October 2012
CIANJUR, (KC).- Sejumlah pihak meragukan kesaksian mantan Kepala Sub Bagian Anggaran tahun 2007 s/d 2008 Neneng Eri Garnasih dalam sidang lanjutan kasus korupsi APBD Cianjur pada pos anggaran non urusan atas penggunaan Biaya Kegiatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tahun 2007 s/d tahun 2010 atau santer dikenal dengan kasus dugaan korupsi Makan dan Minum (Mamin) Gate, yang di gelar di Pengadilan Tipikor Bandung Selasa (30/10).

Diragukannya kesaksian Neneng dalam persidangan tersebut, menyusul pernyataannya yang cendrung lebih banyak mengatakan tidak tahu saat menjawab pertanyaan dari pihak Jaksa Penuntut Umum dan Majelis Hakim. Seperti halnya pernyataan yang bersangkutan saat mengaku tidak tahu terkait soal penambahan anggaran Bupati dalam ABT tahun 2007,begitupun saat di tanya soal mekanisme pencairan Neneng mengaku tidak tahu seperti apa. Neneng berdalih dirinya hanya mengurusi terkait soal penganggaran saja.

“Saya tidak tahu siapa yang mengusulkan adanya penambahan untuk anggaran Biaya Kegiatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Hanya saja usulan tersebut berdasarkan RKA
Pernyataan Neneng yang cendurng lebih banyak mengatakan tidak tahu saat menjawab pertanyaan baik dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) maupun Hakim sempat di tegur oleh Hakim Ketua Setyo Budi.
“Anda dihadirkan diruangan sidang ini sebagai saksi, tapi kenapa setiap ditanya banyak tidaktaunya,’ ujar
 Setyo Budi.

Sementara itu saksi lainnya yaitu Wiwit yang pada tahun 2009 s/d 2010 menjabat sebagai Kasubag Pencatatan dan Distribusi pada Bagian Pengelolaan Aset dan Administrasi Umum Setda Cianjur mengaku kalau pada tahun 2009 s/d 2010 untuk perawatan kendaraan dinas/operasional KDH/WKDh pada kenyataannya menggunakan anggaran dari Setda karena anggaran yang seharusnya dari pos belaja kegiatan perawatan kendaraan operasonal DKDH/WKDh telah diminta secara tunai setiap bulannya oleh Bupati Cianjur Tjetjep Muhtar Soleh.

“Karena anggaran perawatan kendaraan KDH/WKDh diminta secara tunai oleh Bupati setiap bulan, maka untuk memelihara kendaraan dinas Bupati diantisipasi dengan anggaran kegiatan pemeliharaan rutin berkala kendaraan dinas/ operasional setda,” ujar Wiwit.

Sementara itu dalam persidangan yang menghadirkan saksi mantan Kabag Keuangan Tahun 2009/2010 Ani Rufedah, Jaksa Penuntut Umum Rahman mencecar saksi dengan pertanyaan seputar mekanisme pencairan anggaran kegiatan KDH/WKDh. Selain itu JPU juga menanyakan apakah saksi mengetahui adanya pemberian uang secara tunai dari anggaran kegiatan KDH/WKDh setiap bulan kepada Bupati Cianjur, Tjetjep Muhtar Soleh.
  
Ani Rufaedah yang pada tahun 2007 s/d 2008 menajabat sebagai Kasubag Perbendaharaan mengaku tidak mengetahui adanya penyerahan uang dari bendahara kepada Bupati atau kepada terdakwa Edi Iryana (Kabag keuangan waktu itu). Namun pada tahun Tahun 2009 s/d 2010 disaat dirinya menjabat sebagai Kabag Keuangan. Ani membenarkan adanya permintaan dana secara tunai dari pos belanja kegiatan KDH/WKDh kepada bupati.

Secara terpisah Direktur Inside Cianjur, Yusep Somantri yang melakukan pemantauan terhadap jalannya persidangan kasus “mamin gate” tersebut menilai pernyataan Neneng Eri dalam persidangan patut di ragukan, pasalnya mana mungkin yang bersangkutan tidak mengetahui tentang keadaan di keuangan sedang dia sendiri sebagai PNS yang menduduki bagian keuangan sudah cukup lama.

"Kami menduga yang bersangkutan sepertinya sudah ada yang mengarahkan, apalagi pihak pengacara tidak satupun menanyakan pertanyaan pada yang bersangkutan berbeda dengan dua saksi lainnya yang dinilai memberatkan bupati yang langsung dicecar dan dipojokan oleh pengacara dan hakim,” ujar Yusep (KC-02/nk/ar)**.
Kepala Dinas Pendidikan, Endang Suhendar
CIANJUR, (KC).- Endang Suhendar, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, mendatangi Kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Selasa (30/10/2012). Kedatangan Endang ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat tersebut diduga terkait dengan adanya persoalan dalam pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2011 dilingkungan Dinas Pendidikan.

Kepastian kepergian Kepala Dinas Pendidikan tersebut terungkap saat digelar breefing staf yang dihadiri oleh para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Bale Prayoga. Saat itu Bupati Cianjur H. Tjetjep Muhtar Soleh mengecek kehadiran para Kepala OPD. Pada saat acara tersebut, Dinas Pendidikan diwakili oleh Kepala Bidang (Kabid) TK/SD, Asep Saepurohman. Saat di tanya oleh Bupati kenapa Kadisdik tidak datang dalam acara tersebut, Asep menginformasikan ketidak hadiran Kadisdik dikarenakan yang bersangkutan tengah ada urusan ke Jln. Riau, Bandung (Kantor Kejati Jawa Barat-red).

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber di Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, pemanggilan Kepala Dinas Pendidikan Endang Suhendar oleh bagian Intelejen Kejati Jabar tersebut terkait dengan adanya informasi tentang dugaan penyimpangan pelaksanaan DAK Tahun 2011. Endang sendiri datang ke kantor Kejati Jabar dengan menggunakan kendaraan dinasnya Isuzu Panter Touring Nopol F 1068 W sekitar pukul 08.30 WIB.

Kepala Dinas Pendidikan Cianjur, Endang Suhendar saat di konfrimasi terkait hal ini membenarkan dirinya telah datang ke Kejati Jawa Barat, namun Endang membantah jika kedatangan dirinya tersebut dalam rangka memenuhi panggilan untuk di periksa oleh pihak Kejati terkait adanya persoalan atau kasus di Dinas Pendidikan.

"Saya bukan di panggil, itumah hanya untuk melengkapi data anggaran tahun 2010 dan 2011. Memang di antaranya ada juga DAK dan anggaran lainnya, yang memang perlu dilengkapi data-datanya tapi bukan terkait adanya persoalan. Jadi sekali lagi kedatangan saya kesana hanya untuk melengkapi data saja," kata Endang (KC-02/nk)**.
Bupati Cianjur, H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM
CIANJUR, (KC).- Untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan keuangan negara, yang dibelanjakan melalui proses pengadaan barang/jasa pemerintah, diperlukan upaya untuk menciptakan keterbukaan, transparansi, akuntabilitas serta prinsip kompetensi yang sehat dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah yang di biaya APBN/APBD, sehingga diperoleh barang/jasa yang terjangkau dan berkualitas serta dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi fisik, keuangan maupun manfaatnya bagi kelancaran tugas pemerintah dan pelayanan masyarakat.

Demikian ditegaskan Bupati Cianjur, H. Tjetjep Muchtar Soleh,disela kegiatan Sosialisasi Perpres No. 70 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah , Rabu, (31/10/12), di aula Green Hill, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Kegiatan tersebut dihadiri para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para Asisten Bidang Setda Kabupaten Cianjur, Staf Ahli Bupati, para Camat serta tamu undangan lainnya.

"Agar dapat terselenggaranya pengadaan barang/jasa pemerintah yang lebih efisien, terbuka dan kompetitif, pemerintah telah menetapkan Peraturan Presiden RI No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang mengalami perubahan menjadi Peraturan Presiden No 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010, sehingga dapat menjadi peraturan yang efektif bagi semua pihak yang terkait dengan pengadaan barang/jasa pemerintah," kata bupati.

Bupati mengharapkan dengan dilaksanakannya sosialisasi, diharapkan para peserta dapat mengerti, memahami serta dapat pula melaksanakan peraturan yang terkait dengan pengadaan barang/jasa sehingga dalam prakteknya tidak ditemukan lagi kesalahan sekecil apapun termasuk kesalahan administratif.

"Sebaliknya semua kegiatan yang berhubungan dengan pengadaan barang dan jasa dilingkungan Pemerintah Kabupaten Cianjur akan dapat berjalan dengan aman lancar dan tertib jika semua mengacu pada ketentuan," katanya.

Sementara itu Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Sosialisasi Perpres Nomor 70 Tahun 2012, Yono Ernawan, mengungkapkan, salah satu tujuan tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah peserta mampu memahami Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa.

"Selain itu diharapkan mampu mengelola kegiatan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan pengadaan barang/jasa sesuai ketentuan. Diharapkan juga terwujudnya transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan laporan pertanggungjawaban keuangan untuk mencapai opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)," harapnya (KC-02)**.
Para Petugas E-KTP Cugenang Memperlihatkan Kartu e-KTP
CIANJUR, (KC).- Belum datangnya peralatan untuk verifikasi data untuk Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) menjadi kendala tersendiri untuk pembagian e-KTP yang sudah dicetak. Padahal dari perekaman data e-KTP yang sudah di lakukan di Kabupaten Cianjur, sekitar 600 ribu sudah di cetak dan sudah disebar dimasing-masing kantor Kecamatan.

"Kita belum bisa bagikan e-KTP, karena belum semua peralatan untuk verifikasinya diterima diseluruh kecamatan. Baru minggu depan dijadwalkan peralatan itu tiba di masing-masing kecamatan," kata H. Hilman Kurnia saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (31/10/2012).

Setelah alat tersebut tiba, baru bisa dilakukan ferivikasi terhadap seluruh e-KTP yang sudah dicetak. "Nantinya setelah diferivikasi baru diserahkan kepada pemegang e-KTP langsung, tidak bisa diwakilkan, karena datanya online langsung," katanya.

Berdasarkan data wajib e-KTP sampai bulan Oktober 2012 mencapai 1.627 jiwa. Dari jumlah tersebut yang sudah melakukan perekaman data mencapai 1,1 jiwa atau sekitar 67 %. "Tadinya memang perekaman data e-KTP itu sampai minggu kedua bulan Oktober, tapi diperpanjang hingga akhir Desember 2012 dengan jumlah wajib e-KTP mencapai 1,9 juta jiwa," katanya.

Pihaknya optimis perekaman data e-KTP tersebut sampai akhir Desember akan tercapai 90 %. Untuk itu disetiap kecamatan tengah menerapkan upaya mobilisasi. Satu peralatan standby di kantor kecamatan dan satu lagi mobail. "Ini juga merupakan salah satu upaya untuk melayani wajib e-KTP bagi warga yang jompo atau yang sakit," tegasnya.

