May 2015
CIANJUR,-[KC],- SMK IT Nurul Huda Cianjur menggelar acara perpisahan,  sekaligus pengukuhan alumni, Sabtu (30/5). Acara yang berlangsung di halaman sekolah setempat dipenuhi suasana haru itu dihadiri Ketua Yayasan Nurul Huda, ketua komite sekolah, dunia usaha dan  industri serta para orang tua siswa. Selama acara berlangsung, siswa setempat menampilkan upacara adat pelepasan dan berbagai pertunjukan kreasi seni.

Kepala SMK IT Nurul Huda, Asep Moh. Muhsin, S.PdI mengapresiasi kinerja panitia  yang telah bekerja keras mempersiapkan acara perpisahan tersebut. ”Tahun ini kelas XII dikukuhkan. Mereka berasal dari jurusan Teknik Komputer Jaringan,” sebutnya. Diakui,  siswa tersebut lulus dengan nilai yang memuaskan. Selain berhasil lulus 100 persen, siswa SMK IT Nurul Huda  telah meraih sejumlah prestasi di bidang akademik maupun non akademik.

Kegiatan wisuda siswa-siswi kelas XII SMK IT Nurul Huda  Cianjur tahun ini, merupakan wisuda yang pertamakali dilaksanakan, wisuda ini digelar dimaksudkan agar para siswa memiliki kebanggaan tersendiri dalam kegiatan ini sehingga akan menimbulkan kesan yang mendalam sampai kapan pun, dan sebagai motivasi agar mereka dapat melanjutkan studinya ke perguruan tinggi sekalipun dirinya bisa sambil bekerja. Ungkap Asep.

Dalam kesempatan itu juga sekolah mengumumkan siswa-siswi yang meraih  nilai UN tertinggi antara lain Ahmad Endang Ramdani  disusul Fitri Kamalasari.

Asep menambahkan, yang paling menjadi kebanggaan adalah mereka keluar dari SMK IT Nurul Huda dengan membawa kebiasaan yang positif, yakni kebiasaan sholat berjamaah, kebiasaan sholat sunnat tajjud, kebiasaan sholat dluha, dan kebiasaan menghafal Al-Quran, serta kebiasaan positif lainnya.

" Alhamdulillah hingga saat ini sudah ada siswa kita yang sudah hafal 24 Juz, karena standar minimal kita mereka keluar dari SMK harus minimal hafal 3 Juz" Ungkap Asep.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil mengantarkan semua siswa hingga dinyatakan lulus seratus persen,  permohonan maaf mewakili seluruh guru dan staf kepada seluruh siswa-siswi kelas XII  selama tiga tahun pembelajaran di SMK belum sesuai dengan harapan orang tua." papar Asep.  [KC.12]**
CIANJUR, [KC],- Sejak beredarnya "atribut misterius" yang menyandingkan Herman dan Ade Barkah sebagai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. Belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab dengan keberadaan atribut itu. Namun banyak pihak mensinyalir atribut itu muncul dari kalangan arus bawah yang menghendaki kedua bakal calon tersebut maju berpasangan sebagai Cabup dan Cawabup.

Terpisah Herman Suherman mengungkapkan, terkait pasangan calon yang akan mendampingi dirinya maju dalam Pilkada nanti, ia menyerahkan pada mekanisme partai. Kalaupun memang sekarang banyak isu kang Ade Barkah Surachman menjadi pasangan, tentu publik yang berhak menilai itu.

“Tapi jujur, saya sendiri merasa senang jika memang gagasan arus bawah ini bisa direalisasikan menjadi sebuah keputusan politik. Saya melihat sosok kang Ade memang memiliki segudang pengalaman yang bisa memberikan masukan terhadap diri saya dalam membangun Cianjur kedepan. Namun apakah itu bisa dilaksanakan atau tidak, keputusannya tentu ada di partai,” tandas Herman ditemui beberapa waktu lalu.

Selain isu yang santer tentang Herman Suherman dan Ade Barkah, figur lainnya yang ramai dipergunjingkan akan menjadi calon kuat dalam Pilkada mendatang, masih malu-malu untuk melaksanakan kegiatan berbau politik. Bahkan terkesan, calon lainnya seperti Suranto, menunggu kontalasai politik yang jelas ditingkat partai yang bakal maju dalam Pilkada.

Meski begitu, Suranto kini digadang-gadang telah memiliki rekomendasi dari Partai PDI Perjuangan untuk maju sebagai Cabup mewakili partai berlambang banteng moncong putih itu. Sayang saat dikonfirmasi, Suranto masih enggan untuk menjawab pertanyaan itu. Dia bahkan berkilah, bisa saja maju dari partai lain seperti partai koalisi Islam dan Gerindra.[KC.13]**
CIANJUR, [KC].- Untuk memastikan kebenarannya, Pengadilan Negeri (PN) Cianjur menggelar sidang Pemeriksaan Setempat (PS) di PT Yong Kharisma Utama Jaya, di Jalan Raya Bandung, Kecamatan Karangtengah, Cianjur, Kamis (28/5/2015).

Persidangan yang dilakukan langsung di lahan yang menjadi salah satu obyek yang disengketakan itu digelar untuk membuktikan kebenaran lahan sebagaimana yang tertuang di dalam berita acara persidagan.

"Biasanya, kalau ada sengketa kepemilikan, majelis hakim akan menggelar persidangan pemeriksaan setempat untuk meninjau secara langsung objek yang disengketaklan. Manfaatnya, dikemudian hari, majelis hakim mendapatkan kejelasan," terang Anggota Majelis Hakim PN Cianjur, Sayyed Tarmidzi.

Menurut Sayyed, setelah diperiksa, kurang lebih luas perusahaan yang bergerak di bidang karoseri dan terbesar di Kabupaten Cianjur tersebut luasnya lebih kurang 5 hektar. Saat ini, perusahaan itu sedang disengketakan oleh dua belah pihak, yakni Direktur 1 Bidang Marketing dan Keuangan, Nyoman Yudi Saputra dan Direktur Utama Lie Cie Liong.

"Kami belum bisa mengatakan itu sengketa internal atau eksternal. Misalnya kalau hanya menyangkut saham, RUPS dan lain-lainnya itu internal. Tapi kalau sudah menyangkut penggelapan, itu eksternal. Jadi, ya nanti lihat saja proses hukumnya bagaimana," jelas Sayyed.

Menurut Sayyaed, saat ini, masing-masing pihak memiliki bukti dan klaim serta versi masing-masing. Meski begitu, lanjut dia, yang dapat membuktikan pihak mana yang benar hanyalah melalui proses persidangan. "Ya kita lihat saja nanti di persidangan. Semua pasti jelas di situ," sambung dia.

Kuasa Hukum Lie Cie Liong, Jawalmen Girsang menjelaskan, bahwa duduk persoalannya adalah Yudi selaku Dirut I PT Yong Kharisma Utama Jaya itu menggugat agar perusahaan mengembalikan saham kepemilikannya atas perusahaan tersebut sebesar 25 persen.

Namun di sisi lain, perusahaan juga menduga bahwa Yudi sebagai Direktur 1 kala itu, dalam kurun waktu 5 tahun sejak 2008-2014, diduga telah menggelapkan uang perusahaan senilai Rp 6-8 milyar.
"Yudi ini tidak bisa membuktikan pertanggungjawaban selama kurun waktu itu. Nyaris 80 persen penjualan perusahaan dipegang oleh dia," ujar Girsang.

Girsang juga menuturkan, sebetulnya, kehadiran Yudi di perusahaan tersebut diharap akan lebih menertibkan sisi administrasi, penjualan dan pembukuan. Pasalnya, dengan latar belakang pendidikan ekonomi yang dimilikinya bisa menjawab hal itu. Namun ternyata, kata Girsang, Yudi malah tidak membawa situasi baik dalam perusahaan.

"Direktur Utama yang lulus SMA berharap Yudi hadir untuk tertib administrasi kalau melakukan penjualan. Ini malah Yudi yang tidak tertib," ujar dia.

Sementara, ketika hendak dikonfirmasi berkenaan dengan sengketa perusahaan yang produknya sudah sampai ekspor ke berbagai negara tersebut, pihak Nyoman Yudi Saputra tidak dapat ditemui karena langsung meninggalkan lokasi perusahaan perakitan bodi mobil itu usai jalannya persidangan [KC-02/gp]**









CIANJUR, [KC].- Rencana Pemkab Cianjur yang akan membebaskan tanah disekitar areal Situs Megalitikum Gunung Padang sepertinya tidak akan berjalan mulus. Pasalnta sejumlah warga Desa Girimukti, Kecamatan Campaka menolak Pemkab itu yang melakukan pembebasan tanah secara bertahap. Warga menganggap bahwa pembebasan tanah dengan cara bertahap akan menimbulkan gesekan di antara warga.

Menurut Zenal, salah seorang warga setempat, pada prinsipnya warga sekitar Gunung Padang menyambut baik rencana pembebasan tanah anga dilakukan Pemkab Cianjur. Namun hendaknya, rencana tersebut dilakukan secara sekaligus. Jangan sampai dilakukan pembebasan itu secara bertahap.

"Rencananya pembebasan tanah akan dilakukan dalam dua tahap, yang diawali seluas 15 hektar. Kondisi ini jelas akan menimbulkan gesekan sesama warga," kata Zenal, kepada wartawan, Kamis (28/5/2015).
Zenal menjelaskan, keinginan warga untuk mendapatkan pembebasan tanah secara bersamaan, disebabkan agar seluruh warga dapat direlokasi secara bersama-sama.

"Kalau pembebasan secara bertahap, warga tahap pertama akan merasa resah. Sedangkan bagi warga yang masuk dalam tahapan ke dua akan tenang karena masih bisa tinggal disitu," katanya.

Zenal menilai, dengan adanya pembebasan tanah yang direncanakan dalam dua tahap akan menimbulkan ketidak harmonisan di kalangan warga, karena kemungkinan akan ada pembedaan harga jual tanah.
"Dampak lainnya juga yaitu akan menimbulkan perselisihan harga karena pada pembebasan yang pertama dengan yang berikutnya kemungkinan akan berbeda," jelasnya.

Selain itu juga, lanjut Zenal, hingga saat ini pihaknya bersama warga belum mengetahui secara rinci rencana pembebasan tanah dikarenakan tidak ada akses informasi baik ke pemkab, provinsi maupun pusat, terkait hal tersebut.

"Sejauh ini memasuki tahapan perencanaan dan persiapan pembebasan tanah saya kira selaku masyarakat Gunung Padang, belum cukup jelas. Kamipun tidak punya kontak person untuk masalah sosialisasi dengan pihak terkait. Misalnya kami membutuhkan informasi baik pusat maupun pemkab, sejauh ini kami tidak punya kontaknya," ucapnya.

Menurut rencana pembebasan tanah di kawasan situs Gunung Padang akan mencapai luas 29 hektar. Ini merupakan lokasi sebaran benda cagar budaya [KC-02/gp]** 







CIANJUR, [KC].- Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) diyakini dapat menjadi tonggak pertumbuhan perekonomian desa. Namun, desa masih kesulitan memulai mendirikannya akibat kurangnya pendampingan dan terkendala permodalan. Pemerintah Kabupaten Cianjur diminta serius melakukan pendampingan bagi pemerintah desa untuk mendirikan BUMDes.

Demikian ditegaskan Direktur Institute Social and Economy Development, Yusep Somantri dalam seminar yang bertajuk "Penatakelolaan Badan Usaha Milik Desa" di Hotel Bydiel, Kamis (28/5). Dikatakan Yusep, berdasarkan data Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kabupaten Cianjur, sejak 2007, BUMDes yang berdiri baru 32.

Jumlah tersebut jauh dari total desa yang ada di Kabupaten Cianjur, yakni 354 desa. BUMDes menjadi penting mengingat dari berbagai peruntukan alokasi dana desa, salah satunya digunakan untuk pengembangan BUMDes. "BUMDes itu perlu benar-benar menjadi perhatian pemerintah daerah. Dari jumlahnya, BUMDes yang ada kurang dari 10% jumlah desa, itupun masih perlu peningkatan," Yusep.

