January 2013
CIANJUR, (KC).- Ribuan rumah tidak layak huni (Rutilahu) hingga saat ini belum tersentuh bantuan. Pemkab Cianjur melalui Dinas Tata Ruang dan Permukiman (Distarkim) berupaya mengusulkan ke pemerintah pusat untuk perbaikan rumah tidak layak huni.

Kepala Distarkim Kabupaten Cianjur Yoni Raleda melalui Kasi Perumahan dan Permukiman Tatang Ruskandar didampingi stafnya Omar mengatakan, selama ini telah mendata dan mengusulkan rutilahu untuk mendapatkan bantuan. Pada tahun 2012 perbaikan rutilahu di Kabupaten Cianjur direalisasikan sebanyak 906 rumah yang mendapatkan perbaikan.

"Bantuan perbaikan rutilahu sampai saat ini masih dalam pengerjaan fisik. Untuk tahap pertama baru selesai sekitar 30 persen. Semua itu akibat pencairan dana bantuan dari pemerintah pusat baru masu pada bulan Desember 2012 lalu. Sehingga otomatis pekerjaanya juga baru bisa dilaksanakan," kata  Tatang, Kamis (31/1/2013).

Menurut Tatang, dari 906 perbaikan rutilahu tersebar di 15 Desa diwilayah 8 Kecamatan. Jumlah rutilahu yang paling banyak mendapatkan bantuan berada di Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas sebanyak 160 rumah. "Memang usulannya khusus beda dengan desa-desa di Kecamatan lainnya. Ada yang reguler (umum) melalui usulan Dinas, berdasarkan permohonan dari masyarakat dan ada pula yang melalui aspirasi dewan," katanya.

Sementara bantuan tersebut cair langsung melalui rekening penerima manfaat. Pencairanya sendiri terbagi dalam dua termin. Saat ini baru 50 persen dana yang sudah cair. "Besarnya bantuan rutilahu itu mading-masing sebesar Rp 6 juta dan baru cair setengahnya. Sisanya kalau pekerjaanya sudah rampung," katanya (KC-02/rud)**.
CIANJUR, (KC).- Puluhan pengemudi angkutan umum yang tergabung dalam Persatuan Pengemudi Cianjur Bogor (PPCB) mendatangi kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Cianjur, di Jalan Raya Bandung, Kamis (31/1/2013). Kedatangan puluhan pengemudi tersebut tidak lain untuk meminta kejelasan mengenai penertiban angkutan mikro bus (roda enam) yang diduga telah melakukan pelanggaran.

Berdasarkan pantauan, puluhan pengemudi yang menggunakan angkutan umum yang sehari hari menjadi tulang punggung untuk mengais rejeki itu tiba di Dishubkominfo sekitar pukul 10.30 WIB. Mereka langsung memarkirkan kendaraan didepan kantor Dishubkominfo. Tidak lama berselang sekitar 30 pengemudi itu berkumpul dan menggelar orasi.

Dalam orasinya mereka kembali mempertanyakan kejelasan trayek beberapa angkutan mikro bus (roda enam) yang saat ini dinilai semakin bertambah. Mereka menuntut agar Dishubkominfo bisa bertindak tegas menertibkan beroperasinya angkutan mikro bus diluar trayek yang diizinkan.

Disaat tengah menggelar orasi, beberapa petugas memfasilitasi untuk dilakukan dialog dengan jajaran Dishubkominfo. Namun ditolak oleh para pengemudi lantaran yang diajak hanya melalui perwakilan mereka. Para pengemudi keukeuh ingin berdialog secara bersama-sama tidak melalui perwakilan. Mereka meminta, agar Kepala Dishubkominfo Kabupaten Cianjur, Aban Sobandi menemui mereka di halaman parkir.

"Kita ingin berdialog disini, biar para pejabat itu menemui kita sambil berpanas-panasan. Jangan hanya bisanya duduk diruang ber AC saja. Biar mereka merasakan panas-panasan," teriak beberapa pengemudi.

Akhirnya Kepala Dihubkominfo Aban Sobandi bersedia menemui para pengemudi untuk berdialog. Namun dialog pun berlangsung alot dan panas karena pihak Dishubkominfo tidak memberikan jawaban memuaskan. "Kita datang kesini, kita korbankan tidak bekerja, kita korbankan anak istri di rumah tidak makan, tapi jawabannya yang kita sangat tunggu ternyata tidak memuaskan,” katanya.

Ketua Umum PPCB Amir Tajudin mengatakan, para pengemudi Cianjur-Bogor ingin melihat izin trayek jalan beroperasinya mikro bus roda enam. Selama ini para pengemudi melihat fakta di lapangan jumlah armada mikro bus yang beroperasi tidak sesuai dengan jumlah yang dijanjikan pada saat terjadi kesepakatan antara pihak pengusaha dan para pengemudi.

"Harus ada kejelasan dulu, sesuai dengan perjanjian dulu PO Marita tidak akan menambah armadanya sebanyak 13 unit armada. Tapi sekarang jumlahnya mencapai lebih dari 40 unit. Kondisi ini jelas sangat merugikan pengemudi karena mereka (PO Marita) menarik juga para penumpang dekat yang semestinya merupakan ladang pengemudi Cianjur - Bogor," jelasnya.

Pihaknya berharap, melihat kondisi yang terjadi saat ini, sudah selayaknya dicsarikan solusi. Para pengemudi juga meminta agar Dishubinfokom turun ke lapangan untuk melihat langsung jumlah armada mikro bus. "Sudah seharusnya Dishubkomonfo turun langsung melihat kondisi dilapangan dan harus berani menertibkan langsung mikro bus yang memang tidak memiliki izin trayek operasional,” tegasnya.
           
Secara terpisah Kepala Dishubkominfo Aban Sobandi, berharap persoalan yang dihadapi para pengemudi segera ada keputusanya. "Tidak semudah membalikan telapak tangan mencari solusinya. Kami sudah berupaya menyampaikan apa yang menjadi tuntutan para pengemudi dengan melayangkan surat ke Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat. Hingga saat ini belum ada jawabannya dari pihak provinsi," kilah Aban.

Sementara menurut Sekretaris Dishubkominfo Kabupaten Cianjur, Yudi Ferdian mengatakan, berdasarkan informasi dari Dirjen Perhubungan Darat, jumlah armada PO Marita yang beroperasi sebanyak 28 unit. Namun dia mengaku belum memiliki data resminya, karena masih menunggu surat resmi dari provinsi. "Kami tidak berkewenangan mengeluarkan data karena itu kewenangan Dirjen Hubungan Darat Provinsi Jabar,” katanya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Pergerakan tanah Kampung Cangkuang Puncak, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur semakin meluas menyusul terjadinya hujan deras sepanjang Rabu (30/1/2013) sore dikawasan tersebut. Badan Penanggulangan Bencan Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur yang sebelumnya hanya menetapkan siaga satu, saat ini telah menjadikan sebagai tanggap darurat.

Berdasarkan pantaun, hujan deras yang mengguyur kawasan Cipanas sepanjang sore ternyata berdampat terhadap rerakan tanah yang terjadi diareal hotel Puncak Pass. Retakan atau pergerakan tanah tersebut mengancam sedikitnya 147 Kepala Keluarga (KK) yang ada dibawahnya yaitu di Kampung Cangkuang.

Terlihat retakan semakin melebar hingga 3 cm di beberapa lokasi rumah warga. Sehingga sudah bisa dipastikan rumah wargapun banyak yang mengalami kerusakan. Demikian juga di areal kawasan hotel, retakan tanah semakin melebar.

"Hujan yang turun mempengaruhi kondisi retakan tanah yang terus melebar. Sempat terdengar suara gemuruh dilokasi yang terancam longsor. Kita berharap tidak sampai terjadi kemungkinan terburuk yakni terjadi longsor," kata Ketua LPM Desa Ciloto Edi Syamin.

Edi juga merupakan satu dari ratusan KK yang terpaksa meninggalkan rumahnya pasca terjadi pergerakan tanah. "Rumah saya saja sudah tidak bisa ditutup pintunya. Sekarang kami sekeluarga tinggal dirumah kontrakan," tegasnya.

Sementara itu Tim SAR gabungan langsung memantau ke lokasi pergerakan tanah lantaran terjadi getaran bersamaan dengan suara gemuruh didua lokasi yang rawan terjadi longsor tersebut. "Kita terus melakukan pemantauan dan pengamatan dilokasi yang terjadi pergerakan tanah," kata Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur A. Syamsudin.

Untuk menhadapi kemungkinan terjadinya longsor, pihaknya telah menyiagakan semua tim yang ada termasuk unit kesehatan. Demikian juga kendaraan operasional juga telah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan darurat.

Di Posko Kesehatan sejumlah warga masih ada yang datang untuk sekedar memeriksakan kesehatan. Penyakit flu, pilek dan batuk kebanyakan dialami oleh warga yang terpaksa harus mengungsi itu. Bahkan terdapat 3 orang warga yang terpaksa harus di rujuk untuk mendapatkan penanganan intensif ke RSUD Cimacan lantaran mengalami demam tinggi (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Kesejahteraan perangkat desa bisa di gali dengan mendirikan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Jika semua perangkat desa di Kabupaten Cianjur semuanya ingin diangkat menjadi Pegawai negeri, anggaran pemerintah tidak akan memadai untuk membayar gaji dan kebutuhan lainnya.

Demikian dikatakan Wakil Bupati Cianjur Suranto disela kunjungan kerjanya di Desa Ciherang, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Cianjur.  Turut mendampingi wabub, Camat Karang Tengah Dedi Supriadi, Kepala Desa Ciherang M. Miftah.

Dalam kunjungan kerja tersebut wabub meninjau pembangunan fisik Desa Ciherang, Kecamatan Karang Tengah, diantaranya bangunan Gedung Aula Desa, jalan lingkungan, Puskesmas dan aktifitas perangkat Desa Ciherang untuk mengontrol dan mengakomodasi aspisari masyarakat di desa tersebut.

Pada kesempatan tersebut wabub juga memberikan arahan kepada Kades dan perangkat Desa Ciherang untuk tetap bekerja dalam kebersamaan meskipun banyak halangan dan rintangan. Sumber daya manusia maupun anggaran yang sangat vital untuk kelancaran program kerja menjadi pokok bahasan dalam kunjungan kerjanya yang disampaikan secara tatap muka dengan perangkat desa dan masyarakat yang turut hadir.

"Sejauh ini pembangunan memang terfokus pada pembangunan fisik, hal ini perlu di ikuti dengan pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia agar terbentuk keseimbangan dalam upaya pembangunan. Upaya menanggulangi kemiskinan, pengangguran, masalah kesehatan dan pendidikan serta agar tercipta kemampuan untuk mencari kesejahteraan sendiri tanpa harus tergantung dengan bantuan dari pemerintah," katanya.

Menyinggung kesejahteraan perangkat desa, wabub mengatakan hal itu bisa dilakukan dengan membuat Bumdes dengan aturan–aturan yang sejalan dengan kebijakan Pemkab Cianjur. Hal itu bisa diwujudkan asalkan ada kemauan dan kesamaan pola pikir untuk maju mengingat saat ini anggaran Pemkab Cianjur alokasinya hampir 65 persen digunakan untuk belanja pegawai dan hanya 35 persen saja sisanya dipakai untuk membangun.

