimpahan dugaan kasus tersebut pada hari Jumat (15/3/2013) lalu dari Kejati Jabar. "Kita  menerima pelimpahan berkas itu, dan saat ini tengah kita tangani," katanya.

Pihaknya mengakui, belum bisa menjelaskan perkara kasus yang diduga melibatkan wabub Cianjur itu. Menurut Haerdin, mengungkap kasus korupsi tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan harus didalami dengan benar. “Kami belum bisa menjelaskan tentang kasusnya. Kami harus benar-benar mempelajarinya. Sampai saat ini kami masih meneliti kasus tersebut,” katanya.

Dikatakan Haerdin, dalam menangani kasus korupsi, diperlukan data-data yang jelas. Pihak kejaksaan tidak bisa langsung menyelidiki setiap laporan kasus yang diterima. “Banyak tahapan yang harus dilakukan, sebelum pada tahap penyelidikan, harus diteliti terlebih dahulu. Dan sampai saat ini kami masih menyelidikanya,” paparnya.

Dia menambahkan, agar setiap permasalahan dapat diatasi, semua elemen harus benar-benar bekerjasama dan memiliki niat yang lurus untuk mengatasinya, “Ini memerlukan kerjasama serta niat yang lurus dari semua agar setiap kasus yang ada di Cianjur harus benar-benar bisa diatasi,” pungkasnya [KC-02/da]***.
no image
CIANJUR, [KC].- Dinas Binamarga Kab. Cianjur tengah menggeber sejunlah pekerjaan fisik infrastruktur diwilayah Cianjur selatan. Meski dengan anggaran yang terbatas, tahun 2013 sejumlah perbaikan infrastruktur jalan khususnya diwilayah selatan bisa diperbaiki.

"Kita lagi fokus dipekerjaan infrastruktur jalan di wilayah Cianjur selatan. Bebeberapa jalan ada yang kondisinya ditingkatkan dari yang semula aspal, menjadi rabat beton. Jalan tersebut berada didaerah yang rawan terjadi genangan air," kata Kepala Dinas Binamarga Kab. Cianjur Atte Adha Kusdinan, Selasa (24/9).

Dikatakan Atte, pembangunan infrastruktur jalan di wilayah CIanjur bagian selatan itu juga merupakan upaya untuk mengantisipasi beban kendaraan yang bertonase tinggi. Dengan peningkatan jalan diharapkan tidak mudah rusak walau dilalui kendaraan yang bertonase tinggi.

"Salah satu faktor cepat rusaknya jalan khususnya diwilayah selatan selain akibat air, juga disebabkan adanya kendaraan yang bertonase tinggi yang tidak sesuai dengan beban jalan. Dengan peningkatan kondisi jalan ini diharapkan tidak mudah lagi rusah walaupun dilalui kebdaraan dengan beban berat," kata Atte.

Atte mengakui, banyaknya jalan yang harus diperhatikan dengan kondisi anggaran yang terbatas membuat dirinya harus melakukan kajian dengan azas manfaat dan prioritas. Diharapkan lambat laun perbaikan infrastruktur jalan diwilayah Cianjur secara bertahap bisa ditangani.

"Kita harus mengacu pada skala prioritas, makanya saya seringkali datang keselatan salah satunya untuk melihat kebutuhan infrastruktur jalan bagi masyarakat itu seberapa penting. Dari itulah kita melakukan kajian untuk menentukan skala prioritas yang harus diperhatikan," tegasnya.

Sebelumnya Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab. Cianjur Chaerul mengatakan, dalam anggaran ABPD tahun 2014 mendatang, infrastruktur jalan menjadi salah satu skala prioritas selain pendidikan dan kesehatan. Infrastruktur baik bisa berdampak pada perekonomian masyarakat yang meningkat.

"Infrastruktur menjadi salah satu perhatian khusus dalan APBD tahun 2014 mendatang. Namun semua itu tentu harus melalui pembahasan untuk menentukan kisaran anggarannya. Diupayakan meningkat dari tahun sebelumnya," kata Chaerul [KC-02]***.
no image
CIANJUR, [KC].- Menindak lanjuti usulan warga Cianjur selatan yang menginginkan pemekaran, Panitia Khusus (Pansus) DPRD untuk Pemekaran Cianjur Selatan mulai memverifikasi Surat Keputusan BPD tentang persetujuan usulan pembentukan daerah otonom baru (DOB) Cianjur Selatan.

Pansus DOB Cianjur selatan tersebut mulai menyambangi beberapa wilayah kecamatan di Cianjur selatan. Daerah pertama yang disambangi adalah Kecamatan Kadupandak dan Cijati. Diwilayah tersebut Pansus ketemu dengan sejumalah anggota BPD.

Ketua Pansus Pemekaran Cianjur Selatan, Lepi Ali Firmansyah mengatakan, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2007, usulan pemekaran tersebut harus disampaikan minimal 2/3 dari jumlah BPD. "Saat ini kami sudah mulai melakukan verifikasi terhadap SK BPD mengenai persetujuan pemekaran Cianjur selatan menjadi DOB," kata Lepi saat dihubungi Selasa (24/9).

Dikatakan Lepi, mekanisme verifikasi itu dilakukan dengan cara mewawancarai para ketua BPD, lalu meminta konfirmasi keseriusan usulan tentang pemekaran Cianjur Selatan. "Ada 13 kecamatan yang menginginkan DOB Cianjur selatan. Secara bertahap para BPD yang memberikan dukungan ini kita verifikasi. Harus ada 2/3 yang menyatakan dukungan," kata politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Hasil dari verifikasi yang dilakukan kepada para anggota BPD tersebut terungkap mereka mengusulkan pemekaran itu dilatarbelakangi adanya keinginan untuk melakukan percepatan pembangunan di kawasan Cianjur Selatan, baik pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi.

"Hasil verifikasi nantinya dilaporkan ke pimpinan DPRD sebagai sebuah rekomendasi untuk dijadikan keputusan DPRD. Tapi tentunya kita juga akan konsultasikan hasilnya ke Pemprov Jabar dan Depdagri, sebelum diputuskan menjadi sebuah keputusan DPRD," pungkasnya.

Ketua BPD Wargasari Kecamatan Kadupandak, Sukanja mengharapkan betul pembentukan DOB Cianjur Selatan bisa berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Pemekaran wilayah salah satunya bertujuan untuk lebih mensejahterakan masyarakat dan peningkatan pembangunan.