Puluhan perwakilan desa yang hadir pada kegiatan tersebut mengeluhkan sulitnya mendirikan BUMDes. Mereka mengaku bingung bagaimana memulai, memilih potensi yang bakal dikembangkan serta memperoleh modal yang diperlukan.

"Kondisi ini jelas berbeda dengan daerah lain yang telah maju bersama. Di Jawa Timur, misalnya, mereka kini tinggal menjalankan sistem yang mereka buat sebelumnya. Sedangkan di Cianjur, masih berkutat pada wilayah teknis, bagaimana mendirikan BUMDes," ujar Yusep.

Menurut dia, harusnya Pemkab memiliki roadmap yang fokus dalam pengembangan BUMDes. Roadmap itu nantinya berkembang menjadi sistem yang tinggal dijalankan oleh pemerintah desa. Di dalamnya tersusun kebijakan, pendampingan dan bantuan permodalan bagi BUMDes.

Diungkapkan Yusep, sejauh ini ada beberapa BUMDes yang sudah menunjukkan perkembangannya. Namun saat pergantian pemerintahan desa, perkembangan BUMDes pun terhenti.
"Itu karena tidak adanya sistem yang jelas. Sehingga setelah rezim kepala desanya berakhir, pemerintahan yang baru bingung bagaimana melanjutkannya," kata dia.

Kepala Sub Bidang Bina Sarana dan Prasarana Perekonomian Desa BPMPD Kabupaten Cianjur, Dendi Rinaldi mengatakan, BUMDes di Cianjur sebenarnya telah berdiri sebelum kebijakan pusat diterbitkan. Sejak 2007, sejumlah desa telah mendirikan BUMDes. Hanya saja, diakuinya, kondisi BUMDes masih membutuhkan peningkatan di sejumlah sisi.

"Di Cianjur masih menjadi PR, banyak desa belum mendirikan BUMDes. Identifikasi potensi desa, apa yang menjadi kebutuhan masyarakat sendiri serta tentang pencarian permodalan masih menjadi pembicaraan," ujarnya.

Berdasarkan Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang desa, 51% permodalan BUMDes menjadi kewajiban pemerintah desa. Untuk mencukupi hal tersebut, desa masih kelimpungan. Menurut Dandi, modal tersebut tidak hanya berupa uang namun juga barang ataupun tempat. Desa yang memiliki aset berupa lahan atau gedung, misalnya, dapat mencantumkannya sebagai modal. Jika BUMDes dilihat memiliki perkembangan yang baik, Pemkab dapat memberikan bantuan permodalan.

"Di Desa Kademangan, Kecamatan Mande, sejak 2007 telah merintis BUMDes dan berjalan hingga saat ini. Modalnya, dia mendapat bantuan air bersih dari pusat. Bantuan tersebut kini menjadi BUMDes yang berkembang menjadi tiga, yaitu usaha penyediaan sarana air bersih, usaha simpan pinjam dan pengelolaan pasar," kata dia.

Sebanyak 32 BUMDes yang kini terbentuk, kata Dandi, berasal dari 16 kecamatan. Jenis usahanya pun berbeda-beda, seperti usaha kredit motor, perusahaan simpan pinjam modal, pengelolaan hasil pertanian hingga penjualan sapu. Jenis usaha pun akan senantiasa berkembang dan bervariasi tergantung klasifikasi tiap desa.

"Jadi desa yang masih bingung mendirikan BUMDes bisa melihat potensi yang ada di desanya apa. Karena yang menjadi pasarnya kan masyarakat desa itu sendiri. Jadi yang dibutuhkan desa itu apa," kata dia.
Dandi mengatakan, pihaknya kini membidik minimal 50% jumlah desa telah terorientasi pendirian BUMDes. Hal tersebu ditargetkan tercapai hingga pertengahan 2016 mendatang.

"Tiap tahun kamu melakukan orientasi kepada 50 desa, sedangkan tahun ini ada 80 desa yang hendak diorientasi. Sehingga pada 2016 mendatang sedikitnya 180 desa telah siap mendirikan BUMDes," kata dia.
Sementara itu, menurut Lembaga Studi Desa (eLSD) Cianjur, pemerintah harus memastikan keberlanjutan BUMDes yang sudah terbentuk. Pasalnya dari berbagai program yang digelar jarang berlangsung kepanjangan. Mayoritas program akhirnya hanya dinikmati kepala desa.

"Ketua RT yang mendapat bantuan dari negara, malah mengklaim uang tersebut bukan milik negara tapi menjadi RT itu," ujar perwakilan eLSD Cianjur, Dudung Winara [KC-02/gp]**
















CIANJUR, [KC].- Jajaran petugas dari Polsek Ciranjang Kabupaten Cianjur berhasil menemukan ratusan lembar uang palsu (upal) dari sejumlah negara, Rabu (27/5/2015) malam.

Upal tersebut ditemukan oleh petugas di dalam sebuah mobil mini bus Honda Mobilio warna putih nopol B 1273 PRX yang ditinggalkan oleh pemiliknya di sebuah kawasan permukiman warga.
Kapolsek Ciranjang, AKP Nelson Siregar mengatakan, penemuan upal tersebut tidak terlepas adanya laporan dari warga masyarakat yang mencurigai sebuah mobil di Kampung Pasir Kawung, Kecamatan Ciranjang (dekat Pasar Ciranjang, red).

Atas dasar laporan tersebut, pihaknya pun langsung menuju ke lokasi dimaksud dan mendapati mobil sudah ditinggalkan oleh pelaku begitu saja. Setelah diperiksa, di dalam mobil tersebut, ditemukan ratusan lembar uang yang diduga palsu.

"Menurut informasi dari masyarakat pelakunya ada empat orang. Tapi ketika kami sampai di sana, para pelaku itu sudah kabur dan meninggalkan mobilnya begitu saja," tutur Nelson.

Setelah diperiksa, didalam mobil ditemukan 80 lembar uang rupiah mainan pecahan Rp100.000, 80 lembar kertas yang menyerupai uang pecahan Rp100.000, 19 lembar uang pecahan 1.000 Dinar Irak, 73 lembar pecahan 500 Won Korea serta 50 lembar pecahan 1.000 Won Korea.

"Selain itu, kami juga menemukan dua buah handphone serta puluhan amplop kosong yang kami amankan sebagai barang bukti," kata Nelson.

Berdasarkan keterangan yang didapatkan pihaknya dari kesaksian warga setempat menyebutkan, sebelumnya warga memergoki para pelaku yang berjumlah empat orang diduga akan melakukan aksi penipuan.

Karena kepergok, warga pun kemudian meneriaki para pelaku sebagai maling sehingga langung mengambil langkah seribu dan kabur meninggalkan mobilnya begitu saja.

"Pelaku sudah kabur saat kami tiba di lokasi. Saat ini, kami sedang melakukan pengejaran terhadap para pelaku," tukas Nelson.

Pihaknya berharap, dengan adanya penemuan upal tersebut, masyarakat diharap waspada terhadap orang asing yang tidak dikenal yang tiba-tiba masuk ke wilayahnya masing-masing. Apalagi, ucap dia, jika gerak-gerik orang tersebut cukup mencurigakan.

"Segera laporkan kepada kami. Tetap jaga keamanan lingkungan masing-masing," pesan Nelson [KC-02/gp]**









CIANJUR-[KC],-  Birokrat ini  pelayan masyarakat (public service) bukan dilayani masyarakat. Oleh karena itulah dalam mengemban tugasnya seharusnya birokrat menempatkan masyarakat pada posisi terhormat. Sebab sejatinya masyarakat atau rakyat adalah pemilik saham negara ini, sehingga mereka harus mendapatkan pelayanan yang prima.        

“Jangan coba-coba mempersulit masyarakat, melainkan berilah mereka kemudahan, agar tingkat kepercayaan masyarakat terhadap birokrat meningkat,”  sebut Wakil Bupati Cianjur  Suranto, saat inspeksi mendadak (sidak) ke kantor Kecamatan Gekbrong, Kamis (28/5).

Oleh karena itulah kinerja birokrat harus terus dipacu, bahkan yang lebih ideal memulainya  dari revolusi mental dari semula dilayani menjadi melayani. Dengan melayani, yakinnya, bukan saja kepuasan dan kepercayaan yang bisa didulang, melainkan pahala dari Allah SWT. Ini artinya menjadi birokrat pun bukan sekadar lahan hidup melainkan lahan ibadah juga.

Hanya memang tidak sekadar urusan mental. Sarana dan prasarana pelayanan pun amat penting guna memberikan kepuasan kepada publik. Terlebih saat ini di era teknologi informasi (TI) sarana dan prasarana yang dimiliki kantor pemerintah  mesti canggih pula. Dengan kecanggihan IT pelayanan akan cepat dan tepat. “Tentu saja harus didukung sumber daya manusia birokrat yang memadai,” ujarnya.

Saat Suranto sidak diterima Sekretaris Camat Erwin Supriansyah, sedangkan camatnya, Dadang Prawira tidak ada di tempat, sehubungan ia  dinas keluar kota. Dengan gayanya yang akrab, Suranto, melihat-lihat kelengkapan sarana kantor kecamatan. Ia pun menyapa semua aparat yang ada di sana. [KC.10]**

CIANJUR, [KC],- Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cianjur menggelar acara Wisuda kelas XII tahun pelajaran 2014-2015 ,Kamis (28/5). Acara lepas pisah sekaligus wisuda kelas XII diikuti oleh semua siswa dan siswi kelas XII yang berjumlah 378 siswa. Selain itu, siswa kelas X dan XI, Jajaran dewan guru, dan wali murid juga hadir dalm acara yang digelar di Gedung Assakinah Cianjur itu.

Kegiatan wisuda siswa-siswi kelas XII MAN Cianjur tahun ini, merupakan wisuda yang keduakalinya. Tahun-tahun sebelumnya masih dikemas dalam bentuk perpisahan atau paturay tineung yang terkadang diselenggarakan sebelum pengumuman kelulusan. Namun sejak tahun 2013-3014 kemarin, panitia mengemas kegiatan pelepasan siswa-siswi kelas XII ini dalam bentuk wisuda seperti halnya para calon sarjana di perguruan tinggi” kata Ketua Panitia Wisuda, Drs. Lily Azies Saleh,M.Pd.

Lily mengatakan pelepasan dalam bentuk wisuda ini dimaksudkan agar para siswa memiliki kebanggaan tersendiri dalam kegiatan ini sehingga akan menimbulkan kesan yang mendalam sampai kapan pun, dan sebagai motivasi agar mereka dapat melanjutkan studinya ke perguruan tinggi yang mereka idam-idamkan.

Dalam kesempatan itu juga sekolah mengumumkan siswa-siswi yang meraih  nilai UN tertinggi antara lain Ismie Hilaly Ardianti (Kelas XII Bahasa) meraih nilai UN Tertinggi 461,0, Rafni Darajat (Kelas XII IPA) dengan nilai UN 493,7, Irma Putri Pamungkas (Kelas XII IPS) dengan nilai UN 419,8.

Kepala MAN Cianjur, Drs.H. Ma'mun Hidayat,M.M.Pd dalam sambutannya mengatakan jika acara pelepasan dan wisuda  kelas XII ini  merupakan bukti nyata keberhasilan MAN Cianjur dalam menjalankan program pembelajaran. Oleh karena itu, dirinya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil mengantarkan ratusan siswa hingga dinyatakan lulus seratus persen.

Ma'mun juga menyampaikan permohonan maaf mewakili seluruh guru dan staf kepada seluruh siswa-siswi kelas XII  selama tiga tahun pembelajaran di MAN Cianjur , dan dirinya merasa bangga karena lulusan MAN Cianjur sudah ada yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri favorit dalam negeri dan luar negeri.