"Dengan dana 35 persen tersebut tentunya sulit jika semua perangkat desa mendapatkan kesejahteraan yang layak. Oleh Karena itu perlu inovasi dan kebersamaan untuk mewujudkan kesejahteraan, termasuk didalmnya membangun dan mengembangkan Bumdes," paparnya (KC-02)**.
dok/
CIANJUR, (KC).- Dinas Binamarga Kabupaten Cianjur saat ini tengah mengupayakan pembangunan jembatan darurat atas robohnya enam jembatan diwilayah Kecamatan Pacet, Cipanas dan Sukaresmi akibat diterjang banjir beberapa waktu lalu. Langkah tersebut diambil mengingat terbatasnya anggaran yang dimiliki oleh Pemkab Cianjur untuk kembali membangun jembatan yang hanyut tergerus luapan air sungai Cipendawa itu.

Kepala Dinas Binamarga Kabupaten Cianjur, Atte Adha Kusdinan mengatakan, dalam melaksanakan pembangunan jembatan darurat tersebut dilaksanakan berdasarkan skala prioritas. Jembatan yang dinilai merupakan sarana fital dan keberadaanya sangat dibutuhkan terkait masalah roda perekonomian akan didahulukan.

"Jembatan Cipendawa di wilayah Kecamatan Sukaresmi salah satunya ytang kita dahulukan untuk mendapatkan penanganan. Karena jembatan tersebut merupakan saran fital bagi masyarakat. Kita upayakan untuk membuat jembatan darurat," kata Atte saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/1/2013).

Menurut Atte dari 6 jembatan yang hancur diterjang banjir, diperkirakan belum semuanya yang akan dibangun kembali pada tahun 2013 ini. Terbatasnya anggaran menjadi salah satu alasan belum dilaksanakannya kembali pembangunan jembatan yang rusak. Pihaknya akan melakukan pembangunan beberapa jembatan berdasarkan penilaian berdasarkan skala prioritas.

"Jembatan Cipendawa di wilaytah Sukaresmi dan jembatan Bengkok di Padarincang Cipanas yang kemungkinan besar akan segera didahulukan untuk pembangunannya. Kedua jembatan tersebut merupakan sarana fital karena menjadi urat nadi perekonomian. Pembangunannya akan menggunakan anggaran APBD dalam perubahan parsial," tegasnya.

Untuk membangun jembatan dan jalan yang rusak akibat banjir diwilayah Cianjur utara itu dibutuhkan anggaran sekitar Rp 6 miliar. Sementara anggaran cadangan untuk bencana alam di Kabupaten Cianjur hanya sekitar Rp 4 miliar. Jika melihat anggaran cadangan untuk bencana alam masih jauh dari memadai, karena kerusakan akibat banjir tidak hanya jalan dan jembatan, tapi juga terdapat puluhan saluran irigasi yang juga ambrol.

"Melihat kondisi itu pak bupati telah mengambil kebijakan sudah memerintahkan untuk mengalihkan anggaran yang bisa dialihkan tahun 2014 tapi semuanya menunggu perubahan. Berarti semuanya mengacu kepada skala prioritas," katanya.

Secara terpisah Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDAP) Kabupaten Cianjur Oting Zaenal Mutaqin mengaku, bencana alam banjir yang terjadi dua pekan silam diwilayah Cianjur utara telah meluluh lantakkan puluhan saluran irigasi yang ada dibawah naungannya. Atas kejadian tersebut kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp 18 miliar.

"Kita sudah sampaikan hitungan kasar kerugian materi akibat rusaknya saluran irigasi sebesar Rp 18 miliar ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur. Tergantung BPBD apakah nantinya akan semuanya atau tidak yang akan di bangun kembali. Kita sedang menunggu," kata Oting saat ditemui terpisah.

Dalam melakukan penanganan pasca bencana, pihaknya juga akan mengacu berdasarkan skala prioritas. "Jelas kita dahulukan berdasarkan skala prioritas semisal irigasi yang mengairi hektaran sawah akan didahulukan divandingkan dengan pembangunan kirmir yang rusak," tegasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Pemkab Cianjur mendukung penuh finalis Putri Indonesia asal Jawa Barat Ryan Putri Astrini Basyarah (22) dalam ajang Pemilihan Putri Indonesia (PPI) 2013. Dukungan penuh tersebut disampaikan oleh Bupati Cianjur H. Tjetjep Muchtar Soleh. Bahkan orang nomor satu di Cianjur itu bersama rombongan akan langsung menghadiri grand finalnya yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2013 mendatang, di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jakarta.    

"Ini merupakan salah satu kebanggaan Cianjur, karena ada mojang asal Kecamatan Bojong Picung, Kabupaten Cianjur ternyata mampu berprestasi ditingkat nasional bahkan internasional. Kita mendukung penuh langkahnya dalam ajang Putri Indonesia tentunya dengan mengandalkan kecerdasan dan wawasan yang luas serta mempunyai kepribadian dan akhlak yang baik. Do'a seluruh masyarakat Cianjur mengiringi langkahnya," kata bupati Tjetjep Muchtar Soleh, Rabu (30/1/2013).

Kepala Bagian Humas dan Keprotokolan Setda Cianjur Jaenudin menambahkan, bupati bersama rombongan direncanakan akan menghadiri acara malam Grand Final Pemilihan Putri Indonesia 2013 yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2013 mendatang, di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jakarta. Langkah bupati tersebut sebagai bentuk dukungan dari pemerintah Cianjur dan segenap warga masyarakat Cianjur. Harapanya wakil Jawa Barat asal Cianjur ini mampu menjadi Putri Indonesia tahun ini karena secara tidak langsung telah mengharumkan nama Cianjur.

"Untuk itu sebagai bentuk dukungan atas nama Pemkab Cianjur saya mengajak warga Cianjur dan Jawa Barat baik yang ada di daerah maupun luar daerah untuk mendukung finalis Putri Indonesia asal Jawa Barat dengan Ketik PPIK (spasi) JABAR kirim ke 7288. Dengan demikian kita telah mendukung mojang asal Cianjur di ajang Pemilihan Putri Indonesia 2013," katanya.

Seperti diketahui Ryan Putri Astrini Basyarah (22) dengan tinggi badan 170 cm,  kelahiran 7 Januari 1990 berhasil menyisihkan 17 finalis lainnya dari Kabupatenn/Kota di Jawa Barat untuk menjadi yang terbaik sebagai perwakilan Jawa Barat yang akhirnya mampu menjadi delegasi dari Putri Indonesia Jawa Barat untuk ikut dalam Pemilihan Putri Indonesia 2013 dengan perjuangan yang tentunya tidaklah mudah.

Edisi terakhir Puteri Indonesia diselenggarakan pada tahun 2011, namun karena jadwal Miss Universe ditunda hingga Desember 2012, maka Pemilihan Puteri Indonesia 2012 ditiadakan dan ditunda hingga awal tahun 2013. Puteri Indonesia 2011 Maria Selena dari Jawa Tengah akan memahkotai penggantinya nanti. Pemenang Puteri Indonesia 2013 akan mewakili Indonesia dia ajang Miss Universe 2013 sementara Runner Up 1/Puteri Indonesia Bumi 2013 akan mewakili Indonesia di ajang Miss Earth 2013 dan Runner Up 2/Puteri Indonesia Pariwisata 2013 akan mewakili Indonesia di ajang Miss International 2013 (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Jajaran Polres Cianjur berhasil meringkus dua orang pelaku pembuat dokumen palsu, Selasa (29/1/2013). Mereka yakni DD dan AI, warga Cianjur, diringkus petugas tanpa melakukan perlawanan. Dari tangan pelaku petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti pembuat dokumen, seperangkat komputer dengan printer serta scanner.           

Kedua pelaku selama ini seringkali membuat dokumen palsu seperti KTP, KK, Ijazah, serta SKCK, dengan cara di scan. Korbanyapun cukup banyak, tidak hanya warga Cianjur, tapi juga warga Sukabumi.
 
Kapolres Cianjur, AKBP Agustri Heryanto menuturkan, penangkapan terhadap kedua pelaku pembuat dokumen palsu tersebut dilakukan setelah adanya laporan dari masyarakat. Pihak kepolisian dengan cepat menindak lanjuti laporan dengan melakukan penyelidikan. Hasil dari pengembangan akhirnya akhirnya mengarah kepada kedua pelaku yang saat ditangkap sedang berada diwilayah Kecamatan Warungkondang.

"Pengungkapan kasus pembuat dokumen palsu bermula saat adanya laporan dari salah satu perusahaan yang komplain terhadap keaslian dokumen karyawanya. Dari laporan itu kami tindak lanjuti dan ternyata mengarah kepada kedua tersangka," kata Kapolres di Mapolres Cianjur, Selasa (29/1/2013).

Begitu mengetahui keberadaan pelaku, anggotanya langsung melakukan penangkapan. Saat ditangkap kedua pelaku tidak bisa berbuat banyak. "Dari tangan pelaku kita mendapatkan barang bukti berupa seperangkat komputer dengan printer serta scanner. Tidak hanya itu, puluhan berkas dokumen palsu serta ratusan foto calon korban juga ditemukan di tempat kejadian," tegasnya.
           
Atas perbuatanya, pelaku akan dijerat dengan pasal 263 KUH Pidana tentang pemalsuan dokumen. "Pelaku diancam hukuman enam tahun penjara," katanya.

Sementara itu, seorang pelaku, AI mengaku pembuatan dokumen palsu yanh ia lakukan sudah berlangsung sejak tahun 2011 lalu. Dokumen yang dibuatnya merupakan, dokumen identitas kependudukan serta identitas kepolisian. Dokumen-dokumen tersebut dijual dengan harga kisaran Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.

"Kita terbiasa membuat  KTP, KK, Ijazah, SKCK. Cara membuatnya kita menggunakan scanner. Dalam sehari kita sanggup menyelesaikan untuk satu sampai dua orang. Para korban kebanyakan warga Cianjur dan Sukabumi," tandasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Ratusan atribut alat peraga kampanye calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013 di Kabupaten Cianjur secara serentak diturunkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Cianjur, Senin (28/1/2013) malam. Puluhan anggota Satpol PP hingga tingkat kecamatan ikut turun tangan menertibkan alat peraga kampanye tersebut.

Berdasarkan pantauan, para anggota Satpol PP yang didampingi oleh puluhan anggota Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) dan dibawah kawalan anggota kepolisian itu mulai bergerak secara serentak pada pukul 20.00 WIB.  Mereka mencopoti atribut kampanye seperti baligo, poster dan spanduk yang terpasang bergambarkan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013.

Ratusan atribut alat peraga kampanye tersebut satu persatu diturunkan dengan menggunakan peralatan yang telah disiapkan. Kemudian atribut kampanye tersebut dibawa dengan menggunakan kendaraan terbuka untuk dilakukan pendataan. Bahkan para anggota Satpol PP ada juga yang nekat menaiki tiang papan rekalame yang cukup tinggi untuk menurunkan aribut kampanye salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013.

Pemandangan seperti itu terlihat dibeberapa titik sepanjang jalur menuju arah Cipanas. Di daerah panembong anggota Satpol PP harus naik untuk menurunkan baligo raksasa yang terpasang dipapan reklame melintang diatas jalan. Hal serupa juga terjadi diwilayah Cipanas Cianjur. Penertiban alat peraga kampanyer tersebut berlangsung hingga Selasa (29/1/2013) dinihari.