"Sumber Daya Alam Cianjur selatan yang potensial dan perlu pengelolaan secara maksimal. Dengan adanya pemekaran diharapkan SDA itu bisa lebih digarap secara maksimal dan tentunya untuk mensejahterakan masyarakat," katanya [KC-02]***.
no image
CIANJUR, [KC].- Puluhan aktivis yang mengatasnamakan diri Komite Masyarakat Pemantau Pendidikan Nasional (Komppas) mendatangi kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur di Jalan Perintis Kemerdekaan (Jebrod), Kamis (19/9/2013). Kedatangan para aktivis tersebut terkait adanya dugaan kongkalikong yang dilakukan oleh oknum dilingkungan Dinas Pendidikan mengenai adanya dugaan penjualan buku paket LKS yang melibatkan oknum kepala SD dengan penerbit serta dugaan pemotongan uang sertifikasi guru.

Berdasarkan pantauan, masa aktivis datang ke kantor Dinas Pendidikan Cianjur sekitar pukul 10.00 WIB. Setibanya dihalaman kantor mereka telah dihadang oleh aparat Satpol PP dan Kepolisian. Dibawah kawalan aparat, para aktivis langsung menggelar orasi.

Koordinator aksi, Irvan Ervian Muchdar mengatakan berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan, banyak kejanggalan yang terjadi dilingkungan Dinas Pendidikan yang berdampak tidak baik pada dunia pendidikan. Salah satunya mengenai adanya penjualan LKS dan buku pelajaran yang diduga digiring dan dikondisikan terhadap salah satu pihak penerbiat dengan melibatkan oknum Dinas Pendidikan.

"Temuan kami ada beberapa indikasi penyimpangan dilingkungan Dinas Pendidikan, salah satunya mengenai LKS dan penjualan buku. Ternyata diduga dikondisikan dengan melibatkan oknum kepala sekolah. Itu sudah tidak bisa dibenarkan, apalagi pemerintah sudah menjamin menyediakan buku tersebut," kata Irvan.

Selain itu juga terjadi pelanggaran Permendikbud Nomor 12 tahun 2013 oleh perangkat dinas yang diwakili pejabat pembuat komitmen (PPK) dan panitia lelang. Ada penafsiran ketentuan yang dirubah, tidak hanya itu indikasi dugaan adanya pemotongan dana sertifikasi juga terjadi."Ada pelanggaran apalagi mengubah, dan menghilangkan kalimat dalam Permendikbud Nomor 12/2013 dengan tujuan memenangkan perusahaan yang dijagokan oleh oknum-oknum yang memiliki kepentinganan," katanya.

Untuk itulah pihaknya mendesak aparat penegak hukum seperti kejaksaan dan kepolisian untuk segera menyelidiki dugaan penyimpangan yang terjadi dilingkungan Dinas Pendidikan. Selain itu, kepada KPK agar segera bertindak sebelum ada kerugian negara.

"Bupati juga harus berani memberikan sanksi tegas terhadap oknum pejabat Dinas Pendidikan yang kongkalikong dengan penerbit buku dan dugaan pemotonga dana sertifikasi. Ini sudah tidak bisa didiamkan, karena akan mencoreng dunia pendidikan di Cianjur," paparnya.

Setelah menyampaikan aspirasinya, masa aktivis kemudian membubarkan diri dengan tertib. Kekawatiran terjadinya aksi kekerasan tidak terbukti. Masa aktivis hanya sekitar satu jam melakukan aksi sebelum akhirnya membubarkan diri dengan tertib.

Secara terpisah Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Badawi membantah semua tudingan yang disampaikan oleh para aktivis. "Itu semua tidak benar, itu hanya tuduhan. Kami tidak melakukan sebagaimana yang dituduhkan," katanya singkat [KC-02]***.
no image
CIANJUR, [KC].- Akibat bendungan Persido di Desa Sukamahi, Kec. Sukaresmi Kab. Cianjur jebol, ratusan hektar lahan di wilayah tersebut sejak sembilan bulan silam mengalami kekeringan. Keberadaan bendungan yang dibuat tahun 1900-an itu sangat membantu masyarakat untuk mengairi lahan mereka.

"Ada sekitar 550 hektar lahan yang semula bergantung pengairannya dari bendungan itu. Setelah bendungan itu jebol, masyarakat sulit untuk menanam dan bahkan ada diantaranya yang terpaksa harus menganggur," kata Kepala Desa Sukamahi Odang Edi Sulaeman.

Lahan yang saat ini mengalami kekeringan tersebut masuk di tiga kedusunan yakni Sadamaya, Cibadak, dan Cikancana Desa Sukamahi. "Kami sangat mengharapkan aliran air ke lahan warga bisa lancar. Saat ini pun warga banyak yang menganggur selama 9 bulan atau sama dengan tiga kali panen, kondisnya bisa lebih parah jika tidak turun hujan," katanya.

Pihaknya berharap pemerintah bisa segera membantu untuk mencarikan solusi atas apa yang dialami warga yang tertimpa dampak dari jebolnya bendungan. "Warga kami butuh penghidupan, sedangkan lahan yang kami tanam kekeringan. Selain itu saat ini pun kami membutuhkan pasokan air bersih juga karena lahan yang ada sudah mulai kering. Kami pernah membuat swadaya namun tidak maksimal. Makanya, kami harapkan ada solusi dari pemerintah," tegasnya.

Seorang warga Desa Sukamahi Popon (52) mengatakan, dia menilai pemerintah lamban menyikapi derita yang dialami warga. Apalagi jika melihat kondisi kekeringan yang semakin meluas, tentu akan memperpanjang derita warga.

"Kami sudah berusaha berkerjasama dengan mitra air dan warga untuk menggalang dana. Namun tetap saja aliran air belum bisa berjalan. Makanya, kami harapkan adanya bantuan pemerintah,"jelasnya.

Saat ini warga membutuhkan saluran air dari bendungan persido itu, sepanjang kurang lebih 500 meter ke perkampungan warga. Permohonan bantuan telah disampaikan, namun sejak bendungan itu jebol sembilan bulan lalu hingga kini belum adanya tanda tanda perbaikan.