"Saya sangat bangga karena tahun ini ada lulusan MAN Cianjur yang lulus mendapatkan beasiswa dari Universitas ternama di German, dan itu merupakan prestasi yang sangat luar biasa" ungkap Ma'mun. [KC.01]**
CIANJUR,[KC],- Ada kearifan lokal yang harus  dirujuk calon wirausahawan (entrepreneurship). Kata Wakil Bupati Cianjur, Suranto,   kearifan lokal dimaksud  “Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok  (batu yang ditetesi air dalam jangka waktu lama akan membekas-red). Kearifan lokal ini mengandung makna   keuletan,  kerja keras, bersabar, dan tidak mudah putus asa.

“Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok   yang merupakan kearifan lokal Sunda  ini benar-benar  resep ampuh agar menjadi pengusaha sukses. Sebab memang dunia usaha tantangannya sangat berat dan penuh resiko, sehingga  memerlukan  mental baja,”  sebut Suranto, saat memberikan pembekalan kepada  pengurus Majelis  Wakil Cabang  (MWC) Nahdlatul  Ulama (NU) yang akan memulai bisnis online, di sekretariat NU, Jl.Perintis Kemerdekaan, Cianjur.

Tetapi bangkrut atau gagal ini tidak boleh dijadikan  alasan untuk tidak memulai. Justru harus dijadikan tantangan. Sebab pada dasarnya resiko   kegagalan di area manapun pasti menghadang. Justru dari kegagalan inilah, kata Suranto, akan menuai pelajaran atau pengalaman berharga untuk bangkit kembali.

Kalaupun akan mengantisipasi kegagalan, bisa  melalui permodalan kecil-kecilan. Sebab  dengan memulainya dari kecil resikonya  bakal kecil pula, sekaligus  mempelajari dinamika usaha. Lagi pula pada umumnya jika usaha memulai dari kecil atau nol maka laju usahanya akan sehat. Berbeda dengan dengan usaha yang tiba-tiba besar, kerapkali rentan bangkrut. “Sebagaimana catatan  kebanyakan pengusaha sukses  diawali dari kecil atau nol itu,” yakin Suranto.

Dijelaskannya, tidak bisa  dipungkiri sekarang ini berwirausaha belum menjadi primadona. Kebanyakan orang masih mendambakan menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Padahal  jika ingin serba berkecukupan  peluangnya ada di wirausaha (entrepreneurship). Sedangkan penghasilan PNS sangat terbatas, karena diatur perundang-undangan. Malah jika menjadi PNS hidupnya serba berkecukupan  boleh jadi membuat orang curiga. [KC.10]***

CIANJUR, [KC],- Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur telah membututi H. Miftah (56) tersangka dugaan tindak pidana korupsi bantuan Desa Peradaban setelah kabur saat akan dilakukan pemeriksaan tahap kedua. Setelah momennya dianggap tepat, penangkapan terhadap anggota DPRD Cianjur dari Partai Demokrat itu dilakukan.

"Kita mencari momen dan waktu yang pas saja, biar semua enak. Kita sudah buntuti dia, dan pada waktu yang tepat kita melakukan penangkapan," kata Kepala Kejari Cianjur, Wahyudi, Kamis (28/5/2015).

H. Miftah, lanjut Wahyudi, ditangkap dalam perjalanan dari arah Sukabumi menuju Cianjur. Saat dilakukan penangkapan tidak ada perlawanan dari sang bersangkutan.

"Ditangkap di jalan daerah perbatasan Cianjur Sukabumi. Langsung kita bawa ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut," jelasnya.

Ketika disinggung apakah H. Miftah akan langsung ditahan, Wahyudi berkilah hal itu dikembalikan kepada penyidik urgensinya seperti apa. "Masih ada waktu 1X24 jam, kalau penyidik beranggapan perlu dilakukan penahanan yang kita akan tahan, sebaliknya kalau tidak perlu ditahan bisa saja pulang," paparnya.

Wahyudi juga menegaskan terjadinya sedikit gesekan saat H. Miftah sempat menolak turun dari kendaraan di depan pintu masuk kantor Kejari, merupakan hal yang biasa. "Itu wajar saja, karena posisinya sebagai tersangka akan berbuat seperti itu," tandasnya.

Setelah kabur dari pemeriksaan tahap kedua, H. Miftah tersangka dugaan tindak pidana korupsi bantuan desa peradaban berhasil ditangkap tim Kejari Cianjur saat akan berkunjung ke rumah temannya di daerah perbatasan Cianjur-Sukabumi. Saat ditangkap, H. Miftah juga bersama sopir pribadinya yang juga turut diamankan.

Setelah ditangkap, anggota DPRD Cianjur dari Partai Demokrat itu langsung dijebloskan ke dalam sel tahanan Kejari Cianjur menunggu proses hukum selanjutnya [KC.02]**
CIANJUR, [KC],- Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur akhirnya menangkap Miftah, anggota DPRD Kabupaten Cianjur yang beberapa waktu lalu sempat melarikan diri saat hendak menandatangani berita acara penahanan sesaat setelah pemeriksaan.

Dalam pelariannya H. Miftah mengaku shock setelah membaca surat penahanan dirinya. Ia mengaku pergi dari ruang penyidikan Kejari bermaksud ingin meminta waktu.

"Saya hanya ingin meminta waktu saja, makanya saya pergi. Saya terus terang shock saat membaca surat penahanan tentang diri saya," kata H. Miftah sesaat setelah dijebloskan ke dalam sel tahanan Kejari Cianjur, Kamis (28/5/2015).

Selama dalam pelariannya, H. Miftah mengaku sempat pergi berziarah ke daerah Cirebon selama 10 hari. Ia tinggal disekitar tempat ziarah itu. "Ya tujuannya untuk menenangkan diri di sana. Saya tidak kemana-mana hanya berdoa dan merenungi apa yang saya alami," katanya.

Setelah 10 hari di Cirebon ia kembali di Cianjur bahkan H. Miftah mengaku sempat pulang ke rumahnya di daerah Ciherang Kecamatan Karangtengah. Saat pulang itulah ia sempat berobat ke seorang dokter di daerah Ciranjang.

"Penyakit gula saya meningkat sampai 500. Saya sempat berobat dulu dan beristirahat di rumah," kata anggota DPRD Cianjur dari Partai Demokrat itu.

Ia pun mengaku sempat menagih uang ke sejumlah relasi bisnis berasnya di daerah Bandung. H. Miftah kembali ke Cianjur tiga hari lalu. Sebelum akhirnya ditangkap tim dari Kejari Cianjur ia bermaksud mengunjungi temannya saat menunaikan ibadah haji di daerah Warungkondang.

"Tadinya saya mau ke rumah teman saya H. Ridwan di daerah Warungkondang. Hanya untuk bertemu saja, tapi keburu ditangkap," katanya
Pelaksanaan Pilkada Kabupaten Cianjur semakin dekat. Meskipun belum ada keputusan tentang penetapan calon dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Cianjur, namun para Bakal Calon (Balon) sudah mulai menampakan dirinya, baik lewat televisi lokal, radio maupun baliho-baliho di jalanan untuk sosialisasi dan menggalang dukungan dari masyarakat. Dari sini kita mengetahui bahwa mereka sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk berbagai media sosialiasi dari para Bakal Calon yang mengincar kursi empuk di Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur.

Memang tidak dapat dipungkiri, di zaman sekarang ini sebelum menduduki jabatan dalam sistem pemilukada langsung memang memakan anggaran yang luar biasa banyaknya, belum lagi jikalau ada calon yang kalah kemudian menuntut pemilu ulang, maka anggaran akan semakin membengkak, dana untuk persiapan percetakan kertas suara, tinta, dan sebagainya akan keluar dua kali lipat dan benar-benar banyak menguras uang rakyat, namun jikalau memang di haruskan melaksanakan pemilu secara langsung, seharusnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya;

Pertama, Negara harus membuat aturan pembatasan dana calon untuk berkampanye, jangan sampai nantinya calon tersebut mengeluarkan begitu banyak uang yang luar biasa untuk berkampanye, kemudian ketika kalah, malah akan menjadi penyesalan yang sempurna, jadi harus ada aturan yang jelas dan resmi untuk pembatasan dana kampanye ini, setidaknya batasan tersebut sebanding dengan gaji yang di dapatkan saat menjabat nanti, jadi pikiran untuk mengembalikan dana kampanye tidak ada, disini kita dapat menekan penyelewengan keuangan rakyat.

Kedua, Para Calon/Bakal Calon harus bisa menjelaskan asal muasal dana yang dia dapatkan untuk berkampanye, misalkan dana pribadi berapa? Dari partai berapa? Dana dari pengusaha berapa? Kemudian laporkan asal dana tersebut, bisa dengan media cetak, situs resmi, media sosial, radio, televisi, dan sebagainya, dari sini masyarakat yang akan memilih harus mengetahui sumber dana mereka.

Ketiga, yang paling penting harus ada perhitungan kekayaan calon sebelum menjabat dengan setelah menjabat, jikalau ada pertambahan kekayaan yang mencurigakan dan tidak masuk akal secara logika, maka pejabat terpilih tersebut harus menjelaskan darimana asal pertambahan kekayaan ini, kalau memang tidak bisa dibuktikan secara akal sehat, maka Negara harus merampas kekayaan tersebut dan dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat.

Dalam rangka mewujudkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Cianjur, baik pada pemerintahan pusat tentunya harus ada kerjasama yang baik antara calon yang terpilih nanti dengan masyarakat, saat terjadi masalah dalam sistem pengelolaan daerah, tentunya sangat tidak logis jikalau kita hanya bisa menyalahkan pemerintah tanpa mengevaluasi diri kita masing-masing juga sebagai rakyat, marilah kita menjadi rakyat yang amanah, misalkan jikalau ada calon yang melakukan Politik Uang (money polotic) anggap saja Rp 50.000, dan dia membutuhkan 10.000 suara, kemudian kita sebagai rakyat menerima uang tersebut dengan lapang dada dan tidak merasa bersalah, berarti kita akan memilih calon yang menghabiskan dana Rp 50.000 x 10.000 suara =Rp 500.000.000, artinya kita akan memilih calon yang berpotensi mengembalikan modal kampanye Rp 500 juta rupiah, karena itu marilah kita jadi rakyat yang amanah, jika kita amanah, insyaallah kita akan mendapatkan pemimpin yang amanah pula yang mampu membawa Masyarakat Khabupaten Cianjur lebih baik..aminn.

Firly Sopirmas
WASEKBID PAO
HMI CABANG CIANJUR.

no image
CIANJUR -[KC],-  Suasana Pemilihan Kepada Daerah Langsung di Kabupaten Cianjur mulai meriah. Hal ini ditandai dengan perhatian kalangan kelas menengah sudah mulai tertuju kepada proses politik menjelang pencalonan. Indikasi tersebut makin terlihat sejak beredarnya "atribut misterius" yang menyandingkan Herman dan Ade Barkah sebagai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. 

Belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab dengan keberadaan atribut itu. Namun banyak pihak mensinyalir atribut itu muncul dari kalangan arus bawah yang menghendaki kedua bakal calon tersebut maju berpasangan sebagai Cabup dan Cawabup.

Aspirasi arus bawah yang menghendaki Herman dan Ade Barkah berpasangan dalam Pilkada Cianjur rupanya mendapat tanggap publik. Salah satunya tanggapan dari Ketua Divisi Pendidikan Politik, forum Kajian Komunikasi dan Politik Visi Selaras Komunika dan Politik Cianjur, Rayasandy, mengungkapkan, dinamika politik menjelang Pilkada saat ini susah untuk ditebak begitu saja. 

Tiga kekuatan partai di parlemen masing-masing, Demokrat, Golkar dan PDI Perjuangan, tentu tidak mau kehilangan muka dalam proses politik Pilkada langsung sekarang.