Menurut H. Hilman, dari 32 kecamatan di Kabupaten Cianjur yang melakukan perekaman data e-KTP, Kecamatan Cugenang merupakan kecamatan terbaik, baik dari segi pelayanan maupun dari hasil perekaman. "Kecamatan Cugenang yang paling bagus, makanya sering dijadikan barometer, disusul Kecamatan Karangtengah," jelasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Cianjur, H. Hilman Kurnia membantah keras adanya pungutan dalam perekaman data Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP). Bantahan tersebut disampaikan menyusul adanya pengaduan masyarakat bahwa perekaman data e-KTP dipungut biaya.

"Itu informasi yang menyesatkan, jika ada warga yang melakukan perekaman data diminta dana, silahkan lapor ke saya, akan saya tindak petugas itu. Perekaman data e-KTP itu gratis, karena sudah dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Apalagi kalau biaya itu akan diberlakukan mulai bulan depan, itu sangat tidak benar," tegas H. Hilman saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (31/10/2012).

Penggratisan biaya e-KTP tersebut masih mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 18 tahun 2012 tentang retribusi administrasi penduduk. Dalam Perda tersebut dinyatakan bahwa dalam pembuatan KTP, Kepala Keluarga (KK) dan Akta Lahir dinyatakan geratis karena dibebankan ke APBD. "Memang kalau kita lihat biaya untuk satu keping e-KTP ini mencapai Rp 35 ribu, itu hanya blankonya. Pemda cukup tinggi memberikan subsidi dan selagi Perda itu ada, pembuatan KTP tetap tidak dipungut," katanya.

Sementara itu warga mengeluhkan pelayanan perekaman data e-KTP yang dilaksanakan diwilayah Kecamatan Cianjur. Warga merasa kecewa dengan sikap dan tanggapan dalam melayani masyarakat dari pegawai e-KTP di Kecamatan Cianjur yang dianggap pelayanan tidak memuaskan. Seperti adanya ibu hamil 7 bulan disuruh menunggu sampai jam 11 malam. "Apakah tidak bisa didahulukan," kata Endi warga Gang Bali, Kelurahan Bojongherang.

Tidak hanya itu warga tersebut juga menyampaikan bahwa pegawai e-KTP Kecamatan Cianjur menyatakan bahwa bulan depan perekaman data e-KTP dipungut biaya Rp 200 ribu. "Padahal program pemerintah e-KTP gratis. Malahan masyarakat sangat peduli dengan program ini tapi pemerintah Kecamatan Cianjur tidak mendukung malah harus bayar. Sedangkan pegawai e-KTP sendiri sudah mendapat honor, kalau memang cape jangan jadi PNS dalam melayani masyarakat," katanya (KC-02)**.
Ilustrasi TKI
CIANJUR, (KC).- Sebanyak 200 mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)akan dibina dan diberipengetahuan mengenai kebijakan dan program edukasi keuangan bagi TKI. Selain itu juga akan diberi pengenalan pembiayaan TKI produk keuangan dan perbankan bagi TKI.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Cianjur, H. Sumitra melalui Kepala Seksi (Kasi) Bina Lembaga Usaha Ketenagakerjaan, Ahmad Ubaidillah mengatakan, kegiatan tersebut merupakan kerjabareng Dinsosnakertrans Kabupaten Cianjur dengan Kementerian Perekonomian. Kegiatannya sendiri dijadwalkan akan dilaksanakan pada tanggal 13 dan 14 Nopember 2012 mendatang.

"Salah satu misinya adalah bagimana menyerap Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar mengerti pemanfaatan uang, untuk program apa, dan untuk usaha apa agar para mantan TKI ini bisa berwirausaha," kata Ubaidillah saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (31/10/2012).

Materi yang akan disajikan dalam kegiatan tersebut diantaranya mengenai kebijakan dan program edukasi keuangan bagi TKI yang akan disampaikan oleh BNI. Pengenalan pembiayaan TKI produk keuangan dan perbankan bagi TKI yang akan disampaikan oleh BI dan Ketentuan penempatan TKI yang akan disampaikan oleh BNP2TKI dan Kemenakertrans.

"Ada juga meteri yang akan diberikan mengenai asuransi tentunya terkait tentang perlindungan TKI," kata Ubaidillah.

Dikatakan Ubaidillah, kegiatan yang akan dilakukan itu bukan seperti pelatihan tapi lebih menekankan pada penyampaian informasi secara marathon, tidak juga dalam kapasitas melatih. "Kalau melatih minimal satu atau dua hari. Direncanakan dua kali kegiatan pada Selasa (13/10/2012) khusus mantan TKI dan CTKI serta keluarganya. Hari berikutnya Rabu (14/10/2012) lebih mengutamakan pelaku kepentingan dan penempatan TKI," tegasnya.

Zulaeha (32) seorang mantan TKI dari Cugenang mengaku menyambut baik adanya program pembinaan yang dilakukan Dinsosnakertrans Kabupaten Cianjur. Aplagi pembinaan itu mengarah pada pemberian informasi untuk mengakses program banyuan dari perbankan.

"Saya berkeinginan tidak ingin dua kali menjadi TKI, saya ingin berwirausaha. Dengan adanya pembinaan dari Dinsosnakertrans ini, jelas sangat bermanfaat bagi mantan mantan TKI terutama yang membutuhkan informasi bantuan permodalan," katanya (KC-02)**.
Aksi Relawan Anti Korupsi Cianjur di Pengadilan Negeri
CIANJUR, (KC).- Sejumlah relawan anti korupsi asal Cianjur, Selasa (30/10/2012) secara serentak melakukan aksi unjuk rasa ke kantor penegak hukum di Bandung dan Jakarta. Aksi di Bandung digelar di kantor Pengadilan Negeri Tipikor dan Kejaksaan Tinggi Jawa Barat. Sedangkan di Jakarta aksi berlangsung di Kejaksaan Agung dan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Aksi relawan anti korupsi tersebut dilakukan untuk mendesak aparat penegak hukum agar menangani serius dan tidak melokalisir kasus dugaan korupsi APBD Cianjur pada pos anggaran non urusan atas penggunaan Biaya Kegiatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tahun 2007 hingga tahun 2010 atau santer dikenal dengan kasus dugaan korupsi Makan dan Minum (Mamin) Gate.

Mereka melihat adanya kejanggalan dalam penanganan kasus dugaan korupsi tersebut oleh pihak Kejati yaitu dengan tidak ditetapkannya Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh sebagai tersangka, meskipun sejumlah bukti dan keterangan dari saksi mengerucut pada Bupati. 

Koordinator aksi di Jakarta Asep toha mengungkapkan, sekitar jam 11.45 WIB pihaknya sampai ke Kejaksaan Agung dan langsung menemui Jaksa Muda Pengawas (Jamwas) dan diterima oleh saudara E Supriadi. Setelah itu di arahkan untuk ke bagian hubungan antar lembaga dan diterima oleh Jaksa Muda Ibnu Firman.

"Pada kesempatan tersebut kami serahkan surat laporan terkait kasus dugaan korupsi Bupati Cianjur sekaligus  meminta agar pihak Kejaksaan untuk segera menetapkan bupati sebagai tersangka. Setelah itu kami melanjutkan aksi ke gedung KPK, disana kami diterima oleh Sugeng pada Bagian Pengaduan Masyarakat," katanya.

Sementara itu koordinator aksi di Bandung Rustandi mengungkapkan, hasil audiensi dengan Kejati, jawaban dari jaksa untuk menjadikan bupati sebagai tersangka menunggu hasil dari persidangan dua terdakwa Edi dan Heri. Menurut Rustandi, dalam pertemuan dengan para demonstran jaksa mengatakan kalau Bupati di tetapkan jadi tersangka sekarang dan hasil persidangan dua terdakwa tadi putusannya bebas maka bupatipun bisa bebas.

“Jaksa Juris meminta dukungan moral agar keputusan pengadilan yang mereka buat sesuai dengan dakwaan, dan pihak Kejati tidak keberatan jika perosalan kasus ini akan di ambil alih oleh KPK,” ungkap Rustandi.

Hal senada diungkapkan pula oleh Ahmad Anwar salah satu perwakilan demonstran, menurutnya pihak Kejati telah bertindak professional dengan mencantumkan nama Bupati.
“Menurut pihak Kejaksaan Tinggi untuk penetapan TMS sebagi tersangka ada mekanisme dan pihak kejati memohon agar warga Cianjur turut mengawal persidangan agar majelis hakim tidak masuk angin.
Kejati sendiri akan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mengakomodir tuntutan agar TMS menjadi tersangka,” ujar Anwar.

Sementara itu saat aksi unjuk rasa berlangsung, di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung sedang berjalan sidang lanjutan kasus korupsi APBD Cianjur pada pos anggaran non urusan atas penggunaan Biaya Kegiatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tahun 2007 hingga tahun 2010 atau santer dikenal dengan kasus dugaan korupsi Makan dan Minum (Mamin) Gate dengan agenda mendengarkan kesaksian tiga orang saksi yaitu mantan Kasubag Pembukuan Wiwit, Mantan Kabag Keuangan Ani Rufaedah dan Mantan Kasubag Perencanaan Anggaran Neneng Eri Garnasih (KC-02/nk)**.
Jembatan Cibengang Yang Rusak Akibat Luapan Air
CIANJUR, (KC).- Tiga orang perwakilan warga Desa Girimukti, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur mendatangi gedung DPRD Cianjur di jalan KH. Abdullah bin Nuh, Selasa (30/10/2012). Kedatang warga tersebut tidak lain untuk mengadukan nasib mereka pasca robohnya jembatan gantung Cibengang yang mengakibatkan 571 orang atau 178 Kepala Keluarga (KK) di dua kampung, yakni Kampung Ciakar, dan Cikarut Desa Girimukti aktivitasnya menjadi terhambat.

Kedatangan perwakilan warga tersebut diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Cianjur Saef Lukman diruang kerjanya. Menurut Ketua RW Ciakar, Desa Girimukti, Muchsin (31)akibat robohnya jembatan tersebut, sebanyak 30 pelajar sekolah dasar (SD) Ciakar dan sekolah menengah pertama (SMP) Sindangbarang II di kampung tersebut menjadi terganggu. Bahkan, kini, para siswa tersebut tidak bisa mengikuti proses kegiatan belajar mengajar (KBM) disekolahnya, karena tidak bisa melintas.

"Banyak warga yang tidak bisa melakukan aktivitasnya, karena jembatan yang hanya satu-satunya akses warga roboh. Kalaupun bisa melintas, menunggu kalau air sedang surut. Tapi, sekarang musim hujan, dan air sungai terus besar. Sehingga sulit dan sangat berbahaya untuk dilintasi," kata Muchsin.