"Bendungan Persido selama ini berfungsi untuk mengairi persawahan sehingga sangat penting perannya. Makanya kami harapkan perhatian pemerintah untuk segera membangun kemabli bendungan yang jebol. Keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat," tegasnya [KC-02]***.
no image
CIANJUR, [KC].- Pemkab Cianjur mendesak agar penelitian terhadap situs megalitikum Gunung Padang oleh Tim Terpadu Penelitian Mandiri (TTPM) hasilnya diumukan secara transparan. Masyarakat harus tahu persish hasil dari yang sudah dilakukan oleh tim peneiti.

"Hasil dari penelitian terhadap Gunung Padang itu masyarakat harus tahu. Demikian juga Pemkab Cianjur harus tahu. Tim peneliti harus mengekspos hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap Gunung Padang," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kab. Cianjur, Tedi Artiawan, Selasa (17/9/2013).

Dikatakan Tedi, tim peneliti mengajukan kegiatan penelitian di situs megalitikum Gunung Padang selama 6 bulan terhitung Juni-Desember 2013. Hasil dari penelitian tersebut nantinya harus dipertanggungjawabkan dan dilaporkan kepada pemerintah dan masyarakat.

Pemkab Cianjur tidak memiliki kewenangan, terkait penelitian situs Gunung Padang. Kapasitas Pemkab Cianjur sebatas memberikan ijin aktivitas penelitian karena lokasi wilayah situs Gunung Padang berada diwilayah Kabupaten Cianjur.

"Keanggotaan tim peneliti itu melibatkan berbagai ahli. Ada ahli arkeologi dan geologi. Sebenarnya kita diminta oleh tim peneliti mandiri itu untuk mencari ahli geologi dan arkeologi dari Cianjur agar bisa ikut dalam penelitian. Hanya saja kita tidak punya, maka tenaga ahlinya dipegang langsung oleh tim peneliti," tegasnya.

Meski tidak memiliki tenaga ahli arkeolog dan geologi, Pemkab Cianjur tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas penelitian di situs Gunung Padang. Untuk itu Pemkab Cianjur melibatkan Lembaga Kebudayaan Cianjur (LKC) yang bertugas memberikan nasihat-nasihat dalam upaya penelitian.

"LKC yang mendampingi tim peneliti. Jika dalam perjalanan ada hal yang menyimpang dalam melakukan penelitian, maka LKC bisa memberikan masukan bahkan menegur tim peneliti. LKC itu bertugas sesuai Undang Undang Cagar Budaya Nomor 11/2010 tentang Cagar Budaya," kata Tedi.

Pemkab tidak membatasi upaya penelitian terhadap keberadaan situs Gunung Padang, asalkan ada izin dari pemerintah pusat, dan tidak berniat merusak cagar budaya. "Asalkan ada ijin dan tidak merusak cagar budaya, tidak ada masalah, tapi kalau sudah ada perusakan itu yang tidak diperkenankan," katanya.

Secara terpisah Ketua LKC Kab. Cianjur, Denny Rusyandi juga mendesak agar hasil penelitian terhadap situs Gunung Padang itu diekspos. Hal itu sebagai bentuk klarifikasi kepada masyarakat dan beberapa pihak yang meminta untuk menghentikan kegiatan penelitian.

"Kita sudah sampaikan kepada tim peneliti untuk segera mengekspos hasil penelitiannya. Mereka merespon positif dan telah menghubungi kami bahwa mereka akan segera melakukan ekspos. Ini juga merupakan bentuk klarifikasi adanya pihak yang menginginkan dihentikannya penelitian," kata Denny.

Deni juga mengakui kalau LKC sudah diminta oleh tim peneliti masuk dalam anggota tim. "Kami memang sudah diminta untuk masuk dalam tim peneliti. Semuanya masih dalam proses, yang pertama kita inginkan dulu ekspos hasil dari penelitian itu," katanya [KC-02]***.
no image
CIANJUR, [KC].- Dampak dari musim kemarau, ternyata juga berdampak pada produksi listrik Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH). Seperti yang terjadi pada PLTMH Cijedil Kec. Cugenang, Kab. Cianjur. PLTMH tersebut mengalami penurunan produksi tenaga listrik hingga 50 persen.

Plt Supervior Pusat Pemiliharaan Ketenaga Listrikan PLTMH Cijedil Susila mengatakan penurunan produksi listrik tersebut akibat menyusutnya debit air sungai sebagai dampak dari musim kemarau. Biasanya dalam kondisi normal debit air yang masuk ke PLTMH mencapai 1.132 liter per detik dengan menghasilkan 432 kw. Hanya saja saat ini hanya mampu 400 liter per detik atau sama dengan 182 kw.

"Saya rasa salah satu penyebab lainya adalah adanya alih fungsi lahan perkebunan serta persawahan yang posisinya di mata air. Banyak berbagai pembangunan vila dan pemukiman warga yang sekarang marak terjadi mempengaruhi debit air ke sungai Cianjur, hingga air yang masuk ke PLTMH semakin menipis," kata Susila, Minggu (15/9/2013).

Akibat debit air yang berkurang, empat mesin yang ada di PLTMH Cijedil hanya dua mesin saja yang bisa beroperasi. Bahkan dalam kondisi minim, terpaksa hanya satu mesin yang beroperasi. "Sebenarnya ini sangat krusial, Selama ini PLTMH dapat mengaliri listrik kawasan utara Cipanas, Puncak, Sukaresmi, Pacet, Cugenang, Warung Kondang, hingga daerah Selatan seperti Sindangbarang, dan Tangeung. Sehingga akibat yang terjadi pasokan listrik ke daerah tersebut tidaklah optimal.," tuturnya.

Pihaknya berharap, kondisi debit air bisa kembali normal. Lahan yang semestinya menjadi lahan hijau tidak dialih fungsikan. "Semua itu demi hajat hidup orang banyak. Kalau tidak dijaga dan perusakan terjadi, maka akan berpengaruh kepada produksi listrik," katanya.

