March 2013

CIANJUR, (KC),- Belasan warung kopi dan jagung bakar ludes terbakar di Rest Area Kampung Puncak Desa Ciloto Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur, Sabtu (30/3) pagi menjelang siang. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut.

Kepala Desa Ciloto, Usep Setiawan, mengatakan, jumlah kios yang menempati lahan milik Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat (Jabar) itu sebanyak 15 kios dari total sebanyak 17 kios.

"Penyebabnya belum diketahui pasti. Tapi dugaan sementara karena arus pendek listrik," kata Usep kepada Tribun melalui ponselnya, Sabtu (30/3).

Dikatakan Usep, kobaran api mulai diketahui sekitar pukul 08.25. Menurutnya, api cepat menjalar lantaran lokasi kios yang bersampingan. Tak pelak api meludeskan belaskan kios dengan waktu yang cukup singkat.

"Kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp 250 juta," kata Usep.

Usep mengatakan, pemadam kebakaran yang tiba di lokasi, langsung berupaya memadamkan api. "Satu mobil pemadam kebakaran turun memadamkan kobaran api," kata Usep. 

Sejumlah pengendara dari arah Puncak ke Cianjur dan sebaliknya, kata Usep, sempat berhenti kebakaran. Akibatnya terjadi kemacetan namun hal tersebut mampu diatasi aparat kepolisian yang juga datang ke lokasi kebakaran. "Kemacetan tidak sampai panjang, hanya sekitar satu kilo saja," kata Usep.(KC.01)***

CIANJUR,(KC),- Tim arkelolog menemukan kemajuan signifikan dalam eskavasi situs Gunung Padang di Cianjur. Diduga ada bangunan dengan tinggi mencapai 110 meter di area itu. Tak kalah dengan bangunan piramida di Mesir.

"Piramida Mesir yang tertinggi kalau nggak salah 132 meter. Bangunan Gunung Padang minimal tingginya 110 meter," jelas arkeolog Ali Akbar dalam keterangannya, Sabtu (30/3/2013).

Gunung padang menurut Ali, merupakan sebuah bukit setinggi 995 meter di atas permukaan air laut (mdpl). Pada ketinggian 885 mdpl ditemukan terasering yang kemungkinan merupakan kaki bangunan. 

"Namun ekskavasi yang masih berlangsung saat ini menunjukkan bahwa di kedalaman lebih dari 4 meter masih ada struktur buatan manusia," jelasnya.

Hasil pengeboran yang dilakukan oleh geolog Dr. Andang Bachtiar juga diperoleh hasil bahwa sampai kedalaman 18 meter terdapat susunan batu-batu panjang berpenampang segilima (columnar joint) yang disusun manusia. 

"Pengeboran tersebut juga menemukan semacam semen purba di antara columnar joint. Dr. Andri S, petrograf menyatakan semen tersebut bukan batuan alami melainkan adonan yang berfungsi sebagai perekat," tambahnya.

Ali juga mengungkapkan sejumlah bukti adanya bangunan besar buatan manusia. Pertama, orientasi struktur batu di lereng timur adalah rebah (horisontal) Timur-Barat. Sementara itu, orientasi struktur batu di lereng utara adalah rebah utara-selatan. 

"Secara alami, columnar joint di dalam tanah posisinya berdiri (vertikal). Jika columnar joint secara alami rebah, maka orientasinya akan seragam misalnya seluruhnya mengarah ke utara," imbuhnya.

Kedua, struktur batu columnar joint yang ditemukan di kedalaman 4 meter diselingi lapisan semen purba. Semen purba tersebut berfungsi sebagai perekat sehingga struktur bangunan menjadi sangat kokoh. 

"Dr. Andang Bachtiar yang melakukan analisis terhadap semen menyatakan pada semen tersebut terdapat mono cristallin quartz, iron-magnesium oxides dan clay. Oxide mengandunghematite, magnetite, dan unsur lainnya yang jelas bukan berasal dari pelapukan batu columnar joint," jelasnya lagi.

Dan yang ketiga, hasil ekskavasi memperoleh temuan logam berupa terak besi buatan manusia di antara struktur batuan di lereng timur. Hasil analisis Laboratorium Uji Departemen Teknik Metalurgi dan Mineral Universitas Indonesia menunjukkan kadar besi dan carbon yang tinggi. Artinya, masyarakat yang membuat situs Gunung Padang telah mengenal pembakaran, pengolahan, dan pemurnian logam.

"Berdasarkan hasil penelitian tersebut, jelas kiranya bahwa di bawah tanah Gunung Padang pernah terdapat aktivitas masyarakat masa lalu yang antara lain membuat struktur bangunan (manmade). Lapisan alami Gunung Padang jika mengacu pada hasil pengeboran kemungkinan besar terdapat pada kedalaman 18 meter dari permukaan tanah sekarang," tuntasnya.(KC.01/Net)**
BILA melihat dari penampilanya, siapapun tidak akan menyangka kalau Devira Dwi Rahayu, murid kelas V-B SDN Ibu Jenab 1 Cianjur itu ternyata pandai berpidato dalam bahasa Sunda. Berkat ke keahlianya itulah, anak kedua dari tiga bersaudaran pasangan suami istri (pasutri)  Willi Wangi Lazuardi dan Dina Yulianti itu acap kali mewakili sekolahnya dalam ajang lomba Biantara (pidato bahasa sunda).

Terakhir Devira berhasil menjadi juara I pada ajang Biantara tingkat Kabupaten Cianjur yang digelar pada tahun 2012 silam. Diapun berhak mewakili Cianjur untuk diikutsertakan pada lomba Biantara tingkat Propinsi Jawa Barat yang dijadwalkan akan digelar pada bulan Mei 2013 mendatang.

Menurut murid SD yang bercita-cita ingin menjadi guru itu, berpidato dengan bahasa Sunda dirasakan susah-susah gampang. Tapi setelah ditekuni yang tadinya dianggap susah akhirnya bisa menjadi biasa. "Tadinya memang susah, tapi Devira terus saja belajar. Yang tadinya tepaksa sekarang jadi biasa. Alhamdulillah ternyata bisa juga berprestasi," kata murid yang pernah meraih juara 2 Pildacil tingkat kecamatan itu.

Keberhasilanya yang diraih saat ini tentu tidak terlepas dari peran kedua orang tuanya yang selalu memberi dukungan terhadap apa yang ia inginkan. Sehingga motivasi dan dukungan itulah yang menjadi senjata ampuh untuk semakin rajin belajar hingga membawanya menjadi juara Biantara tingkat Kabupaten Cianjur.

Biantara yang membawanya menjadi juara tingkat Kabupaten Cianjur yang diraihnya itu juga tidak terlepas dari materi Biantara yang dibawakannya. Saat itu dia mengaku membawakan Biantara dengan judul "Tarekah Miara Alam Jeung Lingkungan". "Ceritanya mengenai kebersihan lingkungan dan selalu menjaga alam," jelasnya.

Menurut Devira, menjaga lingkungan itu harus ditanamkan sedini mungkin. Sebagi seorang murid SD dirinya sadar betul manfaat dari kebersihan lingkungan, terutama lingkungan sekolah. Selain itu menjaga kelestarian alam juga harus ditanamkan sedini mungkin, karena kalau tidak bisa jadi kerusakan alam akam semakin meluas.

"Saat ini saja kalau kita memperhatikan tayangan berita-berita, bencana alam seperti longsor sudah banyak terjadi. Itu semua tidak terlepas akibat rusaknya alam. kalau tidak dijaga sedini mungkin, kerusakan itu akan semakin luas. Sebagai murid SD sudah selayaknya mengetahui itu dan menanamkan pada dirinya untuk selalu menjaga kelestarian alam dan lingkungannya," katanya berdiplomasi (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Sejumlah Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang membuka perwakilan di Kab. Cianjur mempertanyakan rencana pelimpahan rekom TKI yang akan dilimpahkan ke kecamatan. Pasalnya, jika hal itu dilakukan oleh Pemkab Cianjur, maka dipastikan akan membuat pelaku bisnis buruh migran itu harus mempersiapkan anggaran yang lebih besar.

Rencana pelimpahan rekom TKI yang saat ini masih dilakukan melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kab. Cianjur ke kecamatan menyusul terbitnya Peraturan Bupati (Perbub) Nomor 44 Tahun 2012 tentang pelimpahan sebagian kewenangan bupati kepada camat  di Kab. Canjur. Salah satunya mengenai rekom TKI.

"Saat ini saja ketika kami melakukan rekom di Dinsosnakertrans saja sudah banyak menyita waktu dan biaya. Apalagi jika dilakukan disetiap kecamatan, tentu akan menambah biaya yang tidak sedikit. Bayangin saja, jika ada TKI yang berasal dari Cianjur selatan, kami harus bolak-balik ke Cianjur selatan. Kalu jumlahnya banyak masih sedikit tertolong, kalau hanya satu orang, berapa biaya yang harus kami keluarkan tidak akan sebanding," kata Endang (30) salah seorang pengurus PPTKIS di Cianjur, Jum'at (29/3/2013).

Pihaknya tidak habis fikir, pertimbangan apa sehingga Pemkab Cianjur sampai mengeluarkan Perbub tersebut. Kalau untuk peningkatan pelayanan, pihaknya mempertanyakan pelayanan yang mana. "Ini hemat kami bukan peningkatan pelayanan, tapi malah memperumit pelayanan. Setahu kami masalah rekom ini datanya online ke pemerintah pusat. Apakah sarana di kecamatan sudah memadai. Kalau belum, berarti akan menimbulkan persoalan baru," katanya.

Selaku pelaku bisnis migran worker, pihaknya berharap agar Perbub tersebut bisa dipertimbangkan untuk direalisasikan. "Kami hanya berharap Perbub itu tidak diberlakukan, kalaupun diberlakukan kami berharap Pemkab Cianjur juga memikirkan solusi yang tepat bagi para PPTKIS dalam merekom TKI. Sudah bisa dipastikan selain menambah biaya, waktu juga akan lebih lama," katanya.