Kalaupun ada jalan alternatifn warga harus menempuh kjarak sekitar 60 kilometer mengelilingi sungai. "Kalau yang memiliki kendaraan mungkin bisa memaksakan, ini masyarakat yang tidak punya, tidak bisa berbuat banyak. Selain itu barang-barang dan sembako yang dibeli pun harganya menjadi dua kali lipat, bahkan lebih. Karena jarak yang ditempuh cukup jauh, juga sulitnya untuk mencapai lokasi.

"Tidak hanya harganya mahal, biaya angkutnya juga mahal karena harus memberi upah kepada jasa kuli panggul atau ojeg yang membantu warga menyebrang, jadi harganya menjadi mahal," jelasnyam

Pihaknya berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur, agar segera membangun kembali jembatan Cibengang yang hanya satu-satunya akses bagi warga di dua kampung tersebut. Jika pembangunan tidak segera dilaksanakan, kasihan kepada warga yang terisolir itu. "Saya harapkan pemerinta mendengar aspirasi warga ini dengan segera membangun jembatan bagi akses warga. Karena, kami kesulitan jika tidak ada jalan untuk melintas Sungai Cibengang, karena itu akses satu-satunya buat kami selaku warga," harapnya.
           
Wakil Ketua DPRD CIanjur, Saep Lukman menegaskan, Pemkab Cianjur, dalam hal ini Bupati Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur dan Dinas Bina Marga Cianjur, agar segera turun tangan untuk melakukan pembangunan jembatan gantung Cibengang. Karena, hal ini sangat mendesak dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

"Keperluan warga sangat mendesak, harus segera ditangani. Pembangunanya jangan sampai menggunakan anggaran 2013, gunakan saja anggaran cadangan tahun 2012. Ini bencana, bukan disengaja. Pembangunan hanya ratusan juta saja susah, apalagi yang miliaran," tegasnya (KC-02)**.
Gedung PWI Cianjur, Tepmat Digelarnya Konferensi PWI
CIANJUR, (KC).- Bursa bakal calon (balon) Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Cianjur semakin menghangat. Setidaknya ada enam orang kandidat yang bakal maju dalam perebutan kursi Ketua PWI Perwakilan Cianjur priode 2012-2015. Selain incumbent Asep Sobandi, ada nama lain yakni Deden Sukmayadi (Wakil Ketua PWI) Hadiyat Setiya Laksana, Esya Mahendra, Ahmad Fikri dan Muchammad Ihsan.

Ketua Konfrensi PWI Perwakilan Cianjur, Rudi Asyari didampingi Sekretarisnya, Nanang Rustandi mengatakan, setidaknya sudah ada 6 orang anggota PWI Perwakilan Cianjur yang sipa maju dalam Konfrensi PWI yang akan dilaksankan 21 Nopember 2012 mendatang. Hanya saja ke 6 anggota PWI tersebut baru menyampaikan keinginannya secara lisan.

"Meski semuanya belum mendaftar secara tertulis, tetapi mereka sudah berbicara kepada panitia melalui lisan jika akan maju mencalonkan diri menjadi ketua PWI priode 2012-2015 mendatang," kata Rudy, Selasa (30/10/2012).

Sesuai denga anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (AD) PWI bahwa yang berhak memilih calon ketua adalah merupakan anggota biasa yang saat ini tercatat sebanyak 37 orang. Sedangkan anggota muda yang jumlahnya 42 orang belum bisa memilih. Meski demikian pihaknya akan memperjuangkan anggota muda untuk bisa memilih calon ketua PWI.

"Untuk memutuskan bisa atau tidak bisa anggota muda memilih, nantinya tergantung kebijakan pimpinan atau Ketua PWI Jawa Barat. Besok Rabu (31/10), kami akan konsultasi dengan PWI Jabar sekaligus melaporkan tahapan Konfrensi PWI Cianjur yang sedang berjalan," tegasnya.

Jika dalam hasil konsultasi disetujui anggota muda dapat memilih, maka panitia konfrensi akan melakukan voting saat berlangsungnya konfrensi. "Jika hasilnya banyak yang menghendaki anggota muda dapat hak suara, tentunya anggota muda dapat memilih calon ketua PWI," paparnya.

Selain itu berdasarkan persyaratan, para balon yang akan maju bertarung menjadi Ketua PWI minimal harus memiliki dukungan sebanyak 5 orang anggota PWI. Setelah dicalonkan oleh 5 orang, maka akan menjadi calon Ketua PWI. "Siapapun yang menjadi Ketua PWI nanti, yang penting bisa memajukan organisasi PWI ke arah yang lebih baik," harapnya (KC-02)**.
PEMILIK rumah Hasan Muhammad Amin (50) mengaku akan bertanggungjawab atas musibah longsor yang menimpa pegawainya hingga mengakibatkan meninggal dunia. Korban yang meninggal Opan (30) merupakan satu dari 21 pekerja bangunan yang tengah mengerjakan pembangunan rumah tinggal miliknya.

"Kami akan bertanggungjawab atas musibah longsor yang terjadi dan menimpa pegawai saya., terutama kepada keluarga korban yang meninggal. Saat itu mereka memang tengah bekerja membangun rumah tinggal saya, hanya saja saat bekerja itulah musibah datang dan menimpa beberapa pegawai, satu diantaranya meninggal terkena longsoran tanah," kata Hasan, Senin (29/10/2012).

Pihaknya memastikan, hanya satu pekerjanya yang meninggal dalam musibah longsor tersebut. Sementara 21 pegawainya dinyatakan selamat. "Memang ada beberapa yang sempat terkena longsoran, tapi selamat hanya mengalami luka-luka dan sudah mendapatkan penanganan medis," paparnya.

Seperti diberitakan, satu meninggal dan tiga lainya mengalami luka-luka akibat tertimbun urugan tanah saat tengah membangun rumah milik Hasan Muhammad Yamin (50) di Kampung Bunikasih Peuntas RT 04/RW 07, Desa Mekarwangi, Kecamatan Warungkondang,  Kabupaten Cianjur, Senin (29/10/2012) sekitar pukul 10.15 WIB.

Korban meninggal yakni Opan (30), korban sempat terkubur urugan tanah setinggi 3,5 meter. Sedangkan korban yang mengalami luka-luka adalah Didin (38), Uci (29), dan Jajat (30). Korban meninggal maupun luka dilarikan oleh warga ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, kejadian naas yang menimpa empat pekerja bangunan tersebut bermula saat mereka tengah bekerja mengurug bagian bangunan rumah. Rupanya urugan tersebut labil dan tiba-tiba longsor menimpa para pekerja. Naas menimpa Opan (30), yang pada saat kejadian tengah berada dibawah. Dia tanpa bisa menghindar akhirnya tertimbun urugan tanah setinggi 3,5 meter itu. Sementara tiga pekerja lainya berhasil selamat meski harus menderita luka cukup serius.

"Saya tidak tahu persis bagaimana awal kejadianya. Hanya saja kata beberapa orang mereka tertimbun urugan saat tengah bekerja membangun rumah milik pak Hasan Muhammad Yamin," kata Yan Yan Septian (25) warga setempat.

Aparat Polri/TNI dibantu masyarakat berupaya menyelamatkan para pekerja yang tertimbun. Butuh waktu tidak kurang dari setengah jam untuk mengangkat Opan, pekerja yang tertimbun longsoran tanah urugan. Saat berhasil diangkat kondisinya sudah tidak bernyawa lagi. Korban yang meninggal maupun luka langsung dilarikan ke RSUD Cianjur (KC-02)**.


Opan (30) pekerja bangunan tewas tertimbun tanah longsor saat bekerja
CIANJUR, (KC).- Satu meninggal dan tiga lainya mengalami luka-luka akibat tertimbun urugan tanah saat tengah membangun rumah milik Hasan Muhammad Yamin (50) di Kampung Bunikasih Peuntas RT 04/RW 07, Desa Mekarwangi, Kecamatan Warungkondang,  Kabupaten Cianjur, Senin (29/10/2012) sekitar pukul 10.15 WIB.

Korban meninggal yakni Opan (30), korban sempat terkubur urugan tanah setinggi 3,5 meter. Sedangkan korban yang mengalami luka-luka adalah Didin (38), Uci (29), dan Jajat (30). Korban meninggal maupun luka dilarikan oleh warga ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, kejadian naas yang menimpa empat pekerja bangunan tersebut bermula saat mereka tengah bekerja mengurug bagian bangunan rumah. Rupanya urugan tersebut labil dan tiba-tiba longsor menimpa para pekerja. Naas menimpa Opan (30), yang pada saat kejadian tengah berada dibawah. Dia tanpa bisa menghindar akhirnya tertimbun urugan tanah setinggi 3,5 meter itu. Sementara tiga pekerja lainya berhasil selamat meski harus menderita luka cukup serius.

"Saya tidak tahu persis bagaimana awal kejadianya. Hanya saja kata beberapa orang mereka tertimbun urugan saat tengah bekerja membangun rumah milik pak Hasan Muhammad Yamin," kata Yan Yan Septian (25) warga setempat.

Aparat Polri/TNI dibantu masyarakat berupaya menyelamatkan para pekerja yang tertimbun. Butuh waktu tidak kurang dari setengah jam untuk mengangkat Opan, pekerja yang tertimbun longsoran tanah urugan. Saat berhasil diangkat kondisinya sudah tidak bernyawa lagi. Korban yang meninggal maupun luka langsung dilarikan ke RSUD Cianjur.


Pemilik Rumah dimintai Keterangan
Sementara itu pihak kepolisian sektor (Polsek) Warungkondang yang mendapatkan laporan adanya pekerja bangunan tertimbun tanah langsung bergerak cepat kelokasi kejadian. Selain mengamankan lokasi dengan memasang Police Line, pihak aparat juga berupaya melakukan evakuasi korban yang tertimbun.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, setidaknya aparat Polsek Warungkondang tengah memintai keterang pemilik rumah dan dua orang saksi. "Saat ini kita belum bisa memastikan apakah pemilik lokasi lahan yang tengah dibangun dikenakan sanksi pidana atau tidak, karena semuanya masih dalam proses penyelidikan," kata Kapolsek Warungkondang Kompol Samsa di Mapolsek Warungkondang, Senin (29/10/2012).

Meski demikian pihaknya memastikan kalau tertimbunya empat orang pekerja bangunan itu adalah murni kecelakaan. Hanya saja pihaknya tetap akan memintai keterangan terhadap saksi mata yang diduga mengetahui awal peristiwa kecelakaan itu. "Pastinya kita tetap memintai keterangan para saksi mata yang ada dolokasi saat kejadian," katanya (KC-02)**
Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan tengah berdialog dengan warga petani penggarap di areal TNGP
CIANJUR, (KC).- Kementerian Kehutanan telah melaksanakan sebuah komitmen dengan para petani penggarap lahan melalui pemberian insentif untuk 110 Kepala Keluarga (KK) setiap bulan dalam melaksanakan program adopsi pohon didaerah kawasan Balai Tama Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP). Demikian ditegaskan Menteri Kehutan RI Zulkifli Hasan dalam rangkaian kegiatan dengan tema Program Adopsi Pohon di Hutan Sahabat Green di TNGP, Senin (29/10/2012).