Maman (36) warga Desa Cibereum Kec. Cugenang mengaku debit air yang mengalir ke Sungai Cianjur ini semakin berkurang, sehingga warga pun sebenarnya bingung. "Debit air di sungai Cianjur ini memang semakin berkurang dan mengering. Ini mungkin pengaruh musim kemarau. Tentunya ini bisa berpengaruh pada produksi di PLTMH," katanya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Polres Cianjur akhirnya menangkap tiga orang yang diduga melakukan pemukulan terhadap peneliti tim geologi Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) Situs Megalitikum Gunung Padang, Jumat (13/9). Ketiga pelaku kini diamankan di Mapolres Cianjur untuk pengusutan lebih lanjut.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, ketiga pelaku yang diduga melakukan pemukulan terhadap anggota tim geologi TTRM Gunung Padang berinisial Z, D dan G. Bahkan pelaku Z diduga ditengarai menjadi penyebar informasi peledakan yang dilakukan peneliti dalam kegiatannya.

"Saat ini ketiga pelaku sudah kami amankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap motif atas tindakan yang dilakukannya. Kita masih dalami pemeriksaan untuk pengembangan," kata Kapolres Cianjur, AKBP Dedy Kusuma Bakti.

Menurut Dedi, berdasarkan hasil pemeriksaan atas pengakuan para pelaku, ketiganya merupakan warga sekitar Gunung Padang. Ketiganya ditahan atas tuduhan melakukan tindakan kekerasan terhadap peneliti dari TTRM.

Dedy meminta masyarakat untuk tidak mudah terpancing dengan adanya informasi atau isu-isu yang menyesatkan terkait adanya tim peneliti di Gunung Padang. Tim peniliti kata Dedy sebelumnya telah melakukan koordinasi dengan pihaknya.

"Penelitian terhadap Gunung Padang ini menyangkut orang banyak. Penelitian bukan hanya untuk bangsa Indonesia saja, tapi lebih dari itu. Mereka dalam menjalankan aktivitasnya sudah melakukan kordinasi dengan kami. Kami meminta jangan ada informasi yang justru merugikan orang banyak," kata Dedy.

Adanya tindakan pemukulan yang menimpa para peneliti dari TTRM, penelitian terhadap Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, terpaksa dihentikan sementara. Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang melanjutkan penelitian pada pekan lalu diserang sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab.

Berdasarkan informasi, dugaan pemukulan terhadap TTRM diduga terkait risetnya yang melakukan peledakan dengan petasan di salah satu bagian situs. Untuk mengungkap penyebab pastinya pihak Polres Cianjur saat ini tengah mendalaminya [KC-02]***.
no image
CIANJUR, [KC].- Sebagai bentuk tindak lanjut atas desakan warga Cianjur selatan, akhirnya Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Kabupaten Cianjur mulai membahas agenda pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Cianjur selatan, Rabu (11/9). Direncanakan susunan susunan Pansus Pemekaran DOB Cianjur selatan diumumkan Rabu malam.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cianjur Ade Barkah Surachman mengatakan, Banmus yang digelar, Banmus yang dilaksanakan membahas mengenai surat desakan dari masyarakat Cianjur selatan yang menginginkan segera dilakukannya pemekaran wilayah. Sebagai salah satu bentuk tahapan, permohonan tersebut ditindaklanjuti dengan pembentukan Pansus.

Dikatakan Ade yang merupakan Ketua DPD Partai Golkar Kab. Cianjur itu, hasil dari Pansus nantinya selanjutnya akan dibawa ke sidang Paripurna DPRD. Dalam Paripurna masing-masing fraksi diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangannya mengenai hasil dari Pansus layak atau tidaknya pemekaran Cianjur selatan.

"Masalah waktu cepat atau tidaknya pansus sebenarnya tergantung juga dengan pihak paguyuban sendiri menyangkut keakuratan data-data kajian dan administrasinya. Karena itu menjadi bahan yang sangat dibutuhkan," kata Ade.

Dijelaskan Ade, jika dalam pandangan umum masing-masing fraksi dan menyetujui adanya pemekaran dan dinilai layak maka selanjutnya akan diterbitkan surat rekomendasi dari DPRD mengenai pemekaran DOB Cianjur selatan. "Ini semuanya masih dalam proses, kita tunggu saja hasil dari Pansus seperti apa nantinya," tegas Ade.

Pemekaran Cianjur selatan lanjut Ade sudah tidak bisa ditunda lagi. Segala persyaratan sepertinya sudah memenuhi untuk menjadi DOB. "Sebenarnya pemekaran ini bisa saja terjadi pada tahun 1999 silam. Sudah 14 tahun tertunda, kita harapkan tidak ada lagi keberatan dengan alasan keutuhan daerah. Kabupaten Cianjur itu sudah terlalu 'gemuk' yang memiliki 32 kecamatan," katanya.

Dilihat dari potensi sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM), wilayah Cianjur sudah sangat mumpuni untuk menjadi daerah otonom. Apalagi kalau dikaitkan dengan sinergitas program pengembangan Jabar Selatan. "Potensi baik SDM maupun SDA sangat layak, saya yakin kalau nantinya menjadi DOB akan lebih maju dan berkembang," tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cianjur lainnya, Saep Lukman. Menurut Saep, tidak ada alasan bagi pihak eksekutif menghalangi keinginan masyarakat Cianjur selatan untuk memisahkan diri. Keterbatasan infrastruktur, kata Saep, jangan dijadikan alasan pihak eksekutif menunda keinginan memekarkan diri.

"Salah satu solusi untuk menjadikan wilayah Cianjur lebih maju dan berkembang adalah dengan pemekaran. Dengan adanya pemekaran diharapkan tidak lagi menjadi daerah yang tertinggal," kata Saep.

Ketua Tim Teknis Pemekaran Cianjur Kidul, Suryaman Anang Suadma mengatakan, sudah sepantasnya para wakil rakyat dimasa akhir jabatannya memberikan 'kado' istimewa bagi masyarakat Cianjur selatan. Kado tersebut tidak lain adalah menyetujui adanya pemekaran DOB Cianjur selatan. Apalagi saat ini Cianjur selatan masuk 8 besar daftar tunggu wilayah yang akan dimekarkan.

"Keinginan kami ini tidak main-main. Tim teknis kami ini terdiri dari berbagai komunitas. Ada dari DPRD, masyarakat, eksekutif, maupun akademisi. Sebetulnya sudah tidak ada masalah untuk pemekaran ini, tinggal menunggu tim kajian dari eksekutif. Nanti setelah pansus, akan diparipurnakan, lalu dibuat nota rekomendasi. Kami ingin semua itu berjalan dengan baik," tegasnya [KC-02]***.