Kepala Dinsosnakertrans Kab. Cianjur Sumitra melalui Kepala Seksi (Kasi) Bina Lembaga Usaha Ketenagakerjaan, Ahmad Ubaidillah mengatakan, pihaknya tidak menampik adanya keluhan dari PPTKIS terkait rencana diberlakukanya Perbub Nomor 44 Tahun 2012. Para PPTKIS kawatir jika Perbub tersebut diberlakukan, mereka harus mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan saat melakukan rekom di Dinsosnakertrans.

"Saya sempat menerima keluhan dari beberapa pelaku PPTKIS. Bahkan ada diantaranya yang mengaku akan melakukan aksi jika Perbub tersebut direalisasikan. Kami masih mencoba memberikan penjelasan. Kami juga belum tahu kapan Perbub tersebut akan diwujudkan, namun hingga saat ini rekom TKI masih melalui Dinsosnakertrans," kata Ahmad Ubaidillah saat dihubungi terpisah.

Untuk merealisasikan Perbub Nomor 44 Tahun 2012 tidaklah mudah. Selain harus mempersiapkan perangkatnya di setiap kecamatan yang sudah barang tentu akan memakan biaya yang tidak sedikit, juga harus ada ijin dari pemerintah pusat terkait dengan data online. "Sampai saat ini biaya rekom ini masih ditanggung pemerintah pusat, selaib datanya online, pelaksanaanya juga masih harus melalui Dinsosnakertrans. Tentunya kalau akan. Dilimpahkan ke kecamatan, harus merubah sitem dan aturanya," katanya.

Pihaknya juga tidak tahu, riwayat sampai terbitnya Perbub tersebut. Karena Dinsosnakertrans saat ini tidak pernah mengusulkan. "Kata pak Kepala Dinas (Sumitra) beliau tidak pernah mengusulkan, tapi kalau pejabat sebelumnya tidak tahu. Tapi saya salama ini belum pernah diajak untuk melakukan pembahasan mengenai Perbub itu," tegasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Ada pekerjaan rumah yang lebih besar yang menantang didepan mata, bahwa permasalahan TB di Kabupaten Cianjur tidak bisa ditangani oleh pemerintah atau jajaran kesehatan saja, tetapi harus melibatkan mitra dan sektor terkait yaitu pemerintah, swasta, masyarakat, bahkan pasien TB sendiri.

Demikian ditegaskan Wakil Bupati Cianjur Suranto disela kegiatan Peringatan Hari TB Se - Dunia Tingkat Kabupaten Cianjur tahun 2013 yang berlangsung di BBPK Ciloto, Kecamatan Cipanas, Kab. Cianjur Rabu (27/3/2013). Pesan peringatah hari TB se-Dunia tahun ini mengambil tema “Stop TB in My Life Time” (jangan biarkan TB Hadir di Hidupku).

"Pesan ini mengingatkan bahwa saat ini tidak seharusnya orang meninggal karena TB, bahwa TB bisa dideteksi secara dini dan bisa disembuhkan dengan minum obat sampai tuntas dan tentunya keterlibatan semua pihak dalam pengendalian TB harus selalu diupayakan," kata Suranto yang juga seorang dokter.

Ketia Panitia Peringatan Hari TB Se - Dunia Tingkat Kabupaten Cianjur tahun 2013 dr. Atang menuturkan, dalam rangka puncak acara peringatan hari TB se-dunia tingkat Kabupaten Cianjur tahun 2013 diawali oleh niat untuk meningkatkan kepedulian, komitmen dan aksi nyata semua komponen masyarakat Kabupaten Cianjur untuk mencapai akses universal layanan TB yang berkualitas.

Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan diantaranya Seminar Ilmiah Sosialisasi Penangganan Kasus TB-MDR, seminar pelaksanaan PCT/PICT dalam program pengendalian HIV/AIDS,Lomba penulisan artikel tentang kasus TB-MDR bagi masyarakat umum, sosialisasi TB/TB-MDR bagi tim Kessa Desa Siaga bagi 7 puskesmas diwilayah 1 dan 2, Car Free Day dan senam paru massal dan sebagai puncak acara sekaligus menutup rangkaian acara Peringatan Hari TB Se - Dunia Tingkat Kabupaten Cianjur tahun 2013 adalah pemantapan kader PMO malalui jamboree kader dan outbond serta pembekalan surevailens berbasis masyarakat yang berlokasi di BBPK Ciloto.

"Semua rangkaian kegiatan yang telah dilakukan para kader pada dasarnya bertujuan untuk membuat sinkronisasi antara pencegahan dan pengobatan TB di wilayahnya masing -masing serta para kader dapat mensosialisasikan dampak dari menularnya penyakt TB dilingkungan sekitar agar bisa terdeteksi sejak dini. Diharapkan pula para pengidap TB bisa membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari - hari," tegasnya (KC-02)**.
CIANJUR (KC),- Yayasan Cindev bekerjasama dengan Dewan Pengurus daerah Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) belum lama ini (26/3)  telah menggelar Tabligh Akbar  Bersama Ustad H Jefri AlBukhori di Masjid Agung Cianjur dengan tema " Indahya Kebersamaan Dalam Islam", kurang lebih ada sekitar 5000 jemaah memadati Masjid Agung Cianjur untuk bersama-sama mendengarkan tausiyah-tausiyah yang disampaikan Ketua Yayasan Cindev Bapak Doddy Imron Cholid, Bapak KH. Miftah Faridl dan Ustad H Jefri Al-Bukhori.
Pada kegiatan tersebut Panitia menyediakan 50 Cinderamata bagi mereka yang membuat resume/kesimpulan tausiyah, da kurang lebih 2000 lembar resume yang masuk pada panitia namun harus dipilih beberapa yang terbaik, dan Inilah daftar yang beruntung menerima cinderamata dari Yayasan Cindev; (Hadiah dapat diambil di Yayasan Cindev Jl. Moh Toha Depan MI Assasul Islam -Majlis)

NO NAMA UTUSAN 
1 Tiktik Hidayati Yayasan Darul Hasan
2 Hj. Sri Mulyati Perorangan
3 Wahyu Pontren Nurul Huda
4 Hj. Hasanah MT. Nurul Amal
5 Meti MT. As Sakinah
6 Ayi Rustandi MT. At Taqwa Warkon
7 Andri Ibrahim Pontren Al Itishom
8 Lilis Solihah MT. Al Muawanah
9 Anwar Junaedi SMK Bela Nusantara
10 Kiki Rahmat Sari Pontren Al Ittihad
11 Euis Maryati Perorangan
12 Yayan Sugandi Perorangan/ Pawenang
13 Hj. Enung Madrasah Miftahul Khoer
14 Rhegy Pratidina SMAN 1 Cianjur
15 Nuryana MT. As Syadiah Cibeber
16 Elly Widaningsih MT. Manarul Huda
17 Neng Meiwa Nurhayati Pontren Al Musyarofah
18 Anisa Lestari Iskandar Pontren Al Musyarofah
19 Aria Sapta Waluya Pontren Al Musyarofah
20 Nurshofa Pontren Darussa'adah Al Amin
21 Anita Rahayu Kodo'a Cianjur
22 Ahmad Endang SMK Nurul Huda
23 Soleh Hidayat Mesjid Al Falah Warujajar
24 Saepudin SMK Islamiyah Sayang
25 Nyai Nanay Asiah MT. Miftahul Khoer
26 Ismayanti PMII Unsur
27 Yayat Nurhayati SMK Mardiyuana
28 Cecep Maulana Pontren Al Itishom
29 Nunung Nurhayati Gg. Kirana Rt 02 Rw 21
30 Esih Sukaesih MT. Nurul Amal
31 Dedeh Perorangan/ Pawenang
32 Titin Perorangan / Komp. SMP 2
33 Sariyanti Pontren Nurul Huda
34 Rustamin Pasir hayam
35 Oleh Cimuti
36 Cut Mutia BBC
37 Susanto Benda
38 Dewi Masjid Al Ikhlas
39 Dian Masjid Al Hikmah
40 Neng Ana Masjid Al Hikmah
41 Ai Asiyah Bojongmeron
42 Maya Sa'diyah Leles
43 Karyati Al Muin
44 Apit Jaelani Ramadhan SMK IT Nurul Huda
45 B. EEN Pengajian H. Amin
46 Irma Hermawati Perorangan
47 Yati Perorangan/ BTN Rancabali
48 Hedi Yunus SMK IT Al Musyarofah
49 Rahman Saepul Pajri SMK IT Nurul Huda
50 Rika Rahmawati PMI Kab. Cianjur
ilustrasi
CIANJUR, (KC).- Ag (70) oknum guru ngaji harus diamankan ke Mapolsek Karangtengah lantaran diduga telah melakukan pencabulan terhadap lima orang muridnya yang masih dibawah umur. Modus yang digunakan oknum guru ngaji yang mengajar salah satu majelis taklim di Kampung Tajurhalang Desa Sindanglaka Kecamatan Karangtengah Kabupaten Cianjur itu tidak lain bisa membuat muridnya pintar.

Informasi yang berhasil dihimpun mnyebutkan, aksi bejat kakek yang telah memiliki 13 orang cucu itu berlangsung sekitar Februari 2013 lalu. Untuk mengelabuhi muridnya, pelaku mengaku bisa mengobati muridnya yang ingin pintar.

Sebagai salah satu syarat muridnya yang ingin pintar harus menuruti keinginannya. Ada yang lidah muridnya ditulisi huruf arab, ada juga yang lidah muridnya digigit, bahkan ada pula yang harus dipegang payudaranya. Dalam melakukan aksinya dia menggunakan ruangan khusus yang ada di majlis ta'lim.