Kepala Satpol PP Kabupaten Cianjur Tohari Sastra mengungkapkan, penertiban terhadap alat peraga kampanye tersebut dilakukan setelah pihaknya menggelar rapat koordinasi dengan Panwaslu Kabupaten Cianjur. Pihaknya menganggap bahwa jeda waktu sosialisasi bagi para pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur dirasa sudah cukup.

"Kita akhirnya mengambil langkah untuk menertibkan semua atribut kampanye yang terpasang disejumlah titik di wilayah Cianjur secara serentak. Tidak hanya anggota Satpol PP di Kabupaten saja yang melakukan penertiban, tapi hingga ke tingkat kecamatan secara serentak juga melakukan penertiban," kata Tohari, Selasa (29/1/2013).

Menurut Tohari, atribut alat peraga kampanyer tersebut hasil dari yang ditertibkan selanjutnya dibawa ke kantor Satpol PP untuk dilakukan pendataan. Atribut tersebut bisa diambil kapan saja bagi tim sukses atau calon langsung ke kantornya. "Semuanya telah kami data dan bagi tim sukses maupun pasangan calon gubernur dan wakil gubernur bisa mengambil kapan saja," tegasnya.

Sementara itu Divisi Pengawasan Panwaslu Kecamatan Cugenang, Mustofa mengungkapkan, diwilayah Kecamatan Cugenang terdapat puluhan alat peraga kampanye yang diturunkan oleh Satpol PP. Alat peraga kampanye tersebut kebanyakan dipasang di pohon dan di tembok rumah warga.

"Sebenarnya berdasarkan PKPU alat peraga kampanye tersebut tidak boleh dipasang di pohon dan tiang listrik. Hanya saja kenyataanya ada saja yang melakukannya. Mungkin pihak calon atau tim sukses kurang komunikasi dengan orang-orang yan disuruh memasang alat peraga kampanye," tegasnya.

Keberadaan anggota Panwas pada penertiban alat peraga kampanye sifatnya hanya membantu saja. Sedangkan sebagai pelaksanannya adalah Satpol PP. "Yang menertibkan alat peraga kampanye itu bukan panwas, tapi Satpol PP yang memiliki kewenangan," katanya (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Seruan penolakan terhadap calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013 yang berasal dari partai korup disampaikan oleh puluhan massa yang tergabung dalam Laskar Padjadjaran dan Delman United, Senin (28/1/2013). Mereka melakukan aksinya di perempatan jalan Balai Latihan Kerja (BLK), Jalan KH Abdulah bin Nuh.

Ketua Umum Laskar Muda Padjadjaran, Tedi Subarkah mengatakan, aksi yang dilakukan merupakan salah satu bentuk keprihatinan rakyat jika masih ada calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat yang diusung dari partai korup. Apalagi jika calon tersebut sampai terpilih.

"Kami secara tegas menolak Cagub dan Cawagub yang diusung oleh partai korup. Jika sampai jadi, kami kawatir nasib rakyat akan semakin sengsara saja. Apalagi kalau sampai penyakit korupsi itu menyebar ke tubuh pemerintah," kata Tedi di sela aksi, Senin (28/1//2013)>

Pihaknya mengajak masyarakat Jawa Barat untuk lebih selektif dalam menentukan pilihanya pada perhelatan Pilgub Jabar 2013. Karena kalau tidak selektif dan salah memilih, apalagi sampai memilih calon yang diusung partai korup bisa berdampak luas. "Kami mengajak rakyat Jabar untuk bisa selektif dalam memilih dan menolak calon pemimpin jika mereka dari parpol yang korup," katanya.

Sebagaimana yang saat ini santer dibicarakan, telah terjadi dugaan korupsi yang dilakukan oleh kader parpol seperti dugaan kasus korupsi Hambalang, kasus suap Bupati Buol, kasus makan minum bupati Cianjur, kasus korupsi pengadaan Alquran, serta beberapa kasus korupsi yang diduga melibatkan beberapa menteri, anggota DPR dan DPRD, serta bupati dan wali kota di Indonesia.

"Apa yang saat ini terjadi menunjukkan bahwa partai politik secara umum dan partai politik penguasa ikut andil dalam menciptakan situasi tersebut. Maka, kami tidak ingin kader dari partai korup itu dipilih rakyat. Dampaknya pasti rakyat yang akan menjadi korban. Saat ini rakyat mendambakan pemimpin yang mengenal rakyat bukan dikenal rakyat," katanya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Sejumlah eks karyawan PT Guna Widya Ratna (GWR) yang pernah mengelola Pasar Muka Cianjur, Senin (28/1/2013) melaporkan rekan mereka sendiri karena diduga telah melakukan penggelapan uang "kadeudeuh" dari Pemkab Cianjur untuk para eks karyawan PT GWR.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, kedatangan para eks karyawan PT GWR ke Mapolres Cianjur untuk melaporkan rekan mereka sesama eks karyawan lantaran diduga uang kadeudeuh yang diterima tidak sesuai lantaran telah digelapkan.

Menurut Koordinator eks karyawan PT GWR, Dede Dahlan (35) menjelaskan, saat itu pada 27 Desember 2012 pihaknya mendapatkan penjelasan dari Bagian Keuangan Setda Cianjur bahwa uang kadeudeuh bagi para eks karyawan PT GWR senilai Rp 90 juta sudah cair. Sehari kemudian dia mendatangi bagian keuangan untuk meminta penjelasan mengenai pencairan uang kadeudeuh.

Dari Bagian Keuangan menjelaskan bahwa uang tersebut telah dicairkan pada tanggal 13 Desember 2012, oleh AN dan FR yang mengatasnamakan Paguyuban eks karyawan PT GWR. "Setelah yakin kalau uang sudah dicairkan, kami mendatangi rumah FR, dan memang mengaku bahwa uang tersebut sudah cair. Menurut penjelasanya uang tersebut diperuntukkan bagi eks karyawan PT GWR masing-masing mendapatkan pembagian sebesar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.  Saya sendiri hanya menerima uang sebesar Rp 2.200.000,- untuk 9 orang eks karyawan dari FR,” katanya di Mapolres Cianjur.

Atas kejadian tersebut pihaknya menduga telah terjadi penggelapan dana. Bersama eks karyawan PT GWR lainya sepakat melaporkan permasalahan uang kadeudeuh tersebut ke Mapolres Cianjur. "Mudah-mudahan laporan kami segera ditindak lanjuti sesuai dengan aturan yang ada," harapnya.

Sementara itu, Kapolres Cianjur AKBP Agustr Heryanto melalui Kanit Ditreskrimsus Polres Cianjur, Iptu Sepuh saat dikonfirmasi membenarkan adanya pengaduan dugaan penggelapan yang dilaporkan oleh eks karyawan PT GWR. Untuk menindak lanjuti, pihaknya menunggu terlebih dahulu kelengkapan bukti-bukti atas pengaduan.

"Secara resmi laporannya belum, baru surat pengaduan dulu yang sudah kita terima dari mereka (eks karyawan). Kita akan tindaklanjuti kalau kelengkapan bukti sudah lengkap,” ujar Sepuh saat dihubungi wartawan (KC-02/kie)**.
CIANJUR, (KC).- Satu orang meninggal dan dua lainya mengalami luka berat dan ringan akibat kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Jalan Raya Cugenang Kampung Palalangon, desa Cijedil, Kec. Cugenang, Kab. Cianjur, Minggu (27/1/2013) sekitar pukul 17.15 WIB.

Kecelakaan maut tersebut melibatkan mini bus Xenia Nopol N 853 Du dengan dua sepeda motor Yamaha Jupiter Mx Nopol F 6552 YJ dan Yamaha Mio Soul Nopol F 5428 ZI. Korban meninggal adalah Irman Hermansyah pengemudi motor Yamaha Jupiter MX warga Kampung Rawey RT 02/RW 07 Desa Mekarsari Kec/Kab. Cianjur. Sedangkan korban yang mengalami luka Ahmad Agie Faishal dan Ramdani Abdul Jabar.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, peristiwa kecelakaan maut yang menelan korban jiwa terjadi bermula saat kendaraan Daihatasu Xenia Nopol N 853 DU yang dikemudikan Asep Sunardi bin Najmudin melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Cipanas menuju Cianjur. Ketika memasuki jalan lurus dan datar, pengemudi Xenia bermaksud mendahului angkot yang ada didepanya.

Hanya saja saat mendahului angkot tersebut, tiba-tiba mobil Xenia slip sehingga memutar arah masuk jalur sebelah kanan arah Cianjur. Pada saat bersamaan datang kendaraan sepeda motor Yamaha Jupiter Mx Nopol F 6552YJ, yang dikendarai Oleh Irman Hermansyah dan kendaraan sepeda motor Yamaha Mio Soul Nopol F 5428ZI yang kendarai Ahmad Agie Faishal memboceng Ramani Abdul jabar yg datang dari arah berlawanan.

Tanpa bisa dihindari lagi terlibatlah tabrakan sehingga menimbulkan benturan yang cukup keras. Para pengendara sepeda motor tersebut terpental mencium tanah hingga mengakibatkan pengendara speda motor Jupiter MX meninggal dunia. Sedangkan pengendara speda motor Yamaha Mio Soul dan penumpangnya mengalami luka-luka serta kendaraan yang terlibat kecelakaan mengalami kerusakan.

Para korban oleh warga dilarikan ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis. Korban meninggal kemudian diambil oleh keluarganya untuk dikebumikan. "Saat ini perkaranya sudah ditangani oleh Satlantas Polres Cianjur," kata Kasubag Humas Polres Cianjur AKP Achmad Suprijatna (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Evaluasi itu dilakukan dari bawah karena dengan begitu akan muncul pemikiran dan telaah yang sangat berharga untuk memecahkan masalah. Kadangkala kita bekerja mengumpulkan data tapi data itu tidak terpakai. Kebijakan umum itu harus di ketahui secara pasti, dan tentunya juga harus memiliki kemampuan memahami hal-hal tekhnis walaupun tidak harus mengetahui secara menyeluruh hal-hal yang dikuasai Dinas Tekhnis.

Demikian ditegaskan Wakil Bupati Cianjur Suranto disela kunjungan kerjanya ke Dinas Tata Ruang dan Permukiman (Distrakim) Kabupaten Cianjur, Senin (28/1/2013).

Menurut Suranto, Distarkim merupakan unsur pelaksana otonomi daerah di bidang tata ruang, bangunan, perumahan dan permukiman, air bersih dan teknik penyehatan lingkungan. "Keberadaan Distarkim sangat menunjang pelaksanaan pembangunan di Cianjur," tegasnya.

Sementara Wakil Bupati dalam kunjungan kerjanya juga memberikan apresiasi atas kegiatan brifing staf yang rutin dilakukan oleh Dinas Tarkim untuk melakukan evaluasi kerja. "Brifing sangat penting dilakukan untuk mengukur hasil-hasil kerja dan apa yang direncanakan kedepan yang akan di lakukan, tapi ingat dalam brifing itu harus ada komunikasi dua arah jangan satu orang saja yang berbicara dan berpendapat. Apapun hasil dari brifing staf itu yang sifatnya rahasia jangan sampai terbuka ke umum, artinya apapun yang menjadi permasalahan dan unek-unek cukup diselesaikan pada saat brifing saja jangan sampai orang luar tahu," tegasnya.