Hanya memang atmosfir politik di tubuh Golkar saat ini, memunculkan dugaan apakah Golkar akan maju atau tidak dalam Pilkada. Seteah putusan PTUN, Partai Golkar Jika islah gagal, tentu hal yang paling ideal dilakukan Golkar di Cianjur merapat ke Demokrat.

“Kalau harus bergandeng tangan dengan PDI Perjuangan, membutuhkan komunikasi politik yang alot karena menyangkut konstalasi politik dipusat juga. Lebih terbuka untuk merapat ke Demokrat meski pilihah terpahit harus menjadi wakil bukan Bupati,” tegas Raya.

Menurut prediksinya, kedua partai ini telah melakukan komunikasi intensif sebelum pergunjingan Pilkada sekarang ramai. Hanya tentu, kedua belah pihak memiliki kepentingan politis dalam pemerintahan nanti. 

“Kita tunggu apakah kedua belah sepakat dengan komitmen yang dibangun atau justru harus saling berhadapan. Saya masih kuat beranggapan Golkar akan bijak untuk melangkah dalam Pilkada dengan memilih opsi untuk menjadi F2 dengan komitmen politik yang jelas,” prediksinya.[KC.KC],- 
CIANJUR-[KC],-  Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Ini yang dialami Muhidin (36), warga Kampung Babakan Kaler RT 02 RW 16 Kelurahan Bojongherang Kec/Kab Cianjur. Muhidin merupakan pedagang keliling yang memiliki penyakit rabun mata. Meskipun kedua matanya buta, dia tidak menjadi peminta-minta. Ia tetap bekerja dengan berjualan ‘agar’ keliling di Cianjur Kota.

Muhidin mengalami kebutaan sejak berumur 14  tahun lalu.  Untuk menghidupi  orang tua dan adik-adiknya, setiap pagi hingga sore, Muhidin  pergi berjualan ‘agar’. "Alhamdulillah untuk keperluan sehari-hari cukup, " katanya saat sedang berjualan di jalur By Pas Cianjur, Rabu (5/27/2015).

Ketika ditanyakan apakah bisa melakukan semua pekerjaan tersebut dengan kondisi mata buta, dengan mantab Muhidin mengatakan, "Saya sudah terbiasa" paparnya.

Sementara itu, Bakal calon bupati Cianjur periode 2016-2021, Herman Suherman yang kebetulan mengendarai kendaraan dan melewati jalur By Pas, langsung menghampiri Muhidin.  Herman pun terharu atas perjuangan Muhidin untuk menapkahi keluarga. “Perjuangan Muhidin harus menjadi contoh, meski tidak bisa melihat, tetap semangat mencari nafkah,” tuturnya.

Herman mengaku, tidak sedikit warga Cianjur  keadaannya sehat, tetapi malas untuk kerja. Bahkan, meminta-minta. Tentu hal ini, papar Herman, harus di ‘rubah’. Masyarakat Cianjur harus semangat bekerja untuk pembangunan Cianjur lebih maju lagi. “Belajarlah kepada Pk Muhidin. Kalau semua masyarakat Cianjur bekerja, insa Allah Cianjur akan lebih maju lagi dalam segi pembangunan,” imbuhnya.[KC.13/Den]**
CIANJUR-[KC],- Bakal calon bupati Cianjur periode 2016-2021, Herman Suherman mendapat dukungan untuk maju di Pemilukada Cianjur  dari pengurus Paguyuban Banten Provinsi.

Dukungan diberikan Ketua Paguyuban Banten, H Didit alias AA Baduy saat dilaksanakan peringatan isra miraj sekaligus peringatan ulang tahun putrinya yang ke tujuh tahun Muthia Zahra  Pramesthy Regita Putri di komplek perumahan Griya Kondang Lestari Gekbrong Cianjur.

Ketua Paguyuban Banten Provinsi, H Didit mengatakan, pihaknya mendukung Herman Suherman sebagai calon bupati, karena Herman berintegritas dan berkomitmen memajukan Cianjur. "Cianjur saat ini butuh pigur yang mampu meningkatkan segi pembangunan," papar H Didit.

Dia menerangkan, secara pengalaman di pemerintahan, H Herman sudah 28 tahun bekerja di Pemkab. Itu artinya, Herman sudah berpengalaman memimpin. "Karena beliau sudah berpengalaman di birokrat, sehingga sangat cocok jika Cianjur di pimpin beliau," terangnya.

Selain itu, tambah Aa Didit, selama bekerja di birokrat, rejam jejak Herman sangat baik. Bahkan, dinas atau badan, bumd yang pernah di pimpinnya selalu meraih prestasi. "Dan yang terpenting, Herman amanah dan jujur (manjur)," imbuhnya.

Sementara itu, bakal calon bupati cianjur, Herman Suherman mengucapkan terima kasih kepada AA Didit yang telah memberikan kepercayaan kepadanya. "Dukungan ini menjadi penyemangat saya untuk berbakti kepada Cianjur," tegasnya.

Herman menerangkan, pihaknya ingin cianjur ke depan lebih maju dan agamis. Maju dalam arti, program yang sudah ada dilanjutkan dan ditambah. Agamis , akan mengembalikan cianjur menjadi kota santri seperti dulu. "Karena itu, saya minta doa dan dukungannya dari masyarakat Cianjur untuk mewujudkan cita-cita ini," imbuhnya.[KC.13/DEN]**
CIANJUR, [KC].- Untuk mengungkap terjadinya kecelakaan beruntun yang melibatkan. bus pariwisata PO Haruna Prima Trans dengan sejumlah kendaraan roda dua dan empat, Polres Cianjur telah memeriksa sedikitnya lima orang saksi. Kelima orang saksi tersebut satu orang merupakan warga dilokasi kejadian, dua orang merupakan penumpang, seorang kenek bus dan seorang lagi merupakan sopir bus.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan di unit laka lantas Polres Cianjur itu, akhirnya sopir bus pariwisata PO Haruna Prima Trans, Derikma Hadiningrat (34), warga Kampung Babakan Ciparay, Bandung itu ditetapkan sebagai tersangka.

Kasatlantas Polres Cianjur AKP Didin Jarudin didampingi Kanit Laka Iptu Tenda mengungkapkan, lima saksi yang diperiksa untuk dimintai keterangannya itu diantaranya Derikma dan keneknya, Ujang Setiawan, seorang saksi mata dari TKP yang melihat langsung kejadian tersebut, serta dua orang penumpang bus rombongan SDN Gentra, Taman Kopo Indah, Bandung.

"Kemungkinan masih akan bertambah saksi-saksi yang berhubungan dengan kecelakaan itu. Termasuk pemilik bus dan manajemen (perusahaan, red), keluarga korban serta saksi ahli dari Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) Hino soal apakah itu dikarenakan betul karena rem blong atau penyebab lainnya, nanati akan ketahuan," kata Didin, Rabu (27/5/2015).

Dikatakannya dari hasil pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, telah terpenuhi seluruh unsur untuk menetapkan sopir bus sebagai tersangka. Sopir bus tersebut kata Didin terancam dengan ayat berlapis. Adapun pasal yang dikenakan adalah Pasal 310 ayat 1, 2 3 dan 4 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

"Kalau ayat 1 terbukti mengakibatkan kerugian materi, ayat 2 terbukti mengakibatkan korban luka ringan, ayat 3 terbukti mengakibatkan luka berat dan ayat 4 terbukti mengakibatkan korban meninggal dunia. Sedangkan ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara dan denda Rp 12 juta," tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan keterangan dari petugas di IGD RSUD Cianjur, belasan korban yang sebelumnya dirawat akibat luka benturan sudah semuanya pulang. "Semuanya sudah tidak ada di IGD, sudah pada pulang," kata Mamel petugas di IGD RSUD Cianjur.

Diberitakan sebelumnya dua meninggal dan belasan lainya luka-luka akibat tabrakan beruntun yang melibatkan bus pariwisata PO Haruna Prima Trans dengan sejumlah kendaraan roda empat dan dua di Jalan Ir. H. Djuanda Panembong Desa Mekarsari Kecamatan/Kabupaten Cianjur, Selasa (26/5/2015) malam.

Korban tewas adalah pejalan kaki Faiz Saldiani (22), warg Kampung Panembong Girang RT 04 RW 04 Kecamatan/Kabupaten Cianjur dan korban meninggal kedua adalah pengendara sepeda motor Suparlan (48) warga Kampung Asten RT 01 RW 17 Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan/Kabupaten Cianjur. Korban sempat terseret beberapa meter bersama sepeda motornya.

Para korban baik yang meninggal maupun luka, dilarikan ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis. Akibat kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 20.45 WIB itu, mengakibatkan arus lalu lintas baik yang mengarah ke Cipanas atau sebaliknya ke Cianjur sempat macet beberapa saat. Bahkan sempat menjadi tontonan ratusan warga saat petugas berupaya melakukan evakuasi terhadap para korban [KC-02/gp]**







no image
CIANJUR, [KC].- Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur hingga Mei 2015 sudah tembus diangka 500 orang lebih. Kurun waktu lima bulan terakhir, setidaknya 20 orang terjangkit penyakit yang mematikan itu. Dari jumlah tersebut kebanyakan ibu rumah tangga (IRT).

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Cianjur, H. Hilman mengatakan, temuan baru 20 warga Cianjur yang terjangkit HIV/AIDS tersebut berasal dari kalangan campuran seperti ibu rumah tangga dan populasi kusus (wanita pekerja skes, waria, lelaki suka lelaki dan pelanggan). "Untuk IRT mereka tertular dari suaminya dan tidak menyadari sebelumnya kalau suaminya itu telah terkena HIV/AIDS," tegas Hilman.

Dari temuan baru penderita HIV/AIDS berasal dari wilayah Cianjur, Cipanas dan Pacet. Para penderita kebanyakan tertular akibat hubungan seksual. "Kalau wilayah selatan sebaranya relatif sedikit, kebanyakan di wilayah utara," katanya.

Pihak KPA Kabupaten Cianjur kata Hilman, terus berupaya menekan penyebaran HIV/AIDS. Salah satunya menjalin kerjasama dengan PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia) yang bertugas sebagai penjangkau. "Terus dilakukan pembinaan kepada penderita, agar tidak menyebarkan penyakitnya ke orang lain. Seperti di ingatkan waktunya berobat, minum obat, yang sudah minum obat, yang waktunya belum cek kesehatan, manfaatkan layanan kesehatan," paparnya.

Diakuinya, dari jumlah temuan yang ada, penyeberan HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur cenderung meningkat setiap tahunnya. Kondisi tersebut akan terus berlanjut, kecuali sampai pada titik klimak dimana para penderita tidak menyebarkan virus yang dideritanya kepada orang lain.

"Selagi penderita masih menyebarkan ke orang lain akan terus meningkat penderita HIV/AIDS itu. Kecuali mereka sudah sadar dan taat tidak lagi menyebarkan penyakitnya. Lambat laun akan turun, karena meninggal dunia," tegas Hilman.

Dalam kurun waktu lima taun terakhir saja, kata Hilman sudah terdapat sekitar 30 penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia. Mereka yang ada saat ini yang bisa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), cukup asupan giji, istirahat, serta ikut layanan kesehatan geratis.

"Yang bertahan hidup sampai saat ini mereka yang taat dan patuh terhadap PHBS. Kita berharap penularan HIV/AIDS di Cianjur ini bisa ditekan semaksimal mungkin. Perlu peran serta seluruh lapisan masyarakat Cianjur untuk mewujudkannya," harapnya. [KC-02]**





CIANJUR, [KC].- Polres Cianjur menangguhkan penahanan sopir Sekretaris Daerah (Sekda) Cianjur Oting Zaenal Mutaqin, Solihin (43) yang membawa kendaraan dinas Sekda Nopol F 5 W yang menabrak seorang penyeberang jalan Rina Kusmiawati (20) warga Kampung Cikolotok, Desa Sukamulya, Kecamatan Karangtengah di Jalan Raya Bandung pekan lalu.