Aksi bejat yang dilakukan oknum guru ngaji itu akhirnya tercium juga oleh masyarakat yang langsung melaporkan ke Mapolsek Karangtengah. Petugas yang menerima laporan langsung bertindak cepat mengamnkan pelaku kawatir terjadi amuk massa. Pelaku ditangkap tanpa melakukan perlawanan dari rumah keponakannya.

Kapolsek Karangtengah Kompol Darmadji melalui Panit Reskrim Iptu Tata Carnita membenarkan adanya oknum guru ngaji yang diamankan lantaran diduga berbuat cabul kepada muridnya. Menurut Tata, modus yang digunakan pelaku adalah dengan memberikan pelajaran mengaji kepada 10 orang muridnya di sebuah majelis taklim.

"Pelaku mengaku kepada murid-muridnya bahwa dia bisa membuatnya pintar mengaji.Satu persatu muridnya itu disuruh masuk kedalam ruangan khusus. Menurut pengakuanya sebagai syaratnya lidah muridnya harus ditulisi huruf arab, ada juga yang harus digigit sampai dipegang dadanya," kata Tata di Mapolsek Karangtengah, Rabu (27/3/2013).

Atas tindakan pelaku, pihaknya akan menjerat pelaku dengan pasal 82 Undang Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak."Ancaman hukumannya paling lama 15 tahun, dan paling sedikit 3 tahun atau denda maksimal Rp300 juta, paling sedikit Rp60 juta," tegasnya.

Sementara pelaku sendiri mengaku menyesal dengan perbuatannya. Dia mengaku khilaf atas perbuatan yang telah dialkukan kepada murid-muridnya. "Saya baru kali ini melakukannya, saya sangat menyesal apa yang telah saya perbuat terhadap murid saya, saya khilaf telah melakukan dosa," katanya (KC-02/bb)**.
CIANJUR, (KC).- Seorang bocah berumur 9 tahun di Kabupaten Cianjur teridentifikasi terjangkit penyakit Difteri. Bocah berinisial NF itu kini tengah menjalani perawatan intensif dan terlihat terbaring lemah di ruang Aromanis, kamar Isolasi RSUD Cianjur.

Orang tua NF awalnya tidak menyadari kalau anaknya terjangkit penyakit yang langka dan mematikan itu. Kepastian penyakit anaknya tersebut diketahui setelah hasil laboratorium keluar.

Menurut penuturan orang tua NF, Herman (48), warga Kampung Cihaur 2, RT 02/RW 05, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, mengatakan, anaknya tersebut mengalami demam setelah mengikuti berenang pada hari Minggu (17/3/2013) lalu. Selang dua hari, NF mengalami demam tinggi dan sesak serta batuk.
           
“Karena demam, batuk dan sesak tidak kunjung sembuh, pada hari Kamis (21/3/2013), anak saya dibawa ke dokter di Salakopi, Cianjur. Saat itu, dokter menyarankan agar anak saya dirawat di RSUD Cianjur, karena terserang Difteri,” katanya.

Orang tua NF awalnya tidak mengetahui kalau penyakit difteri itu membahayakan keselamatan jiwa anaknya. Dia baru mengetahui difteri setelah melihat dari internet, bahwa penyakit yang sangat berbahaya. "Begitu tahu seberapa berbahayanya penyakit disteri itu, sehari setelahnya saya langsung bawa anak saya ke RSUD Cianjur. Setelah mendapatkan penangan dan diketahui hasil tes laboratoriumnya yang menyatakan positif difteri anak saya langsung masuk ruangan isolasi," jelasnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Cianjur, Ratu Triyulia Herawati, membenarkan jika ada pasien yang terkena penyakit difteri di RSUD Cianjur, dan tengah menjalani perawatan. Bahkan, kata dia, pasien tersebut terus dirawat intensif agar bisa pulih. “Kami terus melakukan uji laboratorium untuk melihat perkembangan penyakitnya," tegasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Sebanyak 16 negara atau sebanyak 147 orang turut andil untuk mengikuti jambore Pramuka perkemahan perdamaian dunia di Punggawa Ratu Pasundan, Desa Sukaratu, Kecamatan Gekbrong Cianjur, Selasa 26/3/2013). Mereka datang ke Cianjur tidak lain untuk mengetahui kebudayaan dan kesenian masyarakat Cianjur.

Kaka Kwarnas Pramuka,
Brata Tryana Hardjosubroto mengungkapkan, jambore Pramuka perkemahan perdamaian dunia yang diikuti 147 peserta dari 16 negara itu bagian dari peserta seluruhnya di Indonesia sebanyak 40 negara. Hanya saja yang mengambil tempat di Sukaratu berasal dari 16 negara. "Sisanya di Kampung Domba Pandeglang Banten dan Ketu Babakan Jakarta Selatan yang berlangsung mulai tanggal 25 hingga 31 maret 2013,” katanya.

Para peserta kata Brata, akan tinggal dirumah-rumah warga selama tiga malam. Mereka akan berusaha interaksi memahami dan bersahabat dengan masyarakat setempat. "Para peserta jambore Pramuka ini akan diberikan pemahaman atau diajari tata cara membuat dan makan makanan khas, belajar seni dan budaya yang berada Cianjur,” ujarnya.

Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh secara terpisah mengungkapkan, peserta Jambore Pramuka yang berasal dari 16 negara tersebut, di antaranya dari Thailand, Saudi Arabia, Mexico, Malaysia, Kamboja, Oman, India, Singapura, Taiwan, Kazakstan, Vietnam, Irlandia Brunei Darusalam, Philipina dan Australia dan Indonesia.

"Sebagai warga Cianjur tentu kami sangat bangga karena salah satu dari wilayah Cianjur dijadikan tempat untuk Jambore Pramuka tingkat Internasional. Apalagi kalau dijadikan perkemahan perdamaian dunia, tentu kita akan bangga," tegasnya.

Menurut Tjetjep, keberadaan Pramuka di Cianjur saat ini semakin eksis semenjak dicanangkannya Cianjur sebagai kabupaten pramuka. Hal ini tercermin dari meningkatnya minat kaum muda terhadap gerakan pramuka, dan semakin banyaknya kegiatan kepramukaan yang dilaksanakan. Mulai dari prasiaga hingga di tiap-tiap organisasi perangkat daerah (OPD) telah terbentuk keanggotaan pramuka.

"Perkembangan Pramuka di Cianjur saat ini sungguh sangat menggembirakan serta positif, dan semoga pula menjadi kekuatan untuk tercapainya visi dan misi gerakan pramuka, yakni mempersiapkan para pemimpin bangsa yang memiliki watak, kepribadian, dan akhlak mulia pada masa yang akan datang," kata Tjetep.

Secara terpisah, Budayawan Cianjur, Abah Ruskawan mengapresiasi jika Punggawa Ratu Pasundan di Desa Sukaratu Gekbrong dijadikan tempat perkemahan perdamaian dunia. “Desa Sukaratu telah memiliki surat keputusan bupati tentang desa budaya. Di desa ini banyak keaneragaman kaulinan urang lembur dan makanan urang sunda. Itu semua sengaja diciptakan untuk menunjang sebagai salah satu sarana sebagai desa wisata," kata Abah.

Abah berharap, kebudayaan Cianjur nantinya dapat diadopsi oleh peserta perkemahan perdamaian dunia di masing-masing tempat tinggal yang nantinya akan dibawa ke negaranya masing-masing. Sehingga akan membawa nama Cianjur dan Indonesia dimata dunia. "Dengan adanya jambore Pramuka perdamaian dunia ini, kebudayaan Cianjur bisa semakin luas dan dikenal mendunia," harapnya (KC-02)**.
no image
CIANJUR, (KC).- Sejumlah perwakilan beberapa elemen masyarakat, Selasa (26/3/2013) mendatangi kantor Kejaksaan Negeri Cianjur di Jalan Dr. Muwardi by Pass Cianjur. Kedatangan gabungan elemen massa seperti Komunitas Pemuda Cianjur (Kompac), Nahdlatul Institut dan Lembaga Bantuan Hukum Nasional (LBHN) Cianjur itu tidak lain untuk mempertanyakan tindak lanjut dari pelimpahan berkas laporan dugaan tindak pidana korupsi pemberian remunerasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat.

Sekretaris Kompac Cianjur, Asep Zakaria mengatakan, kedatangan Kompac, Nahdlatul Institut dan LBHN Cianjur ke Kejari Cianjur tidak lain untuk melakukan audiensi dengan pihak Kejari Cianjur. Audensi tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tindak lanjut dari pelimpahan berkas dugaan tindak pidana korupsi pemberian remunerasi RSUD Cianjur dari Kejati Jabar.

"Saat kami ke Kejati Bandung beberapa waktu lalu, pihak Kejati mengatakan jika kasus dugaan korupsi remunerasi RSUD Cianjur telah dilimpahkan ke Kejari Cianjur untuk penanganannya. Makanya kami datang untuk mengetahui sejauh mana penanganan yang telah dilakukan Kejari Cianjur terhadap berkas pelimpahan dari Kejati Jabar itu," kata Asep.

Berdasarkan penjelasan dari pihak Kejati Jabar, alasan dilimpahkan ke Kejari Cianjur karena dugaan kerugian negara atas dugaan tindak pidana korupsi pemberian remunerasi RSUD Cianjur itu dibawah Rp 5 miliar. Sementara Kejati Jabar menangani kasus dugaan tindak pidana korupsi diatas Rp 5 miliar lebih. “Untuk mengetahui kebenaran pelimpahan tersebut, kami langsung audiensi dengan Kejari,” ujarnya.

Menurutnya, peristiwa dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) dana remunerasi itu dicairkan ketika Wakil Bupati Cianjur Suranto menjabat sebagai Direktur Utama RSUD Cianjur. Saat itu telah terbit SK Direktur nomor 455/Kep.04.1/RSUD/2009 tanggal 20 Januari 2009 tentang penetapan remunerasi bagi pejabat dan pengelola pegawai di lingkungan RSUD Cianjur.