Kepala Distarkim Kabupaten Cianjur, Yony Raleda, mengatakan, program dan kegiatan Distarkim diantaranya adalah Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah,Pembangunan Infrastruktur Perdesaan, Lingkungan Sehat Perumahan, Perbaikan Perumahan Akibat Bencana Alam/Sosial.

Selain itu program lainya adalah Peningkatan Kesiagaan dan Pencegahan Bahaya Kebakaran, Perencanaan Tata Ruang, Pemanfaatan Ruang, Pengendalian Pemanfaatan Ruang, Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan, Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup, Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) , Peningkatan Sarana dan Prasarana Olah Raga dan Peningkatan Sarana dan Prasarana Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (KC-02)**.
ilustrasi
CIANJUR, (KC).- Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh ratusan sopir angkutan umum yang tergabung dalam Persatuan Pengemudi Cianjur Bogor (PPCB) di Gedung DPRD Kabupaten Cianjur, Jalan KH Abdullah bin Nuh, Senin (28/1/2013) terpaksa dibubarkan oleh aparat kepolisian. Pembubaran paksa aksi para sopir tersebut lantaran tidak mengantongi surat pemberitahuan aksi kepada pihak kepolisian.

Berdasarkan pantauan, ratusan sopir yang menggunakan angkutan umum jurusan Cianjur-Bogor itu tiba di gedung DPRD Cianjur sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah memarkirkan kendaraanya, para sopir tersebut berkumpul. Hanya saja saat akan menyampaikan aspirasinya, aparat kepolisian yang tengah berjaga-jaga menanyakan surat pemberitahuan aksi.

Terjadilah negosiasi antara para sopir dan anggota kepolisian. Akhirnya lantaran para sopir tidak bisa menunjukkan surat pemberitahuan aksi, mereka sepakat aksi yang menuntut keadilan bagi para sopir Cianjur-Bogor atas dampak beroperasinya PO Bus Marita itu dibubarkan. Para sopir pun terlihat hanya bisa pasrah dan kembali ke kendaraanya.

Kasubag Bina Operasi Polres Cianjur AKP Ajat Sudrajat mengatakan, aksi para sopir terpaksa dibubarkan karena mereka tidak bisa menunjukkan surat pemberitahuan saat menggelar aksi. Pigaknya menyarankan kepara para sopir agar mengurus surat pemberitahuan sebelum melakukan aksi yang melibatkan massa.

"Ya terpaksa aksi para sopir kami bubarkan, karena mereka tidak memiliki surat pemberitahuan. Apalgi saat mereka menggelar aksi, para anggota DPRD tidak ada ditempat, karena sedang reses," kata, Senin (28/1/2013).

Ketua Umum PPCB, Amir Tajuddin mengatakan, kedtangannya ke gedung DPRD Cianjur tidak lain ingin menagih janji pihak Dinas Perhubungan dan Informatika Kabupaten Cianjur yang sebelumnya telah berjanji akan menertibkan mikro bus. Karena keberadaanya telah sedikit banyak mempengaruhi pendapatan para sopir angkutan umum.

"Kedatangan kami sebenarnya hanya ingin menagih janji pihak Dishub Cianjur pada pertemuan 17 Januari lalu. Saat itu Dishub berjanji selama 10 hari akan menertibkan mikro bus yang diduga menyalahi aturan dalam beroperasi. Kenyataanya sampai saat ini masih saja seperti semula, mikro bus itu masih tetap beroperasi," kata Amir.

Pihaknya mengakui, aksinya tersebut tidak mengantongi izin pemberitahuan dari pihak kepolisian. Sehingga dia tidak menggelar aksi ke Dinas Perhubungan dan Informatika. "Memang kita tidak mengantongi surat pemberitahuan, makanya kami mendatangi gedung DPRD. Tadinya kami hanya datang melalui perwakilan saja. Tapi ternyata solidaritas dari para sopir cukup tinggi dan tidak bisa dicegah mereka ikut ke DPRD," katanya.

Menurut Amir, jika ternyata Dishub Kab. Cianjur tidak menepati janjinya yakni menertibkan angkutan mikro bus yang diduga telah melanggar ketentuan, pihaknya akan kembali datang dengan membawa massa yang lebih besar. "Kita akan datang kembali jika ternyata Dishub tidak menepati janjinya. Kami akan datang dengan massa yang jumlahnya jauh lebih banyak, sekitar 600 orang," katanya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Agar para Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) lebih memahami aturan tentang pengawasan pemilu, Panitia Pengawas Pemilihan Umum Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat (Panwaslu Pilgub) Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur menggelar bimbingan tekhnis yang diikuti oleh 16 PPL se wilayah Kecamatan Cugenang.

Divisi Pengawasan dan Humas Panwaslu Cugenang, B. Mustofa mengatakan,  kegiatan bintek tersebut sengaja dilaksanakan agar para PPL diwilayah Cugenang lebih memahami bagaimana melakukan pengawasan seluruh tahapan Pilgub Jabar 2013 yang sedang berlangsung. Terutama dalam mengawasi tahapan kampanye yang akan segera digelar.

"Kita tidak ingin PPL kita kurang memahami bagaimana dalam melakukan pengawasan pelaksanaan Pilgub Jabar ini. Sebagai pengawas sudah barang tentu harus mengetahui banyak hal mengenai aturan dalam melakukan pengawasan. Karena pengawas bekerja tidak berdasarkan asumsi tapi aturan yang syah yang sudah ditetapkan," katanya.

Dalam pemberian materi bintek terhadap PPL tersebut, lebih ditekankan bagaimana upaya melakukan pencegahan terjadinya pelanggaran. Sosialisasi terhadap aturan terhadap beberapa konstituen yang memiliki potensi melakukan pelanggaran merupakan salah satu langkahnya.

"Keberhasilan seorang panwas itu tidak melihat seberapa banyak pelanggaran yang ditangani, tapi sejauh mana seorang panwas bisa melakukan upaya pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran. Ya salah satunya dengan melakukan sosialisasi dan komunikasi terhadap beberapa konstituen yang berpotensi melakukan pelanggaran," katanya.

Dalam tahapan kampanye, keberadaan majlis ta'lim, pengajian di masjid seringkali menjadi salah satu objek bagi pasangan calon maupun tim suksesnya untuk mencari dukungan. "Makanya kita sudah antisipasi, para PPL telah kita interuksikan agar menyampaikan sosialisasi kepada para pengurus majlis ta'lim maupun DKM masjid bahwa kegiatan kampanye di masjid maupun tempat pendidikan itu dilarang. Dengan demikian kita harapkan jika ada pasangan calon maupun tim sukses yang ingin memanfaatkan bisa diingatkan dan muaranya tentu tidak melakukan pelanggaran. Ini merupakan salah satu pencegahannya," tegasnya.

Kalaupun sampai terjadi pelanggaran, pihak Panwaslu akan tetap memproses sesuai dengan aturan yang berlaku. "Kalau meski kita telah berupaya melakukan pencegahan dan terjadi indikasi pelanggaran, tentu kita akan tindak lanjuti sesuai dengan aturan yang berlaku. Kita ingin pelaksanaan Pilgub Jabar ini berjalan sukses tanpa ekses," tegasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Atikah (45), warga Kampung Sarampo Desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang Cianjur yang menderita tumor ganas dibagian bawah dagu bisa bernafas lega. Betapa tidak kesulitan untuk mengobati penyakitnya, kini sirnalah sudah, setelah  Forum Pengurus Karang Taruna (FPKT) Kab. Cianjur turun tangan membantu pengobatannya.

Ketua FPKT Kab. Cianjur Irvan Rivano Muchtar mengaku, pihaknya mengetahui ada warga Desa Buni Kasih yang menderita tumor ganas, ketika dilaksanakan pengobatan gratis bagi 300 warga Desa Buni Kasih Warungkondang Cianjur Minggu (27/1).

“Kebetulan agenda dari Karang Taruna Kabupaten sedang melaksanakan pengobatan gratis bagi 300 orang warga di Desa Buni Kasih. Saat acara berlangsung, ada salah seorang warga menderita tumor ganas di bagian dagu, kami pun langsung meresponnya untuk membantu,” kata Irvan.

Menurutnya, peran Karang Taruna Kabupaten Cianjur  akan mengawal pengobatan Atikah dari mulai rujukan dari bidan, ke Puskesmas, ke Dinkes sampai ke RSUD Cianjur. “Untuk pengobatan sendiri, kami akan membantu 100 persen,” ujarnya.

Irvan berharap, Atikah dapat kembali sehat seperti sedia kala, dan kembali melakukan aktifitas seperti biasa. “Semoga setelah berobat ke RSUD, Atikah dapat sembuh 100 persen,” tuturnya.

Sementara itu, Deuis (23), anak dari Atikah mengungkapkan, ibunya menderita tumor sejak 20 tahun lalu.  Sedangkan mulai ada benjolan besar sejak dua tahun silam. “Awal gejala ibu saya menderita tumor, dari pusing  kepala lalu muncul benjolan kecil di bagian dagu,” jelasnya.

Dia memaparkan, benjolan semakin besar setelah dua tahun silam. Sedangkan kondisi kesehatan Atikah saat ini semakin memburuk. “Ibu saya sering mengeluh perih dibagian benjolan dan berat,” tegasnya seraya menambahkan adanya bantuan dari FPKT Cianjur,  ia sangat terharu sekali.

Terpisah, Sekretaris Dinkes Cianjur   Niswan Purwenti, memaparkan, dirinya mendapatkan laporan dari tim kesehatan FPKT tentang adanya warga bernama   Atikah (45), yang menderita tumor ganas. “Tentunya kami akan ditindaklanjuti untuk dilaksanakan penanganan serius dan digratiskan pengobatannya,” pungkasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Himbauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar seluruh warga yang tinggal di Kampung Puncak gang Cangkuang, Desa Ciloto, Kec. Cipanas, Kab. Cianjur untuk mengosongkan rumahnya menyusul pergerakan tanah yang semakin meluas, dituruti para warga. Sebanyak 148 KK atau sekitar 548 jiwa telah mengosongkan rumahnya.

Para warga tersebut lebih memilih mengungsi atau tinggal di sanak saudaranya. Bahkan banyak diantaranya yang sengaja mengontrak rumah untuk tempat tinggal sementara.

"Saat ini sudah seluruh warga meninggalkan rumah. Karena rumah mereka sewaktu-waktu terancam longsoran tanah akibat terjadinya pergerakan tanah yang terus berlanjut. Himbauan kita dipatuhi oleh warga meski masih ada diantaranya yang lalu lalang mengecek harta benda yang ditinggal dirumahnya," kata Kepala BPBD Kab. Cianjur, Asep Achmad Suhara, Minggu (27/1/2013).

Diakui Asep, sebelumnya ada beberapa warga yang sempat menolak untuk meningosongkan rumahnya. Setelah dilakukan pendekatan akhirnyas eluruh warga bersedia mengosongkan rumahnya.