Menurut Menhut, masyarakat petani bertugas untuk memelihara dan menjaga pohon hingga tumbuh besar dengan komitment tidak membuka lahan lain untuk perkebunan sayuran, tapi beralih ke tanaman pohon untuk mengembalikan fungsi serapan air diwilayah TNGP seperti semula agar dampak negative seperti bencana banjir dapat terus dikurangi. "Kita ingin serapan air ini benar-benar teris dijaga dan dilestarikan," harapnya.

Secara terpisah Wakil Bupati Cianjur, H. Suranto mengatakan, Pemkab Cianjur sangat mendukung program dengan karya nyata dan selalu berkoordinasi dan turun langsung dengan para petani dalam komunitas kelompok tani yang telah melaksanakan program adopsi pohon. Sehingga pada akhirnya lahan pegunungan yang ditanami pohon keras akan menjaga kelestarian alam tanpa ada dampak lingkungan seperti terjadinya bencana  alam banjir.

"Pemkab Cianjur memiliki komitmen kuat untuk pelestarian lingkungan. Apalagi dengan adanya program dari Kemenhut, tentu kita sambut positif dengan meningkatkan pelayanan dan pembinaan kepada masyarakat, khususnya yang berada disekitar kawasan TNGP> Kita sudah berupaya menghijaukan lahan disekitar TNGP bersama unsur terkait sejak 2008 silam dan itu akan terus dilakukan," kata Wabub.

Pada kegiatan tersebut juga dilakukan dialog antar masyarakat petani dan Kemenhut terkait bagaimana bersama–sama saling memahami dan menyadari akan dampak lingkungan akibat penyalahgunaan lahan kritis. Pada saat yang sama juga diberikan bantuan sosial (bansos) masing-masing Rp. 50 juta (40 ribu batang ) untuk kelompok tani Sawargi yang diketuai oleh Dudu Duroni di Kp. Sarongge Girang, Desa Ciputri, Kec Pacet dan untuk kelompok tani Giri Winaya yang diketuai Nana Sonjaya di Kp. Cadas Gantung, Desa Cibodas Kec Pacet.

Sementara untuk Program Bantuan Langsung Masyarakat Pengembangan Perhutanan Masyarakat Pedesaan Berbasis Konservasi ( BLM PPMPBK ) tahun 2013 juga diberikan bantuan masing – masing Rp 50 juta untuk kelompok tani Mitra Jaya yang diketuai Yuyun di Kp. Lemah Duhur, Ds Cibodas, Kec. Pacet dan kelompok tani Saluyu yang diketuai Wawan Sudrajat di Kp. Sarongge Girang, Desa Ciputri, Kec. Pacet (KC-02)**.
KONDISI jembatan Cibengang di Desa Girimukti, Kecamatan Sindangbarang terlihat masih cukup kokoh sebelum ambruk diseret luapan air dari sungai Cibengang Jum'at (28/10/2012)









KONDISI jembatan Cibengang di Desa Girimukti, Kecamatan Sindangbarang terlihat masih cukup kokoh sebelum ambruk diseret luapan air dari sungai Cibengang Jum'at (28/10/2012)









KONDISI jembatan Cibengang di Desa Girimukti, Kecamatan Sindangbarang setelah diterjang luapan air sungai Cibengang Jum'at (28/10/2012). Bagian konruksi terlihat roboh, sebagian diantaranya terseret air sungai.





CIANJUR, (KC).- Pasca robohnya jembatan gantung Cibengang di Desa Girimukti, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Jum'at (26/10/2012) aktivitas warga di Kedusunan Ciakar yang meliputi Kampung Ciakar,Batulawang dan Cikarut benar-benar terganggu. Warga yang biasanya menggunakan jembatan itu, kini harus terjun kesungai jika ingin mencari jalan pintas dengan konsekwensi bahaya mengancam.

Sekretaris Desa Girimukti Kecamatan Sindangbarang, Dedi Suwandi (38) mengatakan, banyak warga yang masih nekat terjun kesungai untuk menyebarang. Kondisi itu dilakukan mengingat akses jalan alternatif sangat jauh dan memerlukan waktu lama. Warga yang melintas sungai harus berhati-hati terutama terhadap ancaman banjir sewaktu-waktu datang.

"Kami hanya bisa memperingatkan warga yang menyeberang agar selalu waspada dan hati-hati. Kalau kondisi airnya kering tidak begitu sulit, tapi kalau airnya besar sangat berbahaya dan perlu kewaspadaan. Ada juga warga yang nekat menyeberang membawa motor dan harus digotong, karena kalu memutar jaraknya sangat jauh," kata Dedi, Senin (29/10).

Robohnya jembatan gantung Cibengang juga menambah pekerjaan baru bagi para orang tua yang memiliki anak sekolah. Demikian juga pihak sekolah harus rela menjemput muridnya diseberang bekas jembatan yang roboh. "Banyak anak-anak yang sekolah diantar dan diseberangkan oleh orang tuanya. Bahkan ada juga Kepala Sekolah yang terjun langsung membantu anak didiknya," katanya.

Melihat kondisi tersebut pihaknya hanya bisa berharap agar Pemkab Cianjur bisa segera mencarikan solusi dengan membuat jembatan darurat yang bisa dilalui warga. "Tentu kami hanya bisa berharap, melaporkan sudah. Karena kalau tidak kami kawatir selain aktivitas warga terganggu, juga kawatir bisa timbul korban jiwa jika warga tetap nekat menyeberangi sungai, sementara kondisi cuaca tidak menentu," tegasnya (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Akibat robohnya jembatan gantung Cibengang di Desa Girimukti, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Jum'at (26/10/2012) aktivitas warga di Kedusunan Ciakar yang terdiri dari Kampung Ciakar, Batulawang dan Cikarut Desa Girimukti menjadi terganggu. Bahkan warga di kampung tersebut terancam terisolasi jika tidak segera ada penanganan jembatan darurat.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, robohnya jembatan sepanjang 90 meter itu akibat diterjang banjir bandang setelah beberapa wilayah di Sindangbarang dalam beberapa hari terakhir diguyur hujan lebat. Akibatnya debit air sungai Cibengang meluap dan menerjang jembatan yang terbuat dari bambu itu. Beruntung saat kejadian tidak ada warga yang melintas diatasnya, sehingga terhindar dari jatuhnya korban jiwa.

Warga terpaksa harus terjun ke sungai untuk melintas, meski kondisinya sangat berbahaya.  Apalagi jika sewaktu-waktu banjir bandang. "Terpaksa harus turun ke sungai, ini satu-satunya jalan terdekat. Kalau melewati jalan lain jaraknya bisa mencapai 20 kilometer," kata Agus (39) warga Sindangbarang.

Ketua RW Ciakar, Mukhsin (43) saat dihubungi melalui saluran telepon mengungkapkan,  kejadiannya berlangsung cepat bersamaan turunnya hujan deras sepanjang Jumat (26/10/2012) sore hingga malam. Jembatan yang berbahan bambu itu akhirnya tidak kuat menahan luapan air sungai Cibengang.

"Tiang betonnya tidak kuat terkikis erosi, dan akhirnya roboh dan terseret banjir. Beruntung saat kejadian tidak ada warga yang melintas, karena masih bersamaan hujan deras. Kalau sampai ada warga, mungkin saja bisa jatuh korban," kata Muksin.

Robohnya jembatan gantung Cibengang itu selain memutuskan akses kadusunan Ciakar, Desa Girimukti, juga memutus akses jalan menuju Kecamatan Sindangbarang dan Cibinong. "Selama ini, jembatan Cibengang dijadikan jalan alternatif warga Desa Cikangkareng di Kecamatan Cibinong. Dengan ambruknya jembatan, warga di sana harus memutar jauh untuk menuju ke Desa Girimukti hingga beberapa kalilipat," ungkapnya.

Sekretaris Desa Girimukti, Kecamatan Sindangbarang, Dedi Suwandi (38) mengatakan, pihaknya telah menyampaikan laporan atas robohnya jembatan gantung Cibengang ke Pemerintah Kecamatan bahkan juga sudah disampaikan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur. Akibat jembatan ambruk, setidaknya 179 Kepala Keluarga atau sekitar 309 warga Kaedusunan Ciakar terancam terisolir.

"Kalau kondisi ini terus berlangsung tidak segera ada jembatan darurat, maka wargaa akan terancam terisolir. Aktivitas warga akan jadi terganggu, karena jembatan Cibengang itu merupakan sarana vital bagi kegiatan ekonomi masyarakat," kata Dedi saat dihubungi terpisah.

Pihaknya berharap Pemkab Cianjur bisa segera membangun jembatan sementara agar akivitas warga bisa berjalan. "Saat ini warga terpaksa harus melintas dengan terjun ke sungai, mending kalau sungainya airnya kecil bisa dilewati, tapi kalau terjadi banjir otomatis akan lumpuh dan sangat berbahaya," katanya.

Akses paling dekat untuk bisa melintas, harus memutar arah dengan jarak tempuk mencapai 20 kilometer. Kondisi seperti itu dipastikan akan mengganggu. "Meman ada jalan alternatif melalui ANgkola Cibinong, tapi jaraknya mencapai 20 kilometer. Ini tidak mungkin dilakukan kalau tidak sangat terpaksa," jelasnya (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Beragamnya budaya Cianjur yang saat ini terus dipupuk dan dikembangkan oleh Pemkab Cianjur maupun penggiat budaya rupanya menyita perhatian pihak luar. Salah satunya datang dari aktivis perempuan dari Negara Australia. Mereka tertarik tentang budaya Cianjur dan berencana akan datang ke Cianjur untuk melakukan kajian study terhadap budaya Cianjur.

Berdasarkan informasi yang sudah sampai ke Cianjur, para aktivis perempuan asal negeri Kanguru itu dijadwalkan akan tiba di Cianjur pada Selasa (30/10/2012) mendatang. Mereaka datang ke Cianjur akan melakukan kajian study terhadap culture atau budaya perempuan. "Para aktivis itu dari lembaga apa saya kurang jelas, tapi yang pasti saya telah mendapatkan konfirmasi mengenai rencana kedatangan mereka," kata Ketua DPRD Cianjur, Gatot Subroto, Minggu (28/10/2012).

Gatot berharap, kedatangan para aktivis perempuan dari negeri Kangurus tersebut bisa dimanfaatkan lembaga pemberdayaan perempuan dan advokasi perempuan untuk saling tukar pengalaman. Moment seperti itu tentunya jarang terjadi dan menjadi moment paling baik untuk mengetahui sejauhmana kesetaraan perempuan dalam sudut pandang budaya berbeda.