"Tapi dalam kenyataanya, SK Kepala Daerah itu tidak sesuai dengan pencairan," tambah Ketua LBHN, Billy Rahmadana didampingi Ketua Nahdlatul Institut, Tibyanul Arifin.

Dia menuturkan, remunerasi berupa insentif bagi pegawai RSUD Cianjur itu diberikan pada Mei sampai bulan November 2009 lalu atau sekitar 6 bulan. Dana yang diambil pun dianggarkan di belanja jasa pelayanan kesehatan. Saat pelaksanaannya, ternyata tanpa persetujuan dari Kepala Daerah sehingga tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

"Oleh karena itu Wakil Bupati ini telah melanggar ketetapan pemerintah. Dia tidak koordinasi terlebih dahulu dengan pimpinan daerah dan sangat bertentangan dengan peraturan pemerintah No 23 Tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum," jelasnya.

Untuk membuktikan tindakan melawan hukum itu, beberapa elemen masyarakat di Cianjur telah meminta konfirmasi kepada RSUD Cianjur pada 30 Januari silam. Akan tetapi, pihak RSUD tidak menanggapi penyaluran dana remunerasi tersebut. “Karena tidak ada tanggapan, kami melaporkan dugaan korupsi tersebut ke Kejati Jabar,” paparnya.

Diakuinya, pernyataan Wakil Bupati Cianjur Suranto di media massa, yang menyebutkan dasar hukum pencairan remunerasi berdasarkan peraturan daerah nomor 17 tahun 1999 tentang retribusi pelayanan kesehatan yang menyatakan jasa pelaksana dan jasa rumah sakit dan pelaksanaanya tidak diperlu diketahui Bupati Cianjur. Perbub yang mengatur remunerasi saat itu masih dalam proses pembuatan.

“Tentunya pernyataan itu merupakan kebohongan publik, karena ketika itu Suranto baru mengajukan surat kepada Bupati Cianjur, nomor 700/3625-RSUD/2010 tentang pengelolaan penetapan remunerasi tahun anggaran 2009 setelah remunerasi diberikan,” tegasnya.

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi), Pidsus Kejari Cianjur, Haerdin yang menerima sejumlah perwakilan beberapa organisasi massa itu mengakui bahwa ada limpahan kasus dugaan korupsi remunerasi dari Kejati Jabar ke Kejari Cianjur. Meski begitu, pihaknya mengakui saat ini belum memiliki tahapan-tahapan untuk melakukan penyidikan. “Saat ini kami baru meneliti berkas dan mengkaji kasus tersebut,” tegasnya.

Pihaknya mengaku, jika dalam melakukan penelitian kasus, harus hati-hati. “Sebenarnya kasus korupsi itu mudah dibongkar, tetapi kami harus hati-hati dan teliti. Karena ini menyangkut persoalan yang tidak bisa dianggap sepela," katanya (KC-02)**.
no image
CIANJUR, (KC).- Sejumlah ibu-ibu orang tua murid SD Islamic Centre mendatangi ruang Kepala Sekolah (Kepsek) untuk mempertanyakan kelanjutan penanganan kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum guru TIK terhadap sejumlah murid. Para ibu-ibu tersebut mendesak agar oknum guru bernama Husni itu dipecat dari statusnya sebagai guru SD IC.

Menurut penuturan Susi, salah seorang ibu yang anaknya menjadi korban kejahilan tangan oknum guru TIK itu menyebutkan, kedatangan para orang tua murid tidak lain untuk mempertanyakan sejauh mana sikap sekolah dalam memberikan sanksi kepada oknum guru yang diduga telah melakukan tindakan pelecehan seksual.

Sebelumnya lanjut Susi, pernah dilakukan pertemuan klarifikasi terhadap oknum guru disaksikan dari pihak sekolah. Saat pertemuan itu oknum guru TIK itu tidak mengakui perbuatanya. Pihaknya juga sempat mengadukan persoalan yang menimpa anaknya itu ke P2TP2A dan langsung diterima oleh Ketua P2TP2A Ny. Rosdiana Muchtar Soleh.

"Anak saya diperlakukan tidak senonoh, di diraba dan dipegang bagian sensitifnya oleh oknum guru itu, sakit hati ini rasanya. Saya kawatir dia akan trauma berkepanjangan. Makanya saya sebagai orang tua menuntut keadiln. Saya atas nama ibu-ibu meminta agar oknum guru itu dipecat dengan tidak hormat dan mempertanggungjawabkan perbuatanya," kata Susi.

Berdasarkan penuturan anaknya, oknum guru itu melakukan tindakan amoralnya tidak hanya sekali, tapi berulangkali. Kejadianya saat praktek TIK diruang komputer. Bahkan diruang kelaspun pernah dilakukannya. "Terakhir hari Rabu (20/3/2013) saat praktek komputer, anak saya diraba dan docolok saat tengah duduk dikursi yang berlubang. Korbanya bukan hanya anak saya, ada beberapa anak lainya, tapi orang tuanya tidak berani lapor seperti saya," jelasnya.

Kedatangan ibu korban pelecehan seksual oknum guru didampingi puluhan ibu-ibu orang tua murid ke kantor Kepsek SD IC diterima oleh Kepsek Nunung Tutiawati didamping Ketua PDA Titin Suastini dan seorang guru Dori Muchtar. Dalam pertemuan yang digelar diruang guru tersebut berlangsung cukup memanas. Ibu korban sambil menangis terlihat kesal menyampaikan keinginannya agar pihak sekolah memecat oknum guru "cabul" itu dengan tidak hormat.

Hal serupa juga diungkapkan secara serentak oleh ibu-ibu orang tua murid yang ikut dalam pertemuan. Bahkan seorang ibu menyampaikan kekesalanya lantaran oknum guru TIK itu masih berani menunjukkan batang hidungnya dilingkungan sekolah. "Tidak ada kata lain, pokoknya oknum guru yang tidak bermoral itu harus dipecat," katanya.

Menanggapi tuntutan ibu-ibu Kepsek SD IC Nunung Tutiawati mengatakan, bahwa pihak sekolah telah mengambil sikap dengan memberhentikan oknum guru yang diduga melakukan tindakan pelecehan seksual itu.Bahkan menurut Kepsek, oknum guru TIK itu sudah bersedia mengundurkan diri.

"Kalau pemberhentian dan pengangkatan guru ini SK dari Dikdasmen, kita sedang menunggu SKnya. Kalau kedatangan yang bersangkutan (oknum guru TIK) ke sekolah tidak lain hanya untuk menyampaikan pertanggungjawabannya terkait pekerjaan yang akan ditinggalkan," kata Nunung.

Mendengar penjelasan tersebut spontan para ibu-ibu bereaksi. Mereka ingin agar oknum guru itu dipecat dengan tidak hormat dan keluar dari lingkungan sekolah. "Bukan mengundurkan diri, melainkan harus dipecat dengan tidak hormat. Kami meminta bukti secara tertulis kalau oknum guru itu dipecat. Ini bisa berdampak luas pada psikologis anak jika ternyata oknum guru itu masih berkeliaran di areal sekolah," kata mama Adel.

Melihat Situasi smakin memanas akhirnya Ketua PDA Titin Swastini menengahi dan mengabulkan tuntutan ibu-ibu bahwa akan memecat oknum guru tersebut. Bahkan secara tertulis juga akan disampaikan. Hanya saja dirinya minta waktu hingga Rabu (27/5/2013) mendatang. Karena menunggu SK pemecatanya yang akan dikeluarkan oleh Dikdasmen.

"Saya mohon maaf atas terjadinya masalah ini. Ini pukulan buat kami semua, kita akan ambil hikmahnya atas semua yang telah terjadi. Kedepanya kita akan tingkatkan pembinaan terhadap para guru. Kita ingin peristiwa ini tidak sampai terulang dikemudian hari. Ini pelajaran yang sangat berharga buat kami semua," katanya (KC-02)**.
no image
CIANJUR, (KC).- Sedikitnya 300 umat islam dari berbagai organisasi mengikuti Diskusi publik tokoh umat islam se Kab. Cianjur, yang bertajuk "membangun NKRI bersyariah secara konstitusional dalam menciptakan Indonesia maju dan sejahtera" di gedung Bale Panyanglingraga Koni Cianjur Jalan Slamet Riyadi, Senin (25/3/2013).

Sejumlah nara sumber dihadirkan dalam diskusi tersebut diantaranya
KH.M Al Khaththath (Sekjen Forum Umat Islam), Prof. Dr.H Tajul Arifin MA (Guru besar Ilmu Hukum/Syariah UIN Bandung) H. Cep Hernawan, SE, MBA (Ketua Umum Gerakan Reformis Islam), Dr. Dedi Mulyadi, SH, MH (Pakar Hukum Tata Negara dari Unsur Cianjur) dan H. Ahmad Yani (Sekum MUI Cianjur).

Diskusi tersebut berlangsung aktraktif. Sejumlah nara sumber yang dihadirkan satu persatu memberikan materi sesuai dengan bidangnya masing-masing. Hasil dari diskusi umat islam tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan bersama NKRI bersyariah adalah NKRI yang menerapan sebagai hukum dan formal konstitusional. Diperlukan Presiden Bersyariah untuk mendekritkan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini Bersyariat Islam.

Selain itu perlu adanya gerakan kembali bersyukur atas kemerdekaan yang merupakan rahmat Allah Yang Maha Kuasa dengan mengembalikan NKRI menerapkan syariah Allah secara formal konstitusional sehingga NKRI penuh berkah. Dalam konteks bersyariah, hal ini merupakan energy yang sangat besar bagi umat islam oleh karena itu, penegakan NKRI Bersyariat merupakan keharusan bagi umat islam yang harus diwujudkan sebagaimana cita - cita para pejuang negeri ini yang menghendaki Indonesia menjadi Negara yang bersyariat islam.