Tidak ditahannya sopir Sekda tersebut setelah pihak dari Bagian Hukum Sekretariat Daerah (Setda) mengajukan surat penangguhan penahan agar yang bersangkutan tidak ditahan. Dengan berbagai pertimbangan pihak Polres Cianjur mengabulkan permohonan dari bagian hukum Setda Cianjur.

Kapolres Cianjur AKBP Asep Guntur Rahayu melalui Kepala Satuan Lalu Lintas AKP Didin Jarudin saat dikonfirmasi membenarkan tidak ditahannya sopir Sekda. Atas dasar surat permohonan penangguhan tersebut, pihaknya masih belum menahan Solihin (43) yang menjadi sopir pribadi Sekda.

"Betul sampai saat ini kami tidak melakukan penahan atas sopir Sekda Solihin. Karena pihak Bagian Hukum Setda mengirimkan surat permohonan penangguhan penahanan bagi Solihin. Dengan berbagai pertimbangan kita kabulkan permohonannya," ungkap Didin ditemui di Unit Laka-lantas Polres Cianjur Jalan Suroso, Rabu (27/5/2015).

Kendati Solihin tidak ditahan, kata Didin, bukan berarti menghapus proses hukum yang saat ini tengah berjalan. Pihaknya juga menjamin tidak akan ada perlakuan istimewa terhadap yang bersangkutan. "Diperlakukan sama seperti yang lainnya dan tidak dibeda-bedakan. Semua diperlakukan sama saja didepan hukum," tegas Didin.

Saat disinggung mengenai kondisi terkahir korban, Ddidin menyebut, berdasarkan keterangan dari keluarga korban yang menungguinya di rumah sakit, kondisi Rina Kusmiawati (20) warga Kampung Cikolotok, Desa Sukamulya, Kecamatan Karangtengah, itu sudah mulai membaik.

"Keterangan dari kerabatnya korban Rina sudah bisa makan. Artinya memang kondisinya membaik dan mengalami kemajuan yang pesat meski sebelumnya sempat pingsan," jelas Didin.

Kepala Bagian Hukum Setda Kabupaten Cianjur, Heri Suparjo dihubungi melalui telepon selularnya mengatakan, surat permohonan penangguhan penahanan atas Solihin itu sudah dikirimkan pihaknya ke kepolisian sehari setelah kejadian. "Sehari setelah kejadian kita langsung layangkan suratnya ke kepolisian," kata Heri terpisah.

Heri menambahkan, penangguhan penahanan itu dilakukan karena tenaga Solihin masih sangat dibutuhkan. Kendati demikian bukan berarti pihaknya membela yang bersangkutan. Heri pun menyatakan, bahwa proses hukum untuk perkara tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya.

"Orangnya akan kooperatif, kami yakin yang bersangkutan tidak akan melarikan diri dan memang ada yang menjamin. Apalagi tenaganya kan masih sangat dibutuhkan untuk membantu pekerjaan pak Sekda," katanya.
Diberitakan sebelumnya, mobil dinas yang ditumpangi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cianjur Oting Zaeinal Mutaqin nopol F 5 W menabrak seorang pekerja pabrik roti, Rina Kusmiawati di Jalan Raya Bandung, tepatnya di Desa Babakan Caringin, Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Cianjur.

Saat itu mobil yang juga ditumpangi Sekda Cianjur Oting Zaenal Mutaqin itu melaju kencang dari arah Cianjur menuju Bandung. Yang bersangkutan bermaksud mengejar kereta yang akan berangkat ke Yogyakarta untuk urusan dinas. Akibat kecelakaan itu, korban mengalami luka berat pada bagian kepala dan sempat tak sadarkan diri.

Setelah itu, Rina pun langsung dibawa menggunakan kendaraan dinas itu ke Rumah Sakit Umum Daerah Sayang, Cianjur yang kemudian dirujuk langsung ke RSHS Bandung. Hingga saat ini, mobil dinas merk Mitsubishi Pajero Sport warna hitam itu masik 'ngandang' di Unit Laka-lantas Polres Cianjur di jalan Suroso [KC-02/gp]**.









“Semua orang ingin hidup dibiayai oleh Negara. Mereka lupa, bahwa Negara hidup dari biaya semua orang” (Frederic Bastiat)

Hassan Hanafi dilahirkan di Kairo, Mesir pada 13 Februari 1935. Besar dari keluarga musisi yang pada akhirnya ia lebih memilih filsafat sebab di sana ia dapat menemukan pandangan-pandangan yang sangat apresiatif kepada dimensi estetis kehidupan. Pemberontakan pemikirannya yang paling santer adalah gerakan oksidentalisme sebagai bentuk perlawanan terhadap orientalisme Barat. Ia melihat bahwa sudah saatnya kaum agamawan memandang teks-teks Al-Qur’an sebagai sebuah “energi gerak” dalam konteks “tradisi dan modernisasi”. Tradisi adalah pijakan awal dari masalah kebudayaan rakyat, dan modernisasi adalah reinterpretasi tradisi tersebut agar sesuai dengan kebutuhan zaman. Masa lalu mendahului kekinian, otentisitas mendahului kemodernan, dan modernisasi adalah tujuan, yakni keikutsertaan dalam transformasi kehidupan (dengan) memberi solusi pada problem-problemnya. Demikian ia berpendapat.

Berangkat dari paradigma yang ia tawarkan, akan muncul dua pra anggapan dan pra paham yang sampai hari ini barangkali masih seperti itu. Bagi kalangan neorevivalis misalnya akan muncul semacam kekhawatiran yang ditimbulkan oleh modernis Islam, cenderung menyerukan kembali kepada Al-Qur’an sebagai sumber utama Islam, tapi sama sekali tidak atau belum memiliki metode penafsiran Al-Qur’an yang memadai dalam menjawab persoalan-persoalan sosial kebangsaan dalam konteks kekinian.

Hermeneutika berasal dari kata Yunani hermenuine dan hermenia yang masing-masing berarti “menafsirkan” dan “penafsiran”. Hermeneutika lebih banyak berurusan dengan pelbagai aturan, metode, dan teori yang berfungsi membimbing penafsir dalam kegiatan memberi pemahaman tentang sesuatu ketimbang perbincangan tentang teori penafsiran.

Lalu apa relevansinya dengan Pancasila sebagai sebuah ideologi?

Jika hermeneutika dipahami dalam pengertian metode, maka ia berisikan perbincangan teoritis tentang the conditions of possibility sebuah penafsiran, menyangkut hal-hal apa yang dibutuhkan atau prosedur bagaimana yang harus dipenuhi untuk menghindari pemahaman yang keliru terhadap teks. Maka Pancasila sebagai sebuah ideologi harus dimaknai sebagai kesadaran komunal terhadap konsensus the founding fathers seperti yang digambarkan Gadamer mempraanggapkan pengetahuan yang bersifat steril, bersih dari jejak kepentingan yang menindas. Pengetahuan seperti ini harus disingkap oleh refleksi kritis untuk membuktikan selubung ideologisnya. Jika kita sudah sepakat pada tataran ini, tinggal persoalannya kemudian adalah bagaimana mencari instrumen dan metodologi yang tepat guna dalam membumikan Pancasila sebagai sebuah ideologi.

Ibnu Khaldun dalam mukkadimahnya menyatakan, bahwa secara psikologis terdapat kecenderungan Negara terbelakang meniru apa saja yang datang dari negara yang dianggapnya lebih maju. Kemajuan dunia Barat telah menjadi kiblat peradaban dunia ketiga hampir dalam semua bidang, ekonomi, sosial, politik dan yang paling akut adalah dalam aspek budaya. Padahal, the founding fathers kita telah menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, bahkan konsep dasar Negara ini telah dipersiapkan tiga bulan sebelum teks proklamasi dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai yang kemudian tujuannya adalah sebagai dasar atau ideologi negara. Tetapi seiring dengan perkembangan pemikiran dan peradaban manusia yang semakin kompleks, idologi Negara seolah sudah hilang dari denyut nadi kehidupan berbangsa dan bernegara, Indonesia.

Kegalauan ideologis diatas bahkan dipertegas oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH dalam salah satu bukunya “Menuju Negara Hukum yang Demokratis” (2009). Beliau menyatakan bahwa Pancasila terpinggirkan dari dinamika kehidupan nasional. Pancasila menjadi kesepian di tengah hiruk pikuknya kehidupan bangsa serta tidak mendapat perhatian secukupnya. Ia seperti terasing di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia. Dasar Negara ini seperti tidak lagi dibutuhkan, baik dalam kehidupan formal-kenegaraan maupun kehidupan masyarakat sehari-hari.

Amandemen UUD 1945 merupakan salah satu tuntutan yang paling mendasar dari gerakan reformasi yang berujung pada runtuhnya kekuasaan Orde Baru pada tahun 1998. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat melihat faktor penyebab otoritarian Orde Baru pada saat itu tidak hanya pada manusia sebagai pelakunya, tetapi karena kelemahan sistem  hukum dan ketatanegaraan. Kelemahan dan ketidaksempurnaan UUD 1945 bahkan telah dinyatakan oleh Soekarno pada rapat pertama PPKI tanggal 18 Agustus 1945.

Perlu adanya reinterpretasi yang transformatif terhadap Pancasila dan UUD 1945 agar ideologi Pancasila bisa dirasakan eksistensinya di tengah berbagai masalah sosial sisa-sisa feodalisme dan kolonialisme yang menyertai proses pembangunan yang semakin hedon dan cenderung liberal sehingga Pancasila bisa menjadi ideologi pembebasan. Pembebasan dari hegemoni barat yang kapitalis-liberalis. Absurditas atau biasnya ideologi Pancasila bisa dilihat dari sistem ekonomi Indonesia yang sampai sekarang masih belum menemukan identitas aslinya sebagai bangsa yang berdaulat secara ekonomi. Apabila koperasi yang ditawarkan sebagai sistem ekonomi ala Indonesia, maka kita harus belajar jujur bahwa dalam prakteknya semakin banyak koperasi yang sudah keluar dari khittah-nya untuk selalu mengedepankan sikap gotong royong, saling membesarkan sesama anggota koperasi dan seterunya. Tetapi sekarang koperasi sudah berakulturasi menjadi semacam “lintah darat” yang  mencengkram leher masyarakat marjinal.

Jika Hassan Hanafi, Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun berani melakukan kritik atas interpretasi terhadap teks-teks Al-Qur’an yang bersifat sakral dengan menggunakan pendekatan hermeneutika, maka bukan mustahil jika Pancasila yang profan juga dikembangkan seperangkat metodologi tafsir sosial atas Pancasila dengan pendirian teoritis yang sama sekali berbeda dengan apa yang sudah pernah diterapkan sebelumnya. Jika jaman Soeharto (baca: Orde Baru) menerapkan metodologi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) sebagai instrumen internalisasi ideologi yang cukup efektif walaupun dengan menggunakan pendekatan metode yang cenderung otoriter, maka hari ini pun dibutuhkan seperangkat instrumen metodologi yang dapat menguatkan keyakinan bahwa Pancasila adalah sebagai sebuah ideologi, identitas dan ruh dalam setiap gerak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jika Hassan Hanafi kaitannya dengan hermeneutika Al-Qur’an yang lebih dekat dengan problem kemanusiaan, seperti kemiskinan, penindasan, dan ketidakadilan, dia menawarkan hermeneutika Al-Qur’an yang paradigmatik, bercorak sosial dan eksistensial. Maka Pancasila pun demikian, masih belum bisa menjawab persoalan kemanusiaan, persoalan ekonomi, dan ketidakadilan secara lebih massif dan aplikatif. Belum berlandaskan pada sebuah keyakinan sosiologis bahwa Pancasila, ideologi dan relevansinya dengan kehidupan sosial bisa menjadi ideologi pembebasan dari berbagai macam dekadensi moral, persoalan ekonomi, masalah sosial sisa-sisa feodalisme dan kolonialisme yang ending-nya, Pancasila kemudian menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika Marx bilang, secara implisit setiap pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit. Oleh karena itu, jika Pancasila diposisikan sebagai basis ideologi maka harus dilakukan secara teoritik, filosofis, dan kritis. Dalam konteks melakukan kritik, maka lebih tepat jika digunakan kritik eidetis dan praksis.