“Ini tentunya menjadi pengalaman baru bagi kita, karena dengan dikunjungi masyarakat yang memiliki budaya berbeda menjadi pembelajaran positif. Minimalnya kita harus bisa memetik manfaat agar permasalahan yang menyangkut kaum hawa di Cianjur bisa ditangani secara lebih baik. Kita tahu, kondisi Negara mereka lebih maju dan memiliki nilai kesetaraan hak yang makin maju pula antara laki-laki dan perempuan,” katanya.

Secara terpisah Ketua Yayasan Lepas, Susane Febriyanti menyambut baik rencana kedatangan para aktivis perempuan dari Negara Australia untuk mengkaji tentang budaya Cianjur. Kalau itu benar bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikirian terkait kesetaraan menurut budaya barat dengan budaya ketimuran.

“Kita bisa ambil pelajaran yang berarti, dengan tidak meninggalkan culture ketimuran sehingga isu gender bisa diterima tanpa harus melibatkan isu yang kerap hanya sebuah dogma saja. Mudah-mudahan mereka datang ke Cianjur sesuai dengan yang direncanakan, sehingga kita bisa mempersiapkan diri,” tegasnya (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Kondisi infrastruktur jalan dan jembatan khususnya diwilayah Cianjur selatan sudah dalam taraf yang mengkawatirkan. Perlu adanya kebijakan anggaran yang serius dalam menangani kondisi infrastruktur dan jembatan oleh Pemkab Cianjur. Demikian ditegaskan Wakil Ketua DPRD Cianjur, Saef Lukman saat dihubungi Minggu (28/10/2012).

Menurut Saef, berdasarkan hasil catatan dan pengecekan ke lapangan, kondisi infrastruktur wilayah Cianjur bagian selatan hampir 80 % kondisinya rusak berat. Pemkab Cianjur terkesan miskin dalan mengelola dan menangani infrastruktur jalan dan jembatan, terutama dibagian selatan Cianjur.

"Kondisi fakta memang seperti itu, saat ini lihat saja berpa panjang infrastruktur jalan yang rusak berat, belum lagi jembatan yang roboh. Kami berharap Pemkab Cianjur bisa mengalokasikan anggaran yang memadai untuk infrastruktur. Tidak hanya kami juga berharap Pemkab Cianjur bisa lebih peka untuk mengalokasikan dana bencana alam tahun 2012 untuk memperbaiki jembatan roboh yang menghubungkan dua perbatasan desa dan kecamatan," kata Saef Lukman, Minggu (28/10/2012).

Politisi dari PDIP ini melihat sepertinya dinas terkait (Dinas Binamarga) tidak memiliki skala prioritas dalam merencanakan program kerja. "Kalau itu benar, bupati harus bisa bertindak tegas, kalau perlu evaluasi kinerjanya. Karena jangan sampai hanya bis amenunggu perintah sementara ada hal lain yang perlu penanganan segera. Kalau diantisipasi dari awal, saya rasa tidak akan ada peristiwa jembatan yang roboh atau sebagainya," tegasnya.

Pihaknya juga berharap, APBD Cianjur tahun 2013 mendatang agar lebih berpihak kepada rakyat, terutama dalam penanganan infrastruktur jalan dan jembatan di wilayah selatan Cianjur. "Sebagai anggota dewan jelas saya kecewa kalau melihat sikap dan kebijakan anggaran Pemkab Cianjur yang lebih mementingkan persoalan tidak perlu dan tidak menyentuh kebutuhan riil rakyat. Sudah saatnya APBD 2013 nanti lebih menonjolkan keberpihakan kepada rakyat. Sejumlah jalan rusak dan jembatan roboh di sejumlah wilayah Cianjur sudah sepatutnya mendapat prioritas penanganan," harapnya.

Secara terpisah Kepala Dinas Binamarga Kabupaten Cianjur, Atte Adha Kusdinan membantah keras kalau pihaknya tidak memiliki skala prioritas dalam penanganan infrastruktur jalan dan jembatan. Semua penanganan jalan dan jembatan sudah terprogram, hanya saja akibat keterbatasan anggaran yang bersumber dari APBD Cianjur, program yang ada tidak bisa berjalan maksimal.

"Kita terus berupaya agar kondisi infrastruktur jalan dan jembatan khususnya diwilayah Cianjur selatan bisa segera diatasi. Kita tidak hanya mengandalkan APBD Cianjur saja, selama ini kita terus berupaya baik melalui pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat agar ada alokasi anggaran untuk infrastruktur jalan dan jembatan di Cianjur," kata Atte.

Berbicara masalah anggaran APBD, tidak bisa serta merta menjadi tanggungjawab Pemkab Cianjur. Karena pembahasan anggaran juga melibatkan DPRD Cianjur sampai akhirnya disyahkan menjadi APBD. "Intinya saya tetap bekerja keras apa yang menjadi tanggungjawab saya selaku Kepala Dinas Binamarga. Apa yang disampaikan menyangkut diri saya, merupakan sebuah kritikan membangun agar saya lebih bekerja keras lagi," katanya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Masyarakat Kampung Cieundeur RT 02/RW 01, Desa Cieundeur, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur mengeluhkan limbah rumah tangga dari rumah makan Dapur Aki Nini yang mencemari saluran air yang dipergunakan oleh warga. Kondisi tersebut menurut warga sudah berlangsung sejak sebelum lebaran Idul Fitri 1433 Hijriah. Selain mengakibatkan kondisi air berubah warna, ada beberapa warga yang sempat menderita gatal-gatal saat menggunakan air yang sudah tercemar tersebut.

Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat Ustad Aceng, warga sebenarnya sudah kesal saat saluran air yang biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari itu tiba-tiba menjadi keruh dan kotor. Padahal sebelum ada rumah makan, kondisi air normal dan tidak pernah ada warga yang mengalami penyakit gatal-gatal.

"Setelah ada rumah makan dan ternyata limbah rumah tangganya dibuang ke saluran air yang selama ini digunakan warga kondisinya berubah seratus delapan buluh derajat. Air yang biasanya jernih berubah menjadi berwarna dan bau. Tidak hanya itu air juga seperti terkena minyak dan lengket saat dipakai," kata Ustad Aceng, Jum'at (26/10/2012).

Perwakilan warga kata Ustad Aceng, sempat mendatangi pihak rumah makan untuk meminta menghentikan pembuangan limbah rumah tangganya kesaluran air yang digunakan oleh warga.  Hanya saja pihak rumah makan sampai saat ini belum menanggapi keluhan warga, terkesan membiarkan limbah rumah tangga dibuang ke saluran air yang digunakan warga.

"Adik saya sudah tiga kali datang dan meminta agar pihak rumah makan tidak membuang limbahnya ke salura air. Tapi sampai saat ini permintaan itu belum juga dikabulkan, limbah rumah tangga itu masih saja dibuang ke saluran air yang digunakan warga. Padahal air itu digunakan warga untuk mencuci, mandi, bahkan ada diantaranya yang dipakai untuk air wudhu dimasjid," katanya.

Karena tidak pernah diindahkan, pihaknya sendiri mendatangi rumah makan agar pembuangan limbah ke saluran air warga dihentikan. "Saya datangi rumah makan, kebetulan bertemu langsung pemiliknya. Pemiliknya meminta maaf dan berjanji sehabis lebaran haji ini akan segera membangun pembuangan limbah sendiri. Kita beri toleransi, kalau tidak juga dilaksanakan, kalau kita akan datang lagi dan kalau perlu demo besar-besaran," tegasnya.

Secara terpisah pemilik rumah makan Dapur Aki Nini Ade Kabul Duriyat mengakui kalau limbah rumah tangga  dari rumah makan miliknya dibuang kesaluran air yang digunakan oleh warga. Semua itu terjadi karena ketidak tahuanya dan saat mengurus perijinan tidak ada yang menyarankan untuk melakukan pengelolaan limbah.

"Bukan kami sengaja membuang ke saluran air warga, ini akibat ketidak tahuan kami saja. Kami akan segera membuat pembuangan limbah sendiri. Tapi kami perlu waktu, karena saat ini kami terbentur masalah anggaran. Kami akan upayakan setelah lebaran haji ini akan panggil tukang untuk membuat tempat pembuangan limbah," tegasnya (KC-02)**.
Ketua Badan Kehormatan DPRD Cianjur H. Denny Aditya Dwiwarman menjenguk korban berandal bermotor
CIANJUR, (KC).- Puluhan berandal bermotor kembali membuat ulah. Kali ini dilakukan bertepatan pada malam takbiran Lebaran Idul Adha 1433 Hijriyah, Jum'at (26/10/2012) dinihari. Sekolompok pemuda yang tengah nongkrong sehabis menggelar takbiran tiba-tiba diserang oleh gerombolan bermotor yang mempersenjatai diri dengan celurit, samurai, besi dan balok serta linggis. Akibat seorang pemuda, Asep Suryana  (22), warga Gang Akeng RT 01 RW 14, Kelurahan Solokpandan, Kecamatan/Kabupaten Cianjur mengalami luka serius dan harus mendapatkan penanganan medis di RSUD Cianjur setelah dibacok dibagian kepalanya oleh berandalan bermotor.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, peristiwa yang lagi-lagi terulang dan dilakukan oleh berandal bermotor tersebut terjadi saat korban bersama rekan-rekanya tengah mengikuti takbiran di Masjid Baiturohman dekat rumahnya. Sekitar pukul 01.30, korban bersama delapan rekannya keluar dari masjid bermaksud ingin membeli rokok di minimarket depan Gang Akeng tepatnya  di jalan Arief Rahman Hakim.

Selepas membeli rokok, korban dan teman-temanya itu tidak langsung kembali lagi ke masjid, namun nongkrong terlebih dahulu dijalan. Tidak berselang lama, tiba-tiba datang puluhan orang yang mengendarai sepeda motor dan sebagian berjalan menghampiri korban dan teman-temanya. Tanpa basa-basi berandalan bermotor yang menggunakan senjata tajam seperti celurit, samurai, balok, besi dan linggis itu langsung menyerang korban dan teman-temanya dengan membabi buta.

Korban dan delapan rekanya berupaya kabur saat mengetahui yang datang gerombolan bermotor, namun naas menimpa korban. Dia menjadi bulan-bulanan berandalan bermotor. Korban dibacok dibagian kepala menggunakan samurai, punggungnya dipukul memakai besi dan balok, sementara dibagian bibir dipukul menggunakan linggis. Tak hanya itu saja, salah satu motor warga diambil oleh geng motor dan hingga saat ini belum ditemukan.

"Kami tidak tahu apa-apa, saat itu kami hanya nongkrong setelah membeli rokok sehabis takbiran. Kami juga tidak ada masalah dengan berandalan bermotor, tapi kenapa kami diserang, hingga membuat salah satu teman kami mengalami luka serius," kata Agung Ragam (28) seorang teman korban.

Menurut Agung, aksi berandal bermotor tersebut kemungkinan salah sasaran. Dia mendapatkan informasi sebelumnya ada dua kelompok berandal bermotor yang saling serang di Jalan Arief Rahman Hakim. Hanya saja salah satu berandal bermotor tersebut melarikan diri ke arah gang Akeng. "Mungkin kami dikira berandalan bermotor yang lari itu, kebetulan kami sedang berada disana dan imbasnya kami terima. Tanpa nanya dulu kami langsung diserang," jelasnya.