NKRI Bersyariat Islam adalah Negara Indonesia yang Rahmatan Lil Alamin yang memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyatnya (KC-02)**.
no image
CIANJUR, (KC).- Belasan anggota salah satu organisasi massa mendatangi kantor Adira di Jalan Ir. H. Djuanda Salakopi, Cianjur, Senin (25/3/2013). Mereka datang ke Kantor Adira Finance untuk mempertanyakan tunggakan pembayaran cicilan kendaraan bermotor salah satu anggotanya yang masih saja membengkak. Padahal pembayaran cicilan sudah dilunasi.

Kedatangan massa ke Kantor Adira sempat diwarnai adu argumentasi dengan petugas keamanan. Akhirnya perwakilan massa diperbolehkan masuk Kantor Adira. Sementara massa lainnya setia menunggu diluar sambil berjaga-jaga.

Tidak beberapa lama, perwakilan massa keluar dari kantor Adira dengan tergesa-gesa dan menghampiri massa. Setelah itu mereka secara bersama-sama meninggalkan kantor Adira. "Pokoknya sudah beres, kita pulang," kata seorang perwakilan massa.

Secara terpisah Remedial Adira Finance Cianjur, Yudi Permana mengatakan kedatangan massa dari salah satu organisasi tersebut tidak lain terkait dengan denda akibat terlambat pembayaran cicilan kendaraan bermotor atas nama Agus warga Kp. Golendang RT 02/RW 04, Desa Sukatani, Kec. Pacet, Kab. Cianjur. Menurut Yudi, mereka datang untuk meminta penghapusan dendan keterlambatan pembyaran cicilan hingga 100 persen.

"Awalnya dari masalah denda, jelas perusahaan satu sama lainya itu berbeda, tidak akan sama. Mereka ingin menghanguskan denda sampai nol, tapi perusahaan punya aturan. Kita hanya bisa berpegang pada aturan, akhirnya permohonanya kita berikan 50 persennya saja," kata Yudi.

Berdasarkan data dipihaknya nasabahnya atas nama Agus tersebut mempunyai tunggakan pembayaran selama 1.413 hari atau total Rp 2.670.565.-. Tunggakan pembayaran tersebut atas permintaanya agar dihapuskan. "Ini sebenarnya sudah kedua kalinya yang bersangkutan datang, kita sudah jelaskan semuanya. Meski dia (Agus) mengerahkan pasukan 10 juta orang, kita tetap tidak bisa, kita ada SOPnya," paparnya (KC-02)**.
no image
CIANJUR, (KC).- Lima dari 32 Panwaslu Kecamatan Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat (Pilgub) Jabar mendapatkan penghargaan setelah di nobatkan sebagai Panwaslu Kecamatan terbaik dalam kinerjanya oleh Panwaslu Kab. Cianjur. Selain itu 10 orang anggota Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) juga mendapatkan penghargaan yang sama.

Penetapan Panwaslu Kecamatan Terbaik dan PPL terbaik mengacu pada Surat Keputusan Bersama Panwaslu Kabupaten Cianjur Nomor 176 dan 177 Kep Tahun 2013 tertanggal 20 Maret 2013. Ke lima Panwaslu Kecamatan yang ditetapkan sebagai yang terbaik diantaranya Daerah Pemilihan (Dapil) I Panwaslu Kec.Warungkondang, Dapil II Panwaslu Kec. Mande, Dapil III Panwaslu Kec. Cipanas, Dapil IV Panwaslu Kec. Takokak dan dari Dapil V Panwaslu Kec. Leles.

Sementara itu 10 dari 360 PPL yang di nobatkan sebagai PPL terbaik diantaranya Yuyus Suntara PPL Desa Kertajaya, Kec. Ciranjang, Heri Setiawan PPL Desa Kademangan, Kec. Mande, Cep Junaedi PPL Desa/Kec. Sukanagara, Ade Rustandi PPL Desa Mulyasari, Kec. Agrabinta, Heridiantoro PPL Desa Sindagjaya, Kec. Cipanas, Endang Sajidiin PPL Desa Cinangsi, Kec. Cikalongkulon, Nuki Darmawan PPL Desa Kalibaru, Kec. Pasir Kuda, Adep Duroni, PPL Desa Cimaskara, Kec. Cibinong, Ruslan PPL Desa Talagasari, Kec. Sindangbarang, Dasep PPL Desa Cibodas, Kec. Pacet.

"Apa yang kami putuskan untuk menentukan kinerja Panwaslu Kecamatan dan PPL yang terbaik kita lakukan secara seobjjektif mungkin. Keputusan ini bukan hasil pribadi, tapi keputusan bersama anggota Panwaslu Kabupaten. Kita harapkan ini bisa menjadi motivasi bagi Panwas dan PPL lainya untuk bisa lebih baik lagi," kata Divisi Pengawasan dan Humas Sapul Anwar (KC-02)**.
no image
CIANJUR, (KC).- Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kab. Cianjur menggelar Rapat Kerja Tekhnis Pelaporan dan Evaluasi Kinerja Pengawasan Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Tahun 2013 Kab. Cianjur, Jum'at-Sabtu (22-23/3/2013) di Wisma Kompas Gramedia Jalan Raya Cipanas, Desa Cipendawa, Kec. Pacet, Kab. Cianjur.

Kegiatan Rapat Kerja Tekhnis tersebut dihadiri 95 dari 96 anggata Panwaslu Kecamatan dari 32 Kecamatan beserta Kepala Sekretariat Panwaslu Kecamatan sebanyak 32 orang. Satu anggota Panwaslu dari Kec. Campaka Mulya tidak hadir akibat terkena sanksi non aktif.

Ketua Panwaslu Kab. Cianjur Yuyun Yunardi melalui Divisi Pengawasan dan Humas Panwaslu Kab. Cianjur, Saepul Anwar mengatakan, Rapat Kerja Teknis Evaluasi Kinerja Pengawasan tersebut merupat rapat akhir sebelum seluruh anggota Panwaslu Kecamatan masa habis tugasnya atau dibubarkan. Dalam rapat kerja tersebut dibahas beberapa hal mengenai hasil pengawasan selama Pilgub Jabar 2013 berlangsung.

"Kegiatanya lebih banyak melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap pekerjaan yang telah dilaksanakan tahapan pertahapan Pilgub Jabar. Ada beberapa kekurang yang tentunya akan menjadi perbaikan. Demikian juga ada kelebihan yang patut untuk dipertahankan," kata Saepul.

Evaluasi terhadap Panwaslu Kecamatan per divisi juga dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tugas dan fungsi yang telah dijalankan. "Tanpa adanya evaluasi kita tidak akan bisa mengukur sejauh mana keberhasilan yang sudah kita capai. Demikian juga evaluasi menjadi salah satu cara untuk mengetahui kekurangan yang tentunya akan menjadi bahan perbaikan," tegasnya.

Panwaslu Kabupaten juga akan mengumumkan lima Panwaslu Kecamatan yang terbaik. Penilainnya dilakukan oleh Panwaslu Kabupaten secara objektif dari berbagai sudut pandang. "Bukan berarti yang lainya tidak baik, semuanya baik. Hanya saja kita memberikan penilain diantara yang baik itu tentu ada yang terbaik menurut kami," katanya.

Tidak hanya penilain kinerja terhadap Panwaslu Kecamatan, penilain serupa juga dilakukan terhadap Pengawas Pemilu Lapangan (PPL). Hanya untuk PPL penilainya diserahkan ke Panwaslu Kecamatan masing-masing. "Kita hanya menerima usulan satu nama dari setiap kecamatan, baru nantinya akan kita tentukan," paparnya.

Tidak hanya evaluasi terhadap kinerja pengawasan, evaluasi anggaran juga dilakukan mengingat pekerjaan tanpa dukungan anggaran tidak akan berjalan secara maksimal."Evaluasi anggaran juga dilakukan. Kita juga bahkan meminta evaluasi Panwaslu Kabupaten kepada Panwaslu Kecamatan apa kekurangan dan kelebihan kami selama menjadi Panwaslu Kabupaten," tegasnya (KC-02)**.
Drs.H. Dudun Abdullah, SQ, MM
CIANJUR, (KC).- Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UKMK) Kab. Cianjur akan segera memiliki Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). Kepastian tersebut setelah Kementerian Koperasi dan UKM akan segera merealisasikan pembangunannya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKMK Kab. Cianjur, H. Dudun Abdullah mengatakan, PLUT nantinya akan menjadi tempat promosi mengenai koperasi dan UKM dari seluruh wilayah di Kab. Cianjur. Selain itu juga akan dijadikan tempat khusus buat diklat para pengelola koperasi.

"Kita ingin bahwa perkembangan koperasi dan UKM di Cianjur bisa lebih maju lagi. Untuk menunjang itu salah satunya diperlukan promosi. PLUT ini juga menjadi salah satu tempat untuk ajang promosi," kata Dudun Abdullah, Jum'at (22/3/2013).

Untuk mendukung PLUT, pihaknya dalam waktu dekat akan merekrut kader-kader koperasi. Kader koperasi yang akan direkrut merupakan mereka yang selama ini masih aktif dan konsen dalam memajukan koperasi di Cianjur.

"Setiap kecamatan nantinya akan ada kader-kader koperasi sekaligus menjadi pengurus koperasi. Mereka akan mendorong agar koperasi itu bisa lebih maju. Dengan demikian kita harapkan kedepanya dengan berkembangnya koperasi dan UKM di Cianjur akan berpengaruh dengan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Cianjur," katanya.

Lampu Gentur
Selain akan membangun PLUT, Dinas Koperasi dan UKMK Kab. Cianjur akan mengembangkan lampu gentur. Produk lampu gentur yang berasal dari Gentur Desa Jambudipa, Kec. Warungkondang itu selama ini sudah cukup luas dikenal. Bahkan sudah sampai mancanegara.