CIANJUR, [KC].- Sebuah gudang tempat penyimpanan  peti telor (kas telor) milik H. Dede Supyanudin (41) di Kampung Neglasari RT 01/RW 11 Desa Haurwangi Kecamatan haurwangi Kabupaten Cianjur, Sabtu (7/9/2013) musnah terbakar. Api diduga berasal dari tempat pembakaran limbah disamping gudang yang tertiup angin hingga menyambar bagian bangunan gudang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, hanya saja kerugian materi ditaksir mencapai Rp 400 juta.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, kebakaran yang meluluh lantakkan bangunan gudang milik mantan anggota DPRD Cianjur itu terjadi sekitar pukul 12.10 WIB. Saat itu tempat pembakaran limbah yang ada persis disamping kiri bangunan sedang menyala. Diduga tertiup angin, percikan api dari tempat pembakaran limbah itu menyambar bangunan gudang yang terdapat beberapa barang mudah terbakar.

Dalam sekejab api menyambar dan membesar menghanguskan barang-barang yang ada didalam gudang. Hembusan angin yang cukup kencang membuat api dalam sekejab membesar dan menghanguskan seluruh barang yang ada didalam gudang.

“Saat itu kami melihat api sudah membesar, beberapa warga berupaya memadamkan api dengan peralatan sederhana. Banyaknya barang yang mudah terbakar dan tiupan angin kencang membuat kobaran api semakin membesar dan sulit untuk dipadamkan,” kata Heri bin Elim (39) seorang warga.

Disaat beberapa warga berupaya memadamkan api, dua unit mobil pemadam kebakaran dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tiba dilokasi setelah menerima laporan kebakaran. Dibantu oleh warga, para petugas pemadam kebakaran itu langsung menyemprotkan air kedalam bangunan gudang yang terbuat dari alumunium dan baja ringan itu.

Selang sekitar satu jam, api baru bisa dipadamkan. Namun tak urung gudang yang berisikan 20 ribu peti telor itu luluh lantak rata dengan tanah. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Hanya kerugian meteri yang ditaksir mencapai sekitar 400 juta.

Kapolres Cianjur AKBP Tedy Kusuma Bakti melalui Kasubag Humas Polres Cianjur AKP Achmad Prijatna membenarkan adanya peritiwa kebakaran yang teradi pada siang bolong itu. Hasil dari keterangan sejumlah saksi diduga kuat kebakaran tersebut berasal dari kobaran api yang ada pada pembakaran limbah disamping bangunan.

“Dugaan kuat api berasal dari tempat pemkaran limbah disamping gudang yang terbawa angin dan menyambar tumbukan peti telor yang didalamnya banyak kertas korban sebagai alasnya. Sejumlah saksi sedang kita mintai keterangan,” katanya [KC-02]***.

CIANJUR, [KC].-  Bupati Cianjur H. Tjetjep Muchtar Soleh, Jum'at (6/9/2013) memimpin langsung Jum'at bersih dengan melakukan pembersiahan puing-puing bekas kebakaran dan sampah di Pasar Induk Cianjur Jalan Suroso. Turut bergotongroyong sejumlah aparat kepolisian, TNI dan para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkungan Pemkab Cianjur.

Kegiatan yang dilaksanakan sejak pukul 06.30 WIB itu bupati juga tidak segan-segan mengayunkan cangkul untuk mengumpulkan tumpukan sampah dan puing-puing sisa kebakaran. Kemudian sampah-sampah itu dinaikkan kedalam bak sampah yang sudah disiapkan untuk selanjutnya diangkut dengan kendaraan truk sampah.

"Melalui Jum’at bersih ini akan timbul kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan, kenyamanan dan lingkungan yang sehat. Serta meningkatkan kembali rasa gotong royong serta kekompakan khususnya warga PIC dan umumnya seluruh warga masyarakat Kabupaten Cianjur," kata Tjetjep disela-sela aksi Jum'at bersih.

Dikatakan Tjetjep, apa yang dilakukan pihaknya bersama unsur pejabat lainya dilingkungan Pemkab Cianjur serta unsur kepolisian dan TNI merupakan upaya untuk memberikan contoh tauladan kepada masyarakat terutama dalam menggerakkan kembali kegiatan Jum’at bersih.

"Kita harapkan pada masa yang akan datang perilaku hidup bersih dan sehat bisa menjadi gaya hidup masyarakat Cianjur. Bukan suatu keterpaksaan melainkan suatu kebutuhan pokok yang tidak bisa dihilangkan atau dihindarkan," tegasnya.

Saeful (40) seorang warga yang turut dalam Jum'at bersih dengan membersihkan sampah dan puing-puing bekas kebakaran PIC berharap, agar apa yang dilakukan oleh para pejabat utamanya bupati tidak hanya sekedar seremoni saja. Melainkan harus dilakukan dengan berkesinambungan dengan penuh rasa tanggungjawab.

"Sebagai masyarakat kami memberikan apresiasi apa yang dilakukan oleh para pejabat di Cianjur ini. Namun jangan sampai hanya memanfaatkan momen saja, ini harus benar-benar dilakukan dengan penuh kesadaran. Kalau pejabatnya sudah memberikan contoh yang baik, saya rasa masyarakatnya juga akan turut," paparnya  [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Setelah hilang sejak Minggu (1/9/2013), dua dari tiga nelayan yang kapalnya pecah dihantam ombak diperairan Agrabinta Kab. Cianjur akhirnya ditemukan, Kamis (5/9/2013) sekitar pukul 11.00 WIB. Kedua korban yakni Bandi dan Sasar warga Kampung Cinumpang Desa Tanjungsari Kec. Agrabinta ditemukan oleh tim gabungan dipesisir pantai daerah Cikole Desa Sinarlaut.

"Saat ditemukan kondisi korban mengapung dan sudah bengkak. Jaraknya berdekatan dan sudah dalam kondisi meninggal," kata Zaenal Arif (42) seorang warga yang turut membantu pencarian korban.

Sebelum ditemukan, warga bersama aparat gabungan terus menyisir sepanjang bibir pantai untuk mencari korban. Selain itu beberapa warga dengan menggunakan kapal nelayan juga melakukan penyisiran.

"Pencarian terus menerus dilakukan oleh warga bersama aparat. Alhamdulillah akhirnya semuanya berhasil ditemukan. Sebelumnya seorang korban ditemukan dalam kondisi selamat. Tapi dua korban ditemukan hari ini sudah dalam kondisi meninggal," katanya.