"Kita terus pantau kondisi pergerakan tanah yang terjadi. Memang pergeseran terus terjadi, apalgi jika turun hujan. Bahkan belasan rumah warga sudah mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah," katanya.

Sementara itu para warga yang telah mengosongkan rumahnya, sebagian diantaranya mengungsi di wisma Depsos tidak jauh dari kampung mereka mulai terserang penyakit. Hal itu terungkap saat beberapa warga mendatangi Posko 2 BPBD Cianjur yang saat ini digunakan oleh tim tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kab. Cianjur.

Berdasarkan data di Posko 2, sampai Minggu (27/1/2013) tercatat sudah 30 orang terdiri dari orang dewasa, lansia bahkan anak-anak yang berobat. Mereka rata-rata terserang penyakit flu, pilek, batuk dan demam. Warga yang sakit tersebut diduga akibat kelelahan setelah memindahkan barang-barang berharaga dari rumahnya yang dikosongkan.

"Mau berobat ke rumah sakit tidak punya uang, makanya kami mendatangi posko kesehatan. Ada beberapa warga juga yang mengalami sakit, mungkin karena kelelahan, sehingga daya tahan tubuhnya melemah dan mudah terserag penyakit," kata Erni (42) seorang warga.

Sementara Kusmiati (35) warga lainya yang kini harus mengontrak rumah akibat tempat tinggalnya terancam longsor akibat pergerakan tanah berharap kepada Pemkab Cianjur agar tempat tinggalnya direlokasi. Karena tidak memungkinkan harus kembali menempati rumahnya yang berada di daerah rawan bencana.

"Memang berat meninggalkan kampiung halaman, tapi demi keselamatan kalau boleh berharap Pemkab Cianjur harus merelokasi tempat tinggal seluruh warga yang kini rumahnya terancam longsor. Sebab kalau harus mencari tempat sendiri, sepertinya banyak warga yang tidak mampu," harapnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Untuk mengembangkan potensi dan pesona pariwisata di Kabupaten Cianjur diperlukan sinergitas dan kebersamaan antara pemerintah daerah dengan para pelaku wisata serta dukungan penuh dari masyarakat yang memiliki kesadaran akan besarnya potensi pariwisata untuk kesejahteraan dan peningkatan daya beli masyarakat di Kabupaten Cianjur yang perlu dikembangkan.

Demikian diungkapkan Wakil Bupati Cianjur Suranto saat ditanya strategi pengembangan pariwisata di Kabupaten Cianjur, Jum'at (25/1/2013). Menurut Wabub, mengembangkan pariwisata di Kabupaten Cianjur memang bukan perkara yang mudah, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak untuk menyamakan persepsi dan merubah pola pikir dengan bersaing secara sehat bagaimana memecahkan berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

"Salah satu masalah yang tidak bisa dipungkiri dalam pengembangan pariwisata itu mulai dari masalah anggaran Pemkab yang minim serta infrastruktur yang belum optimal menjadi kendala yang terus menerus dihadapi pemerintah dan para pelaku wisata," kata Suranto.

Secara terpisah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cianjur, Tedi Artiawan, mngungkapkan, agenda program kepariwisataan Kabupaten Cianjur salah satunya akan membenahi strategi peningkatan potensi dan pesona  baik itu pengembangan konsep budaya kesenian Cianjur agar lebih dikenal maupun peningkatan koordinasi dengan para pelaku usaha wisata yang saat ini masih sangat kurang.

"Kita akan terus berupaya mensinergikan keinginan para pelaku usaha dibidang pariwisata baik yang berkecimpung dibidang perhotelan maupun dibidang restoran atau yang mempunyai usaha ditempat-tempat pariwisata untuk selalu bersinergi dengan kebijakan pemerintah yang selama ini yang dirasakan oleh para pengusaha atau pelaku wisata kurang membantu dalam segala hal," katanya.

Menurut Tedi, mengembangkan potensi pariwisata Cianjur dapat dilakukan diantaranya dengan pagelaran seni dan budaya di tiap sekolah yang dikemas dengan perlombaan untuk menarik perhatian siswa didik. Selain itu Festival Jangari setiap tahun serta mengangkat potensi wisata Cibodas, wisata sejarah situs Gunung Padang, pesisir pantai Jayanti serta pesona lainnya, yaitu  dengan bekerja sama dengan pihak swasta, dan konsistensi pemerintah dalam memfasilitasi setiap even penting untuk mengangkat potensi dan pesona Cianjur agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.

"Kita terus melakukan upaya-upaya itu agar pariwisata di Cianjur terus bisa berkembang dan semakin maju hingga dikenal oleh masyarakat luas. Harapan kita jika semua itu bisa terwujud akan jumlah kunjungan wisata akan semakin meningkat dan tentunya akan berdampak positif pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata," tegasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Cianjur sepanjang 2012 cenderung mengalami kenaikan. Perlu penanganan serius, salah satunya dengan semakin gencarnya melakukan sosialisasi, terutama ke sekolah-sekolah tingkat SMP. 

Demikian ditegaskan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur Yana Rosdiana, Jum'at (25/1/2013). "Kegiatan sosialisasi, khususnya di kalangan pelajar diharapkan dapat menekan angka kekerasan terhadap anak," kata Yana.

Dengan dilakukan sosialisasi mengenai pencegahan tindak kekerasan terhadap anak diyakini kasus kekerasan bisa semakin ditekan. Masyarakat sudah semakin sadar atas hak-haknya yang harus mereka dapatkan. "Masyarakat sudah mulai sadar dan berani melaporkan kasus yang menimpanya, baik kepada kepolisian maupun kepada kami (P2TP2A)," katanya.

Menurut Yana, diambilnya para pelajar tingkat SMP sebagai objek sosialisasi bukan tanpa alasan. Selama ini ada kecenderungan kasus kekerasan yang menimpa anak remaja semakin meningkat. "Sebenarnya sosialisasi ini sudah kita laksanakan sejak 2007 silam, hanya saja waktu itu lebih kepada pelajar setingkat SMA. Tapi sekarang kita lebih fokus ke pelajar tingkat SMP. Karena banyak kasus yang ditemui dengan korban rat-rata anak usia SMP, maka, mereka juga menjadi sasaran sosialisasi,” tegasnya.

Sementara itu, Bidang Hukum P2TP2A Cianjur Lidya Umar menyebutkan, berdasarkan data yang ada sepanjang 2012 jumlah kasus kekerasan terhadap anak, seperti pencabulan dan persetubuhan, mencapai 52 kasus. Para pelaku kebanyak berasal dari lingkungan luar korban, seperti teman dekat atau teman yang kenal melalui jejaring sosial.

"Seringnya kita melakukan sosialisasi rupanya sudah membawa dampak positif dengan menurunya laporan kasus kekerasan. Tapi tetap kita terus melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk terus menekan terjadinya tindak kekerasan terhadap anak. Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri," katanya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).-  Ratusan warga di Desa Majalaya, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, terisolir akibat  tiga jembatan yang menjadi akses penhubung utama warga putus akibat diterjang banjir meluapanya Sungai Cikundul, Jum'at (18/1/2013). Ironisnya kejadian tersebut baru dilaporkan ke Pemkab Cianjur pada Rabu (23/1/2013).

Ketiga jembatan yang putus dihantam banjir tersebut, yakni Jembatan Langkom, Jembatan Babakan Loa, dan Jembatan Penambangan. Ketiga jembatan tersebut menghubungkan antara Desa Majalaya dan Desa Cijagang, Kecamatan Ciaklongkulon, Kabupaten Cianjur.

"Aktivitas warga menjadi terganggu, karena untuk sampai dikota kecamatan harus memutar arah dengan jarak yang sangat jauh. Tidak hanya akses jalan yang terputus, beberapa irigasi juga ambrol diterjang banjir," kata Dadang Tamliho (43) seorang warga.
           
Terisolasinya ratusan warga akibat jembatan putus tersebut dibenarkan Kaur Kesbang Desa Majalaya, Uu Suhartono. Menurutnya sudah beberapa hari terakhir ratusan warga harus memutar arah cukup jauh untuk bepergian ke kota. Sehingga praktis aktivitas warga terganggu sebagai dampak putusnya jembatan.

"Jarak memutar arahnya bisa mencapa 5 kilometer. Kalau orang dewasa mungkin tidak begitu bermasalah, tapi anak-anak yang bersekolah terpaksa harus putar arah mencari jalan pintas. Tapi jalan itu cukup jauh, kasihan mereka," kata UU, Kamis (24/1/2013).

Hingga saat ini jembatan yang terputus dihantam luapan air dari sungai Cikundul itu belum juga ada tanda-tanda untuk diperbaiki. Padahal akses jalan tersebut merupakan saran fital bagi masyarakat, khususnya buat anak-anak sekolah.

"Kalau warga inginya pingin ada jembatan darurat terlebih dahulu, warga siap untuk swadaya bergotong royong, hanya saja alat dan bahan untuk pembuatan tidak ada. Sedangkan, dari pemerintah setempat baru datang memantau. Kalau kami (warga) siap untuk melakukan swadaya membangun jembatan," tegasnya.

Selain tiga jembatan yang terputus, luapan air sungai Cikundul juga menenggelamkan sedikitnya 250 hektar sawah setelah Bendungan Junghil di Desa Majalaya, jebol. Tanaman padi warga yang terendam banjir terancam gagal panen.

Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Cianjur, Cep Buldan mengungkapkan, Pemkab Cianjur harus sigap melakukan penanganan terhadap dampak bencana alam yang terjadi diwilayah Kec. Cikalongkulon. Hal itu sangat ditunggu warga, lantaran akses jalan untuk kativitas sehari-hari jadi terganggu akibat adanya bencana alam dan ingin segera bisa berjalan seperti biasa.

"Sebagai orang Cikalongkulon, saya sangat menyayngkan lambanya penanganan bencana di Cikalongkulon ini. Padahal, terjadinya bencana sudah cukup lama, kenapa tidak ada yang perhatian, bahkan meninjau juga baru hari ini (kemarin),” ujar Buldan.

Menurut Buldan, berdasarkan informasi, kejadian bencana alam di Cikalongkulon tersebut baru dilaporkan pihak kecamatan pada Rabu (23/1). Sehingga, penanganan tersebut telat. "Masalah bencana tidak boleh terlambat penanganannya, tapi kenapa  baru dilapporkan oleh pihak camat, sedangkan sudah lama ini terjadi,” katanya.
           
Pihaknya berharap, Pemkab Cianjur segera melakukan tindakan penanganan terhadap bencana yang melanda wilayah Cikalongkulon. Apalagi, dampak bencana tersebut menyanghkut hajat hidup orang banyak. "Jangan asal meninjau saja, harus ada action nya dilapangan. Karena bantuan bagi bencana sudah ada dari dana tak terduga, itu harus disalurkan," tegasnya (KC-02/kie)**.
CIANJUR, (KC).- Dalam dua pekan terakhir, ratusan nelayan di wilayah Cidaun dan Sindangbarang, Kab. Cianjur terpaksa tidak melaut lantaran terjadi gelombang tinggi. Sebagi penggantinya para nelayan tersebut melakukan penangkapan udang dipinggir pantai.

"Beruntung saat ini lagi musim hujan, jadi kita masih ada pekerjaan lain setelah tidak melaut lantaran gelombang tinggi. Sehingga kami masih bisa mendapatkan penghasilan meski harus berjuang keras untuk mendapatkanya," kata Dicky Alisa (31) seorang nelayan, Kamis (24/1/2013).