"Kita akan segera menjadikan sentral produk lampu getur di Kec. Warungkondang. Ini sebagai upaya untuk menetapkan bahwa lampu gentur itu merupakan produk asli asal Cianjur. Selain agar bisa lebih dikenal secara luas, sentral lampu gentur ini juga bisa menjadi pusat pemasaran, penataan manajemen," katanya.

Untuk mendukung pelaksanaanya, akan diikutsertakan KUD Warungkondang dalam pengelolaan manajemen. "Semuanya sedang dalam tahap persiapan, bahkan Deputi sudah mengecek untuk dijadikan sentral produk Lampu gentur," paparnya (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Puncak peringatan hari air sedunia tahun 2013 di Kab. Cianjur ditandai dengan melakukan kegiatan dihalaman Kantor PDAM Tirta Mukti Kab. Cianjur di Jalan Pangeran Hidayatulloh. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan melakukan bersih-bersih sungai Cianjur.

Sejumlah pegawai PDAM Tirta Mukti dan warga turut terjun ke sungai untuk membersihkan sampah sungai. Mereka menyisir sungai Cianjur dari bantaran di gang Mawar sampai ke Bantaran Sungai Cianjur gang Pataruman, Jalan Amalia Rubini dan berakhir di bantaran sungai Cianjur yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan.

Direktur PDAM Tirta Mukti Kab. Cianjur, Herman Suherman, mengatakan, keikutsertaan PDAM Tirta Mukti Kabupaten Cianjur dalam peringatan Hari Air Sedunia ini sebagai bentuk kepedulian PDAM Tirta Mukti akan kebersihan lingkungan, menjaga kelestarian lingkungan khususnya sungai sebagai sumber air yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

"Kita sangat peduli dengan keberlangsungan air di Cianjur. Berbagai upaya terus kita lakukan untuk menjaga kelestarian air di Cianjur. Dibeberapa lahan yang airnya kita manfaatkan selalu kita hijaukan dan kita jaga kelestarianya. Ini merupakan salah satu komitmen kami," kata Herman, Jum'at (22/2/2013).

Sementara itu Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh yang memimpin langsung kegiatan puncak Peringatan Hari Air Sedunia di Kab. Cianjur mengatakan, air adalah sumber daya yang sangat diperlukan bagi kehidupan manusia, baik untuk keperluan air minum, penyediaan pangan, maupun untuk mengelola usaha-usaha pertanian. Kebutuhan sumber air meningkat, sementara ketersediaannya dirasakan semakin terbatas.

“Oleh karena itu guna memperingati Hari Air Sedunia kita mengadakan kegiatan bersih-bersih di sepanjang aliran sungai yang ada di wilayah Cianjur Kota. Tujuannya agar sungai menjadi bersih kembali terutama dari sampah-sampah yang dibuang sembarangan," kata Tjetjep.

Bupati mengharapkan melalui kegiatan Peringatan Hari Air Sedunia Tahun 2013 bisa memberikan dampak yang positif di masyarakat yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan hidup dan sumber daya air agar terjaga kualitas dan kuantitasnya. Selain itu juga bisa membuat masyarakat peduli akan sungai sebagai salah satu tempat untuk melindungi sumber air.

"Saya berharap agar warga masyarakat Cianjur bisa menghemat penggunaan air serta melakukan penanaman pohon dan penghijauan di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan serta ketersediaan air tanah. Sehingga bencana kekeringan pada saat musim kemarau dapat dihindari," tegasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Komplotan pengedar uang palsu (upal) dollar Amerika berhasil diringkus oleh jajaran anggota reserse kriminal Polsek Cibinong, Kab. Cianjur, Kamis (21/3/2013) dinihari.

Selain berhasil menangkap para pelakunya, turut disita barang bukti berupa pecahan U$ 100  sebanyak 295 lembar atau sekitar Rp279 juta.

Kapolres Cianjur, AKBP Agustri Heryanto didampingi Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Gito mengatakan, penangkapan para pengedar upal dollar Amerika tersebut tidak terlepas dengan adanya laporan dari warga. Warga tersebut merasa curiga terhadap keaslian uang dollar Amerika yang diterimanya.

Kecuriagaan itu kemudian dilaporkan ke Mapolsek Cibinong. "Begitu mendapatkan laporan kami langsung tindak lanjuti. Akhirnya kami berhasil  menangkap seorang pelaku berinisial MAR (28) warga Kampung Warnasari, RT 25/RW 06 Desa Batulawang, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur," kata Kapolres.

Tertangkapnya MAR akhirnya menguak barang bukti yang disimpan dibawah jok sepeda motor berupa uang dollar pecahan U$ 100 dan kalau di rupiahkan, sekitar Rp279 juta. Dari pengakuanya akhirnya mengembang kepada pelaku lainya. Tanpa menemui kesulitan petugas akhirnya berhasil pelaku lainnya, yakni HER (48) asal Desa Bayah, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak Banten, dan MIF (37) asal Desa Nyalindung, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

“Kita masih terus kembangkan kasus ini karena disinyalir ada pelaku lainnya. Namun kita belum bisa memastikan apakah mereka ini bagian dari sindikat peredaran uang palsu lintas negara atau bukan, kita akan terus kembangkan kasusnya," jelasnya.

Para pelaku pengedar upal tersebut akan dijerat dengan Pasal 244 KUHP tentang peredaran uang palsu dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Sementara itu, seorang pelaku, HER mengakui jika uang yang dimilikinya palsu. Namun dia berkilah tidak bermaksud untuk mengedarkan uang miliknya itu. "Saya hanya ketitipan uang itu dari seseorang. Tapi bukan untuk diedarkan, saya sendiri juga malah tidak tahu uang itu untuk apa," katanya (KC-02)**.
Nandang Kosasih
CIANJUR, (KC).- Tar, oknum guru olahraga yang disebut-sebut menerima sejumlah dana dalam membantu mengurus kenaikan golongan dari IV-A ke IV-B dari para guru di Tasikmalaya dan Cianjur membantah semua tuduhan yang dialamatkan padanya. Tar mengaku hanya secara kebetulan mengenal orang di Kementerian Pendidikan yang menangani masalah kenaikan pangkat.

Hal itu terungkap dari hasil klarifikasi yang dilakukan oleh Kapusbindik Cabang Dinas Pendidikan Kec. Cianjur Nandang Kosasih terhadap Tar. Dalam klarifikasi yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang ditandatangani oleh Tar menyebutkan bahwa pemberitaan mengenai dirinya dalam media semuanya tidak benar.

"Salah satu point yang tidak diakui oleh Tar diantaranya mengenai jumlah alokasi dana yang diterimanya sekitar Rp 1,2 miliar dari 200 guru di Tasikmalaya untuk mengurus biaya kenaikan golongan, menurut Tar pemberitaan itu tidak benar. Dia mengaku tidak pernah menerima dana untuk biaya mengurus kenaikan golongan," kata Nandang saat ditemui Kamis (21/3/2013).

Dikatakan Nandang, Tar mengaku dia tidak pernah mengurus para guru untuk naik golongan. Dia hanya mengantar salah seorang guru untuk mengurus pemberkasan administrasi saja. "Tar mengaku tidak pernah menerima penyerahan berkas, tapi dia mengaku mengantar seorang guru untuk mengurus proses pengajuan kenaikan golongan itu," tegas Nandang.

Tar tidak menampik kalau dirinya pernah membantu mengurus proses kenaikan golongan seorang guru di Tasikmalaya bernama Endang Nugraha yang juga menjabat Kepsek di salah satu SDN di Kec. Purbaratu, Tasikmalaya. Diakui Tar, proses sampai yang bersangkutan naik pangkat memakan waktu selama dua tahun.

"Dari situlah rupanya ada beberapa rekan dan sudara pak Endang yang tertarik dan meminta bantuan. Hanya saja berdasarkan pengakuan Tar, dia hanya sebatas mengantar pak Endang, mengurus kepada pihak terkait sesuai dengan pengalaman dan prosedur. Tar juga membantah mengkoordinir guru Tasiknalaya dan tidak membuat berkas usulan. Dia hanya mengantarkan saja itupun sebanyak18 orang yang pegang berkas pak Endang," jelasnya.

Selain melakukan klarifikasi, Kapusbindik juga mendengar penuturan langsung Endang Nugraha yang mengaku pernah dibantu mengurus kenaikan golongan dan berhasil. Dalam keterangannya Endang juga membantah kalau terjadi keresahan para guru di Tasikmalaya. Endang menjelaskan kalau kondisi para guru yang mengurus kenaikan pangkat tidak ada masalah. Endang juga membantah kalau menerima sejumlah dana dari para guru.

"Saya hanya melakukan klarifikasi saja dan tidak memiliki kewenangan untuk menilai apakah pengakuan mereka itu benar atau salah. Yang jelas hasil klarifikasi itu semuanya kami tuangkan dalam BAP dan ditandatangani oleh yang bersangkutan. Berkas itu semua juga sudah kami sampaikan kepada pimpinan untuk ditindak lanjuti. Mengenai Tar saya juga tegaskan kepada yang bersangkutan agar tidak meninggalkan kewajibannya sebagai guru," katanya.

Nandang mengakui, dampak pemberitaan mengenai Tar yang belakangan gencar terjadi berdampak pada psikologis yang bersangkutan. "Kalau berdampak itu jelas, sudah saya tegaskan agar Tar mengajar seperti biasa, karena itu tugas utamanya," katanya.