Setelah berhasil melukai korban, berandal bermotor tersebut meninggalkan begitu saja korban yang tergolek tidak sadarkan diri dijalan.  Setelah keadaan aman, warga langsung membawa korban ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis. Korban mendapatkan 17 jahitan di kepalanya. Demikian juga dengan bibir dan punggung juga mendapatkan pengobatan.

Sementara itu, Dede Hartini (45) orang tua korban, berharap kepada petugas kepolisian untuk menangkap pelaku yang menyebabkan anaknya terluka. "Kami berharap polisi segera menangkap pelaku dan menghukum dengan sebarat-beratnya sesuai perbuatan yang dilakukan kepada anak saya. Karena apapun alasannya perbuatan itu tidak bisa dibenarkan," tegasnya (B.101)**.

Ketua Badan Kehormatan DPRD Cianjur H. Denny Aditya Dwiwarman menegaskan, tindakan yang dilakukan berandal bermotor tersebut merupakan murni tindakan kriminal. Kami berharap pihak kepolisian bisa segera menangkap mereka, karena keberadaanya sudah meresahkan masyarakat.

"Kami berharap pihak kepolisian segera memberantas aksi berandal bermotor yang berbuat negatif dan meresahkan warga Cianjur. Kalau tidak segera diberantas, tentunya akan berbahaya. Kepada para orang tua harus lebih khusus lagi melakukan pembinaan terhadap anaknya agar tidak sampai ikut ikutan menjadi berandal bermotor. Jangan sampai melakukan kegiatan organisasi yang bersifat negatif yang mengarah kepada tindak kriminal," kata Denny dirumah korban (KC-02)**

CIANJUR, (KC).- Bermaksud mengklarifikasi coment di facebook yang dianggap kurang pantas, seorang pemuda babak belur dihajar massa di Kampung Cilaku Girang RT 02/RW 01, Desa Sukamulya, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Kamis (25/10/2012) petang. Beruntung aparat Polsek Warungkondang tiba tepat waktu dan mengamankan Andrian (22) warga Perumahan Bumi Panyeuleukan Cibiru Blok C 14 No 8, Kecamatan Cipadung, Kota Bandung  ke Mapolsek Warungkondang. Namun tak urung sepeda motor suzuki spin Nopol D 4854 FM yang dikendarai Andrian rusak parah dihancurkan oleh massa yang emosi.

Aksi amuk massa tersebut bermula dari kedatangan tiga orang satu diantaranya perempuan yakni Andrian (22) dan temanya Cahyana (22) serta Ira (20) kerumah seorang warga bernama Mohammad Imal Malik Rahmatulloh (16) di Kampung Cilaku Girang RT 02/RW 01, Desa Sukamulya, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Kedatangan Andrian tersebut tidak lain ingin menemui Imal untuk mempertanyakan comentnya di facebook yang dinilainya tidak pantas.

Pertemuan tersebut awalnya bersahaja dan setelah dijelaskan persoalanya akhirnya kedua belah pihak saling memahami dan memaafkan. Tidak lama berselang datang seorang bernama Engkus (22) yang tidak lain adalah teman dari Imal. Engkus kemudian menghampiri mereka dan setelah berbincang sesaat mengajak Ria yang merupakan mantan pacar Engkus keluar rumah untuk membicarakan sesuatu. Dua orang berlainan jenis yang pernah terlibat hubungan asmara itu memisahkan diri kebelakang rumah.

Hanya saja tidak berapa lama terdengar keributan antara keduanya. Mendengar suara keributan Andrian yang ternyata pacar dari Ria bersama temanya menghampiri Engkus. Tidak terima pacarnya mendapatkan perlakuan kasar, Andrian tanpa pikir panjang langsung menghajar Engkus. Karena merasa tidak seimbang Engkus berteriak dan meminta bantuan warga. Dalam waktu sekejap mendengar teriakan minta tolong dari Engkus, ratusan warga berhamburan keluar rumah dan memburu Andrian bersama teman-temanya.

Tanpa ampun lagi dua pemuda tersebut menjadi bulan-bulanan warga. Beruntung saat massa jumlahnya semakin banyak, aparat Polsek Warungkondang datang tepat waktu dan mengamankan kedua pemuda dari amukan massa. Bahkan saat dua pemuda tersebut dimasukkan kedalam mobil aparat, massa yang emosi masih berupaya mengejar dan memukulnya.

"Saya hanya ngobrol sama Ria, tiba-tiba saya didatangi oleh dua orang pelaku dan satu diantaranya langsung memukul saya. Saya mencoba melawan, tapi karena dikeroyok saya tidak bisa berbuat banyak," kata Engkos saat ditemuai di lokasi kejadian, Kamis (25/10/2012).

Engkus mengaku tidak kenal keduanya, hanya lihat melalui facebook saja. "Saya tadinya mau mengajak teman saya Imal untuk beli sesuatu, ternyata ada mantan pacar saya dirumahnya bersama dua orang laki-laki. Saya menghampiri dan mengajak ngobrol terpisah, tapi belum apa-apa saya dipukuli," jelas Engkus yang menderita luka lebam di wajahnya.

Sementara Andrian membantah kalau dirinya datang untuk mencari masalah. Kedatangannya hanya untuk klarifikasi adanya comen di facebook yang tidak pantas. "Pokoknya isinya menjelekkan pacar saya dan diri saya. Makannya saya datang untuk mengklarifikasi meminta penjelasan apa maksudnya. Tadinya sudah beres dan saya mengerti. Tapi mendengar ada keributan dan itu menimpa pacar saya, jelas saya membelanya," bantah Andrian.

Hingga Kamis malam, Andrian dan temanya masih berada di Mapolsek Warungkondang untuk dimintai keterangan. Demikian juga Engkus yang juga babak beluar serta beberapa warga masih dimintai keterangan oleh petugas kepolisian di Mapolsek Warungkondang. Turut diamankan sebuah sepeda motor yang kondisinya rusak dihancurkan massa (KC-02)**.

CIANJUR, (KC).- Maju atau mundurnya pembangunan salah satunya bergantung pada pajak yang diterima Negara dari wajib pajak. Sudah sepatutnya setiap warga negara mengetahui dan mengenal apa manfaat dari pajak itu sendiri bagi kepentingan bersama. Demikian ditegaskan Wakil Bupati (Wabub) Cianjur, H. Suranto, pada acara  sosialisasi dan Tax Gathering Wajib Pajak Orang Pribadi yang diselenggarakan  Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Cianjur di aula salah satu hotel di Cipanas, Rabu (24/10/2012).

Dengan adanya sosialisasi tersebut diharapkan  semua elemen masyarakat bisa mengerti serta melaksanakan tentang apa itu pajak dan fungsi dari pajak itu sendiri sehingga sadar akan pentingnya membayar pajak untuk kemajuan pembangunan.

KPP Pratama Cianjur meningkatkan kesadaran wajib pajak dengan melaksanakan program Served Managament dari Program sebelumnnya yang telah dilaksanakan dengan harapan dapat meningkatkan penghasilan bagi Negara yang riil, transfaran, akuntabel dan mengolahnya kembali kedalam bentuk pembangunan bagi warga masyarakat.
 
Kepala kantor KPP Pajak Pratama Cianjur, Siscka Mirela Juniati dalam laporannya menjelaskan bahwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Cianjur, dari jumlah penduduk Cianjur sebanyak 2.290.000 jiwa hanya berkisar 96.000 yang melaksanakan kewajiban pajak itupun baru 25% yang aktif.

"Kenyataan ini tentu saja jauh dari harapan target penerimaan pajak yang sebagaimana mestinya," katanya.

Dalam kegiatan sosialisasi dan Tax Gathering Wajib Pajak Orang Pribadi tersebut juga diwarnai penyerahan penghargaan kepada wajib pajak pengusaha, pegawai atau karyawan dan pekerjaan bebas yang selalu taat dalam hal membayar pajak salah satunya Wabub Cianjur yang berhak menerima penghargaan (KC-02)**.


Ilustrasi
CIANJUR, (KC).- Mantan Sekertaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cianjur tahun 2007 - 2010, H. Maskana Sumitra dihadirkan menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan korupsi Biaya Non Urusan atau Biaya Kegiatan Bupati Cianjur dengan terdakwa Edi Iryana mantan Kepala Bagian Keuangan dan Heri Khaeruman mantan Kepala bagian urusan Rumah Tangga pada Bagian Umum Sekertariat Daerah Cianjur yang di gelar, Rabu (24/10/2012) di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung.

Fakta yang terungkap dalam persidangan, dalam kesaksiannya Maskana mengatakan bahwa sepanjang tahun 2007 s/d tahun 2010 pada proses pencarian keuangan pos anggaran Biaya Non Urusan telah banyak terjadi proses pencairan keuangan yang telah menyalahi aturan. Pasalnya, banyak anggaran pada pos tersebut diambil secara tunai padahal menurut aturan seharusnya pencairan tersebut terlebih dahulu harus melalui pihak ketiga atau rekanan.

“Saat itu banyak proses pencairan yang diambil secara tunai tanpa melalui pihak ketiga. Bahkan ada juga pencairan dengan menggunakan SPJ fiktif, itu terbukti pada saat saya mendengar keterangan dari pihak rekanan yang di cantumkan dalam SPJ tersebut bahwa dirinya tidak melaksanakan kegiatannya,”kata Maskana saat memberikan penjelasan pada majelis hakim.

Terkait proses pencairan yang menyalahi aturan ini, Maskana mengungkapkan, dirinya pernah menerima keluahan dari pihak bendahara pengeluaran terkait bagiamana pertanggungjawaban SPJ yang harus dibuat. Bendahara pengeluaran juga melaporkan terkait adanya permintaan dari Bupati untuk menyediakan uang sebesar Rp188 juta perbulan.

“Uang sebesar Rp188 juta tersebut untuk keperluan pribadi Bupati, sementara untuk memenuhi anggaran kegiatan operasional Bupati itu terpakasa mengambil dari anggaran yang lain,”jelasnya.

Maskana mengaku, sebelumnya pihaknya telah sering memperingatkan Bendahara dan Kabag Keuangan termasuk juga Bupati, bahwa proses pencairan seperti itu menyalahi aturan, namun peringatan tersebut tidak di gubris sehingga pelanggaran tersebut terus terulang.

Sedianya dalam persidangan dengan agenda mendengar keterangan saksi-saksi tersebut akan menghadirkan tiga orang saksi yaitu Maskana Sumitra, Neneng dan Wiwit. Namun dikarenakan hakim baru datang menjelang sore hari, majelis hakim hanya menghadirkan saksi Maskana Sumitra. Sidang dilanjutkan pada hari Selasa (30/10/2012) (KC-02/ar)**.
CIANJUR, (KC).- Jajaran Satuan Narkoba Kepolisian Resort (Polres) Kabupaten Cianjur berhasil mengamankan 10,5 kilogram (kg) ganja beserta 10 orang tersangka dari berbagai tempat berbeda dalam Operasi Antik Lodaya yang digelar sejak 22-31 Oktober 2012. Para tersangka yang kini mendekam di sel tahanan mapolres Cianjur itu terancam hukuman 15 tahun penjara.