Dengan demikian tiga korban yang sempat hilang ditelan ganasnya ombak perairan Agrabinta sudah ditemukan semuanya. Dua korban yang meninggal langsung dibawa ke rumahnya masing-masing untuk dikebumikan.

"Kedua korban oleh keluarganya langsung diminta untuk dibawa kerumahnya. Selaku warga kami berharap pemerintah dalam hal ini mau memberikan bantuan kepada keluarga korban. Mereka merupakan keluarga yang kurang mampu. Kami berharap ada santunan, apalagi ini musibah," paparnya.

Diberitakan sebelumnya tiga orang nelayan asal Kampung Cikakap dan Cinumpang Desa Tanjungsari Kecamatan Agrabinta tenggelam diperairan Agrabinta setelah kapal yang mereka tumpangi pecah disapu ombak saat mereka tengah melaut, Minggu (1/9/2013). Satu orang nelayan bernama Om Joy berhasil ditemukan di Kampung Cikole dalam kondisi selamat, Rabu (4/9/2013) siang.

Sementara dua nelayan lainya yakni Bandi dan Sasar yang merupakan warga Kampung Cinumpang Desa Tanjungsari masih dalam pencarian. Korban diduga tenggelam terseret ombak yang mengahncurkan kapal mereka.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, ketga nelayan itu berangkat melaut untuk mencari ikan pada Sabtu (31/8/2013) sore. Mereka tetap memaksakan diri meski gelombang laut kurang bersahabat.

Sesampainya ditengah lautan atau sekitar empat kilometer dari bibir pantai, tiba-tiba ombak besar menghantam kapal yang mereka tumpangi. Besarnya ombak membuat kapal oleng dan diduga tenggelam.

"Kami menerima kabar dari nelayan lain, pada Minggu (1/9/2013) sekitar pukul 13.00 WIB. Kami bersama warga lainya dan aparat dari kepolisian berupaya mencari korban yang tenggelam. Namun baru Om Joy yang berhasil ditemukan dengan selamat tadi siang (kemarin)," kata Zaenal Arif (42) seorang warga yang turut mencari para korban.

Warga dan aparat dari kepolisian masih terus melakukan pencaraian dengan menyisir bibir pantai. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil. Dua orang korban yang tenggelam masih belum berhasil ditemukan.

"Om Joy saja saat ditemukan dalam kondisi yang lemah. Sepertinya teromabang-ambing berjam-jam ditengah laut. Dua orang temanya belum ada kabar, kami bersama warga lainnya dan pihak aparat masih terus melakukan pencarian," katanya.

Tenggelamnya tiga nelayan Agrabinta tersebut juga dibenarkan oleh Camat Agrabinta Rus Ruskandar Patra. Menurut camat yang akrab dipanggil Ade Rus itu, lokasi tenggelamnya kapal berjarak sekitar 4-6 kilometer dari bibir pantai. Kapal tenggelam diduga pecah setelah disapu gelombang.

"Informasinya kapal nelayan itu dihantam gelombang besar hingga pecah dan tenggelam. Kami bersama warga dan pihak kepolisian serta TNI masih terus melakukan pencarian. Baru seorang korban yang ditemukan dalam kondisi selamat, dua orang lainya masih dalam pencarian," kata Rus saat dihubungi melalui ponselnya.

Pihaknya mengakui, perairan Agrabinta belakangan kurang bersahabat. Tingginya gelombang membuat para nelayan harus ekstra hati-hati jika memaksakan melaut. "Kapal nelayan itu tenggelam akibat gelombang tinggi, ini peristiwa kedua setelah tenggelamnya kapal yang ditumpangi imigran gelap," katanya.

Pencarian akan terus dilakukan terhadap korban yang belum ditemukan. Sejauh ini masih dilakukan oleh masyarakat nelayan, pihak kepolisian dan TNI setempat dan aparat dari kecamatan. "Pencarian masih dilakukan oleh masyarakat kepolisian, TNI dan unsur di kecamatan. Kita belum melibatkan pihak luar. Mudah-mudahan saja korban bisa segera ditemukan," harapnya  [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Sosok mayat berjenis kelamin laki-laki gegerkan warga Kampung Babakan Banten RT 04/RW 05, Desa Cinangsi, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Selasa (3/9). Mayat tersebut ditemukan oleh warga di sebuah perkebunan karet dekat pemukiman warga setempat dengan kondisi yang mengenaskan.

Informasi yang berhasil dihimpun, mayat laki-laki yang belakangan diketahui identitasnya Amim (27) warga Kampung Babakan Buntu Desa Cinangsi, Kec. Cikalongkulon, Kab. Cianjur itu pertama kali ditemukan oleh seorang penyadap karet, Oni bin Subki (50).

Saat ditemukan pertama kali mayat dalam kondisi tertelungkup. Kondisinya sangat mengenaskan. Terdapat luka sobek dibagian perut dengan usus terburai keluar.

Informasi penemuan mayat itu dalam sekejap menyebar ditengah-tengah warga. Sejumlah warga berdatangan untuk melihat dan diantar warga ternyata ada yang mengenali sosok mayat yang diduga korban pembunuha itu.

Aparat kepolisian dari Polsek Cikalongkulon dan Polres Cianjur yang tiba di lokasi tempat ditemukannya mayat langsung melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara). Selain terdapat luka sobek di bagian perut, dari hidung korban juga mengeluarkan darah yang sudah mengering.

Namun pihak kepolisian belum bisa memastikan apakah mayat tersebut korban tindak kekerasan atau bukan. Dikatakan Kapolsek Cikalongkulon, AKP Pardianto melalui Kasubag Humas Polres Cianjur, AKP A. Suprijatna, pihaknya masih mengumpulkan keterangan dari beberapa orang saksi serta mengumpulkan sejumlah barang bukti.

"Dari keterangan yang kita peroleh, korban pergi dari rumah orangtuanya Senin (2/9) lalu dan saat ditemukan dalam kondisi seperti ini," kata Ahmad kepada wartawan, Selasa (3/9).

Korban sendiri, tutur Ahmad, berdasarkan keterangan dari orangtuanya tengah mengalami gangguan jiwa yang dideritanya sejak 4 tahun lalu dan tidak pernah jauh meninggalkan rumah.