Sebagai fakta sosiologis, masih adanya dikotomi antara ilmu yang bercorak Islam dan ilmu yang bersifat umum. Berbicara ekonomi, matematika, politik, science, seolah-olah bukan berbicara Islam, pemahaman keliru inilah disebabkan karena sistem pendidikan nasional yang masih membelah pola pendidikan dan pengajaran di lembaga-lembaga pendidikan formal, disamping masih kelirunya pemahaman tadi, juga karena metodologi yang disampaikan dari kaum agamawan dalam acara-acara keagamaan masih bercorak doktrinal belum sampai pada membangun dialektika seputar persoalan-persoalan ummat dan bangsa. Islam, sesungguhnya merupakan ajaran yang universal dan komprehensif, meliputi berbagai aspek, baik duniawi maupun ukhrawi.

Penulis hanya ingin mengajak khalayak untuk melakukan kritik dan pemberontakan pemikiran terhadap ideologi yang selama ini dianut. Dengan melakukan kritik metodologi penerapan ideologi Pancasila, agar bisa lepas dari belenggu dan hegemoni ideologi kapitalis-liberalis dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, ekonomi, berbangsa dan bernegara. Yang selama ini dilakukan oleh pemerintah hanya sebatas sosialisasi empat pilar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam hal ini, Jimly Asshiddiqie kembali mengkritik jika kegiatan sosialisasi tersebut diganti saja dengan kegiatan aspirasi masyarakat dan pengkajian. Dalam konteks pengkajian inilah, penulis mencoba memasuki ruang tersebut dengan menawarkan reinterpretasi metodologi Pancasila sebagai sebuah ideologi dengan menggunakan pendekatan eidetis dan praksis. Jika putusan MK dalam Amar Putusan Nomor 100/PUU-XI/2014 yang membatalkan frasa “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara” dalam Pasal 34 ayat (3b) huruf a Undang-Undang Nomor 2 tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik terkait Pancasila Pilar Kebangsaan.

Maka yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, instrumen dan metodologi apa yang akan dipakai oleh pemerintah dalam membumikan Pancasila? Jika komunis Tiongkok dulu mempunyai “buku saku merah”, jika Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mempunyai Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai landasan ideologisnya. Maka bagaimana dengan Pancasila?
Wallaahu ‘alam bishowab

no image
CIANJUR [KC],- Suhu politik di Cianjur mulai menghangat seiring telah dimulainya tahapan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) langsung. Awalnya para bakal calon terkesan malu-malu mensosialisasikan dirinya, sekarang tampaknya sudah mulai timbul aspirasi untuk memasangkan mereka menjadi pasangan Calon Bupati dan Calon Wakl Bupati Cianjur.

Beberapa hari ini, warga Cianjur dihebohkan dengan munculnya atribut bergambar Herman Suherman dan Ade Barkah. Atribut tersebut tampak di beberapa ruas jalan protokol di kota Cianjur.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab dengan keberadaan atribut itu. Namun banyak pihak mensinyalir atribut itu muncul dari kalangan arus bawah yang menghendaki kedua bakal calon tersebut maju berpasangan sebagai Cabup dan Cawabup.

Ketua Asosiasi Paguyuban Kelompok Tani Kabupaten Cianjur, Ir. Jamaludin, MS.i, Kabupaten Cianjur, secara jelas menyatakan dukungan terhadap Herman Suherman untuk maju sebagai Calon Bupati Cianjur priode 2016-2021. Apalagi, kata Jamaludin, Herman maju didampingi senior DPD Kabupaten Partai Golkar Cianjur Ade Barkah Surachman.

“Kalau mendukung Herman jelas kita sudah deklarasikan dari lama, namun kami akan sangat mendukung jika Herman didampingi Kang Ade Barkah Surachman sebagai wakilnya. Pengalaman beliau dalam dunia politik sudah matang dan bisa memberikan masukan terhadap Herman saat menjalan roda pemerintahan,” tegas Jamaludin saat ditemui di sekretariatnya Jalan Aria Wiratanudatar, Senin (25/05/2015)..

Jamaludin mengungkapkan, pengalaman partai golkar dalam pemerintahan modal penting bagi Kang Herman untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik, serta mensinergikan hubungan antara eksekutif dengan legeslatif. Nantinya tidak ada lagi kata saling pundung antar dua lembaga itu, karena jalinan komunikasi bisa diciptakan dengan baik.

“Siapa di Cianjur yang tidak kenal dengan sosok Ade Barkah Surachman, selain masih muda beliau juga dikenal kritis dalam hal tertentu untuk kepentingan masyarakat Cianjur. Jadi pantaslah kalau Herman maju dengan Ade Barkah Surachman,” cetusnya.[KC.13]**
CIANJUR,[KC],- Inilah identitas dua korban jiwa dalam insiden kecelakaan tabrakan beruntun Bus Harum Prima di Panembong, Cianjur, Selasa (26/5) pukul 20.15 WIB. Dua korban tewas merupakan pejalan kaki dan pengendara sepeda motor.

1. Suparlan (48), pengendara motor warga Kp Asten RT 01 RW 17 Kel. Pamoyanan Kec. Cianjur Kab. Cianjur; tewas di TKP

2. Faiz (22); pejalan kaki, warga Kp. Pamoyanan Girang, Desa Mekarasih, Kec. Cianjur, Kab. Cianjur, meninggal dunia saat dilarikan ke rumah sakit

Secara keseluruhan terdapat 2 korban tewas, 5 luka berat, 5 luka ringan. [KC.09]***
CIANJUR, [KC].- Kontingen Kabupaten Cianjur berhasil menjadi juara umum tingkat Provinsi Jawa Barat untuk ketiga kalinya secara berturut-turut pada ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) dan Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasyah (Aksioma) antar Madrasyah Ibtidaiyah (MI) tingkat Jawa Barat yang dilaksanakan di UPI Bandung pada dua pekan silam.
Ketua Kontingen Kabupaten Cianjur, H.M. Sidik Mulyadi, mengatakan, kontingan asal Kabupaten Cianjur yang berhasil mengukir prestasi pada ajang KSM, Aksioma antar MI tingkat Jawa Barat itu diantaranya M. Hisyam siswa MI Assaidiyah Cipanas yang berhasil meraih juara 1 olimpiade sains, Ahmad Zaki, siswa MI Assaidiyah Cipanas, meraih juara pidato Bahasa Indonesia dan M. Alvin Salim, siswa MI Nidhomussibyan meraih juara 1 MHQ putra.
Selain itu, Indri, NH, siswi MI Assaidiyah Cipanas berhasil menjadi juara 2 lomba Calistung kelas 3, Irna Ayu Lestari, siswi MI AL-Kautsar juara 2 tenis meja putri, M. Riyan Pratama, siswa MI Miftahul Falah, juara 3 bulutangkis putra, M. Lutfi Hasbulloh, siswa MI Assasul Islam juara 3 kaligrafi putra, dan Roly Roslianti, siswi MI Al-Musyarofah juara 3 MHQ 10 juz.
"Keberhasilan ini tidak terlepas dari doa dan dukungan dari masyarakat Cianjur dan kerja keras kontingan Cianjur untuk berbuat lebih baik. Para peraih juara 1 nantinya akan mewakili Jawa Barat di tingkat nasional pada bulan Agustus mendatang," kata H.M Sidik Mulyadi di pendopo Pemkab Cianjur, Selasa (26/5/2015).
Sementara Bupati Cianjur H. Tjetjep Muchtar Soleh yang menerima rombongan kontingan ajang KSM, Aksioma antar MI tingkat Jawa Barat di pendopo Cianjur mengungkapkan, prestasi yang cukup membanggakan itu merupakan salah satu bukti bahwa Cianjur memang punya potensi besar yang mampu bersaing serta mengalahkan kontingen lainnya di Jawa Barat dalam berbagai perlombaan.
"Kami pemerintah daerah memberikan apresiasi dan penghargaan kepada semua peserta dan kepada para Pembina dari lingkungan Kemenag Cianjur, sehingga berhasil mengukir prestasi di tingkat Jawa Barat," kata Tjetjep.
Dikatakannya, prestasi yang sudah diraih Cianjur,  sebenarnya tidak hanya di bidang keagamaan, olahraga saja, tapi juga bidang-bidang lainnya. Hal ini dibuktikan dengan telah diterimanya beberapa piala yang sudah diraih Cianjur.
"Untuk lomba di bidang kebersihan yang belum lama ini telah dilombakan, dan kini sedang dalam proses penilaian pemerintah pusat, kami optimis bahwa pada tahun 2015 ini, Cianjur insya Allah bakal meraih kembali Adipura," kata Tjetjep seraya berharap predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang bakal diberikan BPK bisa diterima Cianjur.
Pada kesempatan itu Tjetjep memberikan sejumlah uang "kadeudeuh" kepada sembilan orang siswa-siswi Madrasyah Ibtidaiyah (MI) yang telah meraih prestasi pada ajang KSM, Aksioma antar MI tingkat Jawa Barat. "Ini sekedar uang untuk jajan dan bonus khusus lainnya silahkan hubungi bagian Kesra," paparnya. [KC-02]**
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!






CIANJUR, [KC].- Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Buniwangi Cianjur, Puspa Delima protes keras atas ditebangnya pohon nangka yang berada persis disamping areal sekolah. Pohon nangka tersebut merupakan salah satu pohon perindang ruangan kelas yang sangat dibutuhkan.

Protes Kepsek SDN Buniwangi Cianjur tersebut cukup beralasan. Selain keberadaan pohon sangat dibutuhkan sebagai tanaman perindang, dalam penebangannya yang dilakukan Ketua RW setempat tidak pernah meminta ijin kepada pihak sekolah. Padahal lokasi pohon berada di areal lahan sekolah.

"Selaku Kepsek saya protes keras. Masa selaku aparat tidak punya etika, ini kan pohon diareal sekolah, sudah seharusnya minta ijin ke sekolah. Ini seenaknya sendiri main tebang saja, seperti kepunyaan sendiri," kata Kepsek SDN Buniwangi, Puspa Delima (26/5/2015).

Ia mengaku keberadaan pohon tersebut sangat dibutuhkan sebagai pohon perindang. Sejak pohon nangka ditebang, ruangan kelas tempat kegiatan belajar mengajar menjadi sangat panas. "Ya sedikit banyak terganggu, anak-anak mulai mengeluh panas setelah pohon ditebang," katanya.

Pihaknya sempat mendatangi Ketua RW setempat yang menyebut bahwa penebangan pohon itu dilakukan atas perintah lurah Bojongherang. "Ketua RW bilang ia melakukan penebangan atas perintah pak lurah, ini apa-apaan, masa gak bisa datang dulu ke sekolah baiknya seperti apa," katanya dengan nada tinggi.

Atas kejadian tersebut pihaknya menuntut kepada kelurahan untuk bertanggungjawab. Karena penebangan pohon di lingkungan sekolahnya itu atas perintah kelurahan. "Saya ingin ada pohon kembali rindang bagaimana caranya. Kalau tidak saya akan menempuh upaya lain," tegas Puspa.

Lurah Bojongherang Kecamatan Cianjur, Neng Didi ditemui terpisah membantah kalau telah memerintahkan Ketua RW untuk melakukan penebangan pohon di sekolah.

Dirinya mengaku hanya memerintahkan untuk melakukan bersih-bersih dilingkungan karena akan ada lomba penilaian kelurahan.
"Saya tidak memerintahkan untuk menebang pohon seperti itu. Perintah saya hanya untuk bersih-bersih jalan. Kalau menebang seperti itu jelas saya sendiri juga kurang setuju. Kalaupun ada paling memangkas ranting yang sekiranya mengganggu pengguna jalan," kata Neng Didi saat ditemui terpisah.