Meski para nelayan yang tidak melaut masih ada pekerjaan lain untuk menangkap udang, bukan berarti tidak penuh resiko. Mereka harus berjuang hidup dan mati untuk mendapatkan buruanya. Karena menangkap udang tidaklah mudah, dibutuhkan kerja keras dan kehatia-hatian yang ekstra.

"Sebenarnya penuh resiko menangkap udang ini, apalagi kalau mengharuskan untuk menyelam diantara karang-karang. Kalau tiba-tiba terhempas gelombang, bisa sangat berbahaya, bis aterbentur karang," katanya.

Kendati menangkap udang sangat mengancam keselamatan jiwa, para nelayan tetap nekat menjalaninya dengan alasan tidak ada pekerjaan lain selain menangkap ikan. Dengan menangkap udang, penghasilannya dirasakan lebih dari cukup dibandingkan dengan melaut menangkap ikan.

"Kebetulan lagi musim udang, sehingga tidak masalah meski tidak melaut. Penghasilan juga bertambah dibandingkan dengan melaut. Kalau dirata-ratakan sehari jika melaut kita mendapatkan Rp 50 ribu, pada saat musim udang ini bisa dua kali lipat," katanya.

Nelayan yang pernah ikut program rumpun nelayan itu memprediksikan, cuaca gelombang tinggi biasanya berlangsung selama tiga bulan. Praktis selama waktu tersebut para nelayan tidak bisa melaut. Bagi nelayan yang mempunyai pekerjaan lain biasanya lebih memilih mamarkirkan perahunya.

"Saat ini diuntungkan dengan musim udang, tapi biasanya hanya beberapa minggu saja. Kita berharap ada solusi lain disaat para nelayan tidak bisa melaut. Kita sangat berharap Pemkab Cianjur memberikan bantuan, misalanya dalam bentuk modal usaha," harapnya (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Sebanyak 17 jiwa korban luapan Sungai Cisarua Jumat (18/1) lalu, terpaksa harus menjalani hari-harinya di lokasi pengungsian di Gedung Kesenian Cipanas Cianjur. Warga Desa Sindanglaya Kecamatan Cipanas, Cianjur tersebut, kini kondisinya cukup memprihatinkan lantaran keterbatasan fasilitas.

Berdasarkan pantauan, warga yang menempati pengungsian yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari kantor Kecamatan Cipanas tersebut, hanya memanfaatkan fasilitas seadanya. Bahkan, warga terpaksa tidur hanya beralaskan tikar.

Hingga saat ini, mereka hanya mengandalkan bantuan perawatan dari relawan, tanpa ada campur tangan pemerintah. Padahal, aparatur pemerintahan desa dan kecamatan setempat sudah mengetahui keberadaan mereka di tempat pengungsian. Berhasil dievakuasinya warga itu sendiri berkat bantuan Relawan Cipanas Cakrawala Kreatif (Cicak).

Koordinator Cicak Muhammad Fauzi mengatakan, para pengungsi tersebut terpaksa dirawat seadanya karena keterbatasan fasilitas. Dua orang pengungsi yang merupakan anak-anak, saat ini kondisi kesehatannya menurun. “Satu orang sudah dibawa ke rumah sakit, sedangkan satu orang lagi dirawat di pengungsian,” katanya.

Pihaknya mengaku, telah berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan desa untuk menyikapi kondisi para pengungsi. Namun hingga kini belum ada tanggapan dan penanganannya. “Malahan pihak kecamatan menanyakan status warga yang tinggal di bantaran sungai itu. Seharusnya dalam kondisi seperti ini jangan dulu menanyakan hal seperti itu, tapi bentuk penanganan kepada mereka. Sebab mereka juga adalah warga yang berhak mendapatkan bantuan,” ungkapnya.

Guna menutupi kebutuhan para pengungsi, sejumlah relawan sengaja disebar ke jalanan untuk mengamen sambil menggalang dana kemanusiaan dengan cara berpantomim di pasar maupun di tempat-tempat parkir.

Sementara itu, Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh mengatakan, sebetulnya warga tidak boleh membangun rumah di bantaran-bantaran sungai karena menyalahi aturan dan mengancam keselamatan jiwa para penghuninya.

“Makanya sudah mulai dilakukan penataan-penataan di bantaran-bantaran sungai. Seperti misalnya di bantaran sungai Cianjur,” kata Tjetjep (KC-02/kie)**.
CIANJUR, (KC).- Guna menghindari longsor susulan dan menimpa pengguna jalan akibat cuaca ekstrem, jalur Puncak di KM 88 di tutup. Sehingga, penguna jalan menggunakan satu jalur.

Kapolres Cianjur AKBP Agustri Heryanto mengatakan, pihaknya melakukan sistem satu jalur untuk dua arah di depan tebing di KM88 tersebut, telah dilakukan beberapa hari lalu. Terutama, lanjut dia, ketika hujan turun deras.

“Saat ini, kita siagakan beberapa orang anggota di kedua sisi guna mengatur kelancaran arus lalu lintas. Karena tanah di bagian tebing yang longsor terus mengalami pergerakan,” katanya.

Kapolres menjelaskan, ketika hujan turun deras melanda kawasan Puncak, pihaknya memberlakukan satu jalur bagi kendaraan dari dua arah baik dari Cianjur maupun dari arah Bogor.

“Ditakutkan longsor susulan dapat terjadi kapanpun, sehingga untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, kami terapkan satu jalur untuk dua arah, agar arus kendaraan tetap dapat melintas dan tidak terjadi antrean,” ucapnya.

Dia menambahkan, jika intensitas hujan cukup deras hingga dua jam lebih, pihaknya terpaksa mengarahkan kendaraan dengan tujuan Bogor dari arah Cianjur, untuk menggunakan jalur alternatif Sukabumi atau Jonggol.

Kasat Lantas Polres Cianjur AKP Sadewo menambahkan, saat ini proses pembuatan dinding penyangga longsor tengah dilakukan. Sedangkan dinding tebing tersebut, masih ditutup menggunakan terpal, guna menghindari material longsor kembali menutupi landasan jalan.

Sementara, lanjut dia, untuk arus kendaraan terlihat tersendat di sepanjang jalur Puncak Pass, baik menuju arah Cianjur atau sebaliknya, namun kendaraan masih dapat melaju dengan kecepatan sedang. “Untuk saat ini arus kendaraan normal,” ujarnya. (KC-02/kie)**.
CIANJUR, (KC).- Panitia Pengawasan Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Cianjur, akan mencabut atribut kampanye yang terpasang, sebelum masa kampanye dimulai. Pasalnya, pemasangan alat peraga diluar jadwal kampanye melanggar Peraturan Daerah (Perda).
           
Koordinator Divisi Pengawasan, Panwaslu Kabupaten Cianjur, Saepul Anwar, mengaku, pihaknya telah mengintruksikan Panwas Kecamatan (Panwascam) agar mencatat jumlah dan jenis alat peraga tersebut yang terpasang di daerahnya. Kegiatan tersebut, kata dia, merujuk intruksi langsung Panwas Provinsi.

“Jelas selain menabrak aturan, atribut pasangan yang maju dalam Pemilukada Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat, juga mengotori lingkungan hingga menggangu kepentingan umum,” katanya.
           
Himbauan tersebut juga disampaikan ke lima tim sukses masing-masing calon, sesuai kesepakatan dalam Rapat Koordinasi antara Panwas Kabupaten dan Tim Suksesi dan dihadiri unsur Kepolisian, Kejaksaan, KPU, Badan Kesbang Pol, Satpol PP dan Linmas beberapa waktu lalu.
           
“Waktu itu kita telah mengintruksikan para ketua tim kampanye segera menurunkan atribut kampanye sebelum masa kampanye tiba. Jika tidak dilaksanakan, maka Pemerintah Daerah melalui Satpol PP dan pihak keamanan, akan menurunkan dengan cara paksa,” ungkapnya.

Bahkan, kata dia, pihak Panwas dua pekan lalu telah melayangkan surat himbauan kepada seluruh ketua tim pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, untuk segera menertibkan alat peraga kampanye yang telah terpasang.
           
“Kami berharap, seluruh peserta Pemilu dan tim kampanye dapat bekerjasama untuk melaksanakan pesta demokrasi ini dengan menjunjung tinggi azas Pemilu tanpa harus melakukan pelanggaran. Karena apabila melakukan pelanggaran, selain akan merugikan pasangan calon tentu akan pula berdampak negatif, khususnya bagi pandangan masyarakat pemilih,” katanya.
           
Saat ini, terang dia, masyarakat pemilih khususnya di Kabupaten Cianjur telah mulai mengerti dan paham terhadap aturan main Pemilu. Artinya, apabila pasangan calon sering terekspos banyak melakukan pelanggaran, tentu akan berdampak pada nilai jual dan kepercayaan masyarakat untuk mau memilih pasangan tersebut. “Jelas itu bakal terjadi seperti dalam istilah belum terpilih saja sudah banyak melakukan pelanggaran, apalagi sudah terpilih,” ujarnya. (KC-02/kie)**.
CIANJUR, (KC).- Jangan putus asa, masa depan masih panjang, tetap semangat menjalani hidup karena orang yang hebat itu adalah orang yang berani hidup dan melanjutkan perjalanan panjang kedepan dengan terus berusaha tanpa mengeluh, bertawakal atas peristiwa yang tidak kita harapkan Isnya Allah, Allah SWT akan mempermudah jalan hidup kita.

Demikian ditegaskan Wakil Bupati Cianjur Suranto dihadapan Ratusan Narapidana (Napi) yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Cianjur, Selasa (22/1/2012) pada acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Hadir dalam kegiatan tersebut  Ketua DPRD,Gatot Subroto, dan sejumlah undangan lainya..

Menurut Wabub, adanya pesantren terpadu di Lapas Cianjur diharapkan bisa memberikan pembinaan secara akhlak kepada para warga binaan di Lapas Cianjur sehingga tidak hanya memiliki life skill, tapi juga menjadi insan yang berakhlakulkharimah saat mereka nanti berbaur dengan masyarakat.

"Kegiatan silaturrahmi dan peringatan hari jadi Pesantern Terpadu di lingkungan Lapas yang saat ini sedang dijadikan model untuk lapas-lapas yang ada di seluruh Indonesia ini tidak lain untuk membangun sumber daya manusia warga binaan lapas menjadi lebih baik dan bermanfaat serta memiliki bekal ilmu yang berguna saat kembali menjalani kehidupan normal di lingkungan masyarakat," katanya.

Kepala Lapas Klas II B Cianjur, Tri Saptono Sambudji mengatakan, di Lapas Klas II B Cianjur ini telah berjalan program pesantren terpadu untuk memberikan pelajaran agama layaknya aktifitas di pondok pesantren untuk para warga binaan lapas. Jumlah santri sampai saat ini mencapai  877 orang santri dan jumlah pengajarnya sebanyak 33 orang.