Kasat Reskrim Polres Cianjur AKP Gito mengatakan, Operasi Antik Lodaya yang dilaksanakan sejak 22 Oktober dan akan berakhir pada 31 Oktober 2012 tersebut sebagai salah satu upaya untuk menekan peredaran narkoba diwilayah hukum Cianjur. Baru dua hari dilaksanakan operasi, pihaknya telah berhasil mengamankan 10 tersangka dengan barang bukti 10,5 kg narkoba jenis ganja.

Para tersangka menurut Gito ditangkap dari berbagai tempat yang berbeda. Sebelumnya anggotanya telah melakukan penyelidikan adanya informasi masyarakat yang masuk bahwa belakangan peredaran narkoba di Cianjur mulai marak. Informasi tersebut ditindak lanjuti dengan melakukan penyelidikan.

"Keberhasilan kami ini tida terlepas dengan adanya informasi yang kami terima dari masyarakat.  Secara bersamaan kita memang sedang menggelar operasi, dari hasil tindak lanjut informasi kita berhasil menangkap para pelaku berikut barang bukti narkobanya. Mereka kami tangkap dibeberapa tempat terpisah," kata AKP Gito, Rabu (24/10/2012).

Para tersangka lanjut Gito, kini mendekam di sel tahanan Mapolres Cianjur untuk menunggu proses lanjut. Mereka akan dijerat dengan pasal 111 (1) dan 114 Undang-Undang nomor 35 tahun 2009, dengan ancaman hukuman empat hingga 15 tahun penjara.

"Diantara para tersangka yang berhasil kami tangkap tersebut merupakan bandar dan pengedar. Kami belum bisa memastikan apakah mereka itu pemain lama atau baru. Saat ini mereka masih dalam pendalaman pemeriksaan untuk mengungkap jaringan lainya," katanya.

Dari hasil pengungkapan kasus ganja tersebut paling banyak barang bukti dari masing-masing tersangka seberat 1 kg. Sisanya bervariasi ada yang 20 bungkus paket ganja kering dan dua paket. "Tapi setelah kami total seluruhnya jumlahnya mencapai 10,5 kg dengan 10 orang tersangkanya," tegasnya.

Operasi narkoba tersebut akan terus dilaksanakan untuk menciptakan situasi dan kondisi Cianjur yang bersih dan kondusif. "Kita akan laksanakan terus operasi, tidak hanya terpaku pada Operasi Antik Lodaya saja. Kita ingin Cianjur ini jauh dari peredaran narkoba. Dengan semakin gencar kita operasi, maka para pemain narkoba ini akan berfikir dua kali," katanya.

Sementara itu seorang tersangka AS (33), mengaku ditangkap petugas di sekitar wilayah Ciranjang dengan barang bukti 13 bungkus koran berisi ganja. "Saya mendapatkan ganja dari teman di Bogor, melalui hubungan lewat handphone. Saya langsung ambil barangnya sendiri kesana.  Setelah itu saya jual ke teman-teman dekat dan saya mendapatkan hasilnya sebesar Rp 2 juta," kata AS (KC-02)**.
Minimarket
CIANJUR, (KC).- Kawanan maling spesialis minimarket berhasil membobol sebuah mini market ternama di Jalan Taifur Yusup (pertigaan Suge), Kelurahan Bojongherang, Kecamatan/Kabupaten Cianjur, Rabu (24/10/2012). Aksi kawanan maling yang diperkirakan berjumlah lebih dari dua orang itu berhasil menggondol sejumlah barang dagangan serta uang tunai sebesar Rp 600.000,- yang tersimpan di meja kasir.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, kawanan maling spesialis minimarket tersebut masuk kedalam minimarket setelah berhasil merusak gembok pintu gerbang. Aksi pencurian tersebut pertama kali diketahui oleh seorang pegawai yang akan membuka pintu gerbang minimarket. Hanya saja pegawai tersebut mendapati dua gembok pintu gerbang sudah terbuka.

Karena penasaran, pegawai tersebut mengcek kedalam minimarket disangka ada pegawai lainya yang telah membuka pintu gerbang. Hanya saja saat berada didalam minimarket kondisi barang dagangan acak-acakan. Sadar kalau tempat kerjanya disatroni maling, pegawai tersebut kemudian melaporkan keatasanya yang selanjutnya diteruskan kepada pihak kepolisian.

"Saat itu saya mau membuka toko, tapi ternyata sudah dalam keadaan terbuka. Dua gemboknya juga sudah tidak ada. Saat saya masuk kedalam, saya mendapati barang dagangan acak-acakan," kata Dede Sulaeman (19), salah seorang pegawai.

Diperkirakan, aksi pembobolan sekitar Rabu (24/10/2012) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Dugaan kuat para pelaku pencurian lebih dari dua orang dan menggunakan kendaraan. Hal itu terlihat dari banyaknya barang dagangan yang dibawa kabur. Ditaksir kerugian atas peristiwa pencurian tersebut mencapai di atas Rp10juta.

Aparat kepolsian yang mendapatkan laporan segeran terjun ke tempat kejadian perkara dan melakukan olah TKP. Dua ekor anjing pelacak dari Unit K-9 juga diterjunkan untuk mengundus para pelaku pencurian.

Rusak CCTV
Dugaan bahwa para pencuri merupakan spesialis minimarket semakin kuat. Dalam menjalankan aksinya para pencuri tersebut sempat merusak beberapa closed circuit television (CCTV) yang dipasang di areal minimarket. Setidaknya ada tiga dari enam unit CCTV yang dirusak para pelaku.

"Sepertinya para pelaku pencurian ini merupakan maling yang sudah ahli. Mereka tahu penempatan CCTV yang kami pasang. Dari enam unit CCTV, ada tiga unit yang dirusak oleh para pelaku pencurian," kata Kepala Toko Cece Insan Nurjaman, Rabu (24/10/2012).

Berdasarkan hasil pengecekan sementara terhadap barang yang ada di minimarket. Para pelaku mengambil sejumlah barang seperti puluhan dus rokok berbagai merek, puluhan dus minyak goreng kemasan, dan uang tunai modal kasir sebesar Rp600.000. "Kerugian ditaksir mencapai Rp10juta," katanya.

Secara terpisah Kanit K-9 Polres Cianjur Aiptu Sucipto mengatakan, pihaknya mengaku kesulitan melacak jejak pelaku pencurian karena arealnya sudah tidak stiril lagi. Selain itu dugaan para pelakunya menggunakan kendaraan juga menghambat anjing pelacak untuk mengendus jejak pelaku.

"Kalau dilihat dari kondisi dilapangan, dugaan kuat para pelaku dalam menjalankan aksinya menggunakan kendaraan mobil. Kita juga kesulitan melacak jejak karena lokasinya sudah tidak setiril lagi," tegasnya (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Ratusan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Cianjur yang dideportasi oleh pemerintah Arab Saudi akibat masa izinya kadaluarsa akan diupayakan untuk diberikan pelatihan keterampilan. Dengan dibekali keterampilan tersebut diharapkan para mantan TKI itu bisa berwirausaha.

"Kita akan upayakan untuk diberi pelatihan keterampilan. Pelatihan ini sebagai bentuk memberdayakan mantan TKI, apalagi mereka bisa dibilang mayoritas merupakan TKI yang belum berhasil dan pulangnya ke Cianjur juga dibiayai oleh pemerintah karena tersandung masalah izin tinggal dan penyebab lainya," kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Cianjur, H. Sumitra, Rabu (24/10/2012).

Menurut Sumitra, ada sekitar 186 TKI asal Kabupaten Cianjur yang baru-baru ini dipulangkan setelah empat hari empat malam melakukan aksi demo di KBRI Arab Saudi. Para TKI ini semuanya sudah sampai kerumahnya masing-masing setelah dijemput oleh pihak keluarga setibanya di Cianjur.

"Kalau melihat kondisinya mayoritas memprihatinkan, makanya kita akan upayakan mereka itu dibekali dengan ketrampilan. Dalam waktu dekat ini kita ada program untuk pelatihan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bekerjasama dengan salah satu bank swasta itu direncanakan akan dihadiri langsung Menteri Koordinasi Perekonomian Hatta Radjasa. Mereka akan kita upayakan untuk diikutkan," tegasnya.

Salah satu tujuan pelatihan tidak lain sebagai bentuk pemberdayaan warga, khususnya mantan dan calon TKI di wilayahnya masing-masing. "Kemungkinan secara bertahap, kita juga akan upayakan mencari bentuk lain, tidak hanya satu pelatihan ini saja. Mudah-mudahan dengan bekal keahlian ini mereka bisa berwirausaha," harapnya.

Secara terpisah Yoyo (29) sorang mantan TKI asal Cipanas menyambut baik rencana pihak Dinsosnakertrans untuk memberikan pelatihan ketrampilan kepada mantan TKI khususnya yang dideportasi. "Wah ini kabar baik, karena saya sudah bertekad tidak akan lagi mau bekerja menjadi TKI apalagi di Arab Saudi. Pokoknya trauma, sangat tidak enak," kata Yoyo yang sudah empat tahun menjadi TKI di Arab Saudi dan baru bisa pulang setelah dideportasi (KC-02)**.
Rudi Syachdiar Hidajath
CIANJUR, (KC).- Pelaksanaan pekerjaan Pembangunan Pasar Pasir Hayam di Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku Kabupaten Cianjur terancam molor. Pasalnya pekerjaan yang dilaksanakan pihak rekanan itu hingga saat ini progresnya baru tercapai sekitar 30 %. Padahal pembangunan pasar yang menghabiskan dana sekitar Rp 17 miliar itu pelaksanaanya tinggal menyisakan waktu dua bulan kedepan atau akan berakhir pada 22 Desember 2012 mendatang.

Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Cianjur Rudi Syachdiar Hidajath mengatakan, berdasarkan hasil laporan yang diterimanya, pembangunan Pasar Pasir Hayam tersebut progresnya sudah mencapai 50 %. Hanya saja saat dilakukan pemantauan dilokasi pembangunan kondisinya baru tercapai sekitar 30 %.

"Kalau melihat waktu yang hanya tersisa dua bulan lagi, kami sangat kawatir pelaksanaan pembangunan Pasar Pasir Hayam ini tidak akan selesai tepat waktu. Kami pesimistis target penyelesaian masa kontrak pembangunan pasar yang dilaksanakan oleh pihak ketiga ini bisa terkejar dan selesai," tegas Rudi disela-sela kegiatan inspeksi mendadak (sidak) jajaran Komisi III DPRD Cianjur ke lokasi pembangunan Pasar Pasir Hayam, Selasa (23/10/2012).