Pihaknya akan memanggil Ketua RW untuk didengar keterangannya terkait penebangan pohon di sekolah SDN Buniwangi. "Kita akan klarifikasi kepada Ketua RW, tentunya saya sendiri akan datang ke sekolah. Ini harus diselesaikan seperti apa solusinya, karena penebangan sudah terjadi," tandasnya [KC-02]**







CIANJUR, [KC].- Jumlah guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada di Kabupaten Cianjur saat ini jauh dari memadai. Idialnya kebutuhan guru PNS di Cianjur itu mencapai 13.000 orang. Namun yang ada baru sekitar 7.000 orang. Sehingga saat ini Kabupaten Cianjur masih kekurangan sekitar 6.000 orang guru, terutama untuk guru Sekolah Dasar (SD).

Hal itu tidak dibantah oleh Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kabupaten Cianjur, H Cecep Sobandi. Untuk menutupi kekurangan 6.000 orang guru PNS, sekolah-sekolah yang ada memanfaatkan tenaga guru honorer. Kekurangan guru PNS tersebut akan terus bertambah seiring dengan adanya guru yang memasuki usia pensiun.

"Paling banyak itu kekurangan guru SD mencapai sekitar 6.000 orang dan guru SMP 1.500 orang. Sedangkan untuk guru SMA/SMK malah mengalami lebih sebanyak 160 orang," kata Cecep ditemui di sebuah kegiatan, Selasa (26/5/2015).

Menurut Cecep, tahun ini BKPPD akan mengajukan kebutuhan guru PNS sebanyak 3.000 orang yang terbagi 1.500 untuk guru SD, sisanya untuk SMP dan SMA/SMK.

Jumlah tersebut disesuaikan dengan anasilis kebutuhan yang dilakukan oleh BKPPD. "Tentu kita dahulukan jumlah guru PNS nya sangat kurang. Sebab dari analisis yang ada di beberapa sekolah pun ada guru PNS yang lebih. Sehingga kami mengacu kepada analisis kebutuhan," katanya.

Kendati kekurangan guru PNS, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak merasa terganggu. Hal itu mengingat adanya guru honorer yang juga menjalankan tugas tidak jauh berbeda. "Kekurangan guru PNS ini tertutupi dengan adanya guru honorer. Keberadaanya sangat banyak membantu," tegas Cecep.

Pihaknya juga belum bisa memastikan apakah usulannya itu akan terealisasi atau tidak. Sebab semua kewenangan pengangkatan PNS menjadi kewenangan pemerintah pusat. "Usulannya memang masih jauh dari kebutuhan, itupun belum tentu seluruhnya dikabulkan. Dengan adanya guru honorer yang di gaji oleh sekolah dapat membantu kekurangan guru PNS," tegasnya. [KC-02]**
CIANJUR, [KC],- Dua orang tewas dan puluhan lainnya luka berat dalam kecelakaan yang melibatkan bus pariwisata dan beberapa sepeda motor di Jalan Ir. H juanda, Kampung panembong Kabupaten Cianjur, selasa (26/05/) malam.
Menurut keterangan saksi, Kecelakaan bermula saat bus bernomor polisi D 7564 AF melaju dari arah Cianjur menuju Bandung. Tepat di daerah warungbatu bus tidak dapat dikendalikan dan menabrak puluhan pengendara motor dan mobil.
Akibatnya, beberapa pengendara motor yang membonceng  terjatuh ke badan jalan dan terlindas bus, kini seluruh korban tewas dan luka sudah berada di IGD RSUD Cianjur.
“hingga berita ini diturunkan, petugas Laka Lantas Polres Cianjur masih melakukan evakuasi olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pendataan jumlah korban. Sementara  korban masih berada di IGD RSUD Cianjur [KC.01]
CIANJUR, [KC],- Masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Dari fase ke fase tantangan kehidupan semakin berat. Bagi lulusan sekolah harus memikirkan bagaimana melanjutkan ke jenjang lebih tinggi yang menuntut pembiayaan lebih besar lagi. Sedangkan bagi yang tidak melanjutkan, harus berikhtiar di pasar kerja.

Bagi mereka yang akan memasuki pasar kerja harus betul-betul menguasai ilmu yang telah didapatkannnya di bangku sekolahan. “Karena pasar kerja menghendaki tenaga kerja siap pakai, bukan sekadar ijasah,” kata Wakil Bupati Cianjur, Suranto, di depan  wisudawan SMK Kesehatan Tunas Harapan Bangsa (THB) Cianjur, di Gedung Assakinah.

Terlebih  ilmu  farmasi seperti yang digeluti sekolah ini selalu berkembang cepat. Derasnya perubahan sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong pula  perkembangan ilmu farmasi atau obat-obatan ini. Kondisi ini tentu  menuntut lulusan SMK  terus mengikuti perkembangan, terutama sekolahnya sendiri. Jika tidak mengikuti perkembangan, sebutnya, maka  akan ketinggalan.

Diakuinya, bersekolah hingga sekarang masih berbiaya tinggi, terutama di sekolah kejuruan. Tentu seharusnya gratis, karena  mengenyam pendidikan merupakan hak warga yang dilindungi konstitusi. Hanya saja untuk pemenuhan hak berpendidikan ini negara masih belum memiliki anggaran memadai. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari negara kepada sekolah belum mencapai titik ideal.

Akibatnya,  dalam mengakses pendidikan ini masyarakat masih harus dibebani. Setiap tahun ajaran baru kebanyakan orangtua dibuat kelimpungan demi keberlangsungan pendidikan anak-anaknya. Oleh karena itulah   pesan Suranto, anak-anak harus serius menimba ilmu di sekolah.  Manfaatkan sedini mungkin mumpung masih  muda. Jangan sia-siakan waktu berlalu dengan hal-hal yang tidak jelas.

Ketahuilah, sebut Suranto, masih banyak anak-anak yang antri masuk ke SLTA, namun mereka urung karena ketidakberdayaan ekonomi orangtuanya. Terbukti dari data yang ada, rata-rata  sekolah anak-anak Cianjur baru mencapai  7,3 yang artinya baru  mencapai kelas 7 lebih tiga bulan. “Jadi yang mampu bersekolah di SLTA mesti bersyukur dengan cara serius menimba ilmu,” sebutnya. [KC.10}**
CIANJUR,[KC],-  Dunia ini tidak seburam dulu lagi. Kini, Abar bin Karta (62), bisa melihat dunia dengan jernih setelah dioperasi katarak di RS Cicendo, Bandung. Perbaikan penglihatan warga Kp. Babakan Tasik, Desa Ciharashas, Kec. Cilaku, berkat bantuan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Cianjur.

Tentu saja ayah lima anak ini bahagia bukan main, setelah dioperasi matanya, 23-24 Mei lalu. Maklum saja dua puluh tahun lebih buruh tani   ini tidak mampu melihat dengan jelas lebih dari semeter. “Alhamdulillah penglihatan saya sekarang jernih,” kata Abar, saat singgah di sekretariat LKNU, Jl. Perintis Kemerdekaan, Jebrod.

Hal senada dituturkan  Ade Nurjaman  (59), warga Kp Babakan Padang, Desa Mekarjaya, Kec. Sukaluyu.  Selama belasan tahun ayah  empat anak ini tidak bisa melihat dengan jelas. Ia tahu menderita katarak dan agar bisa sembuh harus dioperasi di RS Cicendo. Hanya saja  untuk operasi ini membutuhkan biaya Rp 12 juta lebih, sedangkan kehidupan ekonominya morat-marit. Jangankan biaya operasi, untuk pemenuhan hidup sehari-hari saja ia kesusahan, karena ia pedagang kecil-kecilan.

Tapi kemudian titik terang menghinggapinya. Ia mendapatkan informasi bahwa LKNU yang diketuai dr. Mien Suranto, memberikan layanan  operasi katarak gratis bagi warga miskin. Ia pun mendaftarkan diri yang kemudian dioperasi katarak bersama enam pasien lainnya yakni Abar,  Sa’adah (50), warga Desa Ciharashas, Kec. Cilaku, Undang (61) Desa Margaluyu Kec. Tanggeung,  Nunung (70) Kel.Sayang,  Cianjur, Enceng (61) Kec. Cugenang. Abdul Jafar (58) Desa Sirnagalih, Kec Cilaku.    

“Sekarang saya  dengan kawan lainnya yang senasib bisa pulih seperti semula berkat bantuan LKNU,” sebut Ade, pada kesempatan yang sama, di sekretariat LKNU. Sebanyak tujuh pasien yang dioperasi ini, menurut Sekretaris LKNU, Elis Suryani, hasil  screening  atau pemeriksaan kesehatan dari 90 orang yang mendaftar pemeriksaan mata. Selebihnya mendapatkan kaca mata untuk menjaga kesehatan matanya.

LKNU yang aktif sejak dua tahun lalu ini akan terus memberikan layanan kesehatan bagi warga miskin. Bahkan Penasihat LKNU dr. Suranto, menghendaki LKNU ini ke depan menjadi rumah sakit. “Dengan menjadi rumah sakit LKNU akan lebih banyak memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujarnya, pada kesempatan terpisah. [KC.10]**

CIANJUR -[KC],-  Sambil menunggu surat keputusan (SK), pensiun dari Pegawai Negeri Sipil (PNS). Direktur PDAM Tirta Mukti Cianjur, Herman Suherman tetap melaksanakan akifitasnya sebagai pelayanan masyarakat. Selama dua hari Jumat (22/5), dan Senin (25/5), Herman Suherman menyerahkan bantuan kran air bersih di wilayah Cianjur.

Di antaranya di Cibeber, Warungkondang,  Ciranjang, Cikalongkulon dan Karangtengah. Untuk di Cibeber pemberian air bersih di komplek masjid jami Nurul Huda Kp Cisalak Kidul Desa Cisalak Kec Cibeber. Di Warungkondang depan pasar Warungkondang.

Di Ciranjang di Kampung Asrama RT 02 RW 03 Desa/Kec Ciranjang.  Cikalongkulon di Kp Salakopi Desa Majayala tepatnya di komplek masjid Al Huda dan di Karangtengah tepatnya di komplek Al Musto Al Mubarok Kp Cicurug Wetan Desa Maleber.    “Alhamdulillah, kran air bersih telah kami serahkan kepada masyarakat, mudah-mudahan ada manfaatnya,” kata Herman yang juga bakal calon bupati cianjur periode 2016-2021, Senin (5/25/2016).

Menurut Kang Herman,  kran air bersih merupakan salah satu programn PDAM Cianjur, untuk mengatasi kesulitan air bersih di beberapa wilayah di Cianjur . "Ini merupakan wujud kepedulian kami, terhadap masyarakat. Bak air bersih ini, dapat digunakan secara cuma-cuma tanpa harus membayar iuran karena yang membayar pemda," katanya.

Herman mengakui, kran air bersih sampai saat ini sudah ada sekitar 75 titik di wilayah Cianjur. Kedepannya, papar Herman, akan ditingkatkan lagi jumlahnya. "Kami mohon doa restunya, agar program ini terus berjalan dan lebih meningkat lagi jumlahnya," tandasnya.Pihaknya  mengaku memiliki komitmen kuat untuk memberi fasilitas umum air gratis bagi masyarakat. “Kami ingin masyarakat Cianjur sehat,” imbuhnya.[KC.13/Den]**
CIANJUR- [KC],- Bakal Calon Bupati Cianjur periode 2016-2021, Herman Suherman mengunjungi Madrasah Diniyah Al Mutmainnah di Kampung  Salakopi Desa Majalaya Kecamatan Cikalongkulon Cianjur Senin (5/25/2015).