Hal itu juga diakui oleh Kepala Sekolah SDN Sayang Semper Emi Suryani dimana Tar menjadi guru olahraga disekolah tersebut. Tar masih tetap menjalankan aktivitasnya sebagai guru, hanya saja yang bersangkutan lebih cepat pulang kerumah bila jam mengajarnya sudah selesai. "Memang sedikit banyak berdampak, guru kami itu lebih banyak menghindar bila ada orang yang tidak dikenal ingin menemuinya. Saya tegaskan bahwa dia tidak pernah melalaikan tugasnya sebagai guru setelah ramai pemberitaan tentang dirinya (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Akibat ruangan penuh, puluhan pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur, terpaksa dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) hanya dengan menggunakan alas tikar. Hal itsebagai bukti bahwa fasilitas di ruang IGD masih sangat minim.

Berdasarkan pantauan, para pasien yang tertahan di ruang IGD terpaksa menggelar tikar untuk menjalani penanganan medis. Minimnya fasilitas terpaksa para pasien tersebut membawa tikar dari rumah. Tentu saja kondisi tersebut dikeluhkan oleh para pasien yang ingin berobat.

Seperti yang diungkapkan Dedi, (55), seorang keluarga pasien asal Ciranjang. Dia mengaku, datang ke RSUD Cianjur membawa orang tuanya yang tengah sakit untuk menjalani pengobatan. Namun, kenyatanya jauh dengan harapan."Saya tadinya membawa ayah saya untuk berobat ke RSUD Cianjur ingin mendapatkan pelayanan yang layak, tapi kenyataanya sebaliknya. Kami malah terlantar," kata Dedi di ruang IGD RSUD Cianjur, Kamis (21/3/2013).

Dedi mengaku, tidak menyangka kalau ayahnya Ruswanda (87), warga Kampung Kademangan, Desa Mande, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, yang mengalami sakit struk tersebut harus menggunakan tikar. Sebab dia hanya diberitahu oleh pihak rumah sakit kalau ruangan perawatan penuh.

"Informasinya ruangan penuh, makanya dirawat di IGD. Tapi sayangnya dengan menggelar tikar, itupun bawa sendiri. Jadinya selain harus membawa persyaratan seperti Jamkesmas, Jampersal, Askes dan SKTM, juga harus membawa tikar agar bisa mendapatkan tempat perawatan,” katanya.
           
Pihaknya berharap, orangtuanya tersebut agar segera bisa dipindahkan ke ruagan. Karena, jika lama berada di IGD dikawatirkan akan menambah penyakit. "Jelas kawatir kalau terus di IGD, karena berbagai penyakit ada. Makanya saya minta ke pihak rumah sakit agar memindahkan ayah saya keruangan perawatan," katanya.

Sementara itu, Kepala Ruangan IGD RSUD Cianjur, Sonson Buchori, membenarkan jika pasien di ruangan IGD membludak. Karena, hal tersebut sejumlah ruang perawatan sudah terisi penuh, sehingga, pasien yang masuk terpaksa tertahan di IGD untuk mendapatkan penanganan medis.
           
"Memang jumlah pasienya membludak, tidak seperti biasanya. Akibatnya sejumlah ruangan yang ada penuh. Terutama ruangan kelas 3 dan anak. Padahal biasanya kalau membludak itu setiap hari Senin-Kamis, tapi saat ini setiap hari," katanya.
           
Pihaknya membantah, jika pasien yang masuk dianjurkan untuk membawa tikar. Namun, hal itu secara kebetulan, pasien yang membawa tikar. “Pasien itu datang sudah membawa tikar. Karena kebetuan disini (IGD) penuh, mereka inisiatif menggelar tikar yang dibawanya sendiri tanpa ada intruksi apalagi perintah dari rumah sakit," jelasnya.

Menurut Sonson, idialnya pasien yang ada di IGD itu tidak lebih dari 20-30 pasien. Tapi saat ini setidaknya ada sekitar 50-60 pasien. "Kita tidak menampik sudah terjadi over kapasitas. Karena hampir dua kali lipat ruangan telah di isi oleh pasien,” katanya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Sungguh tragis nasib yang menimpa Bunga (nama samaran), bocah 9 tahun itu diduga diperkosa oleh Pencuri yang menyatroni rumahnya di Kompleks Perumahan BTN Bumi Emas Bayubud Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku Kabupaten Cianjur, Rabu (20/3/2013) dini hari.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, aksi pencurian yang disertai tindakan pemerkosaan yang menimpa anak pemilik rumah itu terjadi saat penghuni rumah tengah tertidur lelap. Pelaku masuk kedalam rumah setelah berhasil membuka jendela rumah bagian depan dekat teras yang dalam kondisi tidak terkunci.

Korban saat itu tidur dikamar depan dekat ruangan tamu. Sementara kedua orang tuanya tidur di kamar belakang. Pelaku diduga merupakan orang dekat korban, karena mengetahui nama korban. Saat itu korban langsung diancam agar menunjukkan uang orang tuanya. Namun korban mengaku tidak tahu. Saat itulah menurut pengakuan korban, dirinya digauli pelaku. Pelaku akhirnya kabur setelah berhasil membawa hand phone korban.

"Susana komplek malam itu sedang turun hujan, sehingga kondisinya sepi. Saya sendiri tidak mendengar adanya kegaduhan, padahal rumah saya berdampingan," kata Budi Purwanto (40), tetangga korban yang rumahnya berdampingan.

Namun demikian pihaknya mengaku sempat mendengar suara motor bolak-balik didepan rumah sekitar pukul 01.00 WIB. "Saya tidak merasa curiga, karena rumah dipinggir jalan dan sudah biasa rame, karena jalan perlintasan," katanya.

Sementara salah seorang kerabat korban, H. Budi (45), mengakui bahwa jendela depan rumah kerabatnya itu jarang dikunci. Kemungkinan kondisi itu dimanfaatkan oleh pelaku untuk masuk kedalam rumah. Hal itu diperkuat dengan adanya bekas jejaknya.

"Keponakan saya bilang dia diancam dan diminta untuk menunjukkan tempat penyimpanan uang orang tuanya. Tapi gimana ceritanya sampai pelaku diduga memperkosa keponakan saya," katanya.

Untuk memastikannya, korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur untuk dilakukan visum et repertum.

Dua Anjing Pelacak Dikerahkan
Untuk mengungkap pelaku pencurian yang diserta dugaan pemerkosaan, di Kompleks BTN Bumi Emas Bayubud di Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku Kabupaten Cianjur, Polres Cianjur mengerahkan dua anjing pelacak yang tergabung dalam unit K-9.

Kanit K-9 Polres Cianjur, Aiptu Sucipto mengatakan, dari hasil pengendusan yang dilakukan dua anjing pelacak yang dikerahkan, kemungkinan besar pelaku masuk kedalam rumah melalui jendela depan yang tidak terkunci. Pelaku juga diduga mengetahui persis seluk beluk didalam rumah.

"Berdasarkan hasil keterangan sementara, selain pencurian juga terjadi dugaan pemerkosaan. Sepertinya pelaku mengetahui banyak tentang kondisi keluarga korban. Karena pelaku juga mengatahui nama korban. Korban diancam agar tidak berteriak di bawah ancaman senjata tajam. Melihat kondisi seperti itu dugaan kuat pelaku orang dekat. Untuk penyidikan lebih lanjut, Satreskrim yang akan melakukan," kata Sucipto (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Kurikulum 2013 mengisyaratkan sejumlah mata pelajaran mulai tingkat SD, SMP hingga SMA/SMK akan dihapus dan di integrasikan ke mata pelajaran lainnya. Dinas Pendidikan (Disdik) Kab. Cianjur sendiri mengaku siap menghadapi kurikulum baru tersebut.

Sekretaris Disdik Kab. Cianjur, Mukharom, mengatakan, dalam kurikulum baru nanti sejumlah mata pelajaran memang akan dihapus dan diintegrasikan dengan mata pelajaran lainnya yang memiliki muatan materi sejenis. "Ini dilakukan agar mata pelajaran yang ada dipelajari menjadi lebih mendalam, tidak hanya dasar-dasarnya saja," kata Mukarom, Rabu (20/3/2013).

Saat ini pihak Disdik kata Mukarom tengah melakukan sosialisasi mengenai kurikulum baru tersebut kepada seluruh perangkat pendidikan di wilayah Kab. Cianjur melalui kegiatan bimbingan jaringan pengembangan kurikulum 2013 di Green Hill, Pacet, Cianjur.

"Selain mengenalkan kurikulum baru, sosialisasi juga dilakukan khusus untuk penguatan menghadapi USBN dan UN yang tinggal beberapa bulan lagi kedepan," tegasnya.

Pihaknya berharap, sikap pro aktif harus ditunjukkan para guru menghadapi perubahan kurikulum baru. Para guru dihimbau agar bisa meninput data sebanyak-banyaknya melalui perkembangan tekhnologi tentang kurikulum baru tersebut.

"Dengan internet sejatinya tidak ada yang sulit. Semua perkembangan tentang kurikulum baru sudah ada lengkap. Tanpa harus disosialisasikan juga seharusnya sudah harus dipahami oleh para guru," papar Ketua PGRI Kab. Cianjur itu (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Tim Pengacara Yudi Junadi mantan Direktur PDAM Tirtamukti Cianjur akan melayangkan surat protes atas penetapan status tersangka oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur yang dianggap tidak berdasar ke Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Komisi Kejaksaan. Surat protes tersebut merupakan bentuk pembelaan lantaran Yudi Junadi dianggap sudah dikriminalisasi oleh Kejari Cianjur.

Juru Bicara Tim Kuasa Hukum Yudi Junadi yang tergabung dalam Tim Pembela Indonesia Untuk Kebenaran dan Keadilan O. Suhendra mengatakan, direncanakan pihaknya besuk akan mendatangi Kejagung dan Komisi Kejaksaan di Jakarta bersama sejumlah pengacara. Kedatangaanya tidak lain untuk menyampaikan surat protes atas penetapan status tersangka terhadap klienya Yudi Junadi yang tidak didasari dengan alat bukti oleh Kejari Cianjur.