"Untuk warga binaan yang telah mengenyam pendidikan program pesantren terpadu di lapas juga akan memperoleh sertifikat sebagai bukti telah lulus mengikuti kegiatan pesantren terpadu, banyak diantara warga binaan yang awalnya tidak bisa membaca Al-quran kini sudah bisa dan layak mendapatkan sertifikat saat dibebaskan dan kembali ke lingkungan masyarakatnya," tegasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Para petani ikan Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Cirata di wilayah Kecamatan Cikalongkulon, dan Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, mengaku menderita kerugian miliaran rupiah akibat ratusan ton ikan mereka mati mendadak. Matinya ikan jenis nila, mas dan bawal tersebut diduga akibat kondisi cuaca buruk, serta intensitas hujan yang tinggi mengakibatkan ikan kekurangan oksigen.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, kematian ikan yang disebabkan adanya umbalan atau arus balik di dasar air yang dikenal dengan istilah up welling itu terjadi dalam beberapa hari terakhir. Para petani ikan yang berada di wilayah Blok Patok Besi, Blok Maleber dan Blok Sangkali di wilayah Kecamatan Cikalongkulon, dan Blok Nenggang dan Blok Ciputri terpaksa menjual ikannya jauh di bawah standar untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

"Daripada kita rugi besar akibat ikan pada mati, ikan-ikan yang masig hidup kami panen lebih dini. Resikonya karena belum semestinya di panen, harganyapun anjlok dibawah standar biasanya," kata seorang petani ikan, Yayan Taryana (40), Selasa (22/1/2013).

Akibat banyaknya ikan yang mati, maka harga jual juga turun drastis. Ikan yang biasanya dihargai Rp 16 ribu/kilo gram ditingkat tengkulak, saat ini hanya diterima Rp 5 ribu sampai Rp 5,5 ribu/kilogramnya. "Hampir semua petani ikan mengalami kerugian, diperkirakan semuanya kalau di total mencapai sekitar Rp 6 miliar," katanya.

Sementara itu, tidak hanya para petani ikan di waduk Cirata yang merugi, para penjual ikan air tawar diwilayah Cangklek, Desa Sukamanah, Kec. Cugenang, Kab. Cianjur juga merugi. Hal itu terjadi lantaran ambrolnya saluran irigasi yang mengairi kolam para penjual ikan tersebut akibat diterjang banjir. Para penjual ikan dan para pemilik kolam pancing praktis merugi.

"Jelas kita merugi, semua ikan yang biasanya ditampung dikolam pada mati, akibat tidak ada air yang mengalir. Kita terpaksa menjual semua ikan yang ada, karena kalau tidak akan mati dan tentunya harganya akan jatuh," kata Abah Gideg penjual ikan.

Kondisi tersebut dipastikan akan berlangsung lama, lantaran jebolnya saluran irigasi diwilayah Kampung Seseupan, Desa Sukamanah sepanjanh 30 meter itu butuh waktu lama untuk perbaikan. Kalau dipaksakan diperbaiki pada musim penghujan ini kemungkinan bisa terjadi ambrol lagi lantaran tidak kuat diterjang banjir yang sewaktu-waktu terjadi.

"Praktis semua penjual ikan merugi, tidak dagangan yang dijual. Kami hanya bisa berharap semoga situasi seperti ini tidak berlangsung lama. Pemerintah kami harapkan segera memperbaiki saluran irigasinya yang rusak," harapnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Panitia Pengawas Pemilihan Umum Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat (Panwaslu Pilgub Jabar) Kecamatan Cipanas menindak lanjuti dugaan adanya unsur kampanye yang dilakukan oleh pasangan calon Gubernur Jabar Ahmad Heryawan saat menghadiiri peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan peletakan batu pertama pembangunan gedung Madrasah Aliyah Unggulan Al Riyadl yang dilaksanakan oleh Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al Riyadl di Cipanas, Sabtu (12/1/2013) lalu.

"Kami mengindikasikan kegiatan yang dilakukan oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan itu ada unsur kampanyenya. Saat ini posisinya dia sebagai Cagub, makanya kami saat ini tengah mengumpulkan beberapa alat bukti mengenai kegiatan yang dilakukannya. Kami menduga apa yang dilakukan sudah mengarah pada kampanye," kata Ketua Panwaslu Kecammatan Cipanas, Dikdik Sadikin, Senin (21/1/2013).

Menurut Dikdik, dalam pelaksanaan kegiatan tersebut pihaknya mendapatkan temuan unsur-unsur kampanye yaitu pembagian pamflet dan kalender bergambar Cagub Nomor 4 (Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar) oleh tim kampanye. Selain itu ada juga indikasi kampanye lainya yakni pernyataan Ketua YPI Al Riyadl yang mengajak dan mengarahkan peserta yang hadir untuk memilih Calon Gubernur Jawa Barat Nomor 4 Ahmad Heryawan Dan Dedi Mizwar.

"Dari apa yang terjadi kami sudah mendapatkan alat bukti, baik berupa pamlet yang mengarah untuk memilih calon tersebut maupun dokumentasi fisual baik foto maupun vidio. Saat ini kami tengah melakukan pendalaman mengenai alat bukti yang kami dapatkan," katanya.

Pihaknya juga telah mengundang beberapa orang termasuk tim kampanye Ahmad Heryawan-Dedi Mizwar serta pihak YPI Al Riyadl untuk dimintai klarifikasi mengenai temuan yang didapatnya.

"Beberapa hari yang lalu mereka yang kami undang telah datang untuk dilakukan klarifikasi. Hasil dari klarifikasi tersebut dan kajian temuan disertai alat bukti telah kami sampaikan Panwaslu Kabupaten Cianjur untuk ditindaklanjuti. Apakah ada dugaan pelanggaran atau tidak kami Panwaslu Cipanas telah merekomendasikan  kepada Panwaslu Kabupaten Cianjur," kata Dikdik.

Ketua Panwaslu Kabupaten Cianjur, Yuyun Yunardi saat akan dikonfirmasi belum bisa dihubungi. Demikian juga saat dihubungi melalui telpon selulernya meski terdengar nada sambung, tapi tidak diangkat. Saat dikirim short massage service juga tidak dibalas (KC-02)**.
dok/
CIANJUR, (KC).- Untuk menangani bencana alam yang terjadi dibeberapa wilayah, Pemkab Cianjur menyiapkan alokasi anggaran hampir Rp 11 milair. Anggaran untuk penanganan bencana alam tersebut bersumber dari pemerintah pusat dan kabupaten.

Sekretaris Daerah Kabupaten Cianjur, Bachrudin Ali mengatakan, terjadinya bencana alam yang menyergab beberapa wilayah Cianjur bagian utara hingga saat ini belum ada kepastian jumlah kerugian materiil. Dari hasil pendataan sementara (assessment) di lapangan, jumlah kerugian bencana alam ditaksir mencapai belasan juta rupiah.

"Untuk menangani masalah bencan alam, kami mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat sebesar hampir Rp6 miliar. Sementara dari APBD kabupaten, kita mengalokasikan anggaran sekitar Rp 5 milair. Jumlah tersebut belum nanti bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat," kata Bachrudin usai menghadiri kegiatan Deklarasi Damai Pilgub Jabar 2013 di Mapolres Cianjur, Senin (21/1/2013).

Dikatakan Bachrudin, terjadinya bencana alam sulit untuk diprediksikan kapan terjadinya. Sebagai langkah antisipasi baik pra maupun pasca terjadinya bencana alam, saat ini tengah di rancang penanganan jangka panjang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Salah satu langkah yang tengah dilakukan saat ini adalah melakukan pembahasan penanganan bencana alam jangka panjang. "Kita sudah melakukan pembahasan mengenai penanganan bencana alam dalam jangka panjang. Nantinya akan berada di bawah koordinasi IOM (International Organization for Migration)," tuturnya.

Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Cianjur, Ruddi Syahdiar Hidajath mengharapkan, banyaknya infrastruktur yang rusak akibat dampak dari terjadinya bencana alam harus segera ditangani secara serius agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.  Pemkab Cianjur harus sesegera mungkin melakukan normalisasi pasca terjadinya bencana alam.

"Dalam waktu dekat kami akan segera menggelar rapat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk membahas upaya-upaya penanganan pascabencana alam di kawasan Cianjur utara. Kami juga mengharapkan Pemkab Cianjur bisa segera mengeluarkan status siaga bencana alam jika melihat kondisi yang saat ini terjadi," katanya.

Hal itu penting dilakukan untuk mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) yang berkaitan dengan bencana alam, seperti BPBD, Dinas Bina Marga yang mengurusi infrastruktur jalan dan jembatan, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDAP) yang mengurusi kaitan aliran sungai, Dinas Tata Ruang dan Permukiman mengurusi pembangunan perbaikan fisik, termasuk Dinas Sosial yang mengurusi kaitan logsitik agar bertindak cepat dalam melakukan penanganan.

"Dana tanggap darurat harus bisa segera dicairkan untuk penanganan pasca terjadinya bencana alam. Ini penting dan mendesak agar aktivitas masyarakat bisa kembali berjalan normal. Terutama untuk perbaikan infrastruktur yang rusak," tegas Ruddi yang diamini anggota Komisi III, Ade Sobari (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Untuk menciptakan situasi damai dan aman selama masa kampanye dan pemungutan suara pada Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) 2013, Polres Cianjur menggelar kegiatan Dekalaras Damai Pilgub Jabar 2013 yang dilaksanakan di Mapolres Cianjur Jalan KH. Abdullah bin Nuh, Senin (21/1/2013).

Deklarasi damai Pilgub Jabar tersebut dihadiri oleh para anggota tim sukses Calon Gubernur dan Wakil Gubernur (Cagub/Cawagub) yang ada di wilayah Cianjur, serta beberapa anggota partai politik dan undangan lainya.

Kapolres Cianjur, AKBP Agustri Heryanto mengharapkan, hasil dari kesepakatan bersama antara para tim sukses cagub/cawagub ini bisa direalisasikan dan ditindak lanjuti oleh masing-masing tim sukses. Diharapkan masing-masing tim sukses juga bisa saling menghormati satu sama lainya.

"Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat agar selalu menjaga kebersamaan. Suksesnya Pilgub Jabar tidak terlepas dengan adanya rasa saling menghoramati satau sama lainya. Suksesnya pelaksanaan diharapkan mmasyarakat Jawa Barat bisa lebih sejahtera," kata Kapolres.

Pihaknya berharap, setiap ada persoalan yang menyangkut masalah Pilgub Jabar ini sebaiknya dilakukan dengan cara arif dan bijaksana. Sehingga tidak sampai memicu tindakan anarkis dimasyarakat.

"Kabupaten Cianjur ini dikenal sebagai Gerbang Marhamah. Karenanya iklim masyarakatnya pun harus bisa menyesuaikan. Kami harapkan tidak ada aksi-aksi anarkistis yang bisa menganggu kenyamanan, keamanan dan ketertiban," harapnya.

Harapan serupa juga disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Cianjur, Bachrudin Ali. Pihaknya berharap Pilgub Jabar 2013 khususnya di Cianjur bisa berjalan sukses. Semua tahapan yang sedang berjalan bisa tersosialisasikan kepada masyarakat.