Herman sengaja datang ke MD, untuk mengetahui sejauhmana implementasi dari Peraturan Daerah (Perda), Nomor 03 tahun 2014 tentang Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur’an. “Alhamdulillah di MD ini kegiatan keagamaan berjalan seusai dengan harapan,” kata Kang Herman.

Herman menerangkan,  pasca diterbitkan Perda MD banyak siswa yang belajar di MD. Karena, salah satu poin di Perda tersebut, jika siswa ingin melanjutkan ke SMP,MTS harus memiliki ijazah MD. Tak hanya itu,  lembaga MD mendapatkan bantuan anggaran 1 persen dari APBD Cianjur. “Mungkin ini yang menjadi motivasi siswa sehingga di setiap MD banyak siswa yang belajar,” tuturnya.

Herman memaparkan, pendidikan diniyah mampu memberikan pembinaan keagamaan kepada anak didik yang tidak terpenuhi pada jalur formal. Sedangkan pendidikan MD dilaksanakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat. “Melalui pendidikan MD diharapkan, siswa bisa menjadi manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Dengan harapan bisa agamis,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala MD Al Mutmainnah, Ustadz Hasanudin menerangkan, saat ini jumlah siswa MD sebanyak 106 orang.Materi yang disampaikan mengenai hafalan surat-surat pendek, shalat sunat, shalat wajib dan menulis Al Quran serta lainya. “Alhamdulillah melalui Perda yang diterbitkan Pemkab Cianjur sangat membantu kami. Utamanya, siswa jadi semangat belajar di MD,” pungkasnya.[KC.13/den]**
CIANJUR, [KC].- Sejumlah warga protes keberadaan kamar kos yang ada di Gang Irian RT 01/RW 17 Kelurahan Bojongherang (Bohera) Kecamatan/Kabupaten Cianjur.

Warga mengeluhkan keberadaan kos-kosan tersebut lantaran penghuninya seringkali membuat kegaduhan. Sehingga warga yang tengah beristirahat menjadi terganggu.

Menurut seorang warga yang juga tokoh masyarakat setempat, Damanhuri (56) sejak adanya tempat kos-kosan sekitar dua tahun silam itu, banyak aktivitas penghuni kos yang dilakukan disaat masyarakat lainnya tengah beristirahat. Penghuni kos bebas keluar masuk baik laki-laki maupun perempuan pada jam tengah malam.

"Sangat mengganggu, aktivitasnya dilakukan antara jam 12 malam hingga menjelang subuh. Kerja apaan jam begitu, mending kalau nggak berisik, ini rame, suara sepeda motor keluar masuk. Belum lagi suara laki perempuan yang terdengar tertawa-tawa. Ini sangat mengganggu masyarakat yang beristirahat," kata Damanhuri saat ditemui ketika melaporkan peristiwa yang dialaminya ke Kelurahan Bojongherang, Senin (25/5/2015).

Pihaknya merasa kecewa dengan sikap aparat, terutama RT/RW setempat yang sepertinya kurang peduli terhadap keluhan warga. Ia pernah menyampaikan keluhannya tersebut, namun tidak ditindak lanjuti. "Seperti hotel saja, keluar masuk orang pada tengah malam. Ini sangat mengganggu, harus ada aturan, apalagi ini berada dilingkungan warga. Jangan sampai nanti warga sendiri yang melakukan tindakan, apa gunanya aparat," paparnya.

Keberadaan kos diwilayahnya tersebut diyakini tidak mengantongi ijin warga. Ia selaku warga yang lokasinya paling dekat belum pernah diminta untuk menandatangani perijinan. "Ada 35 kamar kos, situasinya bebas laki dan perempuan dan selalu rame di tengah malem. Ini harus ditertibkan, aparat harus bertindak," paparnya.

Lurah Bojongherang Kecamatan Cianjur Neng Didi membenarkan adanya keluhan warga mengenai keberadaan kamar kos diwilayahnya yang mulai menjamur. Saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan terhadap keberadaan kamar kos.

"Kami sedang melakukan pendataan kamar kos, ada berapa jumlaahnya dan siapa pemilik dan kuasa pengelolanya. Nantinya mereka kita akan undang dan akan kita sampaikan apa-apa saja yang mereka harus lakukan selaku pemilik atau kuasa pengelola kamar kos. Semua penghuni kos harus terdata keluar masuknya," kata Neng Didi saat ditemui diruang kerjanya, Senin (25/5/2015).

Ia menyebut, pendataan penghuni kos perlu dilakukan sebagai antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan adanya data, sangat memudahkan penanganan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Bukan kita membatasi penghuni kos atau usaha pemilik kos, ini perlu dilakukan sebagai langkah antisipasi. Setiap warga yang tinggal diwilayah Bojongherang harus terdata. Kita ingin masyarakat yang tinggal di tempat kos bisa beriringan dengan masyarakat setempat, tidak memisahkan diri," paparnya.

Saat disinggung mengenai tempat kos acap kali dijadikan tempat maksiat, ia tidak bisa membantahnya. Melalui pendataan penghuni kos merupakan salah satu upaya pencegahan tindakan maksiat. "Dengan keberadaan mereka terdata dengan sendirinya oknum penghuni kos akan menjauh, karena kawatir. Sehingga kesan kos-kosan jadi ajang maksiat itu dengan sendirinya akan terbantahkan," tegasnya. [KC-02]**







CIANJUR, [KC].- Kapolres Cianjur AKBP Asep Guntur Rahayu dihubungi terpisah mengungkapkan, pelaku pembacokan yang menelan korban empat orang warga dua luka ringan dan dua warga luka parah merupakan residivis. Diduga pelaku mengalami gangguan jiwa.

"Pelaku sudah kami amankan berikut barang bukti berupa golok yang dipakai untuk membacok para korban setelah diobati dirumah sakit. Diduga pelaku mengidap gangguan jiwa, ia juga seorang residivis," kata Asep Guntur saat dihubungi terpisah.

Dalam aksinya, pelaku melukai empat orang warga yakni Ujang Dayat, Ganda, H.Idim dan Gofur Kepala Desa Sukamulya. "Yang lukanya sangat parah dan harus mendapatkan penanganan intensif Ujang Hidayat. Gofur luka serius di bagaian belakang kepalanya. Kalau dua orang warga Ganda dan H. Idim sudah bisa pulang," katanya.

Dikatakan Asep Guntur, setelah pelaku yang mengalami luka akibat penangkapan masyarakat pulih, pihaknya akan melakukan pemeriksaan kejiwaan pelaku. Hal itu untuk memastikan apakah pelaku benar mengalami gangguan jiwa atau tidak.

"Proses hukumnya tetap berlanjut seperti permintaan keterangan terhadap saksi di TKP dan saksi korban menunggu sembuh. Disamping itu kita menunggu hasil test kejiwaan pelaku. Hasil test kejiwaan tersebut akan sangat menentukan proses hukum selanjutnya," jelas perwira yang pernah menjadi penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu.

Pihaknya mengakui, sejumlah saksi sudah dimintai keterangan terkait aksi pembacokan yang dilakukan oleh pelaku yang diduga mengalami gangguan jiwa. "Sudah ada beberapa saksi yang yang dimintai keterangan. Tai tetap kita menunggu hasil dari tes kejiwaan pelaku. Sebab berdasarkan pasal 44 KUHP menyebutkan seseorang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana jika cacat kejiwaan atau terganggung karena penyakit," tegas Asep [KC-02]**
CIANJUR, [KC].- Pupun (42) warga Kampung Pasir Gombong RT 01/RW 02 Desa Sukamulya Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur kembali berulah, Minggu (24/5/2015) malam. Kali ini yang menjadi korbannya adalah Kepala Desa Sukamulya Kecamatan Cugenang Gopur (49) dan warga Ujang Hidayat (55), Ganda serta H.Idim
Mereka bersimbah darah akibat luka bacokan serius yang dilakukan oleh Pupun yang tiba-tiba mengamuk.

Para korban harus dilarikan ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan pertolongan medis. Kades Gopur menderita luka bacokan dibagian belakang kepala dan harus mendapatkan 16 jahitan sedang Ujang Hidayat mengalami luka lebih parah disekujur tubuhnya. Sementara dua warga lainya lebih beruntung, setelah mendapatkan penanganan medis pihak rumah sakit memperbolehkan pulang.

Menurut pengakuan Kades Sukamulya Gopur, saat sebelum kejadian ia mendapatkan pengaduan dari warga yang memberitahukan bahwa Popon membawa-bawa golok. Warga kawatir jika Pupun melukai warga lantaran berbicaranya sudah ngelantur. Apalagi sebelumnya diketahui bahwa Pupun tega memutilasi ibu kandungnya sendiri.

Mendapatkan pengaduan tersebut Kades Gopur berinisiatif mengumpulkan sejumlah tokoh masyarakat dan ketua RT/RW. Maksud dan tujuannya tidak lain untuk membawa popon berobat kembali ke rumah sakit jiwa dengan biaya ditanggung bersama. Dalam musyawarah yang dilaksanakan selepas magrib itu juga berkesimpulan harus bisa mengambil golok yang dibawa Pupun.
Setelah bermusywarah seorang warga diminta untuk menyambangi Pupun dengan dalih untuk diajak berkerja dan telah ditunggu dirumah kerabatnya. Pupun pun mendatangi rumah kerabatnya, namun saat tiba rupanya curiga melihat banyak warga yang berkumpul, Pupun kabur sambil membawa goloknya.

"Saat itu saya hanya berfikir bagaimana mengambil golok yang dibawanya. Maka warga menyebar mencari keberadaanya dan diketahui ternyata ada dirumahnya. Seorang warga yang kebetulan masih kerabat Pupun berupaya mendatangi rumahnya. Saat pintu diketuk dan diminta untuk menyerahkan goloknya, Pupun membuka pintu sambil mengayunkan goloknya," kata Gopur saat ditemui dibangsal IGD RSUD Cianjur.

Warga yang melihat Pupun mengamuk mengibas-ngibaskan golok pada kabur menyelamatkan diri. Naas bagi Ujang Hidayat, saat warga lainya berhasil kabur, ia terpojok sendirian. Pupun yang sudah kalap mengayunkan goloknya beberapa kali ke tubuh Ujang Hidayat yang sudah tidak berdaya. Rintihan minta tolong tidak membuat warga berani menolongnya.

"Saya melihatnya tidak tega, tidak ada warga yang menolong. Saya nekat, saya tendang dengan kaki, hingga membuat pupun terjatuh. Saya masih sempat melihat golok yang dipegangnya tidak lepas, saya langsung lari, tapi rupanya ia mengejar saya dan saya dibacok dari belakang. Saya menoleh saya mau membacok yang kedua saya berhasil tangkap tangan kananya dan saya cekik lehernya kemudian saya banting," kata Gopur.

Sambil terus mempertahankan pegangan tangan Pupun dan terus mencekik lehernya, Gopur berupaya meminta tolong kepada warga. "Cukup lama saya berupaya mencekik dan mempertahankan pegangan tangannya, ia berupaya meronta dan berupaya melepaskan diri sambil terus menendang bagian belakang tubuh saya. Sampai akhirnya ada warga yang nekat berani memukul Pupun dengan bambu. Baru setelah ditangani oleh warga saya melepaskan diri," kata Gopur sambil menunjuk jari tengahnya yang patah akibat terkena pukulan warga.

Setelah Pupun tertangani, Gopur memberitahukan kepada warga lainya agar menolong Ujang Hidayat yang kondisi lukanya sangat parah. "Kalau saya tidak nekat menendang Pupun, Ujang mungkin sudah meninggal. Saya hanya berfikir saat itu bagaimana menyelamatkan Ujang, meski saya harus mati," katanya.

Akibat luka yang dideritanya cukup serius, Gopur dan Ujang Hidayat harus dilarikan ke RSUD Cianjur. "Setelah tertangani saya minta dibawa ke rumah sakit. Saya sempat ke Polsek baru kemudian di antar ke rumah sakit," katanya. [KC-02]**.