"Ini merupakan langkah pembelaan hukum dan non litigasi yang kita lakukan untuk mengupayakan keadilan dan mengungkapkan kebenaran dalam perkara Yudi Junadi ini. Kami akan tunduk pada hukum yang adil dan benar. Kami hormat dan cinta lembaga Kejaksaan, tapi apabila ada pihak yang memperalat lembaga Kejaksaan ataupun ada oknum Jaksa yang mengkriminalisasi siapapun maka kami harus berjuang meluruskan hal itu," kata O. Suhendra yang diamini Penasihat Hukum lainya Abdul Kholik.

Pihaknya mengaku langkahnya tersebut juga didukung oleh solidaritas aktifis hukum dan jaringan pro demokrasi dari berbagai kota di Indonesia yang tergabung dalam Tim Pembela Kebenaran dan Keadilan Indonesia. "Saat ini ada 28 Penasihat Hukum yang telah bergabung untuk menegakkan keadilan dan mengungkap kebenaran pada perkara Yudi Junadi dari luar Cianjur. Dengan demikian total 60 penasihat hukum siap mendampingi Yudi Junadi yang telah dikriminalisasi oleh Kejari Cianjur, kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah," katanya.

Diberitakan, Mantan Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mukti Kab. Cianjur Yudi Junadi mengaku merasa dikriminalisasi atas penetapan dirinya sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur dalam kasus dugaan korupsi dilingkungan PDAM saat dipimpinya. Penetapan dirinya sebagai tersangka tidak mengacu pada unsur seseorang bisa ditetapkan sebagai tersangka.

"Tersangka itu kedudukannya sama, saya itu bukan objek, tersangka harus dikasih peluang seleuas-luasnya  untuk membela diri harus diberi referensi berapa kerugian negaranya, gelar perkaranya, terus keterangan saksi-saksinya. Dokumen ini tidak diberikan kepada saya, ini yang namanya kriminalisasi," kata Yudi.

Pihaknya melihat kasus yang menimpanya itu merupakan kasus hukum yang lucu. Penetapan dirinya sebagai tersangka seperti dipaksakan. "Saya lihat kasus saya ini ada indikasi kasus hukum yang lucu, bisa diintervensi dan kriminalisasi," tegasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Kejaksaan Negeri Cianjur membenarkan adanya pelimpahan berkas perkara dari Kejaksaan Tinggi Jawa Barat mengenai kasus dugaan tindak pidana korupsi pemberian remunerasi RSUD Cianjur tahun 2008.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Cianjur, Haerdin membenarkan hal tersebut. Kata dia, pihaknya menerima berkas pelimpahan dugaan kasus tersebut pada hari Jumat (15/3) lalu dari Kejati Jabar. “Iya saya menerima berkas itu, dan benar bahwa dugaan kasus korupsi tersebut dilimpahkan ke Kejari Cianjur,” kata Haerdin.

Namun demikian, pihaknya belum bisa menjelaskan perkara kasus dugaan korupsi remunerasi di RSUD Cianjur itu. Alasanya, kasus tersebut harus didalami dengan benar. “Kami belum bisa menjelaskan kasusnya. Karena saya harus mempelajari lagi kasus itu secara detail,” katanya.
           
Sekretaris Komunitas Pemuda Cianjur (Kompak), Asep Zakaria menegaskan, pihaknya akan mengawal kasus tersebut sampai tuntas. "Kami dalam waktu dekat ini akan melaksanakan aksi unjuk rasa ke Kejari Cianjur untuk menanyakan kelanjutan dari kasus remunerasi gate yang menjerat Suranto," ujarnya.

Saat pelaporan ke Kejati Jabar beberapa waktu lalu yang disampaikan Kompak bersama LBHN Cianjur, Nahdlatul Institut, dan Folic. Keempat lembaga tersebut secara bulat untuk mengawal kasus remunerasi gate sampai tuntas.

Menurutnya, kasus remunerasi gate terjadi saat Wakil Bupati Cianjur, Suranto menjabat sebagai Direktur RSUD Cianjur. Ketika itu, Suranto berani menerbitkan surat keputusan nomor : 455/Kep.04.I/RSUD/2009, tanpa persetujuan kepala daerah. "Keputusan itu tentunya bertentangan dengan peraturan menteri dalam negeri nomor 61 tahun 2007 dan peraturan pemerintah nomor 23 tahun 2005," tegasnya.

Dia memaparkan, setelah diterbitkan surat keputusan Direktur RSUD, lalu pemberian remunerasi direalisasikan pada bulan Mei sampai November tahun 2009 senilai Rp 2,8 miliyar. Setelah dilaksanakan pemberian remunerasi, lalu terbit temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), RI yang menyebutkan jika pemberian remunerasi tidak sesuai dengan perundang-undangan.

"Ketika itu, Suranto panik melaksanakan rapat dengan badan pengawas RSUD, dan selanjutnya, Suranto mengirim surat ke Bupati Cianjur nomor : 700/3625-RSUD/2010 tanggal 1 Oktober 2010 perihal , permohonan penetapan remunerasi tahun anggaran 2009. Ini menjadi bukti kongkrit jika dana pemberian remunerasi yang sudah dibayarkan terlebih dahulu bulan Mei-November tahun 2009 sebelum ijin kepala daerah," katanya.

Dengan demikian lanjutnya, bisa disimpulkan bahwa pemberian remunerasi tersebut melanggar hukum, karena Direktur RSUD Cianjur tidak melakukan ketetapan atau aturan yang berlaku.

Terpisah, Wakil Bupati Cianjur, Suranto mengakui, pemberian remunerasi RSUD Cianjur meyakini jika hal tersebut tidak menyalahi aturan.
Lebih jauh dirinya menjelaskan, pemberian remunerasi yang dilakukannya memiliki dasar hukum. Dasar hukum tersebut bersandar pada Perda 17/1999 tentang jasa pelaksana dan jasa rumah sakit serta Permendagri No 12, kaitan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Berdasarkan aturan tersebut, pemberian remunerasi dapat diatur oleh direktur rumah sakit dan pelaksanaannya tidak perlu diketahui oleh bupati. Lagipula, itukan hak karyawan. Alokasi nilai yang disebutkan itu, diberikan kepada karyawan (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Dinas Perpajakan Daerah (Disperda) Kabupaten Cianjur, kesulitan dengan data potensi Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU). Pasalnya, pihak PLN, hingga saat ini hanya memberikan jumlah nominal pembayaran pajak, tanpa memberikan data pelanggan wajib pajak.

Kepala Disperda Kabupaten Cianjur, Dadan Harmilan melalui Kepala Bidang Bina Potensi Disperda Kabupaten Cianjur, Rahmat Kartono membenarkan, jika pihak PLN hanya memberikan uang buat pembayaran pajak penerangan. Sedangkan, jumlah pelanggan wajib pajak penerangan tidak diperlihatkan.

"Selama ini kita hanya menerima sejumlah uang pembayaran pajak penerangan jalan dari PLN. Tapi tidak pernah menyertakan data wajib pajaknya. Sehingga kita tidak tahu berapa jumlah wajib pajak untuk penerangan jalan ini," katanya.

Dengan tidak adanya data potensi pajak PPJU, pihaknya mengaku kesulitan untuk mengecek berapa sebenarnya potensi pajak sebenarnya. "Secara otomatis kita memang kesulitan, karena kita tidak punya data. Sedangkan kita dituntut oleh target PAD," paparnya.

Setiap tahun, terang dia, target yang diberikan oleh Disperda Kabupetn Cianjur sekitar 20 Miliar. “Dan hal ini, kami tidak tahu, tercapai atau tidak,,” katanya.
           
Untuk PLN, kata dia, pembayaran pajak penerangan setiap bulannya berbeda. Pada bulan Januari, pihak PLN menyetor pajak sebesar Rp1.794.226.589, yang seharusnya membayar Rp1.795.053.610. sehingga, Disperda mengalami kekurangan sebesar Rp820 ribu.
           
Sementara, pada bulan Pebruari, pihak PLN menyetor sebesar Rp1.744.794.336, dan mengalami kekurangan sebesar Rp51 juta. “Setiap bulannya PLN menyetor pajak berbeda-beda jumlahnya, dengan alas an kata mereka (PLN) tergantung pembayaran dari masyarakat, karena masih banyak yang menunggak, dan otomatis membayar pajak juga jadi menunggak,” ujarnya.
           
Pihaknya mengaku, telah beberapa kali melayangkan surat terkait permintaan data pelanggan di Kabupaten Cianjur yang wajib membayar pajak, namun, hingga saat ini tidak ada kejelasanan. “Padahal sekarang kan era keterbukaan, kenapa harus ditutupi. Jangankan kita (Disperda) DPRD Cianjur pun meminta tidak diberikan,” katanya.
           
Humas PT PLN APJ Cianjur, Olih Solihin saat dikonfirmasi wartawan, enggan berkomentar terkait masalah tersebut. “Maaf, saya belum bisa memberikan komenara masalah itu. Saya sedang rapat saat ini,” ujar Olih, saat dihubungi melalui telepon selulerya, kemarin.
           
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Cianjur, Saep Lukman, menyayangkan tidak adanya sinkronisasi antara PLN dan Disperda Kabupaten Cianjur. Seharusnya, hal tersebut tidak boleh terjadi, lantaran sekarang era keterbukaan.“Sebetulnya itu urusan dinas pajak. Pajak juga mengeluh karena cuma diberi tulisan dana. Seharusnya itu tidak boleh terjadi apalagi sekarang ini era keterbukaan. Dan keduanya saling tidak terbuka,” katanya.

Sebelumnya, kata Saep, pernah dilakukan pemanggilan oleh DPRD, namun sampai saat ini, data-data yang dipinta belum pernah diberikan. “Yang paling penting asal itu secara terbuka dan diberikan, dinas pajak itu tidak masalah,” ungkapnya. (KC-02/rs)**.