"Guna penyelidikan lebih lanjut korban selanjutnya kita bawa ke RSUD Cianjur untuk menjalani outopsi," ungkapnya [KC-02]***.

CIANJUR, [KC].- Kabupaten Cianjur dijadikan tempat pilihan oleh Kementerian Sosial untuk Praktek Belajar Lapangan (PBL) bagi para Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang baru direkrut angkatan 2013. Salah satu pertimbangaanya Kabupaten Cianjur dinilai sebagai salah satu Kabupaten yang terbaik dalam penanganan Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM).

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumitra melalui Kepala Bagian Sosial Din Din didampingi Kepala Seksi Bantuan dan Perlindungan Sosial (Balinsos) Nunung Sahrudin mengatakan, sebanyak 165 Pendamping PKH hasil dari perekrutan 2013 akan melakukan PBL diwilayah empat kecamatan di Cianjur. Ke empat kecamatan yang dipilih antara lain Kecamatan Gekbrong, Cilaku, Cianjur dan Ciranjang.

"Para Pendamping PKH tersebut direncanakan akan melakukan PBL selama dua hari terhitung sejak Kamis-Jum'at (5-6/9). Nantinya para pendamping ini akan tinggal dirumah-rumah warga yang menjadi wilayah PBLnya masing-masing," kata Din Din saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (3/9).

Para Pendamping PKH selama melakukan PBL akan belajar tentang strategis penanganan PKH. "Dipilihnya Kabupaten Cianjur menjadi PBL bagi Pendamping PKH tidak terlepas dengan prestasi yang diraih. Kabupaten Cianjur dianggap paling baik dalam penanganan RTSM PKH di Jawa Barat dan Indonesia," katanya.

Hal itu kata Din Din menjadi suatu kebanggan. Untuk itu berbagai persiapan kini tengah dilakukan. "Saat ini kita tengah melakukan penjajakan untuk mempersiapkan lokasi, desa mana saja yg akan dikedepankan. Mereka akan disebar di rumah penduduk atau tempat tinggal masyarakat," tegasnya.

Untuk Kabupaten Cianjur, jumlah Pendamping yang baru direkrut sebanyak 6 orang. Mereka dengan wilayah tugas di Kecamatan Haurwangi sebanyak tiga orang dan sisanya diwilayah Kecamatan Takoka.

"Untuk Kabupaten Cianjur baru 19 kecamatan penerima manfaat PKH, termasul dua kecamatan yang terbaru yakni Haurwangi dan Takoka. Rencananya kita akan mengusulkan juga kecamatan lainya pada tahun depan. Mudah-mudahan saja terealisasi, karena program ini program pemerintah pusat," paparnya [KC-02]***.
CIANJUR, [KC].- Perekaman data elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) di Kabupaten Cianjur realisasinya sudah mencapai sekitar 81 persen dari jumlah wajib KTP sebanyak 1.627.000 orang. Ditargetkan pada akhir Desember 2013, para wajib e-KTP itu sudah melakukan perekaman data.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Cianjur H. Hilman Kurnia mengatakan, hingga saat ini jumlah warga Cianjur yang wajib e-KTP dan sudah melakukan perekaman data jumlahnya mencapai sekitar 1.360.000 orang atau sekitar 81 persen dari target.

"Kita terus mensosialisasikan kepada warga yang belum melakukan perekaman data e-KTP untuk segera melakukan perekaman data dengan mendatangi kecamatan masing-masing. Kita berharap pada akhir Desember 2013 mendatang target kita bisa tercapai," kata H. Hilman Kurnia saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (3/9).

Untuk menyisir warga yang wajib KTP, pihaknya sengaja menyediakan mobil khusus lengkap dengan perlengkapan peralatan menyisir sekolah SMK/SLTA untuk melakukan perekaman data e-KTP kesetiap pelajar. Tidak hanya yang berusia 17 tahun keatas, para pelajar yang usianya masih 16 tahun juga dilakukan perekaman data.

"Untuk yang 16 tahun kita hanya melakukan perekaman datanya saja. Saat nanti sudah usia 17 tahun tidak lagi melakukan perekaman tinggal melakukan pencetakan. Ini juga berlaku kepada warga lainya, tidak hanya pelajar," katanya.
 
Masih Ada Yang Salah

Pihaknya mengakui, e-KTP yang sudah dicetak dan dibagikan kepada warga, masih terdapat beberapa kesalahan. Diantara kesalahan itu terletak pada nama dan tempat tanggal lahir.

"Sekitar 9.000 e-KTP yang sudah di cetak terjadi beberapa kesalahan. Diantaranya nama dan tempat tanggal lahir. Itu merupakan hal yang sangat prinsip sekali. Untuk perbaikannya bisa dilakukan pada tahun 2014 mendatang. Saat ini sebatas penghimpunan data," kata Hilman.

Sementara itu Bambang, seorang petugas perekaman data e-KTP Kecamatan Cugenang mengaku masih banyak wargayang datang untuk melakukan perekaman. Warga tersebut kebanyakan merupakan warga yang sebelumnya telah mendapatkan undangan, tapi belum bisa melakukan perekaman data.

"Masih ada warga yang datang melakukan perekaman data e-KTP. Kebanyakan warga yang bekerja diluar daerah. Mereka saat mendapatkan undangan tidak bisa Perekaman data elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) di Kabupaten Cianjur realisasinya sudah mencapai sekitar 81 persen dari jumlah wajib KTP sebanyak 1.627.000 orang. Ditargetkan pada akhir Desember 2013, para wajib e-KTP itu sudah melakukan perekaman data.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Cianjur H. Hilman Kurnia mengatakan, hingga saat ini jumlah warga Cianjur yang wajib e-KTP dan sudah melakukan perekaman data jumlahnya mencapai sekitar 1.360.000 orang atau sekitar 81 persen dari target.

"Kita terus mensosialisasikan kepada warga yang belum melakukan perekaman data e-KTP untuk segera melakukan perekaman data dengan mendatangi kecamatan masing-masing. Kita berharap pada akhir Desember 2013 mendatang target kita bisa tercapai," kata H. Hilman Kurnia saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (3/9).