Sidah ke Pasar Pasir Hayam tersebut dilakukan untuk kali kedua. Sebelumnya pihaknya mengaku hampir kebobolan saat melakukan sidak mendapati salah satu kontruksi pembangunan dibagian pondasi yang dianggap tidak sesuai dengan ketentuan. Hanya saja setelah ditemukan itu, pihak rekanan pelaksana pekerjaan segera memperbaiki.

"Informasinya memang ada beberapa konstruksi yang bongkar pasang. Kita mengawasinya sangat hati-hati, kita berharap pelaksanaan pekerjaanya sesuai dengan ketentuan. Kami juga sudah peringatkan kepada pihak rekanan untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu terutama menyangkut volume pekerjaanya," katanya.

Melihat waktu yang hanya tersisa dua bulan, volume pekerjaan tidak akan tercapai jika tidak ditambah dengan tenaga kerja. "Pihak rekanan pelaksana pekerjaan pembangunan harus berani menambah tenaga kerja jika ingin target pekerjaanya selesai. Kami melihat dengan kondisi pekerja yang ada berat target pekerjaan akan selesai tepat waktu," paparnya.

Berdasarkan perencanaan, Pasar Pasir Hayam akan diperuntukan bagi para pedagang Pasar Bojongmeron. Luas areal lahan pembangunannya sekitar 4,6 hektare. Sedikitnya tersedia sebanyak 3.150 unit ruko dan 2.150 unit lapak. Pembangunannya dimulai tahun 2010 lalu, dan dilanjutkan tahun 2012 ini. "Kami terus melakukan evaluasi dengan Dinas Tarkim (Tata Ruang dan Permukiman)," pungkasnya.

Terancam Putus Kontrak
Pihak rekanan yang mengerjakan Pasar Pasir Hayam PT Guna Karya Nusantara terancam diputus kontrak jika dalam pelaksanaan pembangunan tidak selesai sesuai dengan masa kontrak yang telah ditetapkan yakni pada 22 Desember 2012 mendatang. Hanya saja pihak Dinas Tarkim masih optimis pelaksanaan pembangunan itu akan selesai sesuai dengan kontrak yang ada.

"Jelas akan dikenakan sanksi tegas berupa pemutusan kontrak bila pihak rekanan tidak mentaati kontrak pekerjaanya. Tapi prediksi kami melihat progres yang ada pekerjaan pembangunan Pasar Pasir Hayam itu akan sesuai dengan kontrak tertanggal 22 Desember 2012 batas akhir wwaktunya," kata Pelaksana kegiatan Dinas Tarkim Kabupaten Cianjur Indra Gumilang secara terpisah (KC-02)**.
CIANJUR, (KC).- Seorang jemaah haji asal Kabupaten Cianjur, Kholisoh binti Mukarom (60), meninggal dunia di Arab Saudi setelah sebelumnya sempat dirawat oleh tim medis akibat sakit. Almarhumah tercatat sebagai warga Kecamatan Warungkondang dan tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 58.

Kepala Seksi Urusan Haji Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Cianjur Hipni membenarkan adanya jemaah haji asal Warungkondang Cianjur yang meninggal di Arab Saudi. Kabar tersebut diterima Hipni dari KBRI di Arab Saudi. Berdasarkan laporan yang diterima, jemaah haji yang meninggal tersebut akibat sakit.

"Jemaah haji yang meninggal itu sebenarnya juga mendapatkan penanganan medis akibat sakit, tapi tidak tertolong. Ada beberapa jemaah haji lainya juga smepat sakit, tapi bisa ditangani dan melanjutkan ibadah haji. Saat ini mereka tengah bersiap untuk menjalankan wukuf di padang arafah," kata Hipni, Senin (22/10/2012).

Dengan meninggalnya seorang jemaah haji yang tengah berada di Arab Saudi, calon jemaah haji yang meninggal dunia menjadi dua orang. Seorang lagi meninggal sebelum berangkat ke tanah suci mekah akibat sakit. "Total jemaah haji asal Cianjur mencapai 1.270 orang. Akibat ada yang meninggal jumlah yang tersisa ada 1.268 orang. Sebetulnya jumlah sebelumnya itu 1.317 orang, namun yang dapat melunasi sekitar 1.270 orang," ujarnya.

Pemulangan Jemaah Haji
Meski saat ini para jemaah haji masih menunaikan rukun haji, pihak Urusan Haji Kementerian Agama Cianjur sudah mempersiapkan pemulangan mereka. Berdasarkan jadwal bahwa jemaah haji kloter 16 dijawalkan tiba di Cianjur pada 6 November 2012. Kemudian jemaah haji kloter 58, dijadwalkan pada 19 November 2012, dan jemaah haji kloter 78 dijadwalkan pada 26 November 2012.

"Pada akhir Otober kita akan menggelar rapat panitia untuk pemulangan para jemaah haji asal Cianjur, kita tengah mempersiapkan itu. Direncanakan kami akan menjemput para jemaah haji itu dari embarkasi dan sesampainya di Cianjur para jemaah akan dijemput keluarganya masing-masing dengan kartu khusus yang kita berikan agar bisa lebih mudah mengenalinya," jelasnya (KC-02)**.
H. Hilman
MINIMNYA anggaran diduga menjadi salah satu penyebab terjadinya lonjakan penderita HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur. Upaya penanganan dan pencegahan yang dilakukan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Cianjur dianggap tidak sampai menyentuh pada akar rumput.  Upaya sosialisasi kepada masyarakat khususnya yang memiliki potensi terjangkit HIV/AIDS tidak berjalan maksimal, bahkan terkesan hanya menggugurkan kewajiban saja.

"Memang kita jauh tertinggal dengan Kabupaten/Kota lainya di Jawa Barat mengenai anggaran. Kita memang berharap anggaran untuk KPA itu idial, setidaknya sesuai dengan ajuan yang kita sampaikan. Kenyataanya tidak sampai setengahnya, bahkan cenderung minim. Kita bisa berbuat apa, untuk membayar staf saja mungkin pas-pasan, apalagi kalau dibuat untuk kegiatan lainya," kata Sekretaris KPA Cianjur, H. Hilman.

Minimnya anggaran secara tidak langsung berpengaruh terhadap capaian hasil. Terbukti hingga tahun 2012 ini saja sudah 30 orang yang teridentifikasi terjangkit HIV/AIDS. Tentu jumlah tersebut cukup besar dan perlu penanganan serius. "Minimalnya dengan adanya upaya, kita bisa menekan agar yang terjangkit itu tidak menularkan kepada yang lainya. Untuk upaya itu salah satu kuncinya adalah anggaran yang memadai," paparnya.

Meski ada edaran bupati tentang sosialisasi pencegahan HIV/AIDS dan narkoba, belum bisa dilaksanakan secara maksimal. Minimnya dukungan anggaran dari Pemkab Cianjur menjadi salah satu penyebabnya. Terbukti dari target seluruh sekolah yang menjadi sasaran untuk sosialisasi, pada tahun 2012 ini hanya 15 sekolah yang bisa dilaksanakan, masih sangat jauh dari idial.

"Sepertinya ada anggapan dari pemangku kebijakan bahwa penanganan HIV/AIDS itu hal yang biasa, bukan luar biasa, lantaran kaitan dengan gaya hidup. Mungkin itu ada benarnya, tapi tidak demikian bagi yang faham betul sejauh mana bahayanya HIV/AIDS bagi lingkungan kita. Kami hanya berharap Pemkab Cianjur bisa merubah anggapan seperti itu, jika mereka memiliki anggapan seperti itu. Ini serius dan harus ditangani bersama-sama," katanya (KC-02)**.


CIANJUR, (KC).- Tiga orang mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Cianjur di identivikasi positif menderita HIV/AIDS (human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome). Kepastian tersebut disampaikan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cianjur setelah menerima data dan informasi dan salah seorang konselor.

"Ya memang betul ada 3 orang mantan TKW yang positif terjangkit HIV/AIDS. Mereka saat ini masih dalam pengawasan dan penanganan," kata Sekretaris KPA Cianjur, H. Hilman, Senin (22/10/2012). Namun pihaknya tidak bisa memberikan identitas ke 3 mantan TKW tersebut dengan alasan untuk sebuah upaya perlindungan.

Menurut H. Hilman, penderita HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur terbilang cukup tinggi. Dalam kurun waktu 2001-2012 tercatat sebanyak 283 positif menderita penyakit yang membahayakan itu. Dari jumlah tersebut 32 diantaranya sudah meninggal dunia. "Trendnya meningkat terus. Kita berupaya memberikan pengarahan dan pembinaan kepada yang terkana, disyarankan pakai "sarung", yang tidak terkena jangan coba-coba," katanya.

Anggaran Minim
Upaya penanganan HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur tidak bisa berjalan maksimal. Wajar saja jika trend penderita penyakit yang belum ada obatnya itu terus meningkat. Semua itu tidak terlepas dengan terbatasnya anggaran yang dimiliki oleh KPA Cianjur. Sehingga hanya bisa melakukan pencagahan terhadap policy umum, tidak menyeluruh.

"Pada tahun 2012 ini kita mendapatkan anggaran dari APBD Cianjur sebesar Rp 50 juta, itupun setelah kita mengajukan tambahan anggaran dari bantuan awal sebesar Rp 25 juta. Dengan dana yang ada kita gunakan secara maksimal, meski banyak yang tidak tercover. Tapi kita terus berupaya untuk mencosialisasikan terhadap bahayanya HIV/AIDS itu kepada masyarakat khususnya yang rentan terjangkit," kata H. Hilman.

Pihaknya masih bersyukur pada tahun 2012 ini masih ada bantuan dari goal fun untuk kegiatan pencegahan dan penanganan HIV/AIDS. Pihaknya kawatir setelah bantuan tersebut dihentikan dan bantuan APBD minim, penanganan dan pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur tidak akan jalan secara maksimal.

"Selama 18 bulan hingga Desember 2012 kita masih menerima bantuan dari goal fun, sehingga kegiatan kita yang tidak tercover dengan dana APBD masih bisa dilaksanakan. Namun bantuan tersebut pada tahun 2013 mendatang akan dihentikan dari goal fun, berarti kita hanya mengandalkan bantuan dari APBD seadanya," paparnya.

Pihaknya hanya berharap Pemkab Cianjur bisa mempertimbangkan ajuan anggaran yang disampaikan oleh KPA Cianjur. Sebab dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Barat, hanya Kabupaten Cianjur yang anggaran KPAnya minim. "Bukan membandingkan dengan daerah lain, tapi persoalannya memang perlu penanganan anggaran, kita tertinggal jauh. Mereka diatas angka Rp 500 juta untuk KPA, tentu sudah bisa dibayangkan. Mudah-mudahan saja pada tahun 2012 Pemkab Cianjur bisa lebih memperhatikan lagi," harapnya (KC-02)**.