"Meski penyelenggaranya bukan lagi pemerintah, intinya Pemkab Cianjur siap membantu suksesnya pelaksanaan Pilgub Jabar 2013, khusunya di wilayah Kabupaten Cianjur," tegasnya (KC-02)**.
Retakan Tanah telah amblas mencapai 1,75 Meter
CIANJUR, (KC).- Sebanyak 132 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 468 jiwa mengungsi akibat terjadinya tanah amblas di areal hotel Puncak Pass, Kampung Puncak, Desa Ciloto, Kec. Cipanas, Kab. Cianjur yang sewaktu-waktu mengancam rumah mereka. Warga lebih memilih meninggalkan rumah, sebagai langkah antisipasi terjadinya longsor.

Menurut penuturan Edi Syamin (50) tokoh masyarakat setempat, tindakan meninggalkan rumah sudah dilakukan warga sejak Rabu (16/1/1) malam setelah mengetahui adanya retakan tanah di atas kampung mereka. Warga secara berangsur meninggalkan rumah, kawatir terjadi longsor.

"Warga baru tahu adanya retakan tanah itu sekitar pukul 21.00 WIB, padahal berdasarkan informasi pihak hotel sudah mengetahui adanya retakan tanah diarealnya itu pagi harinya sekitar pukul 08.00 WIB. Saya dan beberapa warga langsung melakukan pengecekan, ternyata benar adanya," kata Edi Syamin, Minggu (20/1/2013).

Retakan tanah yang diperkirakan sepanjang 500 meter itu terus bergerak. Hingga Minggu (20/1/2013) diperkirakan sudah amblas mencapai 2,5 meter. "Saat ini warga sudah mengosongkan rumahnya. Kebanyakan tinggal di rumah saudaranya. Saya sendiri ini juga lagi persiapan mau mengungsi, rumah saya pintunya sudah tidak bisa ditutup, karena pergeseran tanah," kata Edi yang juga sebagai Ketua LPM Desa Ciloto.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Cianjur Asep Achmad Suhara mengatakan, pihaknya telah melakukan pendekatan kepara warga yang tinggal berdampingan dengan lokasi tanah yang terancam amblas dan longsor agar mengosongkan rumahnya di RT RT 06/RW 01 Kampung Puncak. Langkah tersebut sebagai antisipasi terjadinya longsor, karena kondisi tanah terus bergerak.

"Hari ini (kemarin) tinggal 15 KK, setelah kami berikan pengarahan mereka bersedia meninggalkan rumahnya. Para warga lebih memilih tinggal di sanak saudaranya terdekat. Sementara barang-barang perabotan rumah tangga dititipkan di wisma Depsos dibawah kampung mereka," kata Asep saat dihubungi terpisah.

Menurut Asep lokasi tanah yang retak dan terus bergeser itu sangat mengancam warga yang tinggal di kampung dibawahnya. Saat ini retakan tanah terjadi dibeberapa titik dengan lebar 30 centimeter. Beberapa retakan diantaranya sudah ditambal, agar air hujan tidak langsung masuk kedalam retakan.

"Mudah-mudahan saja tidak terjadi longsor, kalaupun sampai terjadi dan menimpa kampung dibawahnya korban bisa dihindari. Kita fokuskan untuk penyelamatan warga saat ini yang menjadi prioritas kita," kata Asep.

Ketika disinggung apakah perlu dilakukan relokasi bagi warga yang tinggal didaerah yang terancam terkena dampak jika terjadi longsor, Asep berkilah untuk sementara waktu belum sampai kearah relokasi lantaran fokus evakuasi.

"Untuk rekolasi atau tidak nanti kita akan bocarakan, kita sedang menunggu hasil dari kajian Badan Geologi, apakah lokasi yang terancam itu masih layak untuk perkampungan atau tidak. Hasilnya baru kita ketahui besuk (hari ini)," tegas Asep (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Setelah berjibaku dengan tumpukan sampah, akhirnya pencarian terhadap korban longsoran sampah yang dilakukan oleh tim gabungan di Kampung Tugaran, Desa Sindanglaya, Kec. Cipanas, Kab. Cianjur, Minggu (20/1/2013) berhasil menemukan korban. Korban ditemukan sekitar pukul 08.30 WIB didalam timbunan sampah sedalam 70 centimeter.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, pencarian korban longsoran tumpukan sampah memasuki hari ketiga masih difokuskan disekitar puing-puing longsoran yang berdekatan dengan aliran sungai Babakan Cisarua. Tim pencarian yang terdiri dari masyarakat, PMI, Tagana, BPBD, Ormas dan TNI/Polri menyingkirkan tumpukan longsoran sampah dengan peralatan seadanya.

Mereka terlihat masih fokus terhadap lokasi yang sebelumnya pernah diendus anjing pelacak. Benar saja tidak lama berselang setelah melakukan penggalian sampah, sekitar 70 centimeter ditemukan tubuh korban dalam kondisi tersandar diantara tumpukan sampah. Selanjutnya korban dievakuasi dengan cara ditandu.

Butuh waktu cukup lama untuk mengangkat korban dari dasar lembah. Medan yang sangat terjal membuat petugas yang membawa korban dari dasar lembah harus ekstra hati-hati. Kepleset sedikit saja akan berakibat fatal, lantaran medan yang cukup terjal dan berbahaya. Sesampainya diatas korban langsung dilarikan ke RSUD Cimacan untuk dilakukan visum et repertum.

"Kondisi tubuh korban saat ditemukan masih utuh, hanya dibagian mukanya terlihat lebam-lebam bekas terkena benturan. Korban dibawa ke RSUD Cimacan dan dimandikan sekalian. Setelah beres langsung dibawa ke masjid dekat ruumah korban untuk di shalatkan sebelum dikebumikan dipemakaman umum dekat rumahnya," ujar petugas Tagana Kab. Cianjur, Asep Muhsin yang turut menshalatkan korban.

Diberitakan sebelumnya, lima orang pegawai hotel yang tengah memperbaiki saluran air ditebing Babakan Cisarua, Kampung Tugaran, Desa Sindanglaya, Kec. Cipanas, Kab. Cianjur, Jum'at (18/1/2013). Tiba-tiba tumpukan sampah yang ada diatas mereka longsor dan menimpanya. Dua orang berhasil lolos dari longsoran. Namun ketiga rekanya terhempas tumbukan sampah dari atas tebing hingga ke dasar lembah.

Dua orang pekerja yakni Umar dan Haryono sempat terkubur sampah sebatas leher. Keduanya berhasil diselamatkan warga. Sementara seorang pekerja lagi bernama Acep terkubur hidup-hidup bersama tumpukan sampah yang longsor kedasar lembah. Sampai akhirnya korban Acep ditemukan tiga hari setelah kejadian dalam kondisi meninggal dunia (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Akibat hujan deras yang mengguyur kawasan wisata Cipanas, pencarian korban yang masih tertimbun longsor tumpukan sampah dari tebing Babakan Cisarua, Kampung Tugaran, Desa/Kec. Cipanas, Sabtu (19/1/2013) sekitar pukul 15.30 WIB terpaksa dihentikan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BBPD) Kab. Cianjur meminta semua tim gabungan yang melakukan pencarian untuk menghentikan aktivitas.

Kondisi tersebut dilakukan mengingat cuaca sangat tidak mendukung. Selain derasnya guyuran hujan, tebing diatas longsoran sangat rentan terjadi longsor susulan. Pencarian akan kembali dilanjutkan pada Minggu (20/1/2013) sekitar pukul 08.00 WIB.

Kepala BPBD Kab. Cianjur, Asep Achmad Suhara mengatakan, kalau pencarian dalam kondisi cuaca yang tidak mendukung dilanjutkan sangat berbahaya bagi keselamatan. Selain sewaktu-waktu longsor terjadi, kemungkinan datangnya banjir bandang juga mengancam keselamatan.

"Lokasi timbunan longsor ini berada dilembah dengan kedalaman ratusan meter. Apalagi didekat material longsoran sampah ini adalah sungai Babakan Cisarua yang sewaktu-waktu airnya bisa membesar jika terjadi hujan deras dihulu.  Kondisi ini sangat berbahaya untuk dilanjutkan proses pencarian korban, kita hentikan sementara dan dilanjutkan besuk," kata Asep saat dihubungi di lokasi longsor.

Untuk membantu proses pencarian terhadap korban yang masih tertimbun longsor tumpukan sampah itu, pihaknya mengerahkan setidaknya 15 orang pegawai BPBD yang sudah terlatih. Diharapkan proses pencarian korban tertimbun longsor ini bisa ditemukan secepatnya.

"Memang medannya cukup sulit, untuk sampai kepada material longsoran harus menempuh jalan terjal dengan menurunin lembah. Kalau tdak hati-hati sangat berbahaya, karena kalau sampai terjatuh bisa-bisa nyemplung ke jurang. Mudah-mudahan untuk besuk ada titik terang," katanya.

Sementara itu pihak keluarga korban meminta agar pencarian terhadap korban yang masih terkubur longsoran dilakukan sampai ketemu. "Sebagai keluarga tentu kalau boleh meminta, kami hanya ingin pencarian terhadap korban dilakukan sampai ketemu. Mudah-mudahan saja dikabulkan," kata Siti Robiah (41) adik korban.

Diberitakan, lima orang pekerja hotel yang tengah membetulkan saluran air, Jum'at (18/1/2013) diterjang longsor tumpukan sampah dari atas tebing setinggi 100 meter. Dua pegawai berhasil menghindar, sementara tiga lainya terpental jatuh kedasar jurang bersama tumpukan sampah.

Dua orang yakni Haryono (50) dan Umar (50) meski sempat tertimbun berhasil diselamatkan oleh warga dengan mengalami luka-luka. Sementara Acep (52) hingga saat ini belum berhasil ditemukan. Korban diduga kuat masih tertimbun tumpukan sampah (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Untuk membantu proses evakuasi korban yang masih tertimbun longsoran sampah di Kampung Tugaran, Desa Sindanglaya, Kec. Cipanas, Kab. Cianjur, Palang Merah Indonesia (PMI) Cianjur menerjunkan 30 anggotanya yang sudah terlatih. Mereka disebar untuk membantu mencari korban yang masih belum ditemukan.

Ketua Satgana PMI Cianjur, Rudi Syahdiar Hidajath mengatakan, para petugas PMI yang diterjunkan ke lokasi longsor sampah diatas tebing Babakan Cisarua itu merupakan relawan yang sudah terlatih. Mereka sudah terbiasan terjun dilokasi-lokasi bencana alam baik banjir maupun longsor.

"Kita harapkan dengan bantuan tenaga dari PMI ini proses evakuasi bisa berjalan lebih cepat. Harapanya tentu korban yang diduga masih tertimbun bisa segera ditemukan," kata Rudi saat ditemui dilokasi longsor didasar lembah Babakan Cisarua, Desa Sindanglaya, Kec. Cipanas, Sabtu (19/1/2013).

Sementara itu proses pencarian terhadap korban Acep bin Emin (52) warga Kampung Tugaran RT 03/RW 12, Desa/Kec. Cipanas masih terus dilakukan. Puluhan warga dan relawan dari Tagana, Satgana PMI, PPM, Pemuda Pancasila dan BPBD terlihat masih terus melakukan pencarian dengan menggali tumpukan sampah.

Tingginya volume sampah yang menimbun pinggir sungai Cisarua itu membuat proses evakuasi berjalan lamban. Apalagi pencarianya hanya dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul, garbu dan bambu. Sampai berita ini diturunkan proses pencarian masih terus berlangsung (KC-02)**.