Untuk menyisir warga yang wajib KTP, pihaknya sengaja menyediakan mobil khusus lengkap dengan perlengkapan peralatan menyisir sekolah SMK/SLTA untuk melakukan perekaman data e-KTP kesetiap pelajar. Tidak hanya yang berusia 17 tahun keatas, para pelajar yang usianya masih 16 tahun juga dilakukan perekaman data.

"Untuk yang 16 tahun kita hanya melakukan perekaman datanya saja. Saat nanti sudah usia 17 tahun tidak lagi melakukan perekaman tinggal melakukan pencetakan. Ini juga berlaku kepada warga lainya, tidak hanya pelajar," katanya.
 
Masih Ada Yang Salah
Pihaknya mengakui, e-KTP yang sudah dicetak dan dibagikan kepada warga, masih terdapat beberapa kesalahan. Diantara kesalahan itu terletak pada nama dan tempat tanggal lahir.

"Sekitar 9.000 e-KTP yang sudah di cetak terjadi beberapa kesalahan. Diantaranya nama dan tempat tanggal lahir. Itu merupakan hal yang sangat prinsip sekali. Untuk perbaikannya bisa dilakukan pada tahun 2014 mendatang. Saat ini sebatas penghimpunan data," kata Hilman.

Sementara itu Bambang, seorang petugas perekaman data e-KTP Kecamatan Cugenang mengaku masih banyak wargayang datang untuk melakukan perekaman. Warga tersebut kebanyakan merupakan warga yang sebelumnya telah mendapatkan undangan, tapi belum bisa melakukan perekaman data.

"Masih ada warga yang datang melakukan perekaman data e-KTP. Kebanyakan warga yang bekerja diluar daerah. Mereka saat mendapatkan undangan tidak bisa datang karena masih bekerja," kata Bambangdatang karena masih bekerja," kata Bambang [KC-02]***.
no image
CIANJUR, [KC].- Menjelang penerimaan calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), pemohon kartu pencari kerja atau kartu kuning di Kab. Cianjur meningkat drastis. Diperkirakan dalam sehari rata-rata mencapai 200 pemohon yang mengajukan pembuatan kartu kuning.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kab. Cianjur Sumitra melalui Kepala Seksi Bina Lembaga Usaha Ketenagakerjaan Dinsosnakertrans Kabupaten Cianjur, Ahmad Ubaidillah mengungkapkan, peningkatan pemohon kartu kuning juga tidak terlepas dengan selepas libur lebarran Idul Fitri 1434 Hijriyah.

"Informasi penerimaan CPNS tidak bisa dipungkiri menjadi penyumbang meningkatnya pemohon kartu kuning. Selain itu banyak pencari kerja lainya yang merupakan dampak dari pulang kampung. Mereka biasanya mengajak sanak saudarannya untuk mencari kerja," kata Ubaidillah, Senin (2/9/2013).

Peningkatan pemohon kartu kuning sudah dirasakan sejak setelah libur lebaran. Apalagi ditambah dengan adanya informasi penerimaan CPNS menambah jumlah pemohon. Hanya saja lantaran keterbatasan personel yang ada di Dinsosnakertrans, pemohon kartu kuning dalam satu hari dibatasi maksimal 200 orang.

"Para pemohon kartu kuning untuk perekrutan CPNS rata-rata S.1. Sedangkan dari umum kebanyakan SLTA. Mereka rata-rata untuk melamar pekerjaan diluar Cianjur. Padahal di Cianjur juga masih banyak kesempatan," katanya.

Hal itu didasarkan dengan dengan adanya peluang kesempatan kerja yang ternyata tidak terpenuhi kuotanya. "Baru-baru ini saja ada sebuah perusahaan yang membutuhkan pegawai untuk mengisi formasi. Saat itu dibutuhkan100 orang. Tapi ternyata minat masyarakat masih sangat minim. Yang mendaftar hanya 55 orang dan yang diterima hanya 40 orang," katanya.

Dalam pembuatan kartu kuning, pihak Dinsosnakertrans Cianjur memprioritaskan masyarakat yang berasal dari wilayah Cianjur selatan untuk didahulukan. Pertimbangannya karena lokasi yang cukup jauh dari pusat kota.

"Kita prioritaskan pemohon dari wilayah Cianjur selatan. Kasihan mereka sudah jauh-jauh, tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kasihan kalau sudah datang jauh-jauh tiba-tiba kita cancel," tegasnya.

Pihaknya belum bisa memprediksikan sampai kapan pemohon pembuat kartu kuning terus membeludak. Namun jika dikaitkan dengan perekrutan calon PNS, diprediksi kondisi itu akan terjadi hingga akhir September. "Kalau dikaitkan dengan CPNS dimungkinkan akhir bulan September, karena pada awal Oktober. Seleksinya," katanya [KC-02]***.
no image
CIANJUR, [KC].- Pos Bantuan Hukum (Posbakum) dilingkungan Pengadilan Ngeri (PN) Cianjur secara resmi dikukuhkan, Senin (2/9/2013). Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh.

Dalam kesempatan itu, bupati menyampaikan ucapan selamat atas pengukuhan Posbakum. Pihaknya berharap mudah-mudahan dengan pelantikan kerjasama yang baik antara jajaran PN Cianjur dengan Pemerintah Kabupaten Cianjur, dapat lebih di tingkatkan baik dalam koordinasi, pemberian bimbingan dan pengawasan serta penegakan hukum.

Sudah menjadi tugas dan kewajiban Pemerintah dan jajaran PN Cianjur untuk secara terus menerus memberikan pencerahan kepada masyarakat secara tepat, akurat, proporsional dan professional dengan kerjasama yang baik, saling bahu membahu serta saling berkoordinasi dengan semua pihak. "Harapan untuk menjadikan masyarakat Cianjur yang taat akan sadar hukum benar-benar akan terwujud," kata Tjetjep.

Bupati juga mengharapkan, peran pos bantuan hukum yang diperuntukan bagi orang yang tidak mampu baik di bidang materi maupun di bidang ilmu hukum, dalam menjalankan atau menyelesaikan proses hukumnya di pengadilan yang meliputi konsultasi hukum, penyediaan penasehat hukum untuk kasus pidana dan perdata serta pembebasan biaya perkara dapat lebih berperan bagi masyarakat pencari keadilan.

"Keberadaan Posbakum ini sangat ditunggu oleh masyarakat yang kurang mampu. Kita berharap bisa berjalan secara maksimal," katanya [KC-